Galeri

Artikel Guru Kreatif

MENJADI GURU PAI KREATIF
DENGAN MENGEMBANGKAN PAI MODEL
UNTUK MEWUJUDKAN BUDAYA RELIGIUS (RELIGIOUS CULTURE)DI SMP NEGERI 4 MALANG

Oleh: Sukirman)*

 A.     PENDAHULUAN

Menjadi seorang guru apalagi dengan menyandang guru kreatif adalah dambaan bagi kita semua. Sebutan kreatif menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah yang mempunyai banyak ide atau gagasan yang menarik, yang memiliki daya cipta-yang menghendaki kecerdasan dan imajinasi [1]. Guru Agama Islam yang kreatif adalah guru yang mengajarkan nilai-nilai agama Islam dengan banyak ide yang menarik.Saat ini jika kita melihat beberapa hasil survey terhadap kinerja guru Agama, sangat mencengangkan. Banyak kritik yang ditujukan pada Guru-guru Agama kitabaik cara mengajar yang kurang menarik, atau yang masih menggunakan cara mengajar tradisional. Hal ini mungkin didasari oleh masih banyaknya guru yang cara mengajarnya masih menggunakan metode konvensional ditunjang dengan masih rendahnya kesadaran para guru tersebut yang masih bergaya hidup hedonis; yang suka hidup enak dengan cara instan tidak berkeringat, ditambah lagi dengan banyaknya guru agama islam yang belum menggunakan manajemen pembelajaran PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif, Kreatif, Efektif, dan menyenangkan).

Sebuah pengalaman pribadi penulis di bawah ini mungkin bisa dijadikan referensi untuk menuju guru kreatif. Dimana dalam perjalanan kami menjadi seorang guru agama islam dicapai dengan banyak kendala hingga akhirnya menjadi guru PNS di lingkungan Kemenag Kota Malang.

Diawali dengan pengabdian kami menjadi seorang guru tidak tetap (GTT) di SMP Negeri 18 Malang dan SMP Sunan Giri Malang pada tahun 1996 s.d 2002. Tanpa bermaksud merendahkan kedua lembaga pendidikan dimaksud, rasanya sulit dipercaya bahwa kualifikasi ijazah yang kami peroleh tidaklah menjadi syarat mutlak menjadi seorang GTT. Karena kami dipercaya untuk mengajar Ilmu pengetahuan Sosial (IPS) bidang Sejarah Umum. Dari sinilah akhirnya kami berusaha untuk mencari referensi sebanyak-banyaknya tentang materi tersebut dengan cara membaca terlebih dahulu sebelum mengajar, terus menerus sampai akhirnya kami benar-benar percaya diri (pede) berdiri di depan anak-anak. Rasa ketidakpuasan mengajar selalu menghantui kami setiap selesai mengajar.Hal ini kami rasakan kurang lebih 5 sampai 6 tahun lamanya.Sementara guru agama Islam yang saat itu ada 2 dan keduanya sudah PNS tidak bisa berbuat banyak untuk pengembangan keagamaan di sekolah.Akhirnya saya mencari terobosan baru untuk bisa mengajar yang benar-benar sesuai dengan kualifikasi S-1 saya yakni Tarbiyah pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang.

Selama 2 tahun lamanya kami menjadi guru Wiyata Bhakti di SMP yang letaknya di Jalan veteran 37 Kota Malang tersebut, saya benar-benar menikmati dengan cara mengajar yang saya anggap luar biasa dukungan dari seluruh steakholders yang ada. Saya digaji 20 ribu perjamnya, sementera setiap minggunya kami mengajar sampai 20 jam pelajaran cukup untuk melangsungkan kehidupan selama 1 bulan ke depan. Hingga akhirnya saya diangkat menjadi guru PNS pada tahun 2005 dan ditempatkan di almamater yang sama yaitu yang saya tempati saat ini.

Babak baru menjadi seorang guru yang benar-benar selain dibutuhkan juga dihargai dari segi fasilitas dan materi oleh pemerintah, akhirnya saya bertekad untuk benar-benar menjadi seorang guru agama Islam yang harus menjadi suri tauladan bagi anak-anak khususnya dan menjadi informal leader bagi guru-guru lain. Karena itulah melalui wahana ini saya mencurahkan isi hati kami agar di dengar oleh guru-guru di seluruh Indonesia, bahwa perjuangan menjadi seorang guru PNS terlalu enak dan nikmat dibanding profesi lain dalam hal ini GTT (Guru Tidak Tetap), kuli batu atau abang becak.

Gambaran menjadi seorang guru kreatif yang saya alami dapat dilihat dalam 3 tahapan dibawah ini dengan tanpa mengada-ada bahwa yang saya alami benar-benar terjadi dan saya alami dengan kesadaran tinggi dari hati lubuk kami yang paling dalam sekalipun. 3 tahapan itu adalah (1) Bagaimana menciptakan manajemen pembelajaran PAI di dalam kelas (Intrakurikuler), (2) Bagaimana menciptakan manajemen pembelajaran PAI di luar kelas (ekstrakurikuler), dan (3) bagaimana menciptakan manajemen sekolah melalui budaya religious (religious culture) yang dilaksanakan seluruh warga sekolah sehari-hari. Selain 3 tahapan diatas, pengalaman pribadi yang terkait dengan guru kreatif dapat dilihat melalui identitas diri dan pengalaman selama menjadi guru.Baik riwayat pendidikan, organisasi, maupun bentuk-bentuk karya ilmiah dan prestasi penghargaan yang saya peroleh.

B.   PEMBAHASAN

1.  Menciptakan Manajemen Pembelajaran Intrakurikuler PAI

Pelaksanaan pengembangan Program pembelajaran dapat dikategorikan dalam beberapa tahapan kegiatan yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir pembelajaran sebagaimana uraian dibawah:

  1. Kegiatan awal (pendahuluan)

Kegiatan awal dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada siswa, memusatkan perhatian, dan mengetahui apa yang telah dikuasai siswa berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari. Kegiatan awal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dalam bentuk apersepsi dengan memberikan ilustrasi berupa gambar, cerita, film, dan beberapa pertanyaan untuk menggali pemahaman.

Model pembelajaran yang lazim kami gunakan dimulai dengan berdoa bersama, kemudian dilanjutkan Kultum (kuliah tujuh menit) atau semacam ceramah singkat dari Guru. Kegiatan kultum ini dilaksanakan secara rutin dengan tujuan siswa diberi bekal untuk menyerap materi yang akan dipelajari pada saat itu. Tentu saja kami harus pandai-pandai mengaitkan materi kultum dengan materi yang akan dipelajari. Kegiatan ini dilaksanakan  pada tiap pertemuan jam pelajaran agama Islam.

Setelah kultum, selanjutnya pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah dipimpin oleh siswa yang bertugas secara bergiliran yang jadwalnya sudah diatur oleh ketua kelas. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dari guru tentang kandungan ayat yang tersirat di dalamnya, kemudian dihubungkan dengan materi yang akan dipelajari yang diselingi dengan pertanyaan secara bergiliran kepada setiap siswa.

Dari deskripsi di atas tentang teknik-teknik pembelajaran di awal kegiatan seperti menjelaskan sekaligus melontarkan pertanyaan kepada siswa atau dalam bentuk mengoreksi pekerjaan siswa, dapat diidentifikasi sebagai kegiatan apersepsi. Metode apersepsi, salah satu teknik pembelajaran dengan menggali atau menghubungkan materi yang telah dipelajari/dikuasai siswa sebelumnya, dengan materi yang akan dipelajari.[2]Apersepsi ini menjadi titik tolak dalam memulai pelajaran baru.

Dalam hal ini, kami menempuh jalan pelajaran secara induktif yaitu: (1) Dari contoh-contoh menuju kepada kaidah-kaidah; (2) dari hal-hal yang mudah kepada yang sulit; (3) dari hal-hal yang khusus kepada yang umum dan: (4) dari hal yang konkret kepada yang abstrak.[3]

Berikut pada kegiatan kultum, terdapat dua hal yang bisa diperoleh dari kegiatan tersebut, yaitu: Pertama secara psikologis, siswa mendapatkan penguatan dari tema-tema yang disampaikan kepada orang lain- sebagai bentuk untuk menemukan dirinya sendiri dan pada saat yang bersamaan terbangun suasana egaliter antara guru dan siswa. Untuk mencapai proses ini kemauan keras dari guru menjadi modal utama. Guru dituntut untuk lebih bersahabat dengan siswa, tidak ‘gila hormat’ dan rendah hati dengan tidak mengurangi kewibawaan guru dihadapan siswa demi mengutamakan kepentingan proses pendewasaannya.

Kedua, dalam pemahaman penulis, peran guru adalah menjadi fasilitator untuk mengaktifkan para siswa mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang tema dari berbagai sumber dan membantu menemukan serta menyakini nilai universal yang ada dalam Islam sebagai sarana penting untuk membantu manusia mencapai keselamatan dalam hidup.Dalam kehidupan generasi yang sangat berbeda dengan masa lalu, dimana persoalan kehidupan lebih rumit dan berat.Misi agama untuk membantu manusia mendapatkan keselamatan dalam hidup harus selalu diterjemahkan dalam konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda.

Dengan pembiasaan kultum, sebenarnya siswa dilatih untuk dapat mencontoh  dan mengatakan sekaligus mempraktekan nilai-nilai yang disampaikan oleh guru tersebut yang pada akhirnya diharapkan bisa dipraktekkan dalam kehidupan siswa di masyarakat nanti. Dengan belajar mengatakan, siswa dituntut bertanggung jawab dengan apa yang diterapkan . Dengan begitu, peluang internalisasi nilai akan tercapai maksimal. Hal ini sesuai penelitian bahwa, dengan mengatakan siswa dapat belajar sebanyak 70%. Jika dia mengatakan dan melakukan, siswa dapat belajar sebanyak 90%[4]

Begitu pula halnya dengan kegiatan tadarrus Al-Qur’an yang dilakukan secara terus menerus dan konsisten pada setiap jam pelajaran, dapat memberikan dampak yang besar dalam diri siswa. Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang dan terus menerus selain menambah kelancaran dalam membaca Al-Qur’an, tadarrus juga dapat menjadi sebuah kebiasaan.

Berawal dari pembiasaan, selanjutnya siswa akan secara terus-menerus melakukan kegiatan tersebut yang pada akhirnya akan menjadi suatu tradisi yang akan terpancang dalam diri selama hidupnya. Inilah bentuk strategi pengintegrasian pendidikan moral yang efektif.[5]Pembiasaan tadarrus Al-Qur’an, memang memerlukan waktu yang lama, tetapi apabila kegiatan positif ini telah terbiasa pada diri seseorang (siswa), maka hal itu menjadi suatu pola hidupnya sepanjang hayatnya.

  1. Kegiatan Inti

Kegiatan inti merupakan kegiatan utama dalam rangka menanamkan/mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang berkaitan dengan bahan kajian yang bersangkutan.Dalam kaitannya dengan kegiatan inti pembelajaran, Pada pertemuan perdana misalnya,kami menjelaskan tentang konsep-konsep dan garis besar pokok materi yang kemudian sering diselingi dengan lontaran pertanyaan-pertanyaan yang menantang siswa untuk mengeluarkan pendapatnya.Hampir sering terlihat dalam aktifitas pembelajaran muncul pertanyaan yang sifatnya terbuka sehingga memotivasi siswa untuk mengeluarkan pendapatnya.

Dalam pembelajaran di kelas IX misalnya, kami menggunakan metode diskusi yang sifatnya menantang kreativitas siswa.Bentuk rangsangan dan tantangan ini tentunya bersifat akademis.kami memotivasi siswa untuk dapat tampil menjadi kelompok ‘the excellence’ lewat diskusi di kelas. Kriteria penilaian sebagai kelompok terbaik ini, dengan melihat bahasan dan isi makalah dan penampilan kelompok dalam presentasi makalah. Selanjutnya kelompok yang tergolong ‘theexcellence’ akan mewakili kelasnya untuk mempresentasikan makalah terbaiknya dihadapan seluruh teman-temannya yang muslim (terutama kelas IX), pada pelajaran pembiasaan Imtaq  yang diselenggarakan setiap Jumat siang satu jam pelajaran menjelang pulang jam ke 5 (jam 10. 20 sampai dengan 11. 00 WIB)

Dalam pembelajaran PAI, pada dasarnya kami menerapkan model pembelajaran di kelas reguler tidak jauh berbeda dengan apa yang kami terapkan di kelas bilingual. Hanya saja kelas bilingual banyak materi pengembangan karena kelas ini secara akademik diatas rata-rata kelas regular dan kelas seni. Pada umumnya kamitidak  membedakan , karena silabus dan RPP nampaknya untuk mata pelajaran PAI tidak dituntut banyak, kecuali mata pelajaran yang diujinasionalkan. Disamping ada jam tambahan juga ada kursus-kursus.

Melihat fenomena pembelajaran di atas, nampak bahwa proses pembelajaran yang kami lakukan sudah sesuai dengan derap langkah yang diinginkan oleh KTSP, yaitu agar siswa memiliki kemampuan dan kompetensi dalam bidang-bidang sesuai dengan apa yang diajarkan di sekolah, termasuk pendidikan agama di dalamnya. Meskipun demikian, tidak dipungkiri dalam pelaksanaan pembelajaran masih terdapat kelemahan, baik itu dari cara penyampaian materi atau dalam hal lainnya. Guru sebagai aktor dalam merencanakan, mengorganisasikan dan menilai pembelajaran atau sebagai fasilitator, diharapkan dapat berperan maksimal dalam pekerjaannya.

Agar guru mampu memerankan dirinya sebagai fasilitator pembelajaran, menurut penulis terdapat beberapa hal yang harus dipahaminya dari peserta didik yaitu kemampuan, potensi, minat, hoby, sikap, kepribadian, kebiasaan, catatan kesehatan, latar belakang keluarga dan kegiatan di sekolah.

Sehubungan dengan pengembangan KTSP, guru perlu memperhatikan perbedaan individual peserta didik, sehingga dalam pembelajaran harus berusaha melakukan hal-hal sebagai berikut: (1) mengurangi metoda ceramah; (2) memberikan tugas yang berbeda bagi setiap peserta didik; (3) mengelompokkan peserta didik berdasarkan kemampuannya, serta disesuaikan dengan mata pelajaran; (4) memodifikasi dan memperkaya bahan pembelajaran; (5) menghubungi spesialis, bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan; (6) menggunakan prosedur yang bervariasi dalam membuat penilaian dan laporan; (7) memahami bahwa peserta didik tidak berkembang dalam kecepatan yang sama; (8) mengembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap anak bekerja dengan kemampuan masing-masing pada setiap pelajaran, dan; (9) mengusahakan keterlibatan peserta didik dalam berbagai kegiatan pembelajaran.[6]

  1. Kegiatan Akhir (penutup)

Kegiatan ini adalah kegiatan untuk memberikan penegasan atau kesimpulan dan penilaian terhadap penguasaan bahan kajian yang diberikan pada kegiatan inti.Pada kegiatan ini dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut berupa pekerjaan rumah dan lain-lain.

Pada kegiatan akhir pembelajaran, kami memberikan penegasan dan kesimpulan serta penilaian terhadap penguasaan bahan kajian yang diberikan pada kegiatan inti.Adapun penilaian akhir (posttest), kami melakukannya dalam bentuk tanya jawab tentang apa yang belum dipahami oleh siswa. Hal-hal yang belum dipahami siswa, guru meminta siswa untuk bertanya, namun jika tidak ada yang bertanya dianggap sudah paham atau terkadang kami pun berbalik melontarkan pertanyaan kepada siswa secara bergiliran.

Penilaian akhir dalam bentuk pemberian tugas rumah atau pekerjaan rumah (PR) tidak jarang terjadi. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah mereka masing-masing, misalnya saja tugas untuk menuliskan kembali ayat-ayat Al-Qur’an yang baru saja dijelaskan dan menjelaskan tajwid yang ada dalam ayat tersebut. Hal ini bermaksud untuk mengetahui sejauh mana penguasaan materi yang telah dijelaskan dan melatih siswa mencapai kompetensi tertentu seperti mampu menuliskan ayat Al-Qur’an, dan lain sebagainya.

2. Menciptakan Manajemen Pembelajaran Ekstrakurikuler PAI

Terkait dengan pelaksanaan pengembangan program pembelajaran ekstrakurikuler,  Kegiatan ekstrakurikuler PAI di SMP Negeri 4 Malang terdiri atas program wajib dan program pilihan. Setiap siswa paling banyak mengambil dua kegiatan ekstrakurikuler. Jenis kegiatan ekstrakurikuler di SMP Negeri 4 Malang adalah Baca Tulis Al-Qur’an (BTA), Bahasa Arab (Kondisional), Kegiatan Keputerian setiap Jum,at siang, Pembinaan Imtaq satu jam pelajaran dan lain-lain. Secara spesifik kegiatan ekstrakurikuler yang terkait dengan PAI ditangani oleh organisasi badan otonom yang juga di bawah naungan OSIS yaitu Seksi Ketaqwaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Berdasarkan pengalaman penulis bahwa kegiatan eskul yang menunjang pembelajaran PAI sangat aktif dan rutin dilaksanakan meskipun dalam pelaksanaannya terdapat berbagai hambatan seperti kurangnya minat dan antusias siswa kelas VII terhadap kegiatan  setiap Jumat Siang. Hal ini disebabkan, boleh jadi karena tidak adanya tuntutan  untuk mengikuti kegiatan tersebut atau semacam punishment (hukuman), baik dari sekolah maupun dari guru PAI sendiri. Walaupun dalam kondisi demikian, para mentor (instruktur) yang juga alumni SMP Negeri 4 Malang, tidak segan-segan meluangkan waktu membimbing adik-adiknya.

Di samping kegiatan rutin di atas, terdapat juga berbagai agenda kegiatan lainnya yang bernuansa keislaman yang diselenggarakan sekolah atau siswa  baik yang berskala kecil maupun besar. Kegiatan tersebut diantaranya kegiatan silaturahmi antar seluruh civitas sekolah yang dikenal dengan istilah ‘Syawalan’ atau halal bihalal di lingkungan sekolah setiap tanggal 1 Syawal.Berikut, terdapat kegiatan penyembelihan hewan qurban setiap hari raya Idhul Adha, buka puasa bersama (tahun 2009 sempat dilaksanakan di Masjid Kampus UM), dan even besar lainnya yaitu kegiatan Pensi Islami yang diselenggarakan untuk seluruh warga SMP 4 Malang.

Dari data-data tersebut, secara psikologis dapat dilihat bahwa terdapat berbagai macam keinginan siswa (karena usia remaja), yang kiranya perlu difasilitasi dan diarahkan pada hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi mereka untuk masa depan. Jika keinginan mereka tidak dapat terpenuhi karena bermacam-macam kendala dan yang sering terjadi adalah tidak tersedianya biaya.Adanya bermacam-macam larangan dari orang tua seringkali melemahkan atau mematahkan semangat para remaja.Kebanyakan remaja menemukan jalan keluar dari kesulitannya setelah mereka berkumpul dengan rekan sebaya untuk melakukan kegiatan bersama.Mereka melakukan suatu kegiatan secara berkelompok sehingga berbagai kendala dapat di atasi bersama-sama.[7]

Dari sini, sangat tepatlah kiranya, apa yang telah diciptakan dan dilakukan dalam lingkungan akademik SMP Negeri 4 Malang, dimana kegiatan ekstrakurikuler sangat banyak dan aktif. Bahkan para siswa baru, diwajibkan mengikuti dua kegiatan ekstrakurikuler berdasarkan pilihannya masing-masing.Saking padat dan banyaknya kegiatan, sampai-sampai kegiatan ini dilaksanakan sampai sore hari baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.Dari kegiatan inilah kecenderungan sikap negatif siswa dapat dicegah dan dapat dialihkan kepada hal-hal positif.

Terkait dengan kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pembelajaran PAI, kami bekerja sama dengan Pembina ekstra dari luar. Kalau Batul Al-Quran dan Bahasa Arab, kami bekerjasama dengan Pondok Pesantren Darul Fikri Malang yang pembelajarannya menggunakan metode tilawati dan jibril.Sedangkan untuk pengembangan kegiatan keputrian, kami bekerjasama dengan Kelompok kajian Islam “Kiass” (Kreatifitas Insan anak Sholeh-Sholehah) Kota Malang.Contoh model pengembangannya dapat dilihat dalam lampiran.

3. Penciptaan Suasana Religius di SMP Negeri 4 Malang

Penciptaan suasana religius di SMP Negeri 4 Malang dapat dilihat sehari-hari dengan melihat program yang dicanangkan oleh sekolah.Adapun program-program tersebut dapat dilhat pada kegiatan di bawah ini yang meliputi; (1).Budaya 3 SAS (Salam, Salim, Senyum, Ambil Sampah), (2).Budaya Jum’at Bersih, (3).Berdo’a Sebelum dan selesai Pelajaran, (4).Budaya Sholat Jum’at bagi siswa Laki-laki, (4).Bimbingan Keputrian setiap Jum’at (5).Budaya IMTAQ pada waktu pembiasaan oleh Wali Kelas, (6).Halal Bihalal, (7).PHBI (8). Santunan Kematian, (9). Santunan Anak Yatim, (10). Budaya Anjang Sana keluarga Dewan Guru dan Karyawan, dan (Budaya Tasyakuran).

Lebih lanjut kegiatan budaya sekolah yang terkait dengan “religious culture” seperti pada table berikut:

No.

Jenis Kegiatan

Rencana Tindakan

 

1. 3 S AS Dilaksanakan setiap hari oleh guru piket pada hari tersebut dengan cara memberi salam,berjabat tangan dan senyum sambil membiasakan mengambil sampah apabila menjumpainya di lingkungan sekolah.
2. Budaya Jum’at Bersih Dilaksanakan setiap hari jum’at pada jam khusus pagi sebelum pelajaran dimulai dengan cara bergiliran dengan waktu kegiatan IMTAQ pagi. Contoh jum’at I kelas 7 IMTAQ, Kelas 8 Senam Pagi, dan kelas 9 Jum’at bersih. Begitu seterusnya pada Jum’at II, III, dan IV.
3. Berdo’a Sebelum dan selesai Pelajaran Seluruh siswa berdo’a terlebih dahulu sebelum dan selesai pelajaran dengan dipimpin salah satu dari siswa secara bergantian. Teks do’a telah disiapkan oleh Guru Agama. Dikerjakan setiap hari.
4. Bimbingan Keputrian setiap Jum’at Dilaksanakan oleh seluruh siswa putri yang beragama islam, setiap hari Jum’at dengan bimbingan dari Ibu-Ibu Ustadzah SMP Negeri 4 dan bekerjasama dengan kelompok kajian Keislaman (KIASS) Kota Malang, sementara siswa yang beragama selain Islam dibina khusus oleh Guru yang beragama selain Islam.
5. Budaya IMTAQ pada waktu pembiasaan oleh Wali Kelas Dilaksanakan pada Jum’at pagi oleh semua kelas yang sudah terjadwal dengan bimbingan wali kelasnya masing-masing. Panduan IMTAQ telah disiapkan oleh Guru Agama. Membaca do’a-do’a harian, Tadarus ayat-ayat pendek, dan dilanjutkan Kultum oleh wali kelas.
6. Halal Bihalal Dilaksanakan setiap selesai liburan hari raya idul Fitri masuk pada hari pertama oleh seluruh steakholders sekolah, baik antar siswa dengan siswa maupun antar siswa dengan guru dan antar guru dengan keluarga guru yang lain serta melibatkan dewan sekolah, alumni, mantan kepala sekolah dan mantan guru-guru yang pernah mengajar di SMP 4 Malang
7. PHBI Dilaksanakan setiap memperingati hari besar  keagamaan, baik maulid nabi, isra’ Mi’raj, muharram, mapun setiap Ramadhan tiba dengan acara Pondok Romadhon, Nuzulul Qur’an, Pembagian dan penyaluran Zakat Fitrah, serta Penyembelihan hewan Qurban pada setiap hari raya Qurban tiba.
8. Santunan Kematian Menggalang dana dari guru-guru maupun siswa setiap ada keluarga dari siswa atau guru yang meninggal dengan cara infaq sepontanitas dan hasilnya akan disumbangkan kepada yang terkena musibah tersebut.
9. Santunan Anak Yatim Menggalang dana dari iuran rutin sekolah, jika ada keluarga yang mampu dengan cara subsidi silang, bisa juga dengan pemberian pakaian yang masih layak pakai dan barang-barang sembako, maupun berupa uang beasiswa dari sekolah maupun instansi lain
10. Budaya Anjang Sana keluarga Guru dan Karyawan Dilaksanakan setiap tiga bulan sekali oleh keluarga guru dan karyaan SMP Negeri 4 Malang, dana dari iuran anggota keluarga besar SMP Negeri 4 Malang
11 Budaya Tasyakuran Dilaksanakan setiap ada bapak/ibu guru dan karyawan yang sedang Ulang Tahun atau ketika ada keluarga bapak/ibu guru dan karyawan yang mendapatkan keberuntungan atau kebahagiaan seperti lulus Kuliah, diterima Kerja, hajatan nikah maupun khitan, serta ketika mendapatkan karunia Allah berupa anak, cucu atau momongan.

Dari banyaknya budaya agama di SMP Negeri 4 Malang ini, nampak sekali bahwa lingkungan sekolah tersebut benar-benar ingin mengembangkan budaya religius pada diri masing-masing steakholders.Karena itu keseriusan dalam menangani budaya-budaya religious yang dimaksud sangat diperlukan untuk mewujudkan visi dan misi sekolah.Oleh karena itu bagaimana agar budaya yang sudah ada tersebut bisa berjalan dengan baik dan efektif dijalankan perlu penanganan yang serius pula, maka perlu dirumuskan beberapa tindakan untuk menjawab permasalahan tersebut.

  1. C.     PENUTUP.

Rumusan perencanaan tindakan  diatas perlu kiranya untuk diwujudkan agar program yang telah dijalankan benar-benar membudaya di lingkungan SMP negeri 4 Malang. Karena itu perlu juga ada monitoring dari pihak-pihak pengambil keputusan terhadap program tersebut. Dalam hal ini kepala sekolah beserta staff dan guru Agama untuk selalu memberikan pencerahan setiap kali akan mengadakan seluruh program yang telah ditetapkan dengan cara memberikan beberapa rekomendasi SK (Surat keputusan) untuk dijalankan bersama, pengembangan PAI model sebagai wujud dari salah satu tujuan Pendidikan Agama Islam yang diamanatkan dalam PP. Nomor 19 tahun 2005 yakni terwujudnya pengamalan  agama di sekolah benar-benar bisa membudaya dengan baik dan efektif pada seluruh anggota keluarga besar SMP Negeri 4 Malang .

*) Penulis adalah Guru Pendidikan Agama Islam pada SMP Negeri 4 Malang.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta ;Balai Pustaka; 2001)

Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 200)

Mohammad Ali dan Muhammad Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hal. 17.

Nazarudin, Manajemen Pembelajaran: Implementasi Konsep, Karakteristik dan Metodologi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum(Yogyakarta: Teras, 2007)

Nurul Zuriah, Pendidikan Moral dan Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan: Menggagas Platform Pendidikan Budi Pekerti Secara Kontekstual dan Futuristik, (Jakarta: Bina Aksara, 2007)

Rohani,Ahmad,Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004)

Identitas Diri

          DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama                      : Sukirman

Tempat Tanggal Lahir : Lamongan, 20 April 1971

NIP                         : 19710420 200501 1 003

Pangkat/Golongan      : Penata Muda Tk. I /III.b

Jabatan                    : Guru Pendidikan Agama Islam pada SMP Negeri 4 Malang

Alamat Rumah (asal)  : Jl. MT. Haryono XXI No. 10 Malang. HP.081334732623

Alamat Sekolah         : Jl. Veteran 37 Malang

Alamat Instansi         : Kantor Kementerian Agama Kota Malang.

                                         Jalan R. Panji Suroso no 2 Kota Malang

Nama Ayah               :  Sumiadi (Alm)

Nama Ibu                 :  Lasmi (Almarhumah)

Nama Istri                :  Mustayah, S. Pd

Nama Anak             :  1. Falih Azzam Naufali ( 10 Th )

2. Rahada “Aisy Safin Nayla ( 4 Th )

Riwayat Pendidikan

Tahun 1984              :  Lulus Madrasah Ibtidaiyah (MI) Thoriqotul Hidayah, Karangwungu Lor, Laren,  Lamongan

Tahun 1987              :  Lulus SMP Wahid Hasyim Sumberwudi, Karanggeneng, Lamongan

Tahun 1990              :  Lulus Madrasah Aliyah Matholi’ul Anwar Simo-Sungelebak, Karanggeneng, Lamongan

Tahun 1994              :  Lulus IAIN Sunan Ampel di Malang

Tahun 2008              :  Masuk S2 PPs UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tahun 2010                : Lulus S2 Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI)

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Riwayat Pekerjaan            :

–       Mengajar di SMP Negeri 18 Malang tahun 1996 – 2002

–       Mengajar di SMP Sunan Giri Malang tahun 1997 – 2003.

–       Mengajar di SMP Negeri 4 Malang tahun 2002 – 2005

–    PNS Guru Agama Islam Depag Kota Malang diperbantukan mengajar di      SMP Negeri 4 Malang tahun 2005 – Sekarang.

–     Staf Bidang Sarana Prasarana SMPN 4 Malang Tahun 2007-2009

–     Staf Bidang Kurikulum SMPN 4 Malang Tahun 2009-2012

Riwayat Organisasi

1.    Departemen HMJ Tarbiyah tahun 1992

  1. Sekretaris I Senat Mahasiswa Fak. Tarbiyah IAIN Malang tahun 1993
  2. Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Malang tahun 1993
  3. Pengurus MGMP (Korwil)Pendidikan Agama Islam SMP Kota Malang 2006-2009
  4. Sekretaris I MGMP Pendidikan Agama Islam (PAI) SMP Kota Malang 2009-2011

[1]Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka; Jakarta, 2001.Hal.599.

[2] Rohani, Ahmad,Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 27.

[3]Ibid.

[4] Nazarudin, Manajemen Pembelajaran: Implementasi Konsep, Karakteristik dan Metodologi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum(Yogyakarta: Teras, 2007), hal. 19-20.

[5] Nurul Zuriah, Pendidikan Moral dan Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan: Menggagas Platform Pendidikan Budi Pekerti Secara Kontekstual dan Futuristik, (Jakarta: Bina Aksara, 2007), hal. 87.

[6]Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 200), hal. 163.

[7] Mohammad Ali dan Muhammad Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hal. 17.

Lampiran foto-foto dapat di download di sini

Lampiran 1.

 

Foto Dokumen Kegiatan di SMP Negeri 4 Malang

 

Gambar 1. Papan Nama SMP Negeri 4 Malang di pintu gerbang masuk menuju lokasi penelitian

 

Gambar 2. Gedung SMP Negeri 4 Malang, tampak lokasi halaman tengah

 

Gambar 3. Kegiatan Pembelajaran siswa di kelas VII G dengan menggunakan metode Diskusi kelompok.

 

Gambar 4. Pengurus Osis SMP Negeri 4 Malang selesai dilantik yang selanjutnya menyusun program kerja diantaranya program kegiatan ekstrakurikuler PAI.

Gambar 5. Kegiatan Ekstrakurikuler Baca Tulis Al-Qur’an yang diadakan setiap Rabu pukul 13.00 – 15.00 Wib.

 

Gambar 6. Pembina Keagamaan Puteri dari KiASS yang selalu hadir setiap Jum’at Siang pukul 11.30-13.00 Wib.

Gambar 7. Kajian Keislaman Puteri dengan rileks (lesehan) diperankan di depan kelas . dengan antusias siswa puteri mendengarkan dari pembina KiASS (Kreatifitas insan sholeh sholehah) Malang.

 

Gambar 8. Kegiatan sholat jum’at di Masjid “Manarul Hadi” SMP Negeri 4 Malang memakai seragam busana muslim setiap Jum’at.

 

Gambar 9. Suasana penyembelihan hewan qurban pada hari raya iedul adha 1430 H di halaman depan SMP Negeri 4 Malang.

 

 

Gambar 10. Pengurus Osis menerima penjelasan dari korlap untuk mendistribusikan zakat ke wilayah Jabung kab. Malang

 

Gambar 11. Kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aula SMP Negeri 4 Malang.

 

Gambar 12. Kegiatan Sholat Dhuha dan mendengarkan ceramah Isra’ Mi’raj di Aula SMP Negeri 4 Malang.

 

 

 

Lampiran 2.

 

Rencana Kajian Keputrian SMP Negeri 4 Malang T.P. 2011-2012

 

NoNo Hari/Tanggal Pertemuan/Materi

Kisi-kisi dan Target

Keterangan

1

Jum’at Pertemuan 1Jadikan imanmu 100% part 1
  1. Siswa mengetahui mengapa beriman kpd Allah;bisa beriman dgn cara yg benar
  2. Menyadarkan siswa bahwa ALLah adalah Al Kholiq, Al Muddabbir(memahami hakikat cinta kpd Allah)
  3. Memberi kesadaran bahwa tujuan dari hidup ini adalah beribadah kepada ALLah (Ihsanul Amal),shg siswa senantiasa berupaya untuk meningkatkan rsa keimanannya dgn banyak belajar.

Di kelas

2

Jum’at Pertemuan 2Jadikan imanmu 100% part 2
  1. Tumbuh dalam jiwa siswa rasa cinta thd ortu,guru,teman,dan lingkungan tempat dia berada.
  2. Siswa  memahami bahwa Iman berarti cinta, Buah rasa iman adalah cinta dan ta’at kepada Allah.

Di kelas

3

Jum’at Pertemuan 3Valentine Undercover
  1. Siswa memahami budaya valentine tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman
  2. Siswa memahami arti cinta yang sejati, yaitu cinta karena Allah
  3. Siswa memahami cara bergaul yang islami dan menghindar dari pergaulan yang rusak

Bersama

4

Jum’at Pertemuan 4Rasulullah Idola Sepanjang Masa part 1
  1. Remaja mampu memilih idola yang benar dengan mengidolakan Rasulullah
  2. Rasulullah adalah teladan manusia sepanjang masa dan memiliki mukjizat Al-Quran sebagai petunjuk hidup manusia
Di kelas

5

Jum’at Pertemuan 5Hakikat hidup muslim
  1. Siswa memahami makna 2 kalimat syahadat
  2. Siswa mengetahui tujuan hidup manusia di dunia
Bersama

6

Jum’at12 Maret 2010 Pertemuan 6Rasulullah Idola Sepanjang Masa part 2 Idem dengan no  4 Di kelas

7

Jum’at19 Maret 2010 Pertemuan 7Al-Qur’an is the diary part 1
  1. Memahami bukti kebenaran al qur’an
  2. Memahami keutamaan paham dan belajar al qur’an
  3. Memahami al qur’an sebagai pedoman
Di kelas

8

Jum’at Pertemuan 8Al-Qur’an is the diary part 2 Idem Di kelas

9

Jum’at Pertemuan 9AMT : Islam bikin hidup lebih hidup
  1. Siswa menjadi lebih yakin bahwa hanya Islam yang akan membawa keselamatan dan kemuliaan
  2. Siswa menjadi peka dengan kondisi remaja islam yang lain dan kondisi umat pada umumnya
  3. Siswa termotivasi dalam melakukan perintah-perintah Allah (ibadah dan amal kebaikan)
Bersama

10

Jum’at Pertemuan 9Hari Akhir,Kita dan Amal Kita
  1. Siswa merasakan dahsyatnya Hari Akhir
  2. Siswa memahami bahwa hanya Allah yang mengetahui kapan datangnya ajal dan hari kiamat
  3. Siswa memahami bahwa ada pertanggung  jawaban amal qt pada hari akhir
Di kelas

11

Jum’at Pertemuan 10Qadha dan Ikhtiar part 1 “NGGAK AKAN LARI GUNUNG DIKEJAR”
  1. Siswa tahu beda wilayah ikhtiyar dengan qadha (ketetapan) dari Allah
  2. Siswa tahu pentingnya ikhlas dalam menerima qadha Allah
  3. Siswa tahu akan adanya pertanggung jawaban terhadap apa yang dilakukan dalam wilayah ikhtiyar (kaidah kausalitas).
Di kelas

12

Jum’at Pertemuan 10Qadha dan Ikhtiar part 2 “NGGAK AKAN LARI GUNUNG DIKEJAR” Idem Di kelas

13

Jum’at Pertemuan 11Riview materi (Kajian,Quiz ) Siswa dapat mengingat serta mempunyai pemahaman terhadap materi-materi yang telah diberikan Di kelas

14

Jum’at Pertemuan 12Kajian Motivasi dan closing Keputrian
  1. Siswa termotivasi supaya cinta kepada Ilmu sehingga terus belajar Islam
  2. Siswa termotivasi untuk mengamalkan seluruh materi yang telah didapatkan
  3. Siswa dapat menyimpulkan beberapa poin yang didapatkan dari kajian keputrian
  4. Siswa dapat menyumbangkan masukan untuk penyelenggaraan kajian selanjutnya.
Bersama

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s