Tesis

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Konteks Penelitian

Suatu kenyataan yang dihadapi dunia pendidikan khususnya Pendidikan Agama Islam di lembaga pendidikan formal saat ini, adalah rendahnya kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa di dalam kelas. Permasalahannya adalah proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam kurang berhasil dalam pembentukan perilaku positif siswa. Lemahnya aspek metodologi yang dikuasai oleh guru juga merupakan penyebab rendahnya kualitas pembelajaran. Metode yang banyak dipakai adalah model konvensional  yang kurang menarik.

Apabila kualitas pembelajaran tidak dapat ditingkatkan, tidak menutup kemungkinan tujuan Pendidikan Agama Islam pun tidak akan sesuai dengan yang diharapan. Secara umum tujuan Pendidikan Agama Islam adalah membentuk pribadi taqwa[1]. Di samping itu ada juga yang merumuskan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa keapda Allah SWT, memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam dan berakhlakul karimah.[2]

Permasalahan nyata yang tampak dan diakui pula oleh para ahli pendidikan dewasa ini adalah pendidikan agama yang diajarkan di sekolah umum ternyata kurang berhasil untuk mengembangkan pribadi-pribadi yang taat dan berakhlak mulia. Bukti-bukti yang diajukan untuk memperkuat pernyataan tersebut antara lain kenyataan adanya siswa yang tidak mampu membaca Al-Qur’an dengan baik meski sudah duduk di bangku SMP, belum dapat melaksanakan shalat dengan baik, tidak puasa di bulan Ramadhan, tidak menunjukkan perilaku yang terpuji, banyaknya perilaku asusila dan penggunaan obat terlarang dan minum minuman keras di kalangan pelajar. Kesimpulannya, pendidikan agama belum mampu untuk menumbuhkan sikap positif dalam diri anak yang berguna bagi kemaslahatan masyarakat.[3]

Untuk mencapai tujuan pendidikan, dalam Proses Belajar Mengajar, paling tidak ada dua aspek yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu : didaktik dan metodik. Didaktik adalah ilmu menanamkan pengetahuan kepada murid dengan cara yang cepat dan tepat, sehingga anak dapat dengan mudah menangkapnya. Atau dengan istilah lain ilmu yang memberi uraian tentang kegiatan proses mengajar yang menimbulkan proses belajar. Sedangkan metodik adalah bagian dari didaktik yang membicarakan tentang pelaksanaan cara mengajar, atau cara guru menyajikan bahan pelajaran kepada murid.[4]

Kenyataan di lapangan bahwa guru-guru agama (Islam), jarang yang mau mencermati efektivitas pengunaan metode mengajar, perhatiannya lebih terfokus pada buku pegangan (teks book) yang dipergunakan. Disamping itu, dalam mengajar kebanyakan guru agama, lebih dominan menggunakan metode ceramah, belum mampu mengembangkan program-program pembelajaran yang efektif dan aplikatif. Guru Agama belum banyak menggunakan manajemen pembelajaran yang profesional, masih banyak menggunakan paradigma lama yaitu pendidikan sebagai transfer ilmu saja belum pada pencapaian tiga ranah (kognitif, afektif, dan psikomototik).[5]

Dalam Islam, penggunaan metodologi yang tepat  dalam rangka mempermudah proses belajar-mengajar adalah suatu yang niscaya sehingga keberadaanya sangat dinanti baik dari kalangan siswa maupun dari pemerhati dan pengguna lulusan keguruan. Ismail[6]  mengatakan bahwa metode sebagai seni dalam mentrasfer ilmu pengetahuan kepada siswa dianggap lebih signifikan dibanding dari materi itu sendiri. Sebuah adagium mengatakan bahwa “At-Thariqat Ahamm min al-Maddah” (metode jauh lebih penting dibanding materi). Ini adalah sebuah realita bahwa cara penyampaian yang komunikatif lebih disenangi oleh siswa, walaupun sebenarnya materi yang disampaikan sesungguhnya tidak terlalu menarik. Sebaliknya materi yng cukup menarik, karena disampaikan dengan cara yag kurang menarik maka materi itu kurang dapat dicerna oleh siswa.

Al-qur’an sebagai sumber hukum Islam telah memrintahkan untuk memilih metode yang tepat dalam proses pembelajaran, seperti yang terdapat dalam surh an-Nahl : 125.

 

äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ

“Serulah (manusia) kepada Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Dalam Surat Ali Imran 159 Allah SWT menjelaskan:

 

$yJÎ6sù 7pyJômu‘ z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 ( öqs9ur |MYä. $ˆàsù xá‹Î=xî É=ù=s)ø9$# (#q‘ÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym ( ß#ôã$$sù öNåk÷]tã öÏÿøótGó™$#ur öNçlm; öNèdö‘Ír$x©ur ’Îû ͐öDF{$# ( #sŒÎ*sù |MøBz•tã ö@©.uqtGsù ’n?tã «!$# 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$# ÇÊÎÒÈ

“Maka disebabkan rahmat dari Alloh-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan ini . Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya”.

Selama ini, metodologi pembelajaran agama Islam yang diterapkan masih mempertahankan cara-cara lama (tradisional) seperti ceramah, menghafal dan demonstrasi praktik-praktik ibadah yang tampak kering. Seperti halnya pada materi ilmu tajwid dari masa kemasa selalu menggunakan cara-cara lama dengan ceramah dan membaca al-Qur’an sehingga cara-cara seperti itu diakui atau tidak, membuat siswa tampak bosan, jenuh dan kurang bersemangat dalam belajar agama.

Oleh karenanya secara umum seluruh praktisi pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam perlu melakukan inovasi, kreatifitas sehingga tujuan pendidikan Islam dapat tercapai. Strategi PAIKEM merupakan pendekatan dalam proses belajar mengajar yang bila diterapkan secara tepat berpeluang dalam meningkatkan tiga hal, pertama, maksimalisasi pengaruh fisik terhadap jiwa, kedua, maksimalisasi pengaruh jiwa terhadap proses psikofisik dan psikososial,dan ketiga, bimbingan ke arah pengalaman kehidupan spiritual.

Hal ini memang merupakan masalah pendidikan secara umum, namun dilihat dari aspek psikologis bahwa dalam praktek pembelajaran Agama kurang dapat memobilisasikan seluruh potensi yang ada pada diri siswa: berfikir, sikap dan keterampilan anak didik. Dengan kata lain bila pengajaran agama (Islam) menggunakan metode ceramah, berarti hanya menyentuh aspek kognitif saja (menghafal dan mengetahui). Padahal inti Pendidikan Agama Islam adalah keimanan yang lebih berdimensi afektif dengan sasaran utama hati nurani (concience) yang harus diterapkan (psikomotor) dalam  kehidupan sehari-hari. Untuk itu pengajaran Pendidikan Agama Islam hendaknya bersifat integralistik yang menyentuh semua ranah.

Untuk itulah dibutuhkan suatu program pengembangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang didalamnya diarahkan bukan hanya sekedar menyuruh siswa untuk menghafal nilai-nilai normatif, disampaikan lewat ceramah dan diakhiri dengan ulangan, tetapi program pengembangan Pendidikan Agama Islam yang mengarahkan siswa tidak hanya memahami berbagai konsep, tetapi mereka mampu menguasai ketrampilan berpikir, karena memang seharusnya learning itu berisi thinking dan juga values. Disamping itu seorang guru agama harus pandai membuat perencanaan yang mengarah pada pengembangan ke arah yang lebih baik.

Atas dasar itulah dipilih program-program pengembangan yang tepat dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan maksud sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam upaya pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam secara sempurna dan diharapkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari maka dipandang perlu untuk mengkaji sebuah program pembelajaran Pendidikan Agama Islam selanjutnya disingkat PAI. Dalam hal ini, penulis akan mengadakan penelitian mengenai Manajemen Pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang.

Salah satu masalah pendidikan agama Islam yang dihadapai di SMP Negeri 4 Malang adalah lemahnya manajemen (pengelolaan) program-program pembelajaran mulai dari proses perencanaan program pembelajaran, pelaksanaan program pembelajaran baik di kelas atau di luar kelas (Intra maupun ekstrakurikuler), dan proses pengendalian program pembelajaran, baik lewat penilaian program yang dikembangkan maupun proses pengawasan dari pihak-pihak terkait dengan penilaian Pendidikan Agama Islam (PAI).

Dalam proses pelaksanaan program pembelajaran PAI di kelas, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pelaksanaan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilakukan di SMP Negeri 4 Malang hanya diarahkan pada kemampuan anak untuk meniru program yang selama ini diterapkan tanpa meneliti sejauhmana program pembelajaran itu benar-benar dapat dijalankan. Seringkali anak-anak hanya disuruh untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya? Ketika anak didik lulus dari sekolah tersebut, mereka pintar secara teoritis, tetapi mereka miskin aplikasi.[7]

Kegagalan institusi pendidikan dalam menjalankan fungsi pendidikannya itu lebih terlihat ketika sekolah gagal melakukan penanaman atau internalisasi nilai kepada para peserta didik. Kegagalan ini dipandang sebagai kekurang-berdayaan pendidikan agama yang diterapkan. Ketidakberdayaan itu dirasakan pada aspek pengembangan internalisasi nilai moral agama ke dalam diri peserta didik. Oleh karena itu tidak berlebihan jika Roem Topatimasang, seorang aktivis LSM pendidikan, menganggap sekolah sudah mati. Sebab sekolah dipandang tidak sanggup lagi menggarap tiga wilayah kepribadian manusia (taksonomi pendidikan) yang merupakan fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan: membentuk watak dan sikap (afektive domain) mengembangkan pengetahuan (cognitif domain) serta melatihkan ketrampilan (psikomotorik atau conative domain).[8] Sudarsono, mengatakan bahwa banyak indikasi yang membuktikan bahwa anak-anak remaja yang memasuki sekolah hanya sebagian saja yang benar-benar berwatak sholeh, sedangkan sebagian yang lain adalah pemabuk, peminum, pengisap ganja dan pecandu narkotik.[9]

Fenomena yang memprihatinkan itu, menuntut kita untuk lebih berbuat dalam menyediakan alternatif dan menyediakan persiapan-persiapan lembaga pendidikan yang matang dengan berbagai metodologi yang cocok serta sarana pendukung lainnya yang dirasa lebih pas dalam mengantisipasi kehidupan masyarakat umumnya dan pelajar khususnya yang serba dilematis.

Sekolah sebagai institusi yang mengemban misi publik, seharusnya dapat mempertanggungjawabkan pembentukkan moralitas siswa. Ketika kondisi moralitas masyarakat makin tidak terbentuk, sekolah-sekolah harus melakukan prakarsa reformatif untuk membenahi moral bangsa ini. Misalnya dengan memperbaiki pola manajerial pembelajaran yang efektif dan efisien dengan lebih menyentuh pada totalitas aspek kesadaran IQ, EQ dan SQ serta RQ (kecerdasan religius),[10] termasuk didalamnya merevisi secara holistik metode pendidikan agama yang selama ini cenderung mengindoktrinasikan ajaran agama dari pada membuat siswa memahami dan menghayati makna ajaran tersebut.[11]

Oleh karenanya institusi pendidikan dengan wajah apapun (madrasah, sekolah umum atau pesantren) secara bersama harus dapat mengembangkan human dignity (harkat dan martabat manusia) atau humanizing human (yaitu memanusiakan manusia) sehingga benar-benar mampu menjadi khalifah di muka bumi. [12] Juga yang tak kalah pentingnya adalah pengelolaan secara manajerial terhadap beberapa program pengembangan pembelajaran pendidikan sehingga antara mengedepankan fungsi-fungsi pembelajaran dengan meningkatkan mutu pembelajaran akan dapat tercapai bersama-sama.

SMP Negeri 4 Malang, sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai tugas setara dengan sekolah lain yaitu mempelopori penyempurnaan proses dan tujuan pembelajaran melalui perbaikan pengembangan program-program pembelajaran khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam(PAI) dengan cara pengintegrasian dan internalisasi nilai-nilai pendidikan di dalam hidup dan kehidupan para pelajar, yang pada gilirannya merupakan bekal yang berharga baginya untuk membangun diri sendiri dan bangsa sesuai dengan yang kita harapkan bersama sebagaimana yang tercantum dalam salah satu visinya yakni Unggul dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Seni (IPTEKs) yang berlandaskan Iman dan Taqwa (IMTAQ) dan Berbudi pekerti yang luhur.[13]

Untuk mencapai tujuan tersebut, SMP Negeri 4 Malang banyak melakukan berbagai terobosan program sekolah diantaranya: Pertama, penyiasatan kurikulum pendidikan yang dipercaya akan mampu menjawab tantangan kebutuhan di masa depan yang disusun oleh sekolah bersama dengan seluruh stakeholder yang ada. Kedua, penyelenggaraan program pembelajaran yang lebih diorientasikan pada pengembangan nilai-nilai yang benar-benar dapat terinternalisasi dalam kepribadian dan kehidupan siswa sehingga berkemampuan nyata untuk mengidentifikasi masalah serta mencari solusi untuk pemecahan masalah-masalah kemasyarakatan dalam lingkungannya, tanpa mengabaikan penyiapan kemampuan akademik untuk berhasil menapaki jenjang pendidikan tinggi. Begitupun dengan sistem seleksi calon siswa, penambahan wawasan profesionalisme tenaga edukasi dan program-program unggulan lainnya.[14] Sehingga dengan program ini, menjadikan sekolah ini meraih image dalam masyarakat sebagai salah satu sekolah favorit yang mengembangkan disamping seni juga nilai-nilai agama di Kota Malang.[15]

Dipilihnya SMP Negeri 4 Malang sebagai setting penelitian karena peneliti menganggap masih belum maksimalnya kegiatan-kegiatan keagamaan termasuk program pembelajaran PAI yang dikembangkan Baik intra maupun ekstrakurikuler , sementara sekolah tersebut termasuk sekolah SSN yang sudah memasuki tahap II bahkan sudah membuka kelas bilingual sebagai persyaratan menuju Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Disamping itu sekolah ini telah mengembangkan program unggulannya di bidang Seni yang mana prestasinya sudah mencapai tingkat nasional, karena itu untuk mengimbanginya, perlu ditingkatkan dan dikembangkan program-program keagamaan dalam membekali siswa-siswinya dalam even-even di luar pantauan orang tua dan guru-gurunya di sekolah.

Yang lebih penting dari alasan di atas, adalah karena sekolah ini mencapai  prestasi akademik dan nonakademik yang luar biasa. Dalam lomba Penelitian Ilmiah Remaja/PIR masuk nominasi finalis Tingkat Nasional, dalam perolehan rata-rata nilai ujian nasional (NUN) masuk 6 besar tingkat Kota, juara olimpiade Biologi tingkat kota dan masuk nominasi finalis tingkat nasional. Dalam pelulusan Ujian Nasional sejak tiga tahun terakhir ini 100 % meluluskan siswanya. Sedangkan prestasi nonakademis yang diraih dari kegiatan ekstrakurikuler terutama Seni jauh melampaui sekolah-sekolah lain di kota Malang, karena itu SMP Negeri 4 Malang adalah satu-satunya di kota Malang yang dipercaya Depdiknas provinsi Jawa Timur untuk bergabung dalam Paguyuban Peminat Seni Tradisi (PPST) dan dipercaya menjadi pilot project sekolah Seni di Kota Malang.

Di samping itu letaknya yang strategis karena berada pada lokasi Perguruan Tinggi Universitas Negeri Malang (UM), berdekatan dengan pusat bisnis terbesar di kota Malang (Matos) yang memungkinkan terjadinya pengaruh negatif bagi dunia pendidikan, maka perlu dikembangkan program-program keagamaan yang intens untuk mengimbangi akan rawannya dekadensi moral  yang pada akhirnya terjerumus kedalam lingkungan yang kurang mendidik.

Di samping itu pula, dipilihnya lokasi ini sebagai tempat penelitian karena peneliti ingin mengetahui sejauhmana program-program pembelajaran yang dilaksanakan hingga mampu menjadi sekolah unggulan di kota Malang termasuk ingin mengetahui program-program pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang diterapkan. Karena menurut observasi peneliti terdapat 19 ekstrakurikuler yang dikembangkan termasuk ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam dan Budaya religius yang kondusif. Hal inilah yang menjadi alasan tersendiri bagi peneliti untuk menjadikan lembaga tersebut sebagai lokasi penelitian.

Sebagai sekolah yang telah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, SMP Negeri 4 Malang diharapkan bisa dijadikan figur sentral atau lembaga yang representatif untuk mewakili standar percontohan kualitas pendidikan seluruh SMP baik negeri maupun swasta di Kota Malang, dan bahkan mungkin bisa diadopsi dan dicontoh oleh SMP di daerah lain, baik dari segi manajerial pengelolaan kelembagaan ataupun dari segi pembelajaran, sehingga bisa menghasilkan output yang berkualitas sekaligus unggul, termasuk pola pembelajaran pendidikan Agama Islam di sekolah tersebut.

Kegiatan pengembangan program pembelajaran pendidikan agama Islam merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam pendidikan di SMP Negeri 4 Malang, tentunya juga memiliki karakteristik manajemen yang bernilai lebih dibanding sekolah lain. Akan tetapi SMP Negeri 4 Malang juga tidak lepas dari tantangan dan ancaman besar yang tidak jarang dihadapi oleh sekolah umum lainnya seperti kasus tawuran, narkoba, pacaran, pergaulan bebas dan perilaku negatif lainnya, apalagi jika pelakunya didominasi oleh siswa muslim. Sehingga itu, dituntut peran pendidikan agama untuk tampil di garda depan menjadi tameng atau “dokter” dalam mengatasi semua problematika tersebut.[16]

Problematika pendidikan yang sangat kompleks tersebut menjadi beban dan tanggung jawab pendidikan agama secara khusus dengan mengupayakan berbagai cara dengan segala keterbatasan dalam pendidikan agama Islam itu sendiri mulai dari segi kurikulum, metodologi pembelajaran, fasilitas sarana belajar sampai pada alokasi waktu proses belajar mengajar yang sedikit (2 jam pelajaran). Namun, sebagai sekolah yang menyandang SSN menuju RSBN, SMP Negeri 4 Malang tentunya mempunyai strategi atau model manajemen untuk mengembangkan program-program pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang jitu sehingga dapat memposisikan diri sebagai satu kesatuan lembaga unggulan diantara sekolah-sekolah lainnya.

B.  Fokus Penelitian

Berdasarkan konteks penelitian di atas, maka peneliti memfokuskan penelitian ini pada “manajemen pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang”. Fokus penelitian ini selanjutnya dijabarkan dalam beberapa sub fokus sebagai berikut:

  1. Bagaimana proses perencanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang?
  2. Bagaimana proses pelaksanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang?
  3. Bagaimana proses pengendalian pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang?

C. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk :

  1. Mendeskripsikan proses perencanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang
  2. Mendeskripsikan proses pelaksanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang.
  3. Mendeskripsikan proses pengendalian pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang.

D.  Manfaat penelitian

Penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan yaitu: Pertama, sebagai bahan percontohan untuk sekolah lainnya di Kota Malang dan atau sekolah-sekolah di daerah lain terkhusus di lokasi peneliti yaitu SMP Negeri 4 Kota Malang, tentang bagaimana proses manajemen pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam(PAI) .

Kedua, memberikan informasi kepada instansi terkait yang dalam hal ini adalah Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama, serta Institusi SMP Negeri 4 Malang sendiri agar lebih mengembangkan dan mempertahankan program-program unggulan dan sesegera mungkin dapat mengadakan pembenahan jika terdapat kekurangan atau kelemahan yang terjadi dalam kaitannya dengan Proses pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).

Ketiga, hasil penelitian ini bisa digunakan bagi peneliti lain untuk mengkaji secara mendalam konsep-konsep teoritik manajemen dalam pengembangan  program pembelajaran  pendidikan Agama Islam (PAI) yang berkualitas dan lebih luas.

E.  Originalitas Penelitian

            Penelitian mengenai manajemen pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam telah dilakukan oleh  beberapa peneliti. Berdasarkan eksplorasi peneliti, terdapat beberapa hasil penelitian yang mempunyai relevansi dengan penelitian ini, diantaranya:

Hamid Supriyanto , yang berjudul “Pengembangan Metode Pembelajaran Efektif Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri Kota Yogyakarta” yang lebih menitikberatkan pembahasannya pada aspek afektif dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, terkhusus lagi dari segi metodologi pembelajaran yang digunakan oleh Guru PAI (selanjutnya disingkat GPAI) di seluruh SMA Negeri Kota Yogyakarta.[17]

Dalam penelitian deskriptifnya tersebut, Hamid menyimpulkan bahwa para GPAI masih menggunakan metode mengajar yang terbatas dan belum menyentuh aspek afektif sehingga pembelajaran kognitif lebih mendominasi dalam proses pembelajarannya.[18]

Selanjutnya tesis yang berjudul “Manajemen Peningkatan Mutu pendidikan agama Islam di SMP Negeri 2 Delanggu Tahun Ajaran 2004/2005” yang disusun oleh Komarudin yang menitik-beratkan penelitiannya pada pendeskripsian penyusunan rencana program peningkatan mutu, pelaksanaan dan ketercapaian mutu yang dihasilkan di SMPN 2 Delanggu.[19]

Dalam hasil penelitian kualitatif tersebut, Komarudin menyimpulkan bahwa di SMP yng ditelitinya telah menerapkan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) karena kemandirian sekolah dalam menggali dan mengelola sumber dana, kemandirian dalam meningkatkan partisipasi warga sekolah, orang tua dan masyarakat, kemandirian dalam pengadaan sarana prasarana, pembinaan ketrampilan pengelolaan kegiatan siswa, pembekalan dan penerapan kemampuan manajemen dalam skala jumlah siswa yang banyak dalam mewujudkan siswa yang takwa.[20]

Fatur Rahman[21] , Manajemen Mutu dalam Pengembangan Profesionalisme Guru Madrasah di Pondok Pesantren, Tesis, PPs UIN Malang yang menekankan pada bentuk-bentuk pengembangan profesionalisme guru madrasah dan faktor-faktor sebagai pendukung dan penghambat dalam meningkatkan mutu Guru madrasah di Pondok pesantren.

Nur Ali [22] , yang berjudul “Manajemen Pengembangan Kurikulum SMK di Lingkungan Pesantren”, yang mengupas tentang latar belakang diadakan pengembangan kurikulum SMK, bagaimana manajemen pengembangan kurikulum SMK, dan apa implikasinya terhadap citra SMK di lingkungan Pesantren.

Dalam penelitiannya telah diketahui latarbelakang perlunya diadakan pengembangan kurikulum SMK karena kurikulum yang sudah ada masih menerapkan kurikulum lama yang berasal dari Depdiknas saja padahal sekolah ini berada pada lingkungan pesantren maka kurikulum yang dikembangkan adalah  kurikulum dari yayasan pesantren yang dikolaborasikan dengan kurikulum Depdiknas. Pengembangannya melalui proses manajemen modern dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengawasan. Diketahui hasilnya mampu mengangkat citra SMK di lingkungan Pesantren dengan ditandai semakin banyaknya siswa yang masuk dari tahun ke tahun dan alumninya banyak yang diterima di dunia kerja.

Aini Firdaus[23] , yang berjudul “Manajemen Pembelajaran Sekolah Unggulan Studi multi kasus pada MIN Malang 2 dan MI Al-Huda Malang” yang menekankan pada perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran model manajemen modern-religius dengan metode pembelajaran Quantum Teaching and Learning.

Dari pemaparan hasil penelitian di atas, nampak perbedaan dari hasil penelitian penulis. Penelitian penulis ini bermaksud mengungkap bagaimana proses manajemen pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), mulai dari proses perencanaan , pelaksanaan, dan pengendaliannya.  Hal ini perlu dilakukan karena SMP Negeri 4 sudah masuk kategori sekolah SSN tahap II menuju sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional(RSBN).

No Judul / Peneliti Persamaan Perbedaan Originalitas Penelitian
1. Pengembangan Metode Pembelajaran Efektif Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri Kota Yogyakarta,Hamid Supriyanto (Tesis, UIN Yogjakarta, 2005)

 

Metode pembelajaran efektif Menitikberatkan pada aspek afektif siswa 1.Memfokuskan pada Bagaimana Proses Perencanaan Pengembangan Program Pembelajaran PAI

2.Memfokuskan pada bagaimana proses pelaksanaan pengembangan Program Pembelajaran PAI

3. Memfokuskan pada bagaimana proses pengendalian Pengembangan program Pembelajaran

4.mengambil subyek pada Sekolah  SSN menuju RSBN

 

2.

 

 

 

 

Manajemen Peningkatan Mutu pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Delanggu H. Komarudin (Tesis, UIN Yogjakarta, 2005)

 

Meningkatkan mutu pembelajaran rencana program peningkatan mutu, pelaksanaan dan ketercapaian mutu yang dihasilkan
3.

 

 

 

 

Manajemen Mutu dalam Pengembangan Profesionalisme Guru Madrasah di Pondok Pesantren,Fatur Rahman(Tesis UIN Malang, 2008), Meningkatkan mutu Guru Agama Profesionalisme Guru Agama di Pondok Pesantren
4. Manajemen Pengembangan Kurikulum SMK di Lingkungan Pesantren, Nur Ali (Disertasi, UM, 2008) Manajemen Pengembangan Pengembangan Kurikulum SMK di Pesantren
5.

 

 

 

 

Manajemen Pembelajaran Sekolah Unggulan Studi multi kasus pada MIN Malang 2 dan MI Al-Huda Malang” Aini Firdaus (Tesis, UM 2009)

 

Manajemen  pembelajaran Manajemen pembelajaran pada Madrasah unggul

 

F. Definisi Istilah

       Definisi istilah merupakan penjelasan atas konsep penelitian yang ada dalam judul dan fokus penelitian. Definisi istilah sangat berguna untuk memberikan pemahaman dan batasan yang jelas agar penelitian ini tetap terfokus pada kajian yang diinginkan peneliti. Adapun istilah-istilah yang perlu didefinisikan adalah sebagai berikut:

  1. Manajemen adalah ilmu dan seni yang menyangkut aspek-aspek yang sistematis, suatu proses kerjasama dan usaha melalui orang lain, pengaturan, pengarahan, koordinasi, evaluasi untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan serta dengan memperhatikan sumber dana, alat, metode,  waktu dan tempat pelaksanaan.
  2. Pengembangan adalah proses yang dilakukan secara terus menerus dalam mencapai tujuan yang lebih baik dan lebih memperbaiki dari program yang ada. Istilah pengembangan dapat bermakna kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif, bagaimana menjadikan yang sedikit menjadi lebih banyak. Sedang secara kualitatif, bagaimana yang belum berkembang menjadi lebih berkembang dan lebih baik.
  3. Program  adalah rancangan mengenai asas serta usaha yang akan dijalankan. sedang yang dimaksud program disini adalah program pembelajaran yang menyangkut tentang perencanaan program pembelajaran, pelaksanaan program  pembelajaran dan pengendalian program pembelajaran. Arah pengembangannya dimulai dari (1).Mengkaji , memetakan dan mengembangkan KD (Kompetensi Dasar) agar diketahui karakteristiknya. Hal ini perlu dilakukan guna merancang strategi dan metode yang akan digunakan pada kegiatan tatap muka, tugas terstruktur, dan mandiri tidak terstruktur (2).Mendeskripsikan KD secara lebih rinci dan terukur ke dalam rumusan indikator kompetensi. Indikator berguna untuk merancang kegiatan pembelajaran yang diperlukan. Indikator yang dominan pada prinsip dan prosedural misalnya, menyarankan kegiatan pembelajaran dengan strategi diskoveri inkuiri. (3).Membuat desain pengembangan pembelajaran dalam bentuk silabus atau desain umum pembelajaran seperti disajikan dalam Contoh Desain Umum Pembelajaran Sistem SKS (4).Menjabarkan silabus atau desain pembelajaran dalam bentuk rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) tiap pertemuan (5). Melaksanaan pembelajaran sesuai dengan silabus/desain pembelajaran dan RPP (6).Melakukan penilaian proses maupun hasil belajar untuk mengukur pencapaian kompetensi
  4. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Jadi interakasi siswa dengan guru atau sumber belajar yang lain dalam lingkungan belajar disebut pembelajaran.
  5. Manajemen Pengembangan Pembelajaran adalah suatu upaya mengatur (memanejemeni, mengendalikan) aktivitas mengembangkan pembelajaran berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip pembelajaran untuk menyukseskan tujuan pembelajaran agar tercapai secara lebih efektif dan efisien. Wilayah pengembangan disini menyangkut pengembangan perencanaan proses pembelajaran, pengembangan pelaksanaan proses pembelajaran, dan pengembangan penilaian hasil pembelajaran.
  6. Pendidikan agama Islam (PAI) merupakan usaha sadar dan terencana untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, dan mengamalkan Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan. PAI yang pada hakekatnya merupakan sebuah proses itu, dalam perkembangannya juga dimaksud sebagai rumpun mata pelajaran yang diajarkan di sekolah maupun perguruan tinggi.

 

G.  Ruang Lingkup Penelitian

Dalam penelitian ini, akan dijelaskan ruang lingkup kajian mengenai manajemen pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dikembangkan di SMP Negeri 4 Malang. Dalam observasi awal ditemukan bahwa perlu dirumuskan program-program pembelajaran pendidikan Agama Islam (PAI) yang mampu mewujudkan visi misi sekolah. Disamping itu perlu juga adanya pengelolaan program pembelajaran secara efektif dan efisien. Karena selama ini program yang ada di SMP Negeri 4 Malang ini kurang dimenej (dikelola) dengan baik, padahal pengembangannya sudah dilakukan.

Untuk memudahkan pembahasan dalam penelitian ini, dibuatlah diagram pelaksanaan manajemen pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang seperti di bawah ini:

 

H.  Sistematika Pembahasan

Demi memudahkan memperoleh gambaran singkat tentang isi tesis maka berikut dikemukakan kandungan alur pembahasan sebagai berikut:

Bab pertama pendahuluan. Dalam pendahuluan diuraikan tentang latar belakang Penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, Definisi Istilah dan sistematika laporan penelitian.

Bab kedua, Kajian Pustaka, yang menguraikan tentang: A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang meliputi; 1).Pengertian Pendidikan Agama Islam, 2). Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam, 3). Tujuan Pendidikan Agama Islam 4). Prinsip Pembelajaran Pendidikan Agama Islam 5). Standar Isi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam 6). Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. B.  Manajemen Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang meliputi; 1).Perencanaan, 2).Pelaksanaan (Pengorganisasian dan Pengarahan) dan 3)Pengendalian.

Bab ketiga membahas tentang Metode Penelitian yang berisi tentang: (a)Pendekatan dan jenis penelitian, (b)Lokasi penelitian, (c)Kehadiran peneliti (d)Instrumen Penelitian (e)Pengumpulan data, (f)Analisis data, (g)Pengecekan keabsahan data, dan (h)Tahap-tahap penelitian.

Bab keempat, Paparan Data dan Temuan Penelitian yang berisi tentang: A.Paparan data tentang 1). Perencanaan pengembangan program pembelajaran PAI, 2). Pelaksanaan pengembangan program pembelajaran PAI, 3). Pengendalian pengembangan program pembelajaran PAI. dan B.Temuan Penelitian tentang 1). Perencanaan pengembangan program pembelajaran PAI, 2). Pelaksanaan pengembangan program pembelajaran PAI, 3). Pengendalian pengembangan program pembelajaran PAI.

Bab kelima, Pembahasan meliputi a). Proses Perencanaan Pengembangan Program Pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang b). Proses Pelaksanaan Pengembangan Program Pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang c).Proses Pengendalian Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang.

Bab keenam, Penutup yang meliputi tentang kesimpulan dari hasil penelitian disertai saran-saran.

 

==

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

  1. A.  Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
    1. 1.    Pengertian Pendidikan Agama Islam

            Pendidikan agama Islam (PAI) merupakan usaha sadar dan terencana untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, dan mengamalkan Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan. PAI yang pada hakekatnya merupakan sebuah proses itu, dalam perkembangannya juga dimaksud sebagai rumpun mata pelajaran yang diajarkan di sekolah maupun perguruan tinggi. [24]

            Dari pengertian tersebut dapat dikemukakan bahwa kegiatan (pembelajaran) PAI diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama Islam peserta didik, disamping untuk membentuk keshalehan sosial. Dalam arti, kualitas atau keshalehan pribadi itu diharapkan mampu memancar keluar dalam hubungan keseharian dengan manusia lainnya (bermasyarakat) baik yang seagama maupun yang tidak serta dalam berbangsa dan bernegara sehingga dapat terwujud persatuan dan kesatuan nasional (ukhuwah wathoniyah) dan bahkan ukhuwah insaniyah.[25]

            Berikutnya, PAI dapat dimaknai dari dua sisi yaitu: Pertama, ia dipandang sebagai sebuah mata pelajaran seperti dalam kurikulum sekolah umum (SD, SMP, SMA). Kedua, ia berlaku sebagai rumpun pelajaran yang terdiri atas mata pelajaran Aqidah Akhlak, Fiqih, Al-Qur’an-Hadis, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab seperti yang diajarkan di Madrasah (MI, MTs dan MA).[26] Pada bagian ini pendidikan nilai PAI dimaksudkan pada pemaknaan yang pertama walaupun dalam kerangka umum dapat mencakup keduanya.

  1. 2.    Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP

                             Pendidikan agama Islam (PAI) SMP mempunyai karakteristik tertentu yang membedakan dengan mata pelajaran yang lain diantaranya:[27]

  1. PAI adalah rumpun mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran pokok yang terdapat dalam agama Islam. Dari segi isinya, PAI merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi salah satu komponen, dan tidak dapat dipisahkan dari rumpun mata pelajaran yang bertujuan mengembangkan moral dan kepribadian peserta didik.
  2. PAI sebagai sebuah program pembelajaran, diarahkan pada (1) menjaga aqidah dan ketaqwaan peserta didik, (2) menjadi landasan untuk rajin mempelajari ilmu-ilmu lain yang diajarkan di sekolah; (3) mendorong peserta didik untuk kritis, kreatif dan inovatif dan; (4) menjadi landasan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. PAI bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama Islam, tetapi juga untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (membangun etika sosial).
  3. Pembelajaran PAI tidak hanya menekankan penguasaan kompetensi kognitif saja, tetapi juga afektif dan psikomotoriknya.
  4. Materi PAI dikembangkan dari tiga kerangka dasar ajaran Islam, yaitu Aqidah, syari’ah dan akhlak.
  5. Output program pembelajaran PAI di sekolah adalah terbentuknya peserta didik yang memiliki akhlak mulia (budi pekerti luhur) yang merupakan misi utama dari diutusnya Nabi Muhammad Saw di dunia ini. Pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan dalam Islam sehingga pencapaian akhlak mulia (karimah) adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan.
  6. 3.    Tujuan Pendidikan Agama Islam

                        Pendidikan agama Islam (PAI) pada sekolah umum bertujuan meningkatkan keimanan, ketaqwaan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan siswa terhadap ajaran Islam sehingga menjadi manusia muslim yang bertaqwa kepada Allah Swt serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[28]

                        Dari tujuan tersebut, terdapat beberapa dimensi yang hendak dituju dalam pembelajaran PAI yaitu: (1) keimanan siswa terhadap ajaran agama Islam; (2) pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan siswa; (3) penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan siswa dalam menjalankan ajaran agama; (4) pengamalan,[29] dalam arti bagaimana ajaran yang telah diimani, dipahami dan dihayati atau diinternalisasikan oleh peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk menggerakan, mengamalkan dan mentaati ajaran agama dan nilai-nilainya dalam kehidupan pribadi sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt serta mengaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

                        Depdiknas merumuskan tujuan PAI di sekolah umum, yaitu:

  1. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemukuan dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan serta pengalaman siswa tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanannya kepada Allah Swt.
  2. Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah. [30]

Tujuan PAI ini terelaborasi untuk masing-masing satuan pendidikan dan jenjangnya serta kemudian dijabarkan menjadi standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Tujuan pendidikan ini sangat terkait dengan standar kelulusan yang tetapkan oleh pemerintah. Penetapan standar kelulusan ini berlaku bagi semua siswa di Indonesia, sesuai dengan mata pelajaran, jenis dan jenjang pendidikan. Standar kelulusan tersebut termaktub dalam Permendiknas RI Nomor 24 tahun 2006 yang menyebutkan bahwa standar kompetensi lulusan pada mata pelajaran PAI pada SMP/MTs, ditetapkan yaitu: 1). Menerapkan tata cara membaca Al-qur’an menurut tajwid, mulai dari cara membaca “Al”- Syamsiyah dan “Al”- Qomariyah sampai kepada menerapkan hukum bacaan mad dan waqaf 2). Meningkatkan pengenalan dan keyakinan terhadap aspek-aspek rukun iman mulai dari iman kepada  Allah sampai kepada iman pada Qadha dan Qadar serta Asmaul Husna 3).Menjelaskan dan membiasakan perilaku terpuji seperti qanaah dan tasamuh dan menjauhkan diri dari perilaku tercela seperti ananiah, hasad, ghadab dan namimah 4). Menjelaskan tata cara mandi wajib dan shalat-shalat munfarid dan jamaah baik shalat wajib maupun shalat sunat 5). Memahami dan meneladani sejarah Nabi Muhammad dan para shahabat serta menceritakan sejarah masuk dan berkembangnya Islam di nusantara [31]

  1. 4.    Prinsip Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

                        Prinsip pembelajaran PAI yang harus diperhatikan guru yaitu: (a) berpusat pada siswa (kegiatan pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subyek belajar dan mendorong mereka untuk mengembangkan segenap bakat dan potensinya secara optimal); (b) belajar dengan melakukan. Belajar bukan hanya sekedar mendengarkan, mencatat sambil duduk di bangku, akan tetapi belajar adalah proses beraktivitas, belajar adalah berbuat (learning by doing); (c) mengembangkan kecakapan sosial. Maksudnya strategi pembelajaran diarahkan kepada hal yang memungkinkan siswa terlibat dengan pihak lain; (d) mengembangkan fitrah ber-Tuhan. Pembelajaran yang mengarahkan pada pengasahan rasa dan penghayatan agama sesuai dengan tingkatan usia siswa. (e) mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah; (f) mengembangkan kreativitas siswa; (g) mengembangkan pemanfaatan ilmu dan teknologi; (h) menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang baik; (i) belajar sepanjang hayat. Mendorong siswa mencari ilmu dimanapun berada; (j) perpaduan kompetisi, kerjasama dan solidaritas. [32]

  1. 5.    Standar Isi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP

Berdasarkan PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 6 Ayat (1) butir (a) disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia termasuk di dalamnya muatan akhlak mulia yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.[33] Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Mata pelajaran agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual. Peningkatan potensi spiritual dalam kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.

Berdasarkan hal tersebut, jelas bahwa pendidikan agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti dan moral sebagai wujud dari pendidikan agama. Peningkatan dan penanaman nilai-nilai keagamaan serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.

Pendidikan Agama Islam diberikan dalam rangka mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertaqwa kepada Allah Swt dan berakhlak mulia serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial. Tuntutan visi ini mendorong dikembangkannya standar kompetensi sesuai dengan jenjang persekolahan yang secara nasional ditandai dengan ciri-ciri: (1) lebih menitikberatkan pencapaian kompetensi secara utuh selain penguasaan materi; (2) mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia; (3) memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk mengembangkan strategi dan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya pendidikan.[34]

Dengan Pendidikan Agama Islam diharapkan tampilnya manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, taqwa dan aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global.

Guru diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pencapaian seluruh kompetensi dasar perilaku terpuji dapat dilakukan tidak beraturan. Peran semua unsur sekolah, orang tua siswa dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan PAI.

Adapun ruang lingkup PAI meliputi aspek-aspek yaitu: Al-Qur’an dan Hadis, Aqidah, Akhlak, fiqih dan Tarik dan Kebudayaan Islam. Berikut, PAI dilaksanakan sesuai dengan tingkat perkembangan fisik dan psikologis peserta didik serta menekankan keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara hubungan manusia dengan Allah Swt, hubungan manusia dengan diri sendiri dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya.

Oleh karenanya, pemerintah telah menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut dapat dilihat pada lampiran. Berikut yang perlu diperhatikan adalah merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan standar proses dan standar penilaian.

 

  1. Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi siswa. Untuk terjadinya perubahan perilaku sudah tentu di dalam pembelajaran tersebut terdapat pengalaman belajar yang sistematis yang langsung menyentuh kebutuhan siswa.[35]            Untuk keperluan pembelajaran dalam konteks pemberian pengalaman belajar dimaksud, maka model pembelajaran yang monoton yang selama ini berlangsung di kelas sudah saatnya diganti dengan model pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif, siswa mengidentifikasi, merumuskan dan menyelesaikan masalah.

Model pembelajaran yang ditawarkan para ahli untuk mewujudkan kegiatan belajar aktif dimaksud diantaranya: (1) Inquiry-discovery approach (belajar mencari dan menemukan sendiri); (2) Expository teaching (menyajikan bahan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik dan lengkap sehingga siswa tinggal menyimak dan mencernanya secara teratur dan tertib); (3) Mastery learning (belajar tuntas); (4) Humanistic education yaitu menitik beratkan pada upaya membantu siswa mencapai perwujudan dirinya sesuai dengan kemampuan dasar dan keunikan yang dimilikinya).[36]

Mulyasa menawarkan konsep tentang model pembelajaran yang efektif bagi terbentuknya kompetensi siswa diantaranya: (1) Contectual Teaching and Learning yaitu model pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata; (2) role playing yaitu model pembelajaran yang menekankan pada problem solving (pemecahan masalah); (3) modular Instruction yaitu pembelajaran dengan menggunakan system modul/paket belajar mandiri yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah; (4) pembelajaran partisipatif yaitu pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran.[37]

Dari sekian model di atas, masih banyak model pembelajaran lainnya yang dapat dipilih dan digunakan oleh guru, guna mendesain pengalaman belajar yang bermanfaat bagi siswa baik bagi perkembangan ranah kognitif, afektif maupun psikomotoriknya. Yang jelas tidak ada satu model pembelajaran pun yang paling efektif untuk satu mata pelajaran, yang ada adalah satu atau beberapa model pembelajaran yang efektif untuk mata pelajaran tertentu tetapi belum tentu untuk materi lainnya. Oleh karenanya guru harus cerdas dalam menentukan model pembelajaran yang sesuai untuk suatu kegiatan pembelajaran guna tercapainya indikator-indikator yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Bagi guru jangan terlalu merisaukan cara mengajar yang penting adalah bagaimana kondisi pembelajaran yang diharapkan itu dapat terjadi dan dirasakan oleh siswa. Karena dari kondisi pembelajaran itu diharapkan maksud dan tujuan pembelajaran dapat terjadi, dengan cara mengajar yang bervariasi. Setiap cara mengajar memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Yang kurang baik adalah apabila guru sering menggunakan satu cara pembelajaran yang terus menerus dengan slogan dikotomis yakni bila guru aktif maka siswa diam bila siswa aktif, maka guru pasif.[38] Dengan menghindari penggunaan metode monoton diharapkan pencapaian pendidikan agama terjadi secara maksimal.

Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang berhubungan dengan pembelajaran. Ayat pertama (lima ayat yang merupakan wahyu pertama) berbicara tentang pembelajaran, yaitu:

ù&tø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/u‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ

 

(1).Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,(2).  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3).  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, (4).  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, (5).  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.[39]

Lima ayat tersebut merupakan ayat pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad, yang diantaranya berbicara tentang perintah kepada semua manusia untuk selalu menelaah, membaca, belajar dan observasi ilmiah tentang penciptaan manusia sendiri.[40]

Dalam Islam, penggunaan metodologi yang tepat  dalam rangka mempermudah proses belajar-mengajar adalah suatu yang niscaya sehingga keberadaanya sangat dinanti baik dari kalangan siswa maupun dari pemerhati dan pengguna lulusan keguruan. Ismail[41]  mengatakan bahwa metode sebagai seni dalam mentrasfer ilmu pengetahuan kepada siswa dianggap lebih signifikan dibanding dari materi itu sendiri. Sebuah adagium mengatakan bahwa “At-Thariqat Ahamm min al-Maddah” (metode jauh lebih penting dibanding materi). Ini adalah sebuah realita bahwa cara penyampaian yang komunikatif lebih disenangi oleh siswa, walaupun sebenarnya materi yang disampaikan sesungguhnya tidak terlalu menarik. Sebaliknya materi yng cukup menarik, karena disampaikan dengan cara yag kurang menarik maka materi itu kurang dapat dicerna oleh siswa.

Al-qur’an sebagai sumber hukum Islam telah memrintahkan untuk memilih metode yang tepat dalam proses pembelajaran, seperti yang terdapat dalam surh an-Nahl : 125.

 

äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ

“Serulah (manusia) kepada Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Ayat diatas berbicara tentang beberapa metode pembelajaran. Di sini ada tiga contoh metode, yaitu hikmah (kebijaksanaan), mau’idhah hasanah (nasehat yang baik), dan mujadalah (dialog dan debat). Pendapat ini juga banyak disampaikan oleh para mufassir, seperti Fakhrudin ar-Razy, Muhammad Ash-Shawy, an-Nawawy al-Jawy, dan lain-lain.[42]

 

  1. B.  Manajemen Pengembangan Program Pembelajaran
  2. 1.    Konsep Manajemen

              Dalam Webster, News Collegiate Dictionary disebutkan bahwa manajemen berasal dari kata to manage berasal dari bahasa Italia “managgio” dari kata “managgiare” yang diambil dari bahasa Latin, dari kata manus yang berarti tangan dan agere yang berarti melakukan. Managere diterjemahkan dalam bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda management dan manager untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen. Management diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan.[43]

              Kata manage dalam kamus tersebut diberi arti: (1) to direct and control (membimbing dan mengawasi); (2) to treat with care (memperlakukan dengan seksama); (3) to carry on business or affair (mengurus perniagaan, atau urusan/persoalan); (4) to achieve one’s purpose (mencapai tujuan tertentu).[44] Pengertian manajemen dalam kamus tersebut memberikan gambaran bahwa manajemen adalah suatu kemampuan atau ketrampilan membimbing, mengawasi dan memperlakukan/mengurus sesuatu dengan seksama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Manajemen banyak dikemukakan oleh beberapa pakar manajemen yaitu: manajemen adalah suatu proses pencapaian tujuan organisasi lewat usaha orang lain.[45] Menurut Gurlick manajemen adalah suatu bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama.[46]

Terry memberikan defenisi: “management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating and controlling, performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human beings and other resources”.[47] Maksudnya bahwa manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan dan mencapai tujuan dengan menggunakan sumber manusia dan sumber lain.

Sedangkan Hersey dan Blanchard memberikan definisi management as working with and through individuals and groups to accomplish organizational goals.[48] Pengertian di atas mengandung arti bahwa manajemen diartikan sebagai suatu bekerja dengan dan melalui individu dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi.

Manajemen menurut Nanang adalah: (1) manajemen sebagai ilmu pengetahuan karena memiliki serangkaian teori yang menuntut manajer untuk melakukan tindakan pada situasi tertentu dan meramalkan akibat-akibatnya, (2) manajemen merupakan suatu kiat atau seni untuk melaksanakan pekerjaan melalui orang-orang, yang membutuhkan tiga unsur yaitu pandangan, pengetahuan teknis dan komunikasi; (3) manajemen merupakan suatu profesi yang dituntut persyaratan tertentu seperti: (a) kemampuan / kompetensi meliputi konseptual, sosial dan teknikal; (b) kemampuan konsep adalah kemampuan mempersepsi organisasi sebagai suatu sistem, (c) memahami perubahan pada setiap bagian berpengaruh kepada keseluruhan organisasi.[49]

Berdasarkan beberapa pengertian manajemen di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa manajemen dapat diartikan sebagai ilmu dan seni yang menyangkut aspek-aspek yang sistematis, suatu proses kerjasama dan usaha melalui orang lain, pengaturan, pengarahan, koordinasi, evaluasi untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan serta dengan memperhatikan sumber dana, alat, metode, waktu dan tempat pelaksanaan.

2.  Konsep Pembelajaran

Sedangkan Konsep Pembelajaran Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 pada Pasal 1 Bab pertama, menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.[50] Jadi interakasi siswa dengan guru atau sumber belajar yang lain dalam lingkungan belajar disebut pembelajaran.

Sedang menurut Degeng dalam Uno bahwa pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa.[51] Dalam pengertian ini secara implisit dalam pengajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pengajaran yang ada.

Senada dengan itu, Syafarudin mengemukakan bahwa guru sebagai seorang menejer seharusnya melakukan pembelajaran yaitu dengan proses pengarahan anak didik untuk melakukan kegiatan belajar dalam rangka perubahan tingkah laku (kognitif, afektif dan psikomotik) menuju kedewasaan.[52] Pengarahan agar siswa belajar sehingga terjadi peningkatan dalam tingkah lakunya, disebut sebagai pembelajaran.

Surya berkesimpulan bahwa secara umum pembelajaran merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan dalam perilaku sebagai hasil interaksi antara dirinya dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara lengkap pengertian pembelajaran dapat dirumuskan sebagai berikut: “Pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.”[53]

Beberapa prinsip yang menjadi landasan pengertian di atas diantaranya: Pertama, pembelajaran sebagai usaha memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini mengandung makna bahwa ciri utama output pembelajaran ialah adanya perubahan perilaku dalam diri individu. Artinya seseorang yang telah mengalami pembelajaran akan berubah perilakunya. Tetapi tidak semua perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran. Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) perubahan yang disadari; (2) bersifat kontinyu (berkesinambungan); (3) bersifat fungsional (memberikan manfaat); (4) bersifat positif; (5) bersifat permanent (menetap); (6) bertujuan dan terarah artinya perubahan itu terjadi karena ada sesuatu yang akan dicapai.[54]

Kedua, hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan (kognitif, afektif dan motorik). Ketiga, pembelajaran merupakan suatu proses. Artinya pembelajaran itu merupakan suatu aktivitas yang berkesinambungan, sistematis dan terarah. Keempat, proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada sesuatu tujuan yang akan dicapai. Kelima, pembelajaran merupakan bentuk pengalaman. Perubahan perilaku yang diperoleh dari pembelajaran pada dasarnya merupakan pengalaman.

Berkaitan dengan pengembangan program pembelajaran berarti melakukan suatu proses yang terus menerus untuk melakukan perbaikan program yang sudah ada. Melakukan pengembangan pembelajaran berarti melakukan suatu proses pembelajaran yang terus-menerus sehingga terjadi perbaikan dalam pembelajaran . perbaikan dalam pembelajaran ditandai dengan adanya usaha perbaikan program maupun perbaikan tingkah laku pada diri siswa. Hal-hal yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran mengacu pada SKKD meliputi; silabus, Indikator , Materi pembelajaran, Strategi Pembelajaran, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan evaluasi pembelajaran.

Jadi, pengembangan Program pembelajaran yang dimaksud  adalah usaha yang dilakukan secara sistematis dan terus menerus untuk memperbaiki aktivitas pembelajaran dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran yang ada pada satuan pendidikan tersebut dengan syarat  potensi yang sudah ada lebih memenuhi dari yang distandarkan.

Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa manajemen pengembangan program pembelajaran adalah usaha untuk melakukan perbaikan program baik dalam arti kuantitatif maupun kualitatif yang dimulai dari merencanakan, melaksanakan(mengorganisir dan mengarahkan)  serta mengendalikan program dalam rangka memperoleh perubahan perilaku yang baru dalam diri peserta didik secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan dengan memperhatikan sumber dana, alat, metode, waktu dan tempat pelaksanaan.

3. Kegiatan Manajemen Pengembangan Program Pembelajaran

Dalam teori pembelajaran, manajemen program pembelajaran adalah ilmu murni, terapan dan sistem. Teori pembelajaran melintasi teori pengajaran yang di dalamnya dihubungkan berbagai faktor ke dalam sistem manajemen program pembelajaran.

Menurut Reigeluth bahwa manajemen program pembelajaran adalah berkenaan dengan pemahaman, peningkatan dan pelaksanaan dari pengelolaan program pengajaran yang dilaksanakan.[55] Itu berarti manajemen program pembelajaran adalah proses pendayagunaan seluruh komponen yang saling berinteraksi (sumber daya pengajaran) untuk mencapai tujuan program pembelajaran.

Rohani berpendapat bahwa manajemen (pengelolaan) program pembelajaran adalah lebih mengacu pada suatu upaya mengatur (memanejemeni, mengendalikan) aktivitas pembelajaran berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip pembelajaran untuk menyukseskan tujuan pembelajaran agar tercapai secara lebih efektif dan efisien dan produktif yang diawali dengan penentuan strategi, dan perencanaan, diakhiri dengan penilaian.[56] Penilaian tersebut pada akhirnya akan dapat dimanfaatkan sebagai feedback bagi perbaikan seluruh program pembelajaran lebih lanjut.

Sebagai seorang manajer dalam organisasi kelas pembelajaran, guru setidaknya melalakukan hal sebagai berikut: (1) merencanakan yaitu menyusun tujuan pembelajaran; (2) mengorganisasikan, yaitu menghubungkan atau menggabungkan seluruh sumber daya belajar mengajar dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien; (3) memimpin yaitu memotivasi para peserta didik untuk siap mengikuti pelajaran; (4) mengawasi yaitu apakah pekerjaan atau kegiatan belajar mengajar mencapai tujuan pembelajaran. Karena itu harus ada proses evaluasi pengajaran sehingga diketahui hasil yang dicapai.[57] Sehingga jika diruntut, maka manajemen memiliki unsur atau fungsi yang meliputi: perencanaan pembelajaran, pengorganisasian, kepemimpinan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), dan evaluasi pembelajaran.

Para ahli menajemen memberikan pendapat beragam mengenai fungsi manajemen, namun pada intinya mengandung kesamaan. Sebagai contoh, fungsi-fungsi manajemen menurut: Henry Fayol (planning, organizing, commanding, dan controlling), George R. Terry (planning, organizing, actuating, controlling), L.M. Gulick (planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting, budgeting), Kantz O’ Donniell (planning, organizing, staffing, leading, controlling), [58]

Pendapat beragam tentang fungsi manajemen di atas, menunjukkan banyaknya aspek yang dikerjakan oleh seorang manejer. Dari beberapa pendapat di atas, terlihat adanya beberapa aspek utama yaitu planning, organizing, commanding, controlling. Keempat fungsi tersebut akan dijelaskan berikut:

a. Perencanaan

Perencanaan adalah salah satu fungsi awal dari aktivitas manajemen dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Menurut Anderson, perencanaan adalah pandangan masa depan dan menciptakan kerangka kerja untuk mengarahkan tindakan seseorang di masa depan.[59]

Walaupun semua fungsi manajemen saling terkait namun setiap pelaksanaan kegiatan organisasi harus dimulai dari perencanaan. Dijelaskan Davis bahwa perencanaan pengajaran adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang guru untuk merumuskan tujuan pengajaran. Sedangkan Dick dan Reiser menjelaskan bahwa rencana pembelajaran terdiri dari sejumlah komponen yang jika dipadukan memberikan panduan bagi penyampaian pengajaran efektif kepada pembelajar.[60]

Sesungguhnya fungsi perencanaan dalam organisasi untuk menyajikan suatu sistem keputusan yang terpadu sebagai kerangka dasar bagi kegiatan organisasi. Menurut Nurhida Amir dan Rocdhita, perencanaan pengajaran merupakan suatu proses analisis dari kebutuhan dan tujuan belajar, pengembangan materi, kegiatan belajar mengajar dan penilaian hasil belajar peserta didik, mencobakan semua kegiatan mengajar dan penilaian peserta didik.[61]

Setidaknya terdapat beberapa alasan rencana guru menjadi penting, yaitu: (1) untuk mengurangi kecemasan dan ketidakpastian; (2) memberikan pengalaman pembelajaran bagi guru; (3) perencanaan membolehkan para guru untuk mengakomodasi perbedaan individu diantara siswa; (4) memberikan struktur dan arah untuk pembelajaran.[62] Tegasnya, perencanaan memang sangat diperlukan oleh guru.

Adapun model perencanaan dalam pembelajaran, terdiri dari dua model yaitu: (1) Model perencanaan pengajaran sistemik; (2) Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Model perencanaan pengajaran sistemik terdiri dari beberapa langkah yaitu: (a) mengidentifikasi tugas-tugas; (b) analisis tugas; (c) penetapan kemampuan; (d) Spesifikasi pengetahuan, ketrampilan dan sikap; (e) Identifikasi kebutuhan pendidikan dan latihan; (f) perumusan tujuan; (g) kriteria keberhasilan program; (h) organisasi sumber-sumber belajar; (i) pemilihan strategi pengajaran; uji lapangan program; (j) pengukuran reliabilitas program; (k) perbaikan dan penyesuaian (l) pelaksanaan program; (m) monitoring program.

Sedangkan PPSI sebagai suatu pedoman yang disusun oleh guru untuk menyusun satuan pelajaran memiliki langkah-langkah yaitu (a) menetapkan tujuan pengajaran ; (b) menetapkan bahan pelajaran/pokok bahasan; (c) menetapkan metode/alat pelajaran; (d) menetapkan alat evaluasi; (e) menetapkan sumber bahan pelajaran.

Terkait dengan tujuan pembelajaran, proses pembelajaran menekankan pencapaian tujuan baik berdimensi kognitif, afektif maupun psikomotor sehingga pencapaian hasil belajar menjadi terpadu dari totalitas kepribadian peserta didik. Bentuk pembelajaran tentu saja diterapkan oleh guru yang diawali dari penyusunan tujuan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran adalah pernyataan umum dari apa yang dapat dilakukan pelajar sebagai hasil pembelajaran yang dilakukan. Adapun fungsi utama tujuan dalam proses pembelajaran yaitu: (1) sebagai pedoman dalam merancang pembelajaran yang sesuai guna memilih dan mengatur aktivitas pengajaran dan sumber daya yang akan digunakan untuk mendukung pembelajaran efektif; (2) tujuan pengajaran memberikan kerangka kerja bagi menentukan cara dalam mengevaluasi pengajaran; (3) pembuatan tujuan adalah untuk mengarahkan pelajar. [63]

Bagaimanapun seorang guru profesional berharap agar siswa yang menerima pelajaran dapat mengetahui informasi tentang sesuatu dengan baik dan mampu mengerjakan dengan baik pula. Dengan penerapan model pembelajaran di atas dapat digunakan untuk membantu guru dan murid dengan mudah.

b. Pelaksanaan (Pengorganisasian dan Pengarahan)

     1. Pengorganisasian

Mengorganisir dalam mengembangkan program pembelajaran merupakan pekerjaan yang dilakukan seorang guru dan kepala sekolah dalam mengatur dan menggunakan sumber belajar dengan maksud mencapai tujuan belajar dengan cara yang efektif dan efisien.[64] Artinya bahwa organisasi merupakan proses pembagian sumber belajar untuk mempermudah mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Jika ditelusuri lebih jauh lagi, pengorganisasian sebenarnya tidak saja berhenti pada pengelolaan sumber belajar, sebagaimana yang dijelaskan Davis bahwa pengorganisasian dalam pembelajaran meliputi: (a) memilih alat taktik yang tepat; (b) memilih alat bantu belajar atau audio visual yang tepat; (c) memilih besarnya kelas (jumlah siswa yang tepat); (d) memilih strategi yang tepat untuk mengkomunikasikan peraturan-peraturan, prosedur serta pengajaran yang kompleks.[65]

Dalam rangka pengelolaan program-program pembelajaran, guru perlu menciptakan suasana belajar di kelas yang kondusif dan terarah pada pencapaian tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien diantaranya:

  1. Sebelum guru masuk kelas (pre condition).

Cara yang ditempuh oleh guru adalah: (1) merumuskan apa yang penting dan harus dimiliki oleh siswa; (2) merancang bantuan-bantuan yang cocok akan diberikan kepada siswa; (3) merancang waktu yang sesuai dengan topik/pokok bahasan pelajaran.

  1. Pada waktu guru di kelas (operating procedures)

Cara yang ditempuh mencakup kegiatan berikut: (1) memperhatikan keragaman siswa sehingga guru memperlakukan mereka dengan cara dan waktu yang berbeda; (2) mengadakan pengukuran terhadap berbagai pencapaian siswa sebagai hasil belajarnya.[66]

Pada tahapan di atas maka mutlak diperlukan metodologi yang tepat dalam pembelajaran. Dalam hal ini metode mengajar adalah (1) salah satu komponen dari proses pendidikan; (2) merupakan alat mencapai tujuan yang didukung oleh alat-alat bantu mengajar; (3) merupakan kebulatan dalam satu sistem pengajaran.

Sebagai menejer, guru dapat mengorganisasikan program atau bahan pelajaran untuk disampaikan kepada siswa dengan beberapa metode, antara lain: metode ceramah, metode demonstrasi, diskusi, metode tanya jawab, metode drill/latihan, atau metode resitasi/pemberian tugas belajar, karyawisata, sosiodrama, simulasi, dll.[67] Dalam menggunakan dan memilih metode, yang penting diperhatikan guru adalah tujuan pengajaran yang akan dicapai, sifat materi pelajaran, kondisi siswa, kemampuan guru dan alokasi waktu. Artinya bahwa pengorganisasian ini erat terkait dengan pengelolaan kelas.

Pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh guru (penanggung jawab) dalam membantu siswa sehingga dicapai kondisi optimal pelaksanaan pembelajaran seperti yang diharapkan.[68] Edmund, dkk, mendefenisikan pengelolaan kelas yaitu: (1) Tingkah laku guru yang dapat menghasilkan prestasi siswa yang tinggi karena keterlibatan siswa di kelas; (2) tingkah laku siswa yang tidak banyak mengganggu kegiatan guru dan siswa lain; (3) menggunakan waktu belajar yang efisien.[69]

Kegiatan utama yang dilakukan dalam pengelolaan kelas yaitu: (1) yang berkaitan dengan siswa; (2) yang berkaitan dengan fisik (ruangan, perabot, alat pelajaran). Membuka jendela, merangsang anak untuk belajar maksimal, mengatur bangku, meja dan sebagainya merupakan pengelolaan. Jadi, tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

Sebuah kelas dapat dikatakan tertib, dilihat dari indikator yaitu: (1) setiap anak terus bekerja, tidak ada yang berhenti karena tidak tahu tugas belajar yang diberikan kepadanya, (2) setiap anak terus melakukan pekerjaan belajar tanpa membuang waktu agar dapat menyelesaikan tugas belajar yang diberikan kepadanya.[70] Jangan sampai ada anak yang dapat mengerjakan tugasnya, tetapi tidak bergairah dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru, karena situasi dan kondisi kelas tidak mendukung.

Perlu juga diusahakan suatu pengelolaan kelas dengan perspektif baru. Pengelolaan kelas tidak sekedar pada hal-hal teknis atau menyangkut strategi belaka, namun lebih menyangkut faktor pribadi-pribadi peserta didik yang ada di kelas tersebut. Pengelolaan kelas tidak dapat dilepaskan dari aspek manusiawi dari pembelajaran dan pengajaran.[71] Pengelolaan kelas yang ditekankan pada bagaimana mengelola pribadi-pribadi yang ada akan lebih menolong dan mendukung perkembangan pribadi, baik pribadi peserta didik maupun gurunya.

Kelas atau kegiatan belajar mengajar hendaknya menjadi suasana yang menggairahkan dan mengasyikkan untuk kegiatan eksplorasi diri dan menemukan identitas diri. Maka pengajaran secara integral mesti berkaitan dengan pendidikan nilai. Faktor-faktor penting dalam pengelolaan kelas adalah faktor gurunya, faktor kedisiplinan, dan faktor evaluasi atau penilaian bagi peserta didik. Kesemua faktor tersebut saling berkaitan antara satu dengan lainnya yang harus diperhatikan guru dalam rangka mengelola kelas mencapai tujuan yang maksimal.

2. Pengarahan

Pengarahan  (leading) yang biasanya juga diartikan kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berhubungan dengan tugas dari anggota-anggota kelompok[72]. Tugas mengarahkan dilakukan oleh pemimpin, oleh karena itu kepemimpinan kepala sekolah, mempunyai peran yang sangat penting dalam mengarahkan personil untuk melaksanakan kegiatan pengembangan program pembelajaran.

Kepemimpinan dalam pengembangan program pembelajaran merupakan proses aktivitas peningkatan pemanfaatan sumberdaya manusia dan material di sekolah secara lebih kreatif, mengintegrasikan semua kegiatan dalam kepemimpinan, sedangkan manajemen dan administrasi pendidikan membuat keputusan untuk kelangsungan pembelajaran secara efektif.[73]

Menurut Sue dan Glover dalam konteks pembelajaran, peran guru adalah menolong siswa untuk mengembangkan kapasitas pembelajaran, yang memungkinkan aktivitas manajemen, struktur organisasi, sistem dan proses yang diperlukan untuk menangani kegiatan mengajar dan peluang belajar para siswa secara maksimal.[74] Semakin senang perasaan (enjoyable) anak dalam mengikuti pembelajaran, diharapkan tujuan pembelajaran yaitu perubahan tingkah laku siswa tercapai secara optimal.

Menurut Davis dalam konteks peran guru, memimpin adalah pekerjaan yang dilakukan oleh guru untuk memberikan motivasi, mendorong dan membimbing siswa sehingga mereka akan siap untuk mencapai tujuan belajar yang telah disepakati. Jadi peran guru disini lebih mengarah pada kegiatan memotivasi siswa untuk dapat belajar. Untuk memberikan pengaruh dan bimbingan dalam konteks mengajar, guru sebagai pemimpin melakukan dua usaha utama, yaitu: (1) memperkokoh motivasi siswa, (2) memilih strategi mengajar yang tepat.[75] Ketika guru berhasil melaksanakan kedua usaha di atas, maka secara tidak langsung guru telah menjalin hubungan harmonis dengan siswa, sehingga memudahkan guru dalam mengarahkan siswa ke arah tujuan yang diharapkan.

Karakteristik hubungan yang baik antar guru dan siswa yaitu: (1) keterbukaan dan transparan sehingga memungkinkan terjadinya keterusterangan satu dengan lainnya; (2) penuh perhatian, bila tiap pihak mengetahui bahwa dirinya dihargai oleh pihak lain; (3) saling ketergantungan dari pihak yang satu kepada pihak yang lain; (4) keterpisahan, untuk memungkinkan guru dan siswa menumbuhkan dan mengembangkan keunikan, kreativitas dan individualitas masing-masing; (5) pemenuhan kebutuhan bersama sehingga tidak ada satu pihak yang dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan pihak lain. [76]

Silberman berpendapat bahwa pembelajaran akan memikat hati siswa manakala guru melakukan hal-hal berikut: (1) menyampaikan informasi dalam bahasa mereka (siswa); (2) memberikan contoh tentang hal tersebut; (3) Memperkenalkan dalam berbagai arahan dan keadaan; (4) melihat hubungan antara informasi dan fakta atau gagasan lainnya; (5) membuat kegunaannya dalam berbagai cara; (6) memperhatikan beberapa konsekuensi informasi tersebut; (7) menyatakan perbedaan informasi itu dengan lainnya. [77]

Tidak hanya itu saja, tetapi pembelajaran akan lebih memantapkan siswa untuk tekun mengikuti pembelajaran guru dan termotivasi untuk giat belajar sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan yang diterapkan guru dalam lingkungan pendidikan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Sriyono, dkk bahwa  dalam konteks kepemimpinan, terdapat beberapa gaya kepemimpinan guru, yaitu: (1) guru yang otoriter; (2) guru yang memberikan kebebasan; (3) guru yang demokratis.[78] Terdapat perbedaan signifikan antara guru dalam pembelajaran. Guru yang otoriter cenderung berbuat banyak untuk mengambil keputusan, sedangkan guru yang demokratis, membagi kepada kelompok untuk membuat keputusan.

Sebagai seorang manejer, guru pun diharapkan mampu memberikan penguatan motivasi kepada siswa untuk belajar. Perlu diketahui juga bahwa persoalan motivasi bukan hanya kajian dalam psikologi, tetapi juga berkaitan dengan manajemen dan pembelajaran. Semua orang mempunyai motivasi dalam melakukan suatu tindakan. Guru sebagai pemimpin dalam proses pengajaran, berperan dalam mempengaruhi atau memotivasi siswa agar mau melakukan pekerjaan yang diharapkan sehingga pekerjaan guru dalam mengajar menjadi lancar, siswa mudah paham dan menguasai materi pelajaran sehingga tercapai tujuan pengajaran.

Dalam upaya memberikan motivasi, guru dapat menganalisis motif-motif yang melatarbelakangi siswa malas belajar dan menurun prestasinya di sekolah. Motivasi dapat efektif bila dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan siswa. Penganekaragaman cara belajar memberikan penguatan dan sebagainya, juga dapat memberikan motivasi pada anak didik untuk lebih bergairah dalam belajar.[79]

Menurut Davis, kegiatan motivasi ialah kekuatan yang tersembunyi dalam diri dan mendorong seseorang berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khusus. Mitchel berpendapat bahwa motivasi sebagai suatu tingkat kejiwaan berkaitan dengan keinginan individu dan pilihan untuk melakukan perilaku tertentu. Menurut Callahan dan Clark, motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu.[80] Jadi motivasi adalah keinginan untuk melakukan sesuatu tindakan. Suatu kondisi dimana keinginan-keinginan (needs) pribadi dapat mencapai kepuasan.

Maslow mengemukakan tingkat kebutuhan sebagai dasar motivasi yaitu:

  1. Kebutuhan psikologis, mencakup: lapar haus, dan dorongan seksual
  2. Kebutuhan rasa aman, mencakup: keamanan dan perlindungan fisik dan emosi
  3. Kebutuhan sosial, meliputi: kepemilikan, penerimaan dan persahabatan
  4. Kebutuhan harga diri, mencakup: harga diri, pengakuan dan prestasi (faktor internal), status, pengakuan dan perhatian (faktor eksternal)
  5. Kebutuhan aktualisasi diri, mencakup: pertumbuhan pencapaian potensi individu[81]

Lain halnya dengan Basyirudin, justru memetakan motivasi atas dua bagian, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi ini biasanya mucul karena adanya keinginan mencapai tujuan yang terkandung dalam perbuatan belajar seseorang, sebagaimana dikatakan para psikolog “Intrinsic motivations are inherence in the learning situation and meeting pupil needs and purposes”. Sedangkan Motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang timbul karena adanya pengaruh luar, seperti adanya keinginan mencari penghargaan berupa angka, hadiah, dan sebagainya.[82]

Guru harus selalu berusaha untuk memperkuat motivasi siswa dalam belajar. Hal tersebut dapat dicapai melalui penyajian pelajaran yang menarik dan hubungan pribadi yang menyenangkan baik dalam kegiatan belajar mengajar di kelas maupun di luar kelas. Bagaimanapun, siswa akan senang belajar di kelas yang nyaman dan menarik, laboratorium modern yang direncanakan dengan baik. Siswa harus diperlakukan sedemikian rupa sehingga terwujud rasa harga diri, status dan pengenalan diri. Intinya adalah menciptakan iklim kesehatan yang tinggi di sekolah baik fisik maupun non fisik.

Tentu saja untuk menciptakan motivasi siswa dalam belajar tidak hanya persoalan keprofesionalan guru. Hal tersebut juga berkaitan dengan efektifitas manajemen sekolah dalam menyediakan sumber daya yang mendukung munculnya motivasi belajar yang tinggi.

c. Pengendalian

Pengendalian adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan untuk mengadakan pengawasan, penyempurnaan dan penilaian untuk menjamin agar tujuan dapat dicapai seperti yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Dalam pengendalian terdapat kegiatan monitoring hasil-hasil dan membandingkannya dengan standar, menentukan penyebab-penyebabnya, dan memperbaiki penyimpangan-penyimpangannya.[83]

Usman menyatakan pengendalian adalah proses pemantauan, penilaian dan pelaporan rencana atas pencapaian tujuan yang telah ditetapkan untuk tindakan korektif guna penyempurnaan lebih lanjut[84]. Pengendalian berbeda dengan pengawasan. Perbedaannya terletak pada wewenang yang ada. Karena itu, pengendalian memiliki wewenang turun tangan yang tidak dimiliki oleh pengawas. Pengawas hanya sebatas memberi saran, sedangkan tindak lanjutnya dilakukan oleh pengendali, karenanya pengendalian lebih luas daripada pengawasan. Meskipun demikian pengendalian juga sering disebut dengan pengawasan, sehingga pengendalian diartikan sebagai proses kegiatan melihat apakah yang terjadi itu sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi, jika tidak maka akan dilakukan penyesuaian. Dalam tulisan ini selanjutnya disebut dengan istilah pengendalian. Nur Ali dalam Murdick dalam fatah menyatakan pengendalian merupakan proses  dasar yang secara esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasnya suatu organisasi.[85] Proses dasarnya terdiri dari tiga tahap yaitu; menetapkan standar pelaksanaan, pengukuran pelaksanaan pekerjaan dibandingkan dengan standar, dan menentukan kesenjangan antara pelaksanaan dengan standar  dan rencana.

Salah satu fungsi pengendalian adalah mengadakan koreksi sehingga apa yang sedang dilakukan bawahan dapat diarahkan dengan benar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sukmadinata menyatakan ada tiga cara pengendalian yang dapat dilakukan oleh pemimpin[86]. Pertama pengendalian umpan maju (feedforward) dilakukan sebelum pekerjaan dimulai. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi kemungkinan masalah yang akan muncul serta melakukan tindakan-tindakan pencegahan. Kedua, pengendalian konkuren (concurent controls) yaitu memusatkan kegiatan pengendalian pada apa yang sedang berjalan atau proses pelaksanaan kegiatan. Cara pengendalian ini disebut steering controls, monitoring pekerjaan atau kegiatan yang sedang berjalan untuk meyakinkan bahwa segala sesuatu telah berjalan dengan baik. Ketiga, pengendalian umpan balik (feedback controls) atau disebut juga postaction controls, yaitu pengukuran dan perbaikan dilakukan setelah kegiatan dilakukan. Sedangkan proses pengendalian terdiri atas tiga langkah universal yaitu; mengukur perbuatan, membandingkan perbuatan, dan memperbaiki penyimpangan dengan tindakan pembetulan[87].

Dengan demikian, pengendalian berarti melakukan kegiatan yang terencana untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu pengendalian berkaitan erat dengan fungsi perencanaan, pengorganisasian, dan pengarahan. Pengendalian juga sangat menentukan baik-buruknya pelaksanaan suatu rencana karena tujuan pengendalian agar proses pelaksanaan dilakukan sesuai dengan ketentuan rencana dan melakukan perbaikan jika terdapat penyimpangan dalam pelaksanaannya, sehingga tujuan yang dicapai sesuai dengan perencanaannya.

Pengendalian yang baik apabila dilakukan tidak saja hanya pada tahap akhir dari suatu pekerjaan, akan tetapi pengendalian harus dilakukan sejak dari awal kegiatan, dalam arti dari sejak disusunnya rencana kegiatan sampai dengan berakhirnya suatu kegiatan. Pengendalian juga dapat dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disusun dan dapat pula dilakukan sewaktu-waktu. Dengan demikian dapat diformulasikan bahwa pengendalian pengembangan program pembelajaran yaitu proses pemantauan, penilaian dan pelaporan atas pencapaian tujuan dalam kegiatan-kegiatan manajemen pengembangan program pembelajaran yang telah ditetapkan untuk tindakan korektif guna penyempurnaan lebih lanjut.

Untuk kegiatan pengendalian pengembangan program pembelajaran dapat dilakukan sejak mulai penyusunan perencanaan program, pengorganisasian program, dan pengarahan kegiatan, proses aktivitas orang-orang yang terlibat di dalamnya, serta berbagai upaya menggerakkannya, sehingga tujuan yang ingin dicapai dapat berhasil dengan baik sesuai dengan rencana yang ditetapkan.

Berdasarkan pada uraian tentang fungsi-fungsi manajemen di atas, maka pelaksanaan kegiatan-kegiatan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Sekolah Menengah Pertama tidak bisa terlepas dari system manajemen pendidikan di sekolah. Dimulai dari unsur perencanaan yang mengandung pokok-pokok pikiran sebagai berikut: (1) perencanaan selalu berorientasi masa depan yaitu berusaha memprediksi bentuk dan sifat masa depan siswa (profil sekolah) yang diinginkan berdasarkan situasi dan kondisi masa lalu dan masa kini; (2) perencanaan merupakan sesuatu yang sengaja dilahirkan dan bukan secara kebetulan, sebagai hasil dari pemikiran yang matang dan cerdas bersumber dari hasil eksplorasi terhadap penyelenggaraan pendidikan sebelumnya; (3) perencanaan memerlukan tindakan dari orang-orang yang terlibat dalam pengelelolaan pendidikan secara individu maupun kelompok; (4) perencanaan harus bermakna, dalam arti bahwa usaha-usaha yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan seefektif dan seefisien mungkin.

 

C. Pendekatan Manajemen Pengembangan Program Pembelajaran

Pendekatan merupakan cara pandang  atau sudut pandang yang setelah dilakukan kajian memiliki tingkat kecocokan/relevansi yang tinggi (efektivitas dan efisiensi) untuk digunakan oleh satuan pendidikan dalam memecahkan permasalahan atau untuk mencapai visi, misi, tujuan dan hasil pendidikan.[88]

Untuk meningkatkan keberhasilan belajar para siswa dalam membentuk mental dan moralitas guna pembentukan kepribadiannya, maka setidaknya ada lima pendekatan yang dapat digunakan dalam melaksanakan program pembelajaran di kelas:[89]

Pertama, Pendekatan Penanaman Nilai (inculcation approach). Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri siswa. Pendekatan ini sebenarnya merupakan pendekatan tradisional. Banyak kritik dalam berbagai literatur barat yang ditujukan kepada pendekatan ini. Pendekatan ini dipandang indoktrinatif, tidak sesuai dengan perkembangan kehidupan demokrasi. Pendekatan ini dinilai mengabaikan hak anak untuk memilih nilainya sendiri secara bebas.

Menurut Raths dalam Sjarkawi [90], kehidupan manusia berbeda karena perbedaan waktu dan tempat. Kita tidak dapat meramalkan nilai yang sesuai untuk generasi yang akan datang. Menurut beliau, setiap generasi mempunyai hak untuk menentukan nilainya sendiri. Oleh karena itu, yang perlu diajarkan kepada generasi muda bukannya nilai, melainkan proses, supaya mereka dapat menemukan nilai-nilai mereka sendiri, sesuai dengan tempat dan zamannya. Cara yang dapat digunakan dalam pendekatan ini antara lain keteladanan, penguatan positif dan negatif, simulasi dan bermain peran.

Kedua, Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif (cognitive moral development approach). Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Pendekatan ini lebih menekankan pada tercapainya tingkat pertimbangan moral yang tinggi sebagai hasil belajar. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi. Yaitu takut hukuman, melayani, kehendak sendiri, menuruti peranan yang diharapkan, menaati dan menghormati aturan, berbuat baik untuk orang banyak, bertindak sesuai dengan prinsip etika dan sesuai nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.

Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal yang utama, yaitu: (1) membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi; (2) mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral. Cara yang dapat digunakan dalam menerapkan pendekatan ini antara lain melakukan diskusi kelompok dengan topik dilemma moral, baik yang faktual maupun yang abstrak (hipotetikal).[91]

Ketiga, Pendekatan Analisis Nilai (values analysis approach). Pendekatan ini memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Jika dibandingkan dengan pendekatan perkembangan kognitif, salah satu perbedaan penting antara keduanya bahwa pendekatan analisis nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat nilai-nilai sosial. Adapun pendekatan perkembangan kognitif memberi penekanan pada dilemma moral yang bersifat perseorangan.

Pendekatan ini lebih menekankan agar siswa dapat menggunakan kemampuan berfikir logis dan ilmiah dalam menganalisis masalah sosial yang berhubungan dengan nilai tertentu. Selain itu, siswa dalam menggunakan proses berfikir rasional dan analitis dapat menghubungkan dan merumuskan konsep tentang nilai mereka sendiri.

Metode pengajaran yang digunakan Pendekatan Analisis Nilai, khususnya prosedur analisis nilai dan penyelesaian masalah yang ditawarkan, bermanfaat juga untuk diaplikasikan sebagai salah satu strategi dalam proses pembelajaran Pendidikan agama. Seperti telah dijelaskan, dalam mata pelajaran ini, aspek perkembangan kognitif merupakan aspek yang dipentingkan juga, yakni untuk mendukung dan menjadi dasar bagi pengembangan sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang ingin ditanamkan.

Hal ini sejalan dengan penegasan Haydon bahwa pengetahuan dan pemahaman konsep adalah penting dalam pendidikan moral, untuk membentuk sikap moral yang lebih stabil dalam diri seseorang. Cara yang dapat digunakan dalam pendekatan ini antara lain diskusi terarah yang menuntut argumentasi, penegasan bukti, penegasan prinsip, analisis terhadap kasus, debat dan penelitian.[92]

Keempat, Pendekatan Klarifikasi Nilai (values clarification approach). Pendekatan ini memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. Pendekatan ini memberi penekanan pada nilai yang sesungguhnya dimiliki oleh seseorang. Bagi penganut pendekatan ini, nilai bersifat subjektif, ditentukan oleh seseorang berdasarkan kepada berbagai latar belakang pengalamannya sendiri, tidak ditentukan oleh faktor luar, seperti agama, masyarakat, dan sebagainya. Oleh karena itu, bagi penganut pendekatan ini, isi nilai tidak terlalu penting. Hal yang sangat dipentingkan dalam program pendidikan adalah mengembangkan keterampilan siswa dalam melakukan proses menilai. Ada tiga proses klarifikasi nilai menurut pendekatan ini. Dalam tiga proses tersebut terdapat tujuh subproses sebagai berikut:

I. memilih: 1). dengan bebas
2). dari berbagai alternatif
3). setelah mengadakan pertimbangan tentang berbagai akibatnya,
II. menghargai: 4). merasa bahagia atau gembira dengan pilihannya,
5). mau mengakui pilihannya itu di depan umum,
III. bertindak: 6). berbuat sesuatu sesuai dengan pilihannya,
7). diulang-ulang sebagai suatu pola tingkah laku dalam hidup.

 

Pendekatan jenis ini, sangat dikritik oleh Kilpatrick bahwa pendekatan value clarification tidak tepat diberikan kepada anak-anak karena mereka belum mengenal dan mengetahui mana yang baik dan benar. Kesalahan terbesar terletak pada pemahaman dan keyakinan mereka tentang moral kebenaran. Artinya bahwa kebenaran moral adalah relatif, moral baik atau buruk adalah tergantung bagaimana individu mendefenisikannya. Berhubung manusia bisa beragam latar belakang sosialnya maka nilai-nilai yang dianut juga sangat beragam, sehingga tidak ada kebenaran nilai yang dianggap absolut.[93] Metode pendekatan value clarification memberikan kebebasan kepada individu untuk mendefinisikan moral menurut keyakinan masing-masing, asalkan ada pembenarannya.

Metode pengajaran yang digunakan dalam Pendekatan Klarifikasi Nilai, harus memperhatikan faktor keadaan serta bahan pelajarannya yang relevan. Namun demikian, penggunaannya perlu hati-hati, supaya tidak membuka kesempatan bagi siswa, untuk memilih nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai masyarakatnya, terutama nilai-nilai Agama yang ingin dibudayakan dan ditanamkan dalam diri mereka. Cara yang dapat digunakan dalam pendekatan ini diantaranya bermain peran, simulasi, analisis mendalam tentang nilai sendiri, aktivitas yang bertujuan mengembangkan sensitivitas, kegiatan di luar kelas, dan diskusi kelompok.

Kelima, pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach). Pendekatan pembelajaran berbuat memberi penekanan pada usaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok.

Menurut Elias, Hersh, et. al., dan Superka, et. al., bahwa pendekatan pembelajaran berbuat diprakarsai oleh Newmann, dengan memberikan perhatian mendalam pada usaha melibatkan siswa sekolah menengah atas dalam melakukan perubahan-perubahan sosial.[94]

Berbagai pendekatan pendidikan nilai yang berkembang mempunyai aspek penekanan yang berbeda, serta mempunyai kekuatan dan kelemahan yang relatif berbeda pula. Berbagai metode pendidikan dan pengajaran yang digunakan oleh berbagai pendekatan pendidikan nilai yang berkembang dapat digunakan juga dalam pelaksanaan Pendidikan agama. Hal tersebut sejalan dengan pemberlakukan KTSP yang proses pembelajarannya memadukan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

D. Model Manajemen Pengembangan Program Pembelajaran

Melakukan pengembangan terhadap program pembelajaran berarti melakukan suatu proses yang terkait dengan pembelajaran yang terus-menerus sehingga terjadi perbaikan dalam pembelajaran . perbaikan dalam pembelajaran ditandai dengan adanya usaha perbaikan program maupun perbaikan tingkah laku pada diri siswa. Hal-hal yang perlu dikembangkana dalam pembelajaran mengacu pada SK-KD meliputi; silabus, Indikator , Materi pembelajaran, Strategi Pembelajaran, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan evaluasi pembelajaran.

Manajemen pengembangan merupakan seni dan ilmu mengelola sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Bisa juga didefinisikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.[95] Sedangkan pengembangan merupakan aktifitas yang terus menerus dalam rangka mencapai program yang diinginkan bisa berarti kualitas dan bisa juga secara kuantitas.[96]

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manajemen pengembangan program pembelajaran adalah usaha yang dilakukan secara sistematis dan terus menerus untuk memperbaiki program-program pembelajaran dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran yang ada mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian pada satuan pendidikan tersebut dengan syarat  potensi yang sudah ada lebih memenuhi dari yang distandarkan.

Untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan dalam pengembangan program pembelajajaran, berbagai model dapat dikembangkan dalam manajemen pembelajaran. Satu diantaranya adalah model Dick and Carey[97] dengan langkah-langkah yaitu: mengembangkan tujuan pengajaran, melaksanakan analisis pengajaran, mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa, merumuskan tujuan performansi, mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, mengembangkan strategi pengajaran, mengembangkan dan memilih material pengajaran, mendesain dan melaksankan evaluasi formatif, merevisi bahan pembelajaran dan yang terakhir adalah mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.[98]

Penggunaan model Dick and Carey dalam pengembangan program pembelajaran dimaksudkan agar (1) pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat mengetahui dan mampu melakukan hal-hal yang berkaitan dengan materi pada akhir pelajaran, (2) adanya pertautan antara tiap komponen, khususnya antara strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang dikehendaki, (3) menerapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran.

Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi siswa. Untuk terjadinya perubahan perilaku sudah tentu di dalam pembelajaran tersebut terdapat pengalaman belajar yang sistematis yang langsung menyentuh kebutuhan siswa.[99] Oleh karena itu, pembelajaran adalah proses pengalaman belajar yang sistematis yang bermanfaat untuk siswa dalam kehidupannya kelak dan pengalaman belajar yang diperoleh siswa, juga sekaligus mengilhami mereka ketika menghadapi problema dalam kehidupan sesungguhnya.

Untuk keperluan pembelajaran dalam konteks pemberian pengalaman belajar dimaksud, maka model pembelajaran yang monoton yang selama ini berlangsung di kelas sudah saatnya diganti dengan model pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif, siswa mengidentifikasi, merumuskan dan menyelesaikan masalah.

Model pengembangan program pembelajaran yang ditawarkan para ahli untuk mewujudkan kegiatan belajar aktif dimaksud diantaranya: (1) Enquiry-discovery approach (belajar mencari dan menemukan sendiri); (2) Expository teaching (menyajikan bahan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik dan lengkap sehingga siswa tinggal menyimak dan mencernanya secara teratur dan tertib); (3) Mastery learning (belajar tuntas); (4) Humanistic education yaitu menitik beratkan pada upaya membantu siswa mencapai perwujudan dirinya sesuai dengan kemampuan dasar dan keunikan yang dimilikinya).[100]

Mulyasa menawarkan konsep tentang model pengembangan program pembelajaran yang efektif bagi terbentuknya kompetensi siswa diantaranya: (1) Contectual Teaching and Learning yaitu model pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata; (2) role playing yaitu model pembelajaran yang menekankan pada problem solving (pemecahan masalah); (3) modular Instruction yaitu pembelajaran dengan menggunakan system modul/paket belajar mandiri yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah; (4) pembelajaran partisipatif yaitu pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran.[101]

Dari sekian model di atas, masih banyak model pengembangan program pembelajaran lainnya yang dapat dipilih dan digunakan oleh guru, guna mendesain pengalaman belajar yang bermanfaat bagi siswa baik bagi perkembangan ranah kognitif, afektif maupun psikomotoriknya. Yang jelas tidak ada satu model pembelajaran pun yang paling efektif untuk satu mata pelajaran, yang ada adalah satu atau beberapa model pembelajaran yang efektif untuk mata pelajaran tertentu tetapi belum tentu untuk materi lainnya. Oleh karenanya guru harus cerdas dalam menentukan model pembelajaran yang sesuai untuk suatu kegiatan pembelajaran guna tercapainya indikator-indikator yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Bagi guru jangan terlalu merisaukan cara mengajar yang penting adalah bagaimana kondisi pembelajaran yang diharapkan itu dapat terjadi dan dirasakan oleh siswa. Karena dari kondisi pembelajaran itu diharapkan maksud dan tujuan pembelajaran dapat terjadi, dengan cara mengajar yang bervariasi. Setiap cara mengajar memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Yang kurang baik adalah apabila guru sering menggunakan satu cara pembelajaran yang terus menerus dengan slogan dikotomis yakni bila guru aktif maka siswa diam bila siswa aktif, maka guru pasif.[102] Dengan menghindari penggunaan metode monoton diharapkan pencapaian pendidikan agama terjadi secara maksimal.

E. Manajemen Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Berkaitan dengan program pengembangan pembelajaran PAI, maka seorang guru harus melaksanakan proses pembelajaran minimal yang sudah ditentukan dalam PP no. 19 tahun 2005 tentang standar Nasional pendidikan ditindaklanjuti dengan Permendiknas no. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk pendidikan Dasar dan menengah, kemudian dikembangkan dalam pelaksanaan kegiatan program pembelajaran mulai dari merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan

1.  Perencanaan Pengembangan Program Pembelajaran PAI

Rencana program dikembangkan dengan tujuan untuk memperjelas bagaimana suatu visi dapat dicapai. Rencana program pada dasarnya merupakan upaya untuk implementasi strategi utama organisasi. Rencana program juga juga merupakan proses penentuan jumlah dan jenis sumber daya yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan suatu rencana.[103]

Dalam kegiatan perencanaan program pembelajaran, seorang guru harus menyusun program pengembangan perangkat pembelajaran yang terdiri dari silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompe­tensi dasar (KD ), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembela­jaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.

a). Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi ,kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidkan.[104]

Silabus sebagai acuan kegiatan pembelajaran dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau kelompok, kelompok MGMP, KKG, Dinas pendidikan kabupaten dan Kandepag Kabupaten/Kota harus memperhatikan;

1. Mengembangan indikator

2. Mengidentifikasi materi ajar/ materi pokok

3. Mengembangkan kegiatan pembelajaran

4. Pengalokasian waktu

5. Pengembangan penilaian dan

6. menentukan sumber/ Bahan /alat.[105]

Silabus yang direncanakan dan yang akan dilaksanakan dalam proses pembelajaran hendakanya disesuaikan dengan situasi dan kodisi anak di lingkungan dimana sekolah itu berada. Silabus yang terlampau ideal akan mengakibatkan kegagalan dalam proses pembelajaran dan hasilnya tentu akan jauh dari yang diharapkan. Untuk itu para guru dalam menyuusun silabus, sendiri maupun berkelompok, disamping mengacu pada kurikulum juga  memusatkan perhatian pada pengembangan seluruh kompetensi siswa serta merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, tegnologi, dan seni serta program pembelajarannya terhadap kepentingan daerah dan karakteristik peserta didik serta tetap memiliki fleksibilitas dalam melaksanakan kurikulum yang berdiversifikasi.

b). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP )

RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyu­sun RPP secara lengkap dan sistematis serta sesuai dengan karakteristik siswa, agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan dan disesuaikan pula dengan kondisi siswa dan keberadaan lingkungan dimana sekolah itu berada.

Komponen RPP adalah :

1. Identitas mata pelajaran

Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan.

2. Standar kompetensi

Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemam­puan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.

3. Kompetensi dasar

Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran ter­tentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompe­tensi dalam suatu pelajaran.

4. Indikator pencapaian kompetensi

Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja opera­sional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

5. Tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.

6. Materi ajar

Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompe­tensi.

7. Alokasi waktu

Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan un­tuk pencapaian KD dan beban belajar.

8. Metode pembelajaran

Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembela­jaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan.

Martinis Yamin mengatakan bahwa metode adalah cara melakukan atau menyajikan, ,menguraikan, memberi contoh ,dan member latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu.[106] Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situ­asi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.

9. Kegiatan pembelajaran

Kegiatan pembelajarn diakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandiriaan sesuai dengan bakat , minat dan  perkembangan fisik dan psikologis peserta didik.[107] Kegiatan pembelajaran ini di awali dengan pendahualuan ,kegiatan inti dan penutup.

10.Penilaian hasil belajar

Penilaian hasil belajar pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan untuk mengukur perubahan perilaku yang telah terjadi pada diri pesertadidik.[108] Prosedur dan instrumen penilia proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu pada standar penilaian yang ditetapkan sekolah maupun pemerintah.          

c). Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran

Berdasarkan Permendiknas no 41 tahun 2007 tentang standar proses, diketahui bahwa; Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. yang  meliputi kegiatan pendahuluan, kagiatan inti dan kegiatan penutup.

  1. Kegiatan Pendahuluan

Dalam kegiatan pendahuluan, guru: a. menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses  pembelajaran; b. mengajukan  pertanyaan-pertanyaan yang mengait­kan pengetahuan sebe-lumnya dengan materi yang akan dipelajari; c. menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; d. menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai  silabus.

b. Kegiatan Inti

Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pem­belajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, me­motivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativi­tas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Karena Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi- kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu.” [109]

Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuai­kan dengan karakteristik peserta didik dan mata pela­jaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

Dalam kegiatan eksplorasi, guru: (1). Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/ tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prin­sip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber; (2). Menggunakan beragam pendekatan pembela­jaran, media pembe-lajaran, dan sumber belajar lain; (3). Memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peser-ta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya; (4).  Melibatkan peserta didik secara aktif dalam se­tiap kegiatan pembelajaran; dan (5). Memfasilitasi peserta didik melakukan per­cobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

Dalarn kegiatan elaborasi, guru: (1). membiasakan peserta didik membaca dan me­nulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna; (2).memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memuncul­kan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis; (3)memberi kesempatan untuk berpikir, menga­nalisis, menyelesaikan masa-lah, dan bertindak tanpa rasa takut; (4). memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kola-boratif; (5). memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkat-  kan prestasi belajar; (6). memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan    baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok; (7). memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan  variasi; kerja individual maupun kelompok; (8). memfasilitasi peserta didik melakukan pamer­an, turnamen, festival, serta produk yang diha­silkan;(9).memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan ke-banggaan dan rasa per­caya diri peserta didik.

Dalam kegiatan konfirmasi, guru: (1). memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tuli-san,  isyarat, maupunhadiah terhadap keberhasilan peserta didik, (2). memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplo­rasi dan elaborasi peserta   didik melalui ber­bagai sumber, (3). memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pe-ngalaman belajar yang telah dilakukan, (4). memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar: (a). berfungsi sebagai narasumber dan fasilita­tor dalam menjawab perta-nyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan be­nar; (b). membantu menyelesaikan masalah; (c). memberi acuan agar peserta didik dapatmelakukan pengecekan hasil eksplorasi; (d). memberi informasi untuk bereksplorasi Iebih jauh; (e). memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum ber-partisipasi aktif.

  1.             c.  Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru: (a). Bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/  kesimpulan pelajaran; (b). melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah di-laksanakan secara konsis­ten dan terprogram; (c).memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; (d).merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layan­an konseling dan/atau memberikan tugas balk tu­gas indivi-dual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; (e). menyampaikan rencana pembelajaran pada per­temuan berikutnya

Selain tiga kegiatan inti di atas, untuk mendukung ketercapaian dan ketuntasan suatu pembejalaran, guru perlu menerapkan dan mengembangkan metode dan menggunakan media pembelajaran yang tepat:

Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Dalam hal ini banyak metode pembelajaran yang bisa dipilih oleh seorang guru. Pemilihan metode pembelajaran ini tentu saja harus disesuaikan dengan situ­asi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.

Di antara metode pembelajaran yang bisa digunakan adalah: metode ceramah, diskusi, belajar kelompok, inquiry dan discovery, bermain peran, dan pembelajaran dengan modul (Modular Instruction). Pelaksanaan pembelajaran bisa dilaksanakan di kelas (in class teaching) atau luar kelas (out of class teaching).

Adapun media pembelajaran adalah segala sesuatu yang bisa digunakan sebagai alat bantu dalam rangka mendukung usaha-usaha pelaksanaan strategi serta metode pembelajaran yang mengarah kepada pencapaian tujuan pembelajaran. Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang membawa atau menyalurkan informasi antara sumber dan penerima.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah setiap alat baik hardware maupun software yang dipergunakan sebagai media komunikasi dan bertujuan untuk meningkatkan aktivitas proses belajar mengajar.

Secara garis besar media dapat digolongkan menjadi tiga jenis yakni: Media berupa benda asli, seperti candi, masjid, dan artefak lainnya. Rekaman, yaitu media yang dimaksudkan untuk memperkecil atau membawa benda asli secara mirip dengan cara direkam, misalnya film, foto kopi, kaset, slide, dan lain-lain. Rekaan, artinya bentuk media yang dirancang secara khusus oleh pembuat media dengan sengaja dengan menambah, mengurangi, atau berbeda sama sekali dengan wujud benda yang asli. Rekaan juga dapat berupa berbagai bentuk rancangan pembelajaran seperti media powerpoint, flash, dan seterusnya.

Kegunaan media dalam pembelajaran adalah untuk : membangkitkan motivasi, membuat konsep abstrak menjadi konkrit, mengatasi batas-batas ruang kelas, mengatasi perbedaan pengalaman siswa, memungkinkan mengamati objek yang terlalu kecil, menggantikan penampilan objek yang berbahaya/sulit terjangkau, menyajikan informasi belajar secara konsisten, menyajikan pesan secara serempak, menyajikan peristiwa yang telah lewat, memusatkan perhatian, mengatasi objek yang kompleks, mengatasi penampilan objek yang terlalu cepat atau lambat, besar atau kecil.

Dengan penjelasan rinci tentang kegiatan pembelajaran di atas diharapkan proses pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) mengikuti langkah-langkah dan prinsip-prinsipnya. Karena itu, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) harus memahami hal ini agar proses pembelajaran PAI bisa berjalan dengan baik dan berhasil sesuai dengan yang diharapkan.

  1. 2.    Pelaksanaan Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Sebagai tahapan strategis pencapaian kompetensi, kegiatan pembelajaran perlu didesain dan dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh hasil maksimal. Berdasarkan panduan penyusunan KTSP, kegiatan pembelajaran terdiri dari kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah standar yang menerapkan sistem paket, beban belajarnya dinyatakan dalam jam pelajaran ditetapkan bahwa satu jam pelajaran tingkat SMP terdiri dari 40 menit tatap muka untuk Tugas Terstruktur dan Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur memanfaatkan 0% – 60% dari waktu kegiatan tatap muka.

Sementara itu bagi sekolah kategori mandiri yang menerapkan sistem kredit semester, beban belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). 1 (satu) sks tingkat SMP terdiri dari 1 (satu) jam pelajaran (@40 menit) tatap muka dan 20 menit tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Dengan demikian, pada sistem paket maupun SKS, guru perlu mendesain kegiatan pembelajaran tatap muka, tugas terstruktur dan kegiatan mandiri.

a)   Kegiatan Tatap Muka

Untuk sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik ekspositori maupun diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, tanya jawab, atau simulasi.

Untuk sekolah yang menerapkan sistem SKS, kegiatan tatap muka lebih disarankan dengan strategi ekspositori. Namun demikian tidak menutup kemungkinan menggunakan strategi dikoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, tanya jawab, atau demonstrasi.

b)   Kegiatan Tugas terstruktur

Bagi sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tugas terstruktur tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran namun dirancang oleh guru dalam silabus maupun RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran). Oleh karena itu pembelajaran dilakukan dengan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek.

Bagi sekolah yang menerapkan sistem SKS, kegiatan tugas terstruktur dirancang dan dicantumkan dalam jadwal pelajaran meskipun alokasi waktunya lebih sedikit dibandingkan dengan kegiatan tatap muka. Kegiatan tugas terstruktur merupakan kegiatan pembelajaran yang mengembangkan kemandirian belajar peserta didik, peran guru sebagai fasilitator, tutor, teman belajar. Strategi yang disarankan adalah diskoveri inkuiri dan tidak disarankan dengan strategi ekspositori. Metode yang digunakan seperti diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, atau simulasi.

c)    Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur

Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh guru namun tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran baik untuk sistem paket maupun sistem SKS. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah diskoveri inkuiri dengan metode seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek.

Mekanisme pengembangan kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dilakukan secara simultan dengan pengembangan KTSP  dan silabus mata pelajaran. Sekolah atau kelompok sekolah dengan karakteristik yang hampir sama dan/atau kelompok guru mata pelajaran merumuskan bersama pengembangan kegiatan pembelajaran.

Kegiatan dilakukan dalam koordinasi kepala sekolah yang dilaksanakan oleh tim pengembang kurikulum di sekolah bersama dengan guru baik melalui rapat kerja dan/atau kegiatan MGMP.

Dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran, diperlukan informasi yang cukup berkaitan dengan karakteristik sekolah yang terdiri dari, potensi dan kebutuhan peserta didik, sumber daya, fasilitas, lingkungan, dan lain-lain. Informasi diperoleh dari berbagai sumber seperti catatan dan pengalaman guru, hasil riset bagian penelitian dan pengembangan (Litbang), atau informasi bagian inventarisasi di sekolah, serta karakteristik keilmuan sesuai mata pelajaran.

Hasil pengembangan dituangkan dalam rancangan kegiatan pembelajaran dalam bentuk silabus dan desain pembelajaran, rancangan pelaksanaan pembelajaran lebih rinci (RPP), desain penilaian dan instrumennya, serta dilaksanakan secara efektif dan efisien. Mekanisme kerja tim pengembang kurikulum, MGMP, dan guru mata pelajaran disajikan dalam skema berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1.

Mekanisme Kerja Tim Pengembang Kurikulum,

MGMP dan Guru Mata Pelajaran

KTSP

(Struktur kurikulum, Mekanisme Pembelajaran dan Penilaian, dll)

Silabus

Desain Pembelajaran

Desain Penilaian

RPP

Instumen Penilaian

Bahan ajar

Pelaksanaan Pembelajaran dan Penilaian

Tim Pengembang Kurikulum

MGMP

Guru Mata Pelajaran

Evaluasi

Evaluasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Langkah-Langkah

Pengembangan kegiatan pembelajaran dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Mengkaji dan memetakan KD (KD) agar diketahui karakteristiknya. Hal ini perlu dilakukan guna merancang strategi dan metode yang akan digunakan pada kegiatan tatap muka, tugas terstruktur, dan mandiri tidak terstruktur.
  2. Mendeskripsikan KD secara lebih rinci dan terukur ke dalam rumusan indikator kompetensi. Indikator berguna untuk merancang kegiatan pembelajaran yang diperlukan. Indikator yang dominan pada prinsip dan prosedural misalnya, menyarankan kegiatan pembelajaran dengan strategi diskoveri inkuiri.
  3. Membuat desain pembelajaran dalam bentuk silabus atau desain umum pembelajaran seperti disajikan dalam Contoh Desain Umum Pembelajaran Sistem SKS.
  4. Menjabarkan silabus atau desain pembelajaran dalam bentuk rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) tiap pertemuan.
  5. Melaksanaan pembelajaran sesuai dengan silabus/desain pembelajaran dan RPP.
  6. Melakukan penilaian proses maupun hasil belajar untuk mengukur pencapaian kompetensi
  7. 3.       Pengendalian Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Pengendalian dalam pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam dilakukan dengan dua cara yaitu dengan mengadakan penilaian hasil pembelajaran dan melakukan pengawasan terhadap proses pembelajaran.

Penilaian hasil pembelajaran dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses  pembelajaran.[110]

Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik, dan terprogram dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis atau lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, portofolio, dan penilaian diri. Penilaian hasil pembelajaran menggunakan Standar Penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran.

Sedangkan terhadap pengawasan atau pengendalian terhadap proses pembelajaran dilakukan dengan cara:

  1. a.    Pemantauan.

1)   Pemantauan proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran.

2)   Pemantauan dilakukan dengan cara diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman, wawacara, dan dokumentasi.

3)   Kegiatan pemantauan dilaksanakan oleh kepala dan pengawas satuan
pendidikan.

  1. b.   Supervisi

1).Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran.

2).Supervisi pembelajaran diselenggarakan dengan cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan konsultasi

3).Kegiatan supervisi dilakukan oleh kepala dan pengawas satuan pendidikan.

c.  Evaluasi

1.) Evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran.

2)Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara:

a.membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses,

b.mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan  kompetensi guru.

c.Evaluasi proses pembelajaran memusatkan pada keseluruhan kinerja guru dalam proses pembelajaran.

d.  Pelaporan

Hasil kegiatan pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran dilaporkan kepada pemangku kepentingan.

e.   Tindak lanjut

1. Penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar.

2. Teguran yang bersifat mendidik diberikan kepada guru yang belum memenuhi standar.

3. Guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/penataran lebih lanjut.

==

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

Dalam bab ini secara berturut-turut diuraikan; (a) Pendekatan dan jenis penelitian, (b) Lokasi penelitian, (c) Kehadiran peneliti (d)Instrumen penelitian (e)Pengumpulan data, (f)Analisis data, (g)Pengecekan keabsahan data, dan (h)Tahap-tahap penelitian.

  1. A.      Pendekatan dan Jenis Penelitian.

Fokus Penelitian adalah manajemen pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang. Untuk menjawab fokus penelitian tersebut dibutuhkan subfokus yang mempertanyakan bagaimana proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian program pembelajaran pendidikan Agama Islam. Fokus penelitian yang demikian berbentuk eksplanatori dan menurut Yin lebih mengarah ke penggunaan strategi studi kasus.[111]

Studi kasus sendiri merupakan bagian dari penelitian kualitatif. Jadi penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan/desain studi kasus. Alasan digunakannya pendekatan kualitatif sebagai pendekatan penelitian ini adalah karena peneliti melihat sifat dari masalah yang diteliti dapat berkembang secara alamiah sesuai dengan kondisi dan situasi di lapangan. Peneliti juga berkeyakinan bahwa dengan pendekatan alamiah, penelitian ini akan menghasilkan informasi yang lebih kaya.[112]

Jadi, dipilihnya pendekatan kualitatif sebagai pendekatan penelitian ini karena peneliti berkeinginnan untuk memahami secara mendalam kasus yang terjadi di lokasi di atas.[113] Rancangan penelitian ini dibuat sebagaimana umumnya rancangan penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, umumnya bersifat sementara dan lebih banyak memperhatikan pembentukan teori substantif dari data empiris yang akan didapat di lapangan.[114]

Untuk itu, desain penelitian ini dikembangkan secara terbuka dari berbagai perubahan yang diperlukan sesuai dengan kondisi lapangan.[115] Hal ini penting untuk dijelaskan, mengingat penelitian kualitatif merupakan penelitian yang didesain dalam kondisi dan situasi alamiah (Naturalistic) sehingga dapat ditemukan kebenaran dalam bentuk semurni-murninya tanpa mengalami distorsi yang disebabkan oleh instrumen dan desain penelitian. Karena instrumen dan desain penelitian cenderung mengkotak-kotakkan manusia dalam kerangka konsepsi  yang kaku. [116]

Sebagaimana telah peneliti nyatakan di atas, bahwa penelitian ini telah dirancang dengan desain studi kasus. Karena rancangan studi kasus merupakan suatu strategi penelitian yang mengkaji secara rinci atas suatu latar atau satu orang subyek atau suatu peristiwa tertentu.[117]

Studi kasus merupakan sarana utama bagi penelitian emik, yakni dengan menyajikan pandangan subyek yang diteliti sehingga dapat ditemukan konsistensi internal yang tidak hanya merupakan konsistensi gaya dan konsistensi faktual tetapi juga keterpercayaan (trustworthtiness). [118] Dipilihnya studi kasus sebagai rancangan penelitian karena peneliti berkeinginan untuk mempertahankan keutuhan subyek penelitian ini akan lebih mudah dijawab dengan desain studi kasus ini.

Penggunaan studi kasus dalam penelitian ini untuk menjawab apakah memang di SMP Negeri 4 Malang sudah dikembangkan program-program pembelajaran yang berkualitas. Diantara yang harus dijawab melalui pendekatan ini juga mengenai bagaimana proses perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang dan bagaimana pula pengembangannya.

 

  1. B.       Lokasi Penelitian
    1. 1.      Alasan Pemilihan Lokasi

Penelitian ini mengambil lokasi di SMP Negeri 4 Malang, letaknya berada di jantung kota Malang yaitu di jalan veteran nomor 37 Kota Malang. sebelah timur berbatasan dengan jalan terusan Ambarawa. Sebelah selatan berbatasan dengan kompleks perumahan dosen dan karyawan Universitas Negeri Malang (UM). Sebelah barat berbatasan dengan perkampungan jalan Sumbersari, kecamatan Lowokwaru, dan sebelah utara berbatasan dengan lokasi SMA Negeri 8 Kota Malang.

Dipilihnya lembaga Pendidikan ini karena prestasi dan program unggulannya. Prestasi yang diraih baik akademis maupun nonakademis sudah mencapai taraf nasional. SMP Negeri 4 Malang sejak tahun 2006 sudah masuk kategori Sekolah Standar Nasional (SSN), sejak tahun 2008/2009 membuka kelas dua bahasa (Bilingual)sampai sekarang, hal ini dilakukan dalam rangka menuju rintisan sekolah bertaraf Internasional ( RSBI ). Berkaitan dengan prestasi akademik SMP Negeri 4 Malang termasuk urutan ke 5 (2008/2009) dari 25 SMP Negeri yang ada di Kota Malang dilihat dari rata-rata nilai UN, dan termasuk salah satu diantara SMP negeri yang meluluskan 100 % siswa sejak tiga tahun terakhir ini.

Disamping itu, dipilihnya lokasi ini sebagai tempat penelitian karena peneliti ingin mengetahui sejauhmana program-program pembelajaran yang dilaksanakan hingga mampu menjadi sekolah favorit di kota Malang termasuk ingin mengetahui program-program pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang diterapkan. Karena menurut observasi peneliti terdapat 19 ekstrakurikuler yang dikembangkan termasuk ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam dan Budaya religius yang kondusif. Hal inilah yang menjadi alasan tersendiri bagi peneliti untuk menjadikan lembaga tersebut sebagai lokasi penelitian.

2. Keadaan Lingkungan SMP Negeri 4 Malang

Saat ini SMP Negeri 4 Malang  dibangun  di atas tanah yang luasnya  ± 6297 M2, Luas Bangunan  ±3825 M2, Halaman  ±456 M2, Lapangan Olah raga  ±992 M2, Kebun  ±514  M2, Lain-lain 510 M2.

Lingkungan Sekolah meliputi Lingkungan intern dan Lingkungan ekstern. Lingkungan SMP 4 Malang satu kampus (satu komplek) dengan   SMA 8 dikelilingi oleh perumahan pegawai baik UM maupun SMA 8, Keamanan agak rawan.  Untuk itulah SMP 4 Malang juga menjalin kerja sama dengan Babinsa dan Satpam  SMP 4 dan SMA 8. Lingkungan sekolah dewasa ini nampak lebih indah dan bersih.

Untuk lingkungan ekstern SMP 4 Malang dikelilingi oleh kampus dan sekolah antara lain : UM, Unibraw, UMM Kampus 2, ITN, SMK 2, MAN 3 dan lain lain. Sehingga akan menciptakan situasi dan kondisi pendidikan yang cukup nyaman dan memperkecil gangguan yang sangat merugikan siswa. Disisi lain keberadaan MATOS sebagai pusat sarana belanja terbesar di Jawa Timur secara langsung maupun tidak akan berpengaruh pada proses KBM dan perilaku siswa. Tempat yang strategis dan jalur transportasi yang cukup mudah mendorong daya tarik SMP 4 bagi orang tua siswa/masyarakat.

Saat ini, SMP Negeri 4 Malang semakin mantap dengan keberadaan gedung baru dan fasilitas yang semakin lengkap serta didukung oleh perpustakaan dan laboratorium yang modern. Sejak tahun 2006 SMP Negeri 4 Malang diberi kepercayaan oleh dikdasmen untuk dikembangkan menjadi SMP berstandar Nasional (SSN), sekarang sudah memasuki tahap II dengan membuka kelas bilingual yang nantinya akan dikembangkan menjadi rintisan sekolah bertaraf Internasional.

Sebagai data pendukung, SMP Negeri 4 Malang mulai tahun 2004 diberi kepercayaan oleh Kanwil Pendidikan dan kebudayaan Provinsi Jawa Timur untuk mengembangkan program unggulan dibidang seni Tradisi yang tergabung dalam Paguyuban peminat seni tradisi (PPST) Jawa Timur, sehingga tidak khayal bahwa sekolah ini mantap menjadi sekolah berprestasi terutama bidang nonakademik (Seni).

3.  Suasana Kegiatan dan Program Pembelajaran sehari-hari di SMP Negeri 4 Malang

Kegiatan pembelajaran sehari-hari di SMP Negeri 4 Malang berjalan sesuai dengan program 6 hari kerja, dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu. Sesuai dengan dokumen kurikulum, pada hari Senin dan Kamis jam pembelajaran dimulai pukul 06.30 wib sampai 11.50. hari Selasa dan Rabu dimulai pukul 06.30 sampai dengan 12.30. sedangkan pada hari Jum,at jam pembelajaran dimulai pukul 06.30(Senam Pagi) sampai dengan pukul 10.50 (1 jam pelajaran terakhir diisi Imtaq). Sementara hari Sabtu jam pembelajaran dimulai pukul 06.30 sampai 11.10 dilanjutkan dengan kegiatan pengembangan diri untuk guru, staf dan karyawan SMP Negeri 4 Malang pada pukul 11.10 sampai dengan 12.30.

Dengan demikian kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di SMP Negeri 4 Malang setiap hari dimulai pukul 06.30 dan berakhir pukul 12.30. akan tetapi dalam kenyataan tidak jarang dijumpai anak-anak dan guru sampai sore hari masih berada di lokasi, hal ini dilakukan karena setiap hari ada kegiatan pengembangan diri siswa dan guru, seperti pembinaan  ekstrakurikuler dan pembuatan program-program yang lain.

Kegiatan sehari-hari yang ditemui di lokasi berkaitan dengan suasana religius terlihat sangat kental. Seperti penyambutan selamat datang bagi guru piket  berjabat tangan, memberi salam dengan sopan (budaya 3 S) sebelum memasuki lingkungan lokasi SMP Negeri 4 Malang. setiap hari Jum,at dengan pembiasaan Imtaq pada jam ke 5 (10.20 – 11.00), dilanjutkan dengan kegiatan keputrian dan sholat jum’at di masjid Manarul Hadi SMP Negeri 4 Malang. suasana religius juga dapat ditemui pada hari jum,at ini dengan diwajibkannya siswa-siswi berseragam busana muslim/ah bagi yang beragama Islam, sementara yang beragama selain Islam menyesuaikan dengan kondisi tersebut.

Secara umum program pembelajaran yang dikembangkan di SMP Negeri 4 Malang terdiri dari tiga yaitu program pembelajaran intrakurikuler, program pembelajaran ekstrakurikuler dan penciptaan suasana religius yang kondusif.

 

  1. a.      Program Pembelajaran Intrakurikuler

1)      Program Reguler (Sekolah Standar Nasional)

Program reguler merupakan pendidikan SMP yang dapat diselesaikan paling cepat dalam waktu tiga tahun. Mulai tahun pelajaran 2006-2007, semua kelas VII merupakan kelas Sekolah Standar Nasional (SSN). Program ini sebelumnya diterapkan dalam dua bentuk yaitu program reguler dan program khusus (Seni) kemudian dikembangkan dengan membuka kelas dua bahasa (bilingual). Program Sekolah Standar nasional baru dimulai pada tahun pelajaran 2006/2007. 

Sekolah Standar Nasional (SSN) ialah sekolah dengan kelas yang proses belajar mengajarnya dilaksanakan minimal sesuai dengan standar nasional yang ditetapkan, sebagaimana yang ditetapkan oleh Dirjen Dikdasmen, lulusan dari kelas Sekolah Standar Nasional ini diharapkan memiliki kemampuan sama dengan lulusan dari sekolah lain yang sederajat di seluruh nusantara.

Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum KTSP dengan beberapa penambahan sesuai dengan kebutuhan sekolah. KTSP yang merupakan kurikulum Nasional (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan diadaptasikan dan dikembangkan dengan kurikulum setempat.

Metode Pembelajaran dalam kelas menerapkan beberapa metode diantaranya: Problem-based learning, Inquiry-based learning, Project-based learning. Sedang sistem Evaluasi dalam bentuk Performance Test, Portofolio, Authentic Assessment.

Adapun proses pembelajaran pada setiap mata pelajaran diampu oleh sebuah Team Teaching, dimana proses belajar-mengajar dipandu oleh beberapa orang guru dengan spesialisasi yang berbeda-beda. Sedang untuk penggunaan ruang kelas menggunakan sistem subject-based classroom yaitu ruang kelas didesain sesuai kebutuhan mata pelajaran, dengan sistem moving class.

Untuk sumber tenaga pengajar di kelas SSN ini berasal dari Guru SMP Negeri 4 Malang yang direkrut dari Diknas Kota Malang dan Depag serta hasil perekrutan sendiri dengan status Guru Wiyata Bhakti atau tenaga guru honorer atau Guru Tidak Tetap (GTT) yang sudah diasuransikan oleh SMP Negeri 4 Malang dengan gaji minimal sesuai dengan UMR setiap bulannya.

Sedang untuk fasilitas non-fisik yang diprogramkan dalam bentuk: Kerjasama dengan lembaga pendidikan lain di Jawa Timur bahkan sampai luar negeri (JICA) dan Sekolah di Jepang juga kerjasama di bidang  program Beasiswa dari Yayasan Pendidikan Persatuan Guru Indonesia (Forum Guru), Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) dan dari Pemerintah.

Fasilitas Fisik yang disediakan adalah: (1) ruang kelas yang didesain sesuai kebutuhan setiap mata pelajaran (Subject-based classroom); (2) laboratorium (IPA, Komputer, Bahasa, IPS, Agama); (3) ruang PPST (Seni); (4) Perpustakaan yang memadai; (5) lingkungan sekolah yang asri, sejuk, dan nyaman; (6) sarana olahraga: lapangan sepak bola, basket, dan badminton; (7) sarana ibadah.

Untuk proses seleksi masuk kelas reguler melalui PSB On Line yang diselenggarakan oleh Diknas Kota Malang.dengan sistem PSB On Line ini siswa atau orang tua tinggal memilih sekolah yang dituju tidak dibatasi jumlah sekolah yang dituju akan tetapi dengan mempertimbangkan Danun yang diperoleh sewaktu di Sekolah Dasar (SD). Jika Danun yang diperoleh diatas rata-rata, maka mereka mempunyai kesempatan untuk memilih sekolah yang difavoritkan.

2)      Program Khusus PPST (Paguyuban Peminat Seni Tradisi)/Kelas Seni

Program PPST adalah program yang dipersiapkan bagi siswa yang berbakat seni tradisi luar biasa untuk direkrut dan dimasukkan dalam kelas khusus seni dengan maksud dan tujuan mengangkat prestasi SMP Negeri 4 Malang di bidang seni. Selain itu, Latar belakang program PPST adalah berdasarkan pemikiran bahwa siswa yang memiliki bakat seni luar biasa pada dasarnya dapat hidup dari bakatnya itu sekaligus sebagai penyaluran hoby. Agar bakat dan keistimewaan tersebut dapat terakomodasi dengan baik, sekolah memberikan layanan program khusus kelas PPST, sejak TP 2004-2005 hingga sekarang.

Adapun kurikulum yang diajarkan tidak berbeda jauh dengan kelas reguler lain. Karena pada dasarnya program PPST ini juga diambilkan dari kelas program reguler kemudian disaring lewat seleksi bakat dan minat pada saat kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa). Selanjutnya mereka yang memenuhi syarat seperti yang ditentukan oleh para pembina/Guru Seni mereka dikelompokkan khusus dalam kelas PPST/kelas seni . di SMP Negeri 4 Malang, kelas seni ini masuk baik di kelas VII maupun VIII dikelompokkan di kelas G. karena itu jika mencermati prestasi sekolah banyak yang diraih dari kelas G, karena memang kelas G adalah kelas prestasi di bidang seni.

3) Program khusus Dua Bahasa (Bilingual).

      Program Dua Bahasa (Bilingual) dikembangkan di SMP Negeri 4 Malang sebagai suatu program unggulan yang muatan meterinya lebih diorientasikan untuk peningkatan kemampuan akademik siswa, khususnya yang berkait langsung dengan kemampuan bahasa Inggris untuk mendongkrak prestasi SMP 4 Malang dalam kancah program bahasa. Juga dalam rangka memenuhi persyaratan untuk ditingkatkan menjadi status sekolah rintisan bertaraf Internasional (RSBI). Program ini dimulai  sejak tahun pelajaran 2008/2009 dengan membuka satu kelas khusus bilingual (dua bahasa)

Program bilingual ialah program dengan kelas yang proses belajar mengajarnya menggunakan pengantar bahasa Inggris, sebagaimana yang ditetapkan oleh sekolah, bahwa lulusan dari kelas ini diharapkan memiliki kemampuan lebih dibidang akademik terutama berkompeten secara akademik maupun fasikh dalam berbicara bahasa Inggris.

Kurikulum yang digunakan adalah perpaduan antara yang diadopsi dari  University of Cambridge dari Cambridge University dengan pengembangan menurut subjek (mata pelajaran). Sedangkan sistem pembelajarannya menggunakan ukuran waktu normal seperti yang tercantum dalam struktur kurikulum KTSP, tentu dengan beberapa penambahan sesuai dengan kebutuhan sekolah. Untuk periode awal memang dikhususkan bagi mata pelajaran yang diujinasionalkan yang harus menggunakan buku pelajaran bilingual. Sedangkan dalam perkembangannya nanti seluruh pengajar kelas bilingual wajib menggunakan pengantar mapun buku materi bilingual.

Metode Pembelajaran dalam kelas ini menerapkan beberapa metode diantaranya: Problem-based learning, Inquiry-based learning, Project-based learning. Sedang sistem Evaluasi dalam bentuk Performance Test, Portofolio, Authentic Assessment dan lain-lain.

Adapun proses pembelajaran pada setiap mata pelajaran diampu oleh sebuah Team Teaching, dimana proses belajar-mengajar dipandu oleh beberapa orang guru dengan spesialisasi yang berbeda-beda. Sedang untuk penggunaan ruang kelas menggunakan sistem subject-based classroom yaitu ruang kelas didesain sesuai kebutuhan mata pelajaran, dengan sistem moving class.

Untuk sumber tenaga pengajar di kelas ini berasal dari Guru SMP Negeri 4 Malang seperti kelas regular lain yang sudah mengikuti kursus bahasa Inggris baik yang diselenggarakan oleh sekolah sendiri maupun dari instansi lain. Seperti telah terjalin kerjasama dengan lembaga kursus Universitas Brawijaya Malang.

Fasilitas Fisik yang disediakan adalah: (1) ruang kelas yang didesain lengkap ( AC, LCD beserta layar , Komputer, almari yang mampu menampung seluruh dokumen siswa) bisa juga menggunakan fasilitas lain seperti yang dinikmati kelas regular dan PPST.

Untuk proses seleksi masuk kelas ini melalui tes khusus bahasa Inggris. Diambil 32 siswa terbaik diantara pagu sekolah sebanyak 280 orang setiap tahunnya. Dimulai saat pelaksanaan MOS (Masa Orientasi Siswa) yang diadakan sekolah setelah mereka dinyatakan lulus dalam PSB On Line.

  1. b.      Program Pembelajaran Ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan wahana bagi siswa untuk mengembangkan bakat, meningkatkan kecerdasan emosional dan spritual. Kegiatan ekstrakurikuler terdiri atas program wajib dan pilihan, dan setiap siswa paling banyak mengambil dua kegiatan ekstrakurikuler. Program Wajib khusus bagi kelas VII yaitu Pendidikan Pramuka  dan program pilihan diberlakukan bagi kelas VII dan kelas VIII yaitu;  (1) Baca Tulis Al Quran (2)Seni Tari (3)Pramuka (4)Paskibra (5)Bola Basket (6)Palang Merah Remaja (7)Band (8)Seni Lukis (9)PKS (Patroli Keamanan Sekolah) (10)Karawitan (11)Sepak Bola (12)Jurnalistik (13)Modeling (14)Karate (15)Paduan Suara (16)Karya Ilmiah Remaja/KIR (17)English Conversation Club/ECC (18)Bulu Tangkis (19)Pidato Bahasa Arab.

  1. c.       Penciptaan Suasana Religius di SMP Negeri 4 Malang

Penciptaan suasana religius di SMP Negeri 4 Malang dapat dilihat sehari-hari dengan melihat program yang dicanangkan oleh sekolah. Adapun program-program tersebut dapat dilhat pada kegiatan di bawah ini yang meliputi; (1). Budaya 3 SAS (Salam, Salim, Senyum, Ambil Sampah), (2). Budaya Jum’at Bersih, (3). Berdo’a Sebelum dan selesai Pelajaran, (4). Budaya Sholat Jum’at bagi siswa Laki-laki, (4). Bimbingan Keputrian setiap Jum’at (5). Budaya IMTAQ pada waktu pembiasaan oleh Wali Kelas, (6).  Halal Bihalal, (7). PHBI (8). Santunan Kematian, (9). Santunan Anak Yatim, (10). Budaya Anjang Sana keluarga Dewan Guru dan Karyawan, dan (Budaya Tasyakuran)

Dari banyaknya budaya agama di SMP Negeri 4 Malang ini, nampak sekali bahwa lingkungan sekolah tersebut benar-benar ingin mengembangkan budaya religius pada diri masing-masing steakholders. Karena itu keseriusan dalam menangani budaya-budaya religious yang dimaksud sangat diperlukan untuk mewujudkan visi dan misi sekolah. Oleh karena itu bagaimana agar budaya yang sudah ada tersebut bisa berjalan dengan baik dan efektif dijalankan perlu penanganan yang serius pula, maka perlu dirumuskan beberapa tindakan untuk menjawab permasalahan tersebut.

  1. C.    Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrument sekaligus sebagai pengumpul data. Kehadiran peneliti sebagai instrument karena peneliti saat ini adalah bagian dari dewan guru yang ada pada lokasi penelitian. Untuk menjaga obyektivitas penelitian, peneliti menempatkan diri sebagai pihak luar yang tidak meneliti diri sendiri. Kehadirannya hanya sebatas orang dalam yang berfungsi memberikan informasi kepada instrument manusia lain demi perbaikan program sekolah. Karena itu yang diharapkan banyak dari penelitian ini adalah instrument non-manusia seperti dokumen-dokumen dan kejadian-kejadian saat observasi maupun pengamatan mendalam sepanjang penelitian ini dilakukan.

Oleh karena itu penelitian ini dilaksanakan dengan sebaik mungkin, bersikap selektif, hati-hati dan bersungguh-sungguh dalam menjaring data sesuai dengan kenyataan di lapangan, sehingga data yang terkumpul benar-benar relevan dan terjamin keabsahannya. Menurut Moelong kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpul data, analis, penafsir data, dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitian.[119]

Penelitian kualitatif merupakan pendekatan yang menekankan pada hasil pengamatan peneliti. Sehingga manusia sebagai instrumen penelitian menjadi suatu keharusan.[120] Bahkan dalam penelitian kualitatif, posisi peneliti menjadi instrumen kunci (the key Instrument).[121] Untuk itu, validitas dan reliabilitas data kualitatif banyak tergantung pada keterampilan metodologis, kepekaan, dan integritas peneliti sendiri.[122]

Untuk dapat memahami makna dan penafsiran terhadap fenomena dan simbol-simbol interaksi di sekolah maka dibutuhkan keterlibatan dan penghayatan langsung peneliti terhadap subyek penelitian di lapangan. Ini merupakan alasan lain kenapa peneliti harus menjadi instrumen kunci penelitian ini.

Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan pelaku utama dalam pengumpulan data. Kapasitas jiwa raganya dalam mengamati, bertanya, melacak, dan mengabstraksi merupakan instrumen penting yang tiada duanya. Selaku pengumpul data, peneliti memainkan peranan kreatif; ia melacak informasi atau fakta deskriptif, kemudian merakit sejumlah fakta dan informasi ke tingkat konsep, hipotesis, dan atau teori.[123] Lebih jauh lagi, penelitian kualitatif juga mengandalkan kemampuan komunikasi (dan atau manusiawi) dalam menyesuaikan diri terhadap berbagai ragam realitas, yang tidak dapat dikerjakan instrumen non human. Peneliti diharapkan mampu memahami fenomena yang terjadi dan selanjutnya menangkap makna dibalik gejala yang ada. Sedang instrument penelitian non manusia, seperti panduan wawancara, observasi atau pengamatan, maupun dokomentasi sekedar fungsi sebagai alat bantu dalam proses perekaman informasi.[124]

Maka dalam penelitian ini, peneliti berusaha dapat menghindari pengaruh subyektif dan menjaga lingkungan secara alami agar proses social yang terjadi berjalan sebagaimana biasa. Sehingga dari hal tersebut, peneliti kualitatif dapat menahan dan menjaga dirinya untuk tidak terlalu jauh mengintervensi terhadap lingkungan yang menjadi obyek penelitian tersebut.

  1. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk menggali data di lapangan. Fungsi dari instrumen penelitian adalah untuk memperoleh data yang diperlukan ketika peneliti menginjak pada langkah pengumpulan informasi di lapangan.[125]

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam penelitian ini, peneliti berperan menjadi  instrumen kunci penelitian. Sebagai instrumen kunci, peneliti melakukan penelitiannya dengan instrumen tambahan berupa pedoman wawancara, pedoman observasi dan pedoman dokumentasi. Pedoman wawancara merupakan lembar acuan yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang dirancang oleh peneliti untuk mengetahui bagaimana merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan program-program pembelajaran PAI di sekolah. Dengan melibatkan guru agama, guru ekstra, koordinator kurikulum, koordinator kesiswaan, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah. Pedoman wawancara tersebut dapat berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi pada saat wawancara dilakukan.

Sedangkan pedoman observasi merupakan alat untuk memudahkan peneliti dalam mengamati data secara lengkap pada waktu berlangsungnya proses penelitian. Pedoman observasi peneliti gunakan untuk mengetahui kondisi lingkungan sekolah, keadaan siswa, kegiatan pembelajaran Agama Islam di kelas. Adapun pedoman dokumentasi digunakan untuk menggali data terkait dengan kurikulum yang digunakan, program-program pembelajaran yang dikembangkan, dan dokumen-dokumen tentang fasilitas pembelajaran yang ada di sekolah.

Untuk menetapkan informan dalam penelitian ini diikuti saran Guba dan Lincoln agar memilih informan yang memiliki pengetahuan khusus, informative, dan dekat dengan situasi yang menjadi focus penelitian, disamping memiliki status khusus. Kepala sekolah dari sabyek yang diteliti, diasumsikan memiliki banyak informasi tentang sekolah yang dipimpinnya, termasuk situasi dari sekolahnya. Hal ini berarti bahwa kepala sekolah dapat dijadikan informan pertama untuk diwawancarai.

Langkah selanjutnya adalah  wakil kepala sekolah, staf kurikulum, staf kesiswaan, staf sarana prasarana, guru PAI, guru ekstrakurikuler PAI dan informan lain yang dianggap memiliki informasi yang dibutuhkan, relevan dan memadahi, serta dapat dijadikan informan berikutnya, demikian seterusnya.

Dari hasil wawancara ini diperoleh 19 orang yang dijadikan informan penelitian dengan rincian sebagaimana disajikan pada tabel    berikut ini.

Tabel  3.1.

Rincian Informan Penelitian

 No

Informan

 

Jumlah

Data Tentang

Fokus No.

1

Kepala Sekolah(KS)

1

Perencanaan, Pelaksanaan & Pengendalian Program

1, 2 & 3

2

Wakil Kepala Sekolah(WKS)

1

Perencanaan Program

1

3

Urusan Kurikulum(Urs.Kur)

2

Perencanaan Program

1

4

Urusan Kesiswaan(Urs.Sis)

2

Pelaksanaan Program

2

5

Urusan Sarana Prasarana(Urs.Sarpras)

1

Pelaksanaan Program

2

6

Guru Pendidikan Agama Islam(GPAI)

2

Perencanaan, Pelaksanaan dan Pengendalian Program

1,2, & 3

7

Pembina Ekstrakurikuler PAI(Pb.Ekstra)

2

Perencanaan dan Pelaksanaan Program

1 & 2

8

Pembina Keputrian(Pb.Putri)

2

Perencanaan dan Pelaksanaan Program

1 & 2

9

Pengurus OSIS(Pg.Osis)

2

Perencanaan dan Pelaksanaan Program

1 & 2

10

Pembina Osis Ketaqwaan(Pb.Osis)

1

Perencanaan dan Pelaksanaan Program

1 & 2

11

Siswa

3

Pelaksanaan & Pengendalian Program

1 & 3

 

Jumlah

 

19

 

 

 

E.       Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data secara holistik yang integratif, dan memperoleh relevansi data berdasarkan fokus dan tujuan penelitian, maka pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tiga teknik, yaitu wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumentasi.

1. Wawancara (Interview)

Teknik wawancara adalah suatu cara untuk mengumpulkan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada penyelidikan, pada umumnya dua orang atau lebih hadir secara fisik dalam proses tanya jawab.[126] Teknik wawancara terdiri atas tiga jenis, yaitu: wawancara struktur (Structure Interview), wawancara semi terstruktur (semistructured interview), dan wawancara tidak terstruktur (unstructured interview)[127] dalam penelitian ini peneliti berupaya menggunakan ketiga jenis wawancara tersebut. Hal ini peneliti lakukan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi wawancara serta kebutuhan akan informasi yang dapat berkembang setiap saat.

Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan sesuai dengan pedoman wawancara penelitian, apabila muncul diluar pedoman tersebut maka hal itu tidak perlu diperhatikan.[128] Jenis wawancara ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian program pembelajaran pendidikan Agama Islam. Untuk itu yang menjadi responden dari jenis wawancara ini adalah Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Koordinator Kurikulum, dan Koordinator Kesiswaan.

Adapun wawancara semi terstruktur adalah wawancara yang dilakukan dengan mengembangkan instrumen penelitian. Wawancara semistruktur ini sudah masuk dalam kategori in-dept interview (wawancara mendalam), dimana pelaksanaannya lebih bebas dan terbuka dibanding wawancara terstruktur.[129] Dalam hal ini peneliti akan melakukan wawancara kepada Guru Agama Islam, Pengurus OSIS, Pembina Ekstrakurikuler PAI, dan siswa. Wawancara ini dilakukan sebagai pelengkap data untuk menjawab focus penelitian tentang bagaimana proses perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian program pembelajaran PAI.

Wawancara  mendalam yang sebenarnya adalah jenis wawancara yang ketiga. yaitu wawancara tak terstruktur yang menerapkan metode interview secara lebih mendalam, luas, dan terbuka dibanding wawancara terstruktur. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pendapat, persepsi, perasaan, pengetahuan dan pengalaman seseorang.[130]

Bungin menyatakan bahwa kekhasan dari model wawancara mendalam adalah keterlibatan peneliti dalam kehidupan informan.[131] Teknik ini mirip dengan percakapan informal, yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang lebih luas dari semua informan. Wawancara tak struktur ini bersifat luwes, susunan pertanyaan dan kata-katanya dapat diubah pada saat wawancara, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi responden yang dihadapi. Dalam teknik wawancara mendalam ini, peneliti berupaya mengambil peran pihak yang diteliti (Taking the role of the other), secara intim menyelami dunia psikologis dan sosial mereka serta mendorong pihak yang diwawancarai agar mengemukakan semua gagasan dan perasaannya dengan bebas dan nyaman.

Alasan dipilihnya teknik  interview (wawancara) ini adalah karena dengan teknik pengumpulan data ini maka peneliti akan berhasil memperoleh data dari informan yang lebih banyak dan sesuai dengan kebutuhan penelitian. Untuk menjamin kelengkapan dan kebenaran data yang diperoleh melalui teknik ini maka peneliti menggunakan alat perekam dan pencatat. Adapun instrument yang akan diwawancarai sebanyak 19 orang mulai dari kepala sekolah sampai siswa, seperti yang dijelaskan dalam tabel 3.1 di atas.

  1. Pengamatan (Observation)

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematis gejala-gejala yang diselidiki.[132] Observasi juga berarti pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti.[133] Teknik pengamatan terdiri atas tiga jenis, yaitu pengamatan berperan serta (participant observation), pengamatan terus terang dan tersamar (overt observation and covert observation), dan pengamatan tak terstruktur (unstructured observation).[134]

Dalam penelitian ini peneliti hanya menggunakan pengamatan berperan serta dan pengamatan terus terang dan tersamar alasannya bahwa jarang sekali peneliti dapat mengamati subyek penelitian tanpa terlibat dalam kegiatan orang-orang yang menjadi sasaran penelitiannya.[135]

Teknik pengamatan berperan serta digunakan untuk melengkapi dan menguji hasil wawancara yang diberikan oleh informan yang kemungkinan belum menggambarkan segala macam situasi yang dikendaki peneliti. Teknik ini dilaksanakan dengan cara peneliti melibatkan diri pada kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh subjek penelitian. Bahkan peneliti saat ini menjadi bagian dari yang diteliti karena sedang mengajar di lokasi yang menjadi obyek penelitian. Menurut Bogdan dalam Arif Furchan tujuan keterlibatan ini adalah untuk mengembangkan pandangan dari dalam tentang apa yang sedang terjadi untuk dimengerti.[136]

Penggunaan cara ini sangat penting untuk dilakukan guna memberi hasil yang obyektif dari sebuah penelitian kualitatif. Dengan teknik ini peneliti dapat melihat dan merasakan secara langsung suasana dan kondisi subyek penelitian. Untuk itu mempelajari secara langsung permasalahan yang sedang diteliti sehingga dapat diketahui secara empiris fenomena apa yang terjadi dalam kaitannya dengan persoalan yang dikaji yang tidak mungkin didapat dengan menggunakan teknik pengumpulan data lainnya. Teknik ini peneliti gunakan  untuk mengetahui bagaimana guru Agama Islam menerapkan teknik-teknik dan model pembelajaran di kelas, suasana sehari-hari di SMP Negeri 4 Malang, dan kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam yang dikembangkan di SMP Negeri 4 Malang, serta suasana rapat atau pertemuan yang diadakan oleh para guru dan kepala sekolah di SMP Negeri 4 Malang. Peneliti perlu mengikuti kegiatan tersebut untuk mengetahui dan merasakan kondisi riil dari subyek penelitian.

  1. Studi Dokumentasi (Documentation Review)

Dalam penelitian kualitatif kebanyakan diperoleh dari sumber manusia, melalui observasi dan wawancara. Akan tetapi ada pula sumber nonmanusia yang dapat digunakan, diantaranya dokumen, foto, dan bahan statistik. Untuk itu dalam penelitian ini, peneliti juga menggunakan teknik dokumentasi. Data dokumentasi ini digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh dari wawancara dan observasi partisipasi.

Studi dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda program, dan sebagainya.[137] Penggunaan dokumentasi dalam pengumpulan data pada penelitian ini didasarkan atas beberapa alasan sebagai berikut:

1). Merupakan sumber informasi yang stabil dan kaya.

2). bermanfaat untuk membuktikan sebuah peristiwa.

3). Sifatnya alamiah dengan konteks.

4). Hasil pengkajian akan diperluas sesuai dengan pengetahuan terhadap sesuatu yang diteliti.[138]

Teknik ini sangat dibutuhkan oleh peneliti untuk meneliti arsip-arsip sekolah. Arsip-arsip kegiatan pada masa lampau sangat perlu untuk dihadirkan karena kegiatan ini sangat sulit untuk dapat diputar ulang. Begitu juga dengan program-program kegiatan sekolah akan lebih muda untuk digali dengan menggunakan metode ini. Adapun dokumen yang diperlukan dalam penelitian ini menyangkut; (1)Dokumen II KTSP SMP Negeri 4 Malang meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam, (2)Catatan hasil-hasil rapat dinas dan workshop yang diselenggarakan oleh SMP Negeri 4 Malang, (3)foto kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, dan foto-foto kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler PAI, serta foto-foto kegiatan keagamaan di SMP Negeri 4 Malang.

  1. F.       Analisis Data

Dalam penelitian kualitatif, analisis data merupakan proses penelaahan dan pengaturan secara sistematis transkrip wawancara, catatan lapangan, pengalaman seseorang, dan bahan-bahan lain yang telah dihimpun dengan tujuan untuk menyususn hipotesis kerja dan mengangkatnya menjadi teori sebagai hasil penelitian. Oleh karena itu, analisis data dilakukan melalui kegiatan menelaah data, menata, membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola, mensintesis, mencari pola, menemukan apa yang bermakna, dan apa yang akan diteliti dan diputuskan peneliti untuk dilaporkan secara sistematis.[139]

Moelong mengklasifikasikan tiga model analisis data dalam penelitian kualitatif, yaitu (1) metode perbandingan konstan (constant comparative method) seperti yang dikemukakan oleh Glaser & Strauss, (2) metode analisis data menurut Spradley, dan (3) metode analisis data menurut Miles & Huberman. Diantara ketiga metode tersebut, metode yang pertama yang paling banyak digunakan.[140]

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode analisis data menurut Miles & Huberman yaitu analisis model interaktif. Analisis data berlangsung secara simultan yang dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data dengan alur tahapan: pengumpulan data (data collection), reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan kesimpulan atau verifikasi (consclution drawing & verifying). Teknik analisis data model interaktif tersebut dapat dibagankan sebagai berikut:

Data Display

Data Collection

Data Reduction

Conclution drawing & Verifying

 

 

 

 

 

 

 

Diagram 3.1. Teknik Analisis Data model Interaktif [141]

Peneliti menggunakan model analisis interaktif yang mencakup tiga komponen yang saling berkaitan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan konseptualisasi, kategorisasi, dan diskripsi dikembangkan atas dasar kejadian (incidence) yang diperoleh ketika di lapangan. Karenanya antara kegiatan pengumpulan data dan analisis data menjadi satu kesatuan yang tidak mungkin dipisahkan, keduanya berlangsung secara simultan, serempak dan berjalan berkelindan.

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan, perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data mentah atau data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan.[142] Dengan kata lain reduksi data ialah proses penyederhanaan data, memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian. Reduksi data dalam penelitian kualitatif berlangsung secara simultan selama proses pengumpulan data berlangsung, baik dalam bentuk ringkasan, mengkode, menelusuri tema, dan membuat gugus-gugus, membuat partisipan dan menulis memo. Dalam penelitian kualitatif, reduksi data merupakan bagian yang tak terpisahkan dari analisis data.

Display atau penyajian data ialah proses pengorganisasian untuk memudahkan data dianalisis dan disimpulkan. Proses ini dilakukan dengan cara membuat matrik, diagram atau grafik, sehingga dengan begitu peneliti dapat memetakan semua data yang ditemukan dengan lebih sistematis. Penyajian menurut Miles dan Huberman merupakan sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.[143] Display data ini merupakan tahapan kedua dari kegiatan analisis data, yakni menyampaikan hasil temuan penelitian kepada pembaca atau peneliti lain.

Langkah-langkah penganalisisan selama pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu: (1) setiap selesai pengumpulan data, semua catatan lapangan dibaca, dipahami, dan dibuatkan ringkasannya. Format ringkasan catatan lapangan yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti pola yang dikembangkan oleh Nur Ali[144]; (2) semua catatan-catatan lapangan dan semua ringkasan yang telah dibuat, dibaca lagi dan dibuatkan ringkasan-ringkasan sementara, yaitu ringkasan hasil sementara yang mensintesiskan apa yang telah diketahui tentang kasus yang dijadikan latar penelitian, dan menunjukkan apa yang masih harus diteliti. Pembuatan ringkasan kasus ini bertujuan untuk memperoleh catatan yang terpadu mengenai kasus yang menjadi latar penelitian; (3) setelah seluruh data yang diperlukan telah selesai dikumpulkan dan peneliti meninggalkan lapangan penelitian, maka catatan lapangan yang telah dibuat selama pengumpulan data dianalisis lebih lanjut secara lebih intensif. Langkah ini disebut dengan analisis setelah pengumpulan data. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam analisis setelah pengumpulan data adalah sebagai berikut.

Pertama, pengembangan system kategori pengkodean. Pengkodean dalam penelitian ini dibuat berdasarkan kasus latar penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, focus penelitian, waktu kegiatan penelitian. Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini disajikan dalam table berikut ini.

Tabel  3.2

Sistem Pengkodean Analisis Data

NO ASPEK PENGKODEAN KODE

 

1. Kasus Latar Penelitian

SMP Negeri 4 Malang

 

I

2. Teknik Pengumpulan Data

  1. Wawancara
  2. Observasi

c.   Dokumentasi

 

W

O

D

3.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Responden:

  1. Kepala Sekolah
  2. Wakil Kepala Sekolah
  3. Urusan Kurikulum
  4. Urusan Kesiswaan
  5. Urusan Sarana Prasarana
  6. Guru Pendidikan Agama Islam
  7. Pembina Ekstrakurikuler
  8. Pembina Keputrian
  9. Pengurus Osis
  10. Pembina Osis Ketaqwaan
  11. Siswa
 

KS

WKS

Urs. Kur

Urs. Sis

Urs. Sarpras

GPAI

Pb.Ekstra

Pb.Putri

Pg.Osis

Pb.Osis

Sis

 

4. Fokus Penelitian

 

  1. Perencanaan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
  2. Pelaksanaan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
  3. Pengendalian Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
 

Prp

 

Plp

 

Pdp

5. Waktu Kegiatan: tanggal, bulan, dan tahun 02-04-10

 

 

Pengkodean ini digunakan dalam kegiatan analisis data. Kode fokus penelitian digunakan untuk mengelompokkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara, studi dokumen, dan observasi. Kemudian pada bagian akhir catatan lapangan atau transkrip wawancara dicantumkan; kode lokasi penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, tanggal, bulan, dan tahun. Berikut ini disajikan contoh penerapan kode dan cara membacanya.

W-3-Urs.Kur-Pdp .02-04-10

W  = Wawancara

3                = Nomor Responden

Urs.Kur     = Urusan Kurikulum

Pdp            = Pengendalian Program Pembelajaran PAI

02-04-10    = Tanggal, bulan dan tahun

 

Kedua, penyotiran data. Setelah kode-kode tersebut dibuat lengkap dengan pembatasan operasionalnya, masing-masing catatan lapangan dibaca kembali, dan setiap satuan data yang tertera di dalamnya diberi kode yang sesuai. Yang dimaksud dengan satuan disini adalah potongan-potongan catatan lapangan yang berupa kalimat, paragraph, atau urutan alinea. Kode-kode tersebut dituliskan pada tepi lembar catatan lapangan. Kemudian semua catatan lapangannya difotokopi. Hasil kopinya dipotong-potong berdasarkan satuan data, sementara catatan lapangan yang asli disimpan sebagai arsip. Potongan-potongan catatan lapangan tersebut dipilah-pilah atau dikelompok-kelompokkan berdasarkan kodenya masing-masing sebagaimana tercantum pada bagian tepi kirinya. Untuk memudahkan pelacakannya pada catatan lapangan yang asli, maka pada bagian bawah setiap satuan data tersebut diberi notasi.

Ketiga, perumusan kesimpulan-kesimpulan sebagai temuan-temuan sementara pada setiap kasus tunggal dilakukan dengan cara mensintesiskan semua data yang terkumpul. Untuk kepentingan itu terlebih dahulu dibuatkan beberapa diagram konteks yang dimaksudkan untuk mendiagramkan peran berbagai pihak dalam kegiatan-kegiatan manajemen pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan catatan bisa dibuat diagram. Jika tidak bias,  maka hanya dibuat kesimpulan-kesimpulan saja.

  1. Pengecekan Keabsahan Temuan

Untuk menjamin kesahihan dan keabsahan data, maka peneliti berupaya menggunakan metode pengecekan keabsahan temuan. Dalam penelitian ini, pemeriksaan keabsahan data didasarkan pada kriteria-kriteria untuk menjamin kepercayaan data yang diperoleh melalui penelitian. Menurut Moeloeng kriteria tersebut ada 4, yaitu: kredibilitas, keteralihan, kebergantungan, dan konfirmabilitas.[145] Sementara peneliti hanya menggunakan 3 metode dari empat metode pengecekan keabsahan temuan. Disamping itu peneliti juga secara teratur mengadakan diskusi dengan Kepala Sekolah, guru, dan Siswa yang ada di lokasi SMP Negeri 4 Malang untuk memastikan bahwa data tersebut benar-benar telah dicek dari beberapa sumber di lokasi penelitian.

  1. Uji Kredibilitas Data.

Uji Kredibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai fakta yang sebenarnya terjadi. Untuk mencapai nilai kredibilitas ada beberapa teknik yaitu: teknik triangulasi sumber, pengecekan anggota, dan perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan.

Triangulasi sumber data adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu. Trianggulasi data dilakukan dengan cara menanyakan kebenaran data tertentu yang diperoleh dari kepala SMP negeri 4 malang, kemudian dikonfirmasikan kepada informan lain seperti Wakil kepala Sekolah dan urusan kurikulum.

Pengecekan anggota dilakukan dengan cara menunjukkan data atau informasi, termasuk hasil interpretasi penelitian yang sudah ditulis dengan rapi dalam bentuk catatan lapangan atau transkrip wawancara pada informan kunci agar dikomentari, disetujui atau tidak, dan bisa ditambah informasi lain jika dianggap perlu.

Perpanjangan keikutsertaan peneliti sebagaimana telah dikemukakan sangat menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan tersebut tidak dilaksanakan dalam waktu singkat tetapi memerlukan waktu yang relatif panjang pada latar penelitian. Perpanjangan keikutsertaan peneliti dapat menguji kebenaran informasi yang diperoleh secara distorsi baik berasal dari peneliti sendiri maupun dari kepala sekolah. Distorsi tersebut memungkinkan tidak disengaja, sehingga kehadirannya dapat membangun kepercayaan kepala sekolah kepada peneliti, sehingga antara peneliti dengan kepala sekolah akhirnya tercipta hubungan keakraban yang baik sehingga memudahkan kepala sekolah untuk mengungkapkan sesuatu secara lugas dan terbuka.

  1. Dependebilitas (kebergantungan)

Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan kesalahan dalam menyimpulkan dan menginterpretasikan data, sehingga data dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kesalahan banyak disebabkan oleh kesalahan manusia itu sendiri terutama peneliti sehingga instrumen kunci dapat menimbulkan ketidakpercayaan pada peneliti. Dalam penelitian ini sebagai auditor peneliti adalah pembimbing tesis yaitu Dr. H. Wahidmurni, Ak., M. Pd.

  1. Konfirmabilitas (kepastian)

Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada. Dalam pelacakan ini, peneliti menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan seperti data lapangan berupa catatan lapangan dari hasil pengamatan penelitian tentang proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian dalam mengembangkan program-program pembelajaran dan transkrip wawancara serta catatan proses pelaksanaan penelitian yang mencakup metodologi, strategi serta usaha keabsahan.

Dengan demikian metode konfirmabilitas lebih menekankan pada karakteristik data. Upaya konfirmabilitas untuk mendapat kepastian data yang diperoleh itu obyektif, bermakna, dapat dipercaya, faktual dan dapat dipastikan. Berkaitan dengan pengumpulan data ini, keterangan dari kepala sekolah, koordinator kurikulum, dan koordinator kesiswaan serta keterangan dari informan lain perlu diuji kredibilitasnya. Hal inilah yang menjadi tumpuan penglihatan, pengamatan objektifitas dan subjektifitas untuk menuju suatu kepastian.

  1. H.  Tahap-tahap Penelitian

Penelitian ini menggunakan tiga tahap. Pertama, studi orientasi dengan menyusun pra-proposal dan proposal penelitian yang bersifat tentatif dan menggalang sumber pendukung yang diperlukan. Kegiatan dalam tahap ini diantaranya: (1) mencari isu-isu umum yang unik dalam konteks pendidikan. Isu yang ditemukan pada sekolah yang dipilih sebagai subyek adalah SMP Negeri 4 Malang; (2) mencari sejumlah literatur yang relevan tentang SMP; (3) mengadakan studi orientasi pada subyek yang diteliti, untuk mengumpulkan data sementara secara umum; dan (4) diskusi dengan teman sejawat serta berkonsultasi dengan promotor (Wakil Kepala Sekolah) untuk memperoleh arahan dan saran-saran perbaikan.

Kedua, studi eksplorasi umum dengan melakukan: (1) konsultasi, wawancara, dan perijinan pada Kepala sekolah; (2) penjajagan umum pada subyek yang ditunjuk untuk melakukan observasi dan wawancara; (3) mengadakan studi literatur untuk menentukan kembali fokus dan kasus penelitian; (4) mengadakan seminar kelas pada mata kuliah seminar yang diasuh oleh Bapak Dr. Sanapiah faisal guna memperoleh masukan dari teman sejawat dan dosen pengampu mata kuliah seminar proposal; (5) melaksanakan ujian proposal tesis dalam rangka memperoleh persetujuan untuk melanjutkan studi penelitian lebih lanjut.

Ketiga, eksplorasi terfokus yang diikuti dengan pengecekan hasil atau temuan penelitian dan penulisan laporan hasil penelitian. Tahap eksplorasi terfokus ini mencakup: (1) tahap pengumpulan data yang dilakukan secara terinci dan mendalam guna menemukan konseptual tema-tema di lapangan; (2) dilakukan pengumpulan dan analisis data secara bersama-sama; (3) dilakukan pula pengecekan hasil dan temuan penelitian oleh dewan penguji yang terdiri dari: Ketua (Dr. Hj. Suti’ah, M. Pd), Penguji utama (Prof. Dr. H. Muhaimin, MA), Pembimbing I merangkap anggota (Dr. H. Wahidmurni, Ak. M. Pd), Sekretaris merangkap anggota (Dr. H. M. Mujab, MA), selanjutnya ditulis sebagai laporan hasil penelitian.

==

 

 

BAB IV

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

            Dalam bab IV ini diuraikan secara berurutan tentang; (a) paparan data dan (b) temuan penelitian.

  1. A.      Paparan Data

Dalam paparan data ini diuraikan tentang; (1) perencanaan  pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam; (2) pelaksanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang meliputi; (a)pengorganisasian program pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (b)pengarahan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam; dan (3)pengendalian pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

  1. 1.    Perencanaan Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

a.  Program Kegiatan Tatap Muka (Pembelajaran Intrakurikuler PAI )

Umumnya, perencanaan pengembangan program pembelajaran biasanya dilakukan melalui workshop dengan melibatkan para ahli, sedangkan perencanaan pengembangan program pembelajaran pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang disusun oleh Tim Pengembang kurikulum sekolah dengan melibatkan berbagai pihak untuk dijadikan pedoman dalam kegiatan belajar-mengajar. Seperti penuturan Staf  Kurikulum (ES), sebagai berikut:

Kurikulum yang digunakan di SMP Negeri 4 Malang ini adalah kurikulum KTSP  dengan beberapa penambahan sesuai dengan kebutuhan sekolah yang disusun oleh Tim pengembang kurikulum dengan melibatkan berbagai pihak. Termasuk ada tim MGMPS yang bertugas mengembangkan program-program pembelajaran untuk dijadikan pedoman baik pembelajaran kokurikuler maupun ekstrakurikuler(W-3.Urs.Kur.Prp.12-03-10).

 

Perencanaan pengembangan  program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang  dapat dilihat dalam bentuk pembuatan perangkat pembelajaran yang meliputi: pengembangan silabus bidang studi PAI, program  tahunan, program semester dan persiapan mengajar dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang  disusun dan dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi –Kompetensi Dasar (SK-KD) dan disesuaikan dengan kalender pendidikan yang berlaku, jadwal pelajaran sekolah yang bersangkutan dan sarana yang tersedia, seperti penuturan Koordinator Kurikulum (NQ) sebagai berikut;

Setiap memasuki liburan semester guru-guru mengikuti kegiatan workshop yang diselenggarakan sekolah untuk menyusun perangkat pembelajaran yang didalamnya akan membuat pengembangan silabus dan sistem penilaian, Rencana pelaksanaan pembelajaran, program tahunan, program semester, pemetaan materi, analisis standar isi, kriteria ketuntasan minimal dan lain-lain. Juga termasuk kegiatan pengembangan diri dalam bentuk ekstrakurikuler harus ada perangkat pembelajarannya berikut kriteria penilaian.  Hal ini dilakukan supaya pada waktu masuk pelajaran guru-guru tidak disibukkan dengan administrasi pembelajaran.

(W-3.Urs.Kur.Prp.14-03-10)

 

Dari data dokumentasi diperoleh Contoh Format pengembangan silabus dan sistem penilaian SMP Negeri 4 Malang tahun pelajaran 2009/2010:

 

 

 

Tabel  4.1

Contoh Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian

 

SATUAN PENDIDIKAN         : SMPN 4 MALANG

MATA PELAJARAN                               : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

TAHUN PELAJARAN             : 2009-2010

KELAS / SEMESTER              : VII / GANJIL

 

STANDAR KOMPETENSI (AL-QUR’AN)              : 1. Menerapkan Hukum Bacaan ”Al” Syamsiyah Dan ”Al” Qomariyah.

 

Kompetensi Dasar Materi Pokok Kegiatan Pembelajaran Indikator

Penilaian

Alokasi Waktu Sumber Belajar
Jenis Tagihan Tehnik Bentuk Instrumen Contoh Instrumen
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1.1.  Menjelaskan Hukum bacaan ”Al” Syamsiyah dan ”Al” Qomariyah.

 

 

 

 

 

 

 

1.2.  Membedakan hukum bacaan Al Syamsiyah dan Al Qomariyah

 

1.3.  Menerapkan bacaan Al Syamsiyah dan Al Qomariyah dalam surat-surat Al-Qur’an.

1.4.Menghafal surat-surat pendek dalam juz amma

-   Hukum bacaan ”Al” Syamsiyah dan               ”Al” Qomariyah.

-   Al-Qur’an Surat An-Nas,Al-Falaq Al-Ikhlas, Al-Lahab,An-Nashr, dan Ad-Duha

 

-    Siswa membaca dan menelaah materi tentang Hukum bacaan ”Al” Syamsiyah dan                              ”Al” Qomariyah.

-   Siswa diskusi

tentang Hukum bacaan ”Al” Syamsiyah dan                              ”Al” Qomariyah.

- Siswa mempraktekan  Hukum bacaan ”Al” Syamsiyah dan                              ”Al” Qomariyah.

- Siswa menghafal surat-surat pendek dalam juz amma Qs.An-Nas,Al-falaq, Al-Ikhlas, Al-Lahab, An-Nashr, dan Ad-duha

1. Menjelaskan   pengertian  Al Syamsiyah

2. Menjelaskan hukum bacaan Al Syamsiyah

3. Menyebutkan huruf Al Syamsiyah

4. Menjelaskan pengertian Al Qomariyah

5. Menjelaskan hukum bacaan Al Qomariyah

6. Menyebutkan huruf Al Qomariyah

7. Membedakan hukum bacaan Al Syamsiyah dan  Al Qomariyah.

8. Menerapkan bacaan Al Syamsiyah dalam bacaan surat surat al-Qur’an dengan benar

9. Menerapkan bacaan Al Qomariyah . dalam bacaan surat surat al-Qur’an dengan benar

10.menghafalkan surat-surat pendek dalam juz amma: Q.s.An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, Al-Lahab, An-Nashr, dan Ad-Duha

- Ulangan   Harian

 

 

- Quis

 

- Ulangan

 

 

 

 

 

 

 

- Tugas

 

 

- Tugas

 

- Tugas

 

 

 

-Tugas

- Tes tulis

 

 

 

-Tanya jawab

Tes tulis

 

 

 

 

 

 

 

-  Tugas

kelompok

 

 

-        Tugas  Kelompok

 

 

 

-Tugas Individu

- Jawaban Singkat

 

 

- Jawaban Singkat

-Jawaban   Singkat

 

 

 

 

 

 

- Performance

 

 

-Performance

- Jelaskan pengertian Al Syamsiyah !

 

 

- Sebutkan huruf syamsiyah.

- Jelaskan pengertian Al Qomariyah

 

 

 

 

- Bacalah surat an-Naas dan al-Falaq dengan benar

- Bacalah Qs Adh  Dhuha

 

- Hafalkan surat An-Nas, al-Falaq, al-ikhlas, al-lahab, an-nashr dan Ad-Dhuha.

3 x Pertemuan

( 6 jam pel )

-   Buku  Tajwid

-   Juz ‘Amma

-  Buku PAI Kelas VII

 

(D-6.GPAI.Prp.30-04-10)

 

Perencanaan pengembangan program pembelajaran ini dilakukan pada kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler yang ada di SMP Negeri 4 Malang termasuk program-program unggulan Seni, Bahasa Inggris dan Agama Islam. Untuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam, program-program yang dikembangkan meliputi program pembelajaran dengan menggunakan jam pelajaran di kelas  (Intrakurikuler) dan pembelajaran di luar jam pelajaran atau ekstrakurikuler. Juga dikembangkan budaya-budaya religius yang mendukung terlaksananya program pendidikan agama Islam di sekolah. Program-program PAI yang ada di SMP Negeri 4 Malang memang harus dikembangkan mengingat permasalahan yang terjadi berkaitan dengan pembentukan kepribadian siswa sangat dibutuhkan dalam situasi yang akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan, dengan semakin maraknya kenakalan remaja dan banyaknya siswa yang terjerembab mengkonsumsi narkoba. Hal ini nampak dalam wawancara  peneliti dengan Kepala SMP Negeri 4 Malang.

Memang sudah seharusnya di SMP negeri 4 Malang ini dikembangkan berbagai program pengembangan termasuk program keagamaan, karena SMP ini sudah maju baik akademiknya maupun non akademiknya. Sementara kalau hanya mengambil dan mengadopsi kurikulum dari BSNP nampaknya perlu banyak revisi. Wong tempatnya saja di kota yang strategis kok masih itu-itu saja program keagamaannya. Lagi pula, saat ini perkembangan siswa yang menjurus ke arah kenakalan remaja dan mengkonsumsi narkoba sudah sangat luar biasa. Untuk itu ke depan program-program sekolah yang berkaitan dengan pembentukan pribadi siswa harus diprioritaskan.(W-1.KS.Prp.15-03-10)

 

Berikutnya adalah perencanaan program tahunan yaitu suatu rencana pembelajaran selama satu tahun yang terdiri dari rencana semester 1 dan 2. Lebih lengkapnya program tahunan adalah rencana kegiatan yang akan dilakukan, disampaikan kepada siswa dan dikerjakan oleh guru dalam jangka waktu satu tahun (satu tahun ajaran).

Rencana Tahunan paling tidak memuat: Identitas Pelajaran, Kompetensi Dasar, Materi dan Alokasi Waktu. Berdasarkan dokumentasi pada guru PAI diketahui bahwa semua guru PAI telah membuat program tahunan (Prota) sebagai dasar pijakan dan schedule apa yang akan mereka ajarkan pada siswa selama satu tahun pelajaran. Program Tahunan ini dibuat berdasarkan pengembangan silabus yang sudah mereka buat sebelumnya.

Tabel  4.2

Contoh Format Program Tahunan

Pendidikan Agama Islam SMP Negeri 4 Malang

PROGRAM TAHUNAN

 

                                            Mata Pelajaran                              : Pendidikan Agama Islam

                                            Satuan Pendidikan                          : SMP 4 Malang

                                            Kelas                                               : VII  / GASAL

                                            Tahun Pelajaran                             : 2009/2010

 

Standar Kompetensi

 

 

Kompetensi dasar

 

 

Alokasi

  1. Menerapkan hukum bacaan ”AL” Syamsiyah dan ”AL” Qamariyah.
1.1.      Menjelaskan hukum bacaan AL” Syamsiyah dan ”AL” Qamariyah.

1.2.       Membedakan hukum bacaan AL” Syamsiyah dan ”AL” Qamariyah.

1.3.       Menerapkan bacaan AL” Syamsiyah dan ”AL” Qamariyah.

1.4.      Menghafalkan surat-surat Pendek dalam Juz Amma: Q.s.An-Nash, Al-Falaq, Al-Ikhlash, Al-Lahab, An-Nashr, dan Ad-Duha

6 jp

  1. Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT melalui pemahaman sifat-sifat-Nya.
2.1.  Membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah SWT.

2.2.  Menyebutkan arti ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah SWT.

2.3.  Menunjukkan tanda-tanda adanya Allah SWT.

2.4.  Menampilkan perilaku sebagai cermin keyakinan akan sifat-sifat Allah SWT.

4 jp

  1. Memahami Asmaul Husna
3.1. Menyebutkan arti ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan sepuluh Asma’ul Husna

3.2.  Mengamalkan isi kandungan sepuluh Asma’ul Husna

4 jp

  1. Membiasakan perilaku terpuji

 

4.1. Menjelaskan pengertian tawadhu’, taat, qonaah dan sabar.

4.2. Menampilkan contoh tawadhu’, taat, qonaah dan sabar

4.3. Membiasakan perilaku tawadhu’, taat, qonaah dan sabar

4 jp

5. Memahami ketentuan-ketentuan Thoharoh ( bersuci) 5.1. Menjelaska ketentuan-ketentuan Thoharoh (bersuci).

5.2. Menjelaskan perbedaan hadas dan najis

6 jp

6. Memahami tata cara sholat 6.1. Menjelaskan ketentuan sholat wajib.

6.2. Mempraktekan sholat wajib.

6 jp

7. Memahami tatacara sholat jama’ah dan munfarid. 7.1.  Menjelaskan pengertian sholat berjama’ah dan munfarid.

7.2.  Mempraktekan sholat berjama’ah dan munfarid.

4 jp

8. Memahami sejarah  Nabi Muhammad SAW. 8.1. Menjelaskan sejarah Nabi Muhammad  SAW.

8.1. Menjelaskan  misi Nabi Muhammad SAW untuk semua manusia dan bangsa.

4 jp

  Ulangan harian/ Remidi

2 jp

  Ulangan Tengah Semester

2 jp

  Ulangan Semester

2 jp

  Jumlah

46 jp

(D-6.GPAI.Prp.30-04-10)

Program tahunan ini kemudian disesuaikan dengan analisis waktu program satu semester dengan format analisis waktu program semester yang berisi sekurang-kurangnya: menganalisa minggu efektif dan tidak efektif, menghitung jumlah jam pelajaran dalam satu semester, menghitung jam untuk kegiatan non tatap muka seperti, ulangan harian, Ulangan Tengah Semester (UTS) cadangan waktu, dan uji kompetensi akhir semester. Kemudian berisi juga tentang perhitungan pekan untuk setiap tatap muka.

Tabel  4.3

Contoh Format Analisis Waktu Program Semester

                                            Mata Pelajaran                         :       Pendidikan Agama Islam

Kelas / Semester                      :      VII / GASAL

Tahun Pelajaran                       :       2009/2010

Jumlah Jam                              :       2. Jam per Minggu

  1. Banyaknya minggu dalam satu semester :   28  minggu

 

 

Bulan

 

Banyaknya minggu

 

Minggu Tidak Efektif

Minggu Efektif

Keterangan

1.

2.

3.

 4.

5.

6.

7.

 

JULI

AGUSTUS

SEPTEMBER

OKTOBER

NOVEMBER

DESEMBER

JANUARI

 

3

4

4

5

4

4

4

1

-

1

1

-

-

2

2

4

3

        4

4

4

2

 

Kelas 7 MOS 14,15,16.

-

Libur sekitar hari raya 24 s/d 30

Libur hari Raya 1 s/d 8

Ulangan Tengah Semester 13 s/d 18

-

Ulangan Semester

Libur  Semester Gasal

Jumlah

28

5

23

 

Jumlah jam setiap pekan = 2 jam, jumlah jam pelajaran dalam satu semester = 2 x 23 pekan = 46 pekan
Banyaknya jam untuk kegiatan non tatap muka :    
a. Ulangan Harian     = 2 Jam  
b. UTS     = 2 Jam  
c. Cadangan Waktu   = –Jam  
d. Uji Kompetensi Akhir Semester   = 2 Jam  
  Jumlah jam untuk kegiatan non tatap muka = 6 Jam  
           
Banyaknya pekan untuk tatap muka:      
46 jam pelajaran – 6 jam pelajaran non tatap muka = 40 jam pelajaran
           

(D-6.GPAI.Prp.30-04-10)

 

Selanjutnya, bahan yang harus dipersiapkan guru adalah program semester. Program Semester merupakan penjabaran dan rincian dari program tahunan yang dibuat sebelumnya. Rencana semester setidaknya memuat antara lain: Identitas pelajaran, kompetensi dasar, komponen pokok/pokok bahasan/sub pokok bahasan, alokasi waktu, bulan dan pekan pelaksanaan. Dalam menentukan alokasi waktu untuk setiap pokok bahasan perlu dipertimbangkan tingkat kesulitan dan keluasan/lain-lain.

Program Tahunan (Prota), Analisis Waktu, Program Semester (Prosem), ini harus sudah selesai sebelum pelajaran hari pertama dimulai. Teknis pembuatan Prota dan Prosem dilakukan bersama-sama dengan guru lain dibawah koordinasi bidang kurikulum. Berikut contoh program semester di SMP Negeri 4 Malang, Tahun Pelajaran 2009-2010:

 

 

 

 

 

Tabel  4.4 Contoh Program Semester PAI SMP Negeri 4 Malang,

Tahun Pelajaran 2009-2010

(D-6.GPAI.Prp.30-04-10)

 

Perencanaan berikutnya yang harus dilakukan oleh guru adalah menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Dalam menyusun RPP guru harus mencantumkan Standar Kompetensi (SK) dan  Kompetensi Dasar (KD). Di dalam RPP secara rinci harus dimuat: Tujuan pembelajaran, meteri pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, sumber belajar, bentuk instrumen dan pedoman  penilaian.

Contoh format RPP yang dibuat oleh guru PAI di SMP Negeri 4 Malang sebagai berikut:

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN  (1)

                                               

Satuan Pendidikan             : SMP  Negeri 4 Malang

Mata Pelajaran                  : PAI

                                                Kelas/Semester                   : 7 / Ganjil

                                                Alokasi Waktu                    : 3 x pertemuan (6 jam pelajaran)

 

1. Standar Kompetensi     :

  1. Menerapkan hukum bacaan ”AL” Syamsiyah dan ”AL” Qamariyah.

 

  1. 2.  Kompetensi    Dasar     :

2.1.      Menjelaskan hukum bacaan AL” Syamsiyah dan ”AL” Qamariyah.

2.2.      Membedakan hukum bacaan AL” Syamsiyah dan ”AL” Qamariyah.

2.3.        Menerapkan bacaan AL” Syamsiyah dan ”AL” Qamariyah.

  1. Indikator                                      :
    1. Menjelaskan   pengertian  Al Syamsiyah
    2. Menjelaskan hukum bacaan Al Syamsiyah
    3. Menyebutkan huruf Al Syamsiyah
    4. Menjelaskan pengertian Al Qomariyah
    5. Menjelaskan hukum bacaan Al Qomariyah
    6. Menyebutkan huruf Al Qomariyah
    7. Membedakan hukum bacaan Al Syamsiyah dan  Al Qomariyah.
    8. Menerapkan bacaan Al Syamsiyah dalam bacaan surat  Ad-Duha.
    9. Menerapkan bacaan Al Qomariyah dalam bacaan surat Al-’Adiyat.
    10. Tujuan Pembelajaran               :
      1. Siswa  dapat menjelaskan Hukum bacaan Al-Syamsiyah dan Al-Qomariyah
      2. Siswa dapat menyebutkan huruf-huruf Al-Syamsiyah dan Al-Qomariyah
      3. Siswa dapat membedakan antara Al-Syamsiyah dan Al-Qomariyah dilihat dari arti,

huruf, ciri-ciri dan cara membacanya.

  1. Siswa dapat menyebutkan contoh-contoh Al-Syamsiyah dan Al-Qomariyah
  2. Siswa dapat menerapkan bacaan Al-Syamsiyah dan Al-Qomariyah dalam Surat Ad Duha dan Al-’Adiyat..

 

  1. Materi Pokok                              : Hukum  bacaan ”AL” Syamsiyah dan ”AL” Qamariyah
    1. Hukum  Al-Qomariyah

Apabila ada lam ta’rief    (    ال  )  bertemu / dihubungkan dengan salah satu huruf   14, yaitu : hamzah,    ء    baa’  ب     , ghain     غ     , haa’    ح     , jiem    ج    , kaaf  ك ,   wau  و  khaa’   خ    , faa’   ف  , ‘ain     ع  , qaf    ق   , ya’    ي   , mim    م   , haa’ﻫ    maka hukum bacaannya disebut IDH-HAR QAMARIYAH   cara membacanya harus terang. huruf 14 itu telah terkumpul dalam kalimat ini:

ابغ حجك وخف عقيمة

Contoh:

الأ نعام, البر, الغمام, الحميم, الجنة

 

      2.  Hukum Al-Syamsiyah

           

           

Apabila ada laam ta’rief    (    ال  )    bertemu dengan      salah satu huruf yang 14, yakni semua huruf selain huruf qamariyah, maka hukum bacaannya disebut:

ID-GHAM SYAMSIYAH    ادغام شمشية   dan cara membacanya harus dimasukkan (diid-ghamkan) ke dalam salah satu huruf yang 14 itu. Huruf yang 14 itu disebut huruf Syamsiyah. Syams artinya matahari, Syamsiyah artinya sebangsa matahari. Bintang itu apabila bertemu dengan matahari menjadi tidak kelihatan. Demikian pula laam ta’rief itu apabila bertemu dengan huruf syamsiyah, menjadi tidak terbaca pula. Meskipun tulisannya masih ada kemudian ditasydidkan (dimasukkan) ke dalam huruf Syamsiyah.

Contoh: السلام, التواب, الرحيم, الشمش, بالصبر

 

 

  1. Metode Pembelajaran: Ceramah, Pemodelan, Inquirry
  2. Strategi Pembelajaran: CTL

 

 

Tabel  4. 5

Contoh Strategi Pembelajaran dengan menggunakan model CTL (Contextual Teaching and Learning) dalam bentuk tabel:

 

Pertemuan pertama

 

No

Kegiatan

 

Waktu

Metode

1

 

 

 

Pendahuluan

  1. Mengadakan appersepsi
  2. Menjelaskan kompetensi yang harus di capai dalam kegiatan  pembelajaran.
  3. Tadarus/Hafalan surat-surat pendek di juz Amma
10 menit

 

 

 

-   Pemodelan

 

 

 

2 Kegiatan Inti

  1. Secara individu siswa membaca dan memahami uraian  materi hukum bacaan AL” Syamsiyah dan ”AL” Qamariayah
  2. Siswa bersama kelompoknya berdidkusi tentang macam-macam bacaan Alif Lam , serta mengkelompokan huruf syamsiyah dan qomariyah.
  3. Perwakilan masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas secara bergantian.
  4. Guru memberikan klarifikasi dan peniaian terhadap msing-masing kelompok
60 menit

 

 

-   Inquirry

-   Learning Community

 

-   Performance

 

-   Penilaian proses dan produk

 

3 Penutup

  1. Melakukan refleksi
  2. Menugaskan siswa untukmencari contoh bacaan                   ”AL” Syamsiyah dan ”AL” Qamariayah dalam surat  At Takatsur
 

10 Menit

 

-   Refleksi

-   Penugasan.

 

 

 

 

Pertemuan kedua

No

Kegiatan

 

Waktu

Metode

1 Pendahuluan

  1. Mengadakan appersepsi
  2. Menjelaskan kompetensi yang harus di capai dalam kegiatan  pembelajaran
  3. Membaca/menghafal surat pendek
10 menit  

-   Pemodelan

2 Kegiatan inti

  1. Secara individu siswa membaca dan  memahami materi Cara membaca”Al ” Syamsiyah dan ”AL” Qomariayah.
  2. Siswa bersama-sama kelompoknya berdidskusi untuk mencari hukum bacaan”Al ” Syamsiyah dan ”AL” Qomariayah dalam Qs At Takatsur serta cara membacanya.
  3. Perwakilan masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.
  4. Guru memberikan klarifikasi dan penilaian terhadap masing-masing kelompok.
60 menit  

-   Ingquire

 

 

-   Learning -cmmunity

 

-   Performance

 

-   Penilaian prosesdan produk

3 Penutup

  1. Melakukan Refleksi
  2. Menugaskan siswa untuk menerapkan bacaan ”Al” Syamsiyah dan ”Al”Qomariyah dalam Qs.At Takatsur dengan benar.
10 menit  

-   Refleksi

-   Penugasan

 

 

Pertemuan ketiga

No

Kegiatan

 

Waktu

Metode

1 Pendahuluan

  1. Mengadakan Appersepsi
  2. Menjelaskan Kompetensi yang harus di capai dalam kegiatan pembelajaran.
  3. Guru membacakan/menghafalkan surat
10 menit  

-   Pemodelan

2 Kegiatan  Inti

  1. Secara individu siswa membaca surat At Takatsur, An Nas  dan Al Qoriah
  2. Secara individu dalam kelompok sisiwa membaca surat At Takatsur, An Nas dan Al Qoriah secara bergantian dan di nilai oleh anggota kelompoknya.
  3. Perwakilan masing-nasing kelompok mempresentasikan hasil penilaian di depan kelas secara bergantian.
  4. Guru memberikan klarifikasi dan penilaian terhadap masing-masing kelompok.
70 menit  

-   Inquirry

-   Learning community

-   Penilaian sebaya

-   Performance

-   Penilaian proses dan produk

3 Penutup

  1. Melakukan refleksi
  2. Menugaskan siswa untuk menyalin Qs.At Takatsur, An Nas, Al Qoriah dan memberi garis bawah pada lafat yang terdapat bacaan ”Al” Syamsiyah dan ”Al”Qomariyah
10 menit  

-   Refleksi

-   Penugasan.

 

 

  1. Sumber Belajar                     1.  Al Qur’an / Juz Amma

2.  Buku Tajwid Karya Imam Zarkasi, Ponorogo, Jatim

3.  Buku materi PAI Kelas VII KTSP Penerbit Yudhistira.

4. Kegiatan Pembelajaran PAI 7 A  MGMP PAI SMP Kota Malang

  1. Penilaian                      :
    1. Tugas
    2. Tugas Individu
    3. Unjuk kerja
    4. Menyalin
  1. Jenis Tagihan       :               a.   Ulangan  harian
  1. Tehnik                   :               a.   Tes Tulis / Lisan
  1. Bentuk Instrumen               a.   Uraian

 

  1. Instrumen             :

Soal Ulangan Harian  tulis :

  1. Jelaskan pengertian hukum bacaan ”Al ” Syamsiyah dan ” Al” Qomariyah
  2.  Sebutkan huruf hijaiyah yang termasuk   ”Al ” Syamsiyah dan ” Al” Qomariyah
  3. Jelaskan perbedaan antara Al-Syamsiyah dan Al-Qomariyah dilihat dari cara membacanya!
  4. Buat contoh 4 bacaan “Al “ Syansiyah
  5. Buat contoh 4 bacaan “ Al“ Qomariyah

 

Soal Ulangan Harian  lisan

Bacalah Surat  Ad-duha berulang-ulang sampai hafal.

Rubrik  penilaian

Nomor Aspek yang di nilai Skor penilaian
1 2 3
1

2

3

4

Makhorijul huruf

Penerapan tajwid

Adabud tilawah

Lancar baca

     

 

Nilai =         Jumlah skor yang di peroleh     x 100  = …………….

Jml skor maksimal

 

Tugs Rumah  di kerjakan di buku tugas.

Carilah hukum bacaan ”Al ” Syamsiyah dan ” Al” Qomariyah   Pada Qs. Adh Dhuha.

Carilah hukum bacaan ”Al ” Syamsiyah dan ” Al” Qomariyah   Pada Qs. Al Adyat.

 

 

11. Pedoman Penilaian

Mempraktekkan Bacaan Q.s. Ad-Duha 1-11 dinilai teman sejawat dengan kriteria penilaian:

1. Makhorijul Huruf           : A = Sangat Baik  :  85 – 100

B = Baik              :  70 –  84

C = Cukup          :  60 –  69

D = Kurang         : 59 ke bawah

2. Penerapan Tajwid           : A = Sangat Baik  :  85 – 100

B = Baik              :  70 –  84

C = Cukup          :  60 –  69

D = Kurang         : 59 ke bawah

3. Adabut Tilawah              : A = Sangat Baik  :  85 – 100

B = Baik              :  70 –  84

C = Cukup          :  60 –  69

D = Kurang         : 59 ke bawah

4. Lancar baca                     : A = Sangat Baik  :  85 – 100

B = Baik              :  70 –  84

C = Cukup          :  60 –  69

D = Kurang         : 59 ke bawah

 

(D-6.GPAI.Prp.30-04-10)

 

 

b. Program Kegiatan Tugas Terstruktur (Pembelajaran Ekstrakurikuler PAI/Pengembangan Diri)

SMP Negeri 4 Malang menerapkan system paket, kegiatan tugas terstruktur PAI yang dikembangkan di sekolah ini adalah kegiatan-kegiatan yang tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran namun dirancang oleh guru agama Islam dalam silabus atau RPP. Bentuk dari kegiatan ini adalah pembelajaran ekstrakurikuler. Berkaitan dengan program Pembelajaran Ekstrakurikuler termasuk kegiatan keagamaan yang sudah berjalan di SMP Negeri 4 Malang, kepala sekolah menuturkan sebagai berikut:

 

Sejak saya pertama kali memasuki sekolah ini, satu tahun yang lalu , saya jadi kagum dengan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di sini, ada bunyi musik gending jawa yang enak di dengar, sambutan warga yang santun, dan jika ada kegiatan keagamaan warga sangat antusias sampai malam tetap kompak, dan lain-lain. Ternyata setelah saya pelajari program-programnya ternyata memang disusun sedemikian rupa,  hal ini sudah menjadi tradisi warga SMP 4 Malang dari tahun ke tahun. Setelah kami mengumpulkan staf-staf yang ada termasuk koordinator Agama Islam (Pak Untung Djarwadi) semua ada programnya katanya. Karena itu saya jadi tertarik dan ingin memanfaatkan kegiatan yang serupa di Smp ini seperti mengembangkan meditasi saat menjelang ujian nasional nanti.

(W-1.KS.Prp.15-03-10)

 

Sementara itu, berkaitan dengan perencanaan pengembangan program pembelajaran ekstrakurikuler , setiap memasuki tahun ajaran baru seluruh guru dan pembina ekstrakurikuler diajak duduk bersama untuk membicarakan program-program yang akan dilaksanakan satu tahun ke depan, mereka disuruh membuat program apa saja yang akan dilaksanakan selama membina ekstra, berikut harus dicantumkan besaran biaya yang dibutuhkan dan target yang dihasilkan. Hal ini sebagaimana diutarakan koordinator kurikulum(NQ) sebagai berikut:

Setiap memasuki liburan semester guru-guru mengikuti kegiatan workshop yang diselenggarakan sekolah untuk menyusun perangkat pembelajaran yang didalamnya akan membuat pengembangan silabus dan sistem penilaian, Rencana pelaksanaan pembelajaran, program tahunan, program semester, pemetaan materi, analisis standar isi, kriteria ketuntasan minimal dan lain-lain. Juga termasuk kegiatan pengembangan diri dalam bentuk ekstrakurikuler harus ada perangkat pembelajarannya berikut kriteria penilaian.  Hal ini dilakukan supaya pada waktu masuk pelajaran guru-guru tidak disibukkan dengan administrasi pembelajaran. (W-3.Urs.Kur.Prp.14-03-10)

 

Sedangkan untuk pembuatan program pembelajaran ekstrakurikuler, melalui staf koordinator kesiswaan dan koordinator ekstrakurikuler SMP Negeri 4 Malang, akan dikoordinasi tersendiri pada waktu dan jam yang sudah ditentukan oleh koordinator kesiswaan, untuk membahas masalah silabus dan program pembelajaran berikut target dan sasaran serta biaya yang dibutuhkan dalam kegiatan satu tahun ke depan. Untuk menguji kebenaran data diatas, berikut penuturan pembina ekstra BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) SMP Negeri 4 Malang kepada penulis:

Ketika saya disuruh pak Prapto (koordinator ekstrakurikuler) untuk mengajar ekstra PAI di SMP 4 ini, Baru disini saya disuruh membuat silabus, RPP, dan program-program yang akan saya kerjakan untuk membina ekstra sekaligus saya disuruh membuat target yang akan dicapai selama satu tahun ke depan. Juga disuruh dalam membuat program tersebut untuk mencantumkan sistem atau metode yang digunakan dalam pembelajaran ekstra itu. Serta biaya yang dibutuhkan dalam melaksanakan program-program tersebut.

(W-7.Pb.Ekstra.24-03-10)

Pengembangan program pembelajaran dalam bentuk ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam(PAI) di SMP Negeri 4 Malang, telah dikembangkan Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) dan Pidato bahasa Arab seperti yang dipaparkan oleh Koordinator Kurikulum:

Di sini ekstrakurikuler yang mendukung kegiatan pembelajaran pendidikan Agama Islam adalah BTA dan Pidato Bahasa Arab. Hal ini diadakan dengan tujuan meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan menulis Al Quran dan Meningkatkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Arab dan kalau bisa ya  meningkatkan prestasi non akademik siswa dalam bahasa Arab alias bisa juara dalam mengikuti kegiatan lomba yang setiap tahunnya ada kegiatan lomba 5 bahasa itu(W-3.Urs.Kur.Prp.25-03-10)

 

Berkaitan dengan program pengembangan ekstrakurikuler bahasa Arab, Berikut wawancara penulis dengan pembina ekstra Pidato Bahasa Arab bapak Mashudi:

Sebelum saya mengajar ekstra Bahasa Arab ini, saya membuat program-program yang akan saya ajarkan nanti  karena permintaan dari pembina kesiswaan begitu. Program-program itu menyangkut; silabus. Dalam silabus itu saya cantumkan Kompetensi yang harus dikuasai siswa atau materi yang saya ajarkan, metode yang saya gunakan, target yang harus dikuasai siswa dan lain-lain. Termasuk saya membuat rancangan kegiatan ini berdasarkan waktu yang tersedia, apa saja alat-alat yang saya butuhkan dalam mengajar, berapa anggaran biaya yang dibutuhkan, dan lain-lain. Hal ini karena memang saya disuruh seperti itu oleh pak Ndang (Endang Sutisna; tim pengembang kurikulum). Sedangkan berkaitan dengan sistem pengajarannya saya tekankan pada aspek khitobahnya untuk sementara saya menghiraukan aspek nahwunya karena tuntutan ekstra ini adalah minimal bisa berbicara bahasa Arab. Dan anak-anak bisa berbicara bahasa arab ketika nanti ada lomba 5 bahasa yang salahsatunya adalah bisa mengikuti lomba pidato bahasa Arab

(W.7.Pb.Ekstra.Prp.24-03-10).

 

Berkaitan dengan kurikulum yang dipakai dalam pembelajaran Ekstrakurikuler Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) di SMP Negeri 4 Malang ini, digunakan kurikulum yang diajarkan di tingkat SMP. Untuk materi BTA ditekankan pada aspek penguasaan Tajwid terlebih dahulu seperti kompetensi pada pelajaran PAI SMP.. Berikut penuturan pembina ekstrakurikuler Baca Tulis Al-Qur’an:

Materi yang saya ajarkan pada ekstrakurikuler BTA saya kembangkan sesuai dengan kompetensi yang diajarkan di SMP. Saya lihat pada SKL (Standar Kompetensi Lulusan) Pendidikan Agama Islam di SMP aspek Al-Qur’an, ternyata menekankan pada penguasaan ilmu Tajwid, maka saya menyusun silabus ini banyak saya tekankan pada ilmu tajwid. Sedangkan pengembangannya nanti sesekali saya ajari qiro’ah, tentu saja jika nanti anak-anak sudah banyak yang lancar baca dan fasih dalam bacaannya. Hal ini saya lakukan untuk mengisi acara-acara peringatan hari besar keagamaan Islam yang biasanya dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an(W-7.Pb.Ekstra.Prp.24-03-10)

 

c. Program Kegiatan Mandiri Tak Terstruktur

Kegiatan mandiri tidak terstruktur yang dikembangkan di SMP Negeri 4 Malang adalah kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh guru Agama Islam namun tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran. Berkaitan dengan program ini, semuanya telah dirancang oleh guru Pembina dan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah(OSIS) dibawah koordinasi urusan kesiswaan dan pembina OSIS seksi bidang (Sekbid) ketaqwaan dalam satu pendidikan dan pelatihan (Diklat) yang disebut dengan Latihan Dasar dan Kepemimpinan Siswa (LDKS) setelah mereka dipilih dalam pemilihan pengurus OSIS yang pelaksanaannya dilakukan dengan pemilu langsung, sangat demokratis, dengan melibatkan seluruh siswa SMP Negeri 4 Malang. Seperti yang dipaparkan koordinator kesiswaan kepada penulis:

Sejak saya ditunjuk teman-teman guru untuk menjadi koordinator kesiswaan di sini, saya hanya meneruskan tradisi yang sudah-sudah dalam memilih kepengurusan OSIS. Dimana setiap tahun menjelang kepengurusan OSIS lama berakhir, saya mengumpulkan anak-anak untuk saya mintai kesediaan mereka menjadi pengurus OSIS. Hasilnya setelah mereka mendapat persetujuan orang tuanya, baru saya nyatakan mereka bersedia untuk menjadi pengurus OSIS. Setelah menjaring lewat perwakilan kelas yang setiap kelasnya dipilih 2 orang yang bersedia, maka pada waktu pemilihan terdapat beberapa calon ketua OSIS. Kemudian setiap calon ada tim sukses mengadakan kampanye lewat selebaran atau tulisan-tulisan yang ditempel di setiap sudut papan pengumuman. Kemudian disediakan waktu khusus untuk memaparkan program satu tahun ke depan termasuk visi dan misi jika menjadi ketua OSIS dalam sidang pleno yang dihadiri perwakilan pengurus kelas masing-masing 2 orang , pengurus OSIS lama yang jumlahnya sekitar 45 orang , dan  pembina OSIS yang jumlahnya sekitar 10 pembina. Kemudian besoknya diadakan pemilihan ketua OSIS secara langsung oleh semua siswa dengan mencontreng  salah satu calon yang ada pada surat suara.

Setelah terpilih satu calon suara terbanyak, maka pada hari berikutnya diadakan pelantikan pengurus OSIS yang baru terpilih. Setelah pelantikan tersebut, tidak lama kemudian mereka harus mengikuti Diklat LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) selama tiga hari. Pada saat inilah semua pengurus OSIS membuat program-program sesuai dengan 8 seksi yang ada dalam kepengurusan OSIS tersebut. Untuk seksi ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, biasanya yang paling banyak programnya, karena kita tahu sendiri bahwa seksi ketaqwaan ini yang paling menonjol ada 3 agama besar di Indonesia. Yakni; Islam, Kristen, dan Katholik. Tentu dengan merangkum setiap acara keagamaan harus diperingati, maka setidaknya setiap tahunnya program-program ketaqwaan ini ada 20 an kegiatan baik yang diselenggarakan di sekolah maupun di luar sekolah

(W-4.Urs.Sis.Prp.23-03-10).

 

Program-program ketaqwaan yang dikembangkan  di SMP Negeri 4 Malang, selain program OSIS dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler, juga dikembangkan budaya religius yang setiap harinya harus menjadi budaya di kawasan SMP Negeri 4 Malang.

Program kegiatan yang termasuk dalam kategori mandiri tak terstruktur di SMP Negeri 4 Malang adalah kegiatan keagamaan yang dirancang oleh Osis dalam bentuk pembiasaan suasana religius di kawasan sekolah dalam bentuk pembiasaan sholat Jum’at , kegiatan keputrian dan kegiatan-kegiatan lain yang dirancang oleh Osis

Semua program kegiatan mandiri tak terstruktur dalam bentuk budaya religius yang ada di SMP Negeri 4 Malang disusun berdasarkan perencanaan yang matang, sehingga job discribtion ketika pada saat pelaksanaan sudah benar-benar jelas dan terprogram. Seperti penuturan Guru pembina keputrian(FD) kepada penulis:

Ketika saya dan teman-teman dipercaya membina kegiatan keputrian disini, kami pertama kali memperkenalkan kegiatan-kegiatan yang dijalankan KiASS secara umum dalam bentuk proposal, kala itu Pak Untung yang memanggil kami, pada saat itu pak Untung sebagai pembina keagamaan putra sebelum pak Kirman yang sekarang, akhirnya setelah kami ajukan proposal, oleh pak untung disuruh membuat reng-rengan program yang akan diajarkan. Maka proposal tersebut saya ganti semacam rencana pembelajaran tetapi dalam bentuk silabus yang isinya hanya materi, tujuan dan penanggungjawab kegiatan yang mengacu pada jadwal kegiatan Jum’at yang dibuat oleh OSIS. Lihat lampiran.(W-8.Pb.Putri.Prp.19-03-10)  

 

Selanjutnya, terkait dengan perencanaan program kegiatan keputrian Ketua OSIS(NK) selaku pelaksana kegiatan jum’at siang di sekolah, menyampaikan kepada penulis sebagai berikut:

….program kegiatan Jum’at di sekolah sudah kami susun, tetapi hanya pada kegiatan jum’at atau jadwal kegiatan jum’at bukan jadwal keputrian, nah yang keputrian menyesuaikan saja dengan tema-tema atau judul yang ada dalam khutbah. Kemudiaan yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan yang ditangani OSIS sudah ada sebelumnya kami rancang ketika kami mengadakan latihan dasar kepemimpinan dulu. Sehingga secara garis besar kegiatan keagamaan yang dikembangkan di SMP Negeri 4 ini ditangani oleh OSIS dengan pembina masing-masing seksi, kalau pembina ketaqwaan Agama islam ya Pak Kirman sendiri kan?(W-9.Pg.Osis.Prp.19-03-10)

 

Dari pemaparan program keputrian tersebut, diperoleh dokumen silabus seperti dibawah ini:

Tabel  4.6

Rencana Kegiatan Kajian Keislaman Keputrian SMP Negeri 4 Malang

 Tahun ajaran 2009-2010

 

 

NoNo Hari/

Tanggal

Pertemuan/

Materi

Kisi-kisi dan Target

Keterangan

1

Jum’at

 

Pertemuan 1

Jadikan imanmu 100% part 1

  1. Siswa mengetahui mengapa beriman kpd Allah;bisa beriman dgn cara yg benar
  2. Menyadarkan siswa bahwa ALLah adalah Al Kholiq, Al Muddabbir(memahami hakikat cinta kpd Allah)
  3. Memberi kesadaran bahwa tujuan dari hidup ini adalah beribadah kepada ALLah (Ihsanul Amal),shg siswa senantiasa berupaya untuk meningkatkan rsa keimanannya dgn banyak belajar.

Di kelas

2

Jum’at

 

Pertemuan 2

Jadikan imanmu 100% part 2

  1. Tumbuh dalam jiwa siswa rasa cinta thd ortu,guru,teman,dan lingkungan tempat dia berada.
  2. Siswa  memahami bahwa Iman berarti cinta, Buah rasa iman adalah cinta dan ta’at kepada Allah.

Di kelas

3

Jum’at Pertemuan 3

Valentine Undercover

  1. Siswa memahami budaya valentine tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman
  2. Siswa memahami arti cinta yang sejati, yaitu cinta karena Allah
  3. Siswa memahami cara bergaul yang islami dan menghindar dari pergaulan yang rusak

Bersama

4

Jum’at Pertemuan 4

Rasulullah Idola Sepanjang Masa part 1

  1. Remaja mampu memilih idola yang benar dengan mengidolakan Rasulullah
  2. Rasulullah adalah teladan manusia sepanjang masa dan memiliki mukjizat Al-Quran sebagai petunjuk hidup manusia
Di kelas

5

Jum’at Pertemuan 5

Hakikat hidup muslim

  1. Siswa memahami makna 2 kalimat syahadat
  2. Siswa mengetahui tujuan hidup manusia di dunia
Bersama

6

Jum’at

12 Maret 2010

Pertemuan 6

Rasulullah Idola Sepanjang Masa part 2

Idem dengan no  4 Di kelas

7

Jum’at

19 Maret 2010

Pertemuan 7

Al-Qur’an is the diary part 1

  1. Memahami bukti kebenaran al qur’an
  2. Memahami keutamaan paham dan belajar al qur’an
  3. Memahami al qur’an sebagai pedoman
Di kelas

8

Jum’at Pertemuan 8

Al-Qur’an is the diary part 2

Idem Di kelas

9

Jum’at Pertemuan 9

AMT : Islam bikin hidup lebih hidup

  1. Siswa menjadi lebih yakin bahwa hanya Islam yang akan membawa keselamatan dan kemuliaan
  2. Siswa menjadi peka dengan kondisi remaja islam yang lain dan kondisi umat pada umumnya
  3. Siswa termotivasi dalam melakukan perintah-perintah Allah (ibadah dan amal kebaikan)
Bersama

10

Jum’at Pertemuan 9

Hari Akhir,Kita dan Amal Kita

  1. Siswa merasakan dahsyatnya Hari Akhir
  2. Siswa memahami bahwa hanya Allah yang mengetahui kapan datangnya ajal dan hari kiamat
  3. Siswa memahami bahwa ada pertanggung  jawaban amal qt pada hari akhir
Di kelas

11

Jum’at Pertemuan 10

Qadha dan Ikhtiar part 1 “NGGAK AKAN LARI GUNUNG DIKEJAR”

  1. Siswa tahu beda wilayah ikhtiyar dengan qadha (ketetapan) dari Allah
  2. Siswa tahu pentingnya ikhlas dalam menerima qadha Allah
  3. Siswa tahu akan adanya pertanggung jawaban terhadap apa yang dilakukan dalam wilayah ikhtiyar (kaidah kausalitas).
Di kelas

12

Jum’at Pertemuan 10

Qadha dan Ikhtiar part 2 “NGGAK AKAN LARI GUNUNG DIKEJAR”

Idem

 

Di kelas

13

Jum’at Pertemuan 11

Riview materi (Kajian,Quiz )

Siswa dapat mengingat serta mempunyai pemahaman terhadap materi-materi yang telah diberikan Di kelas

14

Jum’at Pertemuan 12

Kajian Motivasi dan closing Keputrian

 

  1. Siswa termotivasi supaya cinta kepada Ilmu sehingga terus belajar Islam
  2. Siswa termotivasi untuk mengamalkan seluruh materi yang telah didapatkan
  3. Siswa dapat menyimpulkan beberapa poin yang didapatkan dari kajian keputrian
  4. Siswa dapat menyumbangkan masukan untuk penyelenggaraan kajian selanjutnya.
Bersama

(D-8.Pb.Putri.Prp.30-04-10)

 

Selain program di atas, kegiatan mandiri tak terstruktur yang ada di SMP Negeri 4 Malang juga dikembangkan religious culture (pembudayaan nilai-nilai agama) meliputi; (1). Budaya 3 SAS (Salam, Salim, Senyum, Ambil Sampah), (2). Budaya Jum’at Bersih, (3). Halal Bihalal, (4). Peringatan hari Besar Islam (PHBI), (5). Santunan Kematian, (6). Santunan Anak Yatim, (7). Budaya Anjang Sana keluarga Dewan Guru dan Karyawan, (8) Budaya Tasyakuran, (9). Budaya beramal jariyah setiap jum’at, (Berbusana Muslim/ah pada hari Jum’at)

Terkait dengan perencanaan kegiatan ini, koordinator kurikulum menuturkan sebagai berikut:

Kami membagi program pembelajaran kurikulum itu menjadi 2 bagian. Satu untuk program pembelajaran intrakurikuler atau kurikulum yang terstruktur, dua untuk program pengembangan diri yang pelaksanaannya tidak dicantumkan dalam struktur kurikulum, namun dilaksanakan di luar jam pelajaran dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Untuk program pembelajaran yang masuk dalam struktur kurikulum, kami memberikan keluasan kepada masing-masing guru untuk mengembangkan mulai dari perencanaan membuat silabus, RPP, menggunakan metode pada saat mengajar maupun membuat kriteria penilaian. Sedangkan untuk kegiatan pengembangan diri kami serahkan kepada masing-masing guru yang menanganinya tetapi harus mengacu pada aturan yang ditentukan. Misalnya pengembangan diri dalam bentuk ekstra BTA(Baca Tulis Al-Qur’an), harus sesuai dengan tujuan pembelajaran PAI, Pramuka harus sesuai dengan tujuan pembentukan kedisiplinan yang disesuaikan dengan Mapel PKn, dan lain-lain. Adapun yang terkait dengan budaya-budaya yang dikembangkan disini itu masuk dalam program spontanitas termasuk kerja bhakti, jum’at bersih, ta’ziyah, santunan kematian, santunan fakir-miskin, budaya salim dan lain-lain. Termasuk membudayakan berbahasa Inggris pada hari jum’at dan berbahasa Jawa pada hari Sabtu.(W-3.Urs.Kur.Prp.04-04-10)

Dari paparan diatas menunjukkan bahwa perencanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang yaitu:

1. Pengembangan program kegiatan tatap muka dalam bentuk: a. Pembelajaran Intrakurikuler PAI di Kelas dimulai dengan pengembangan silabus, rencana tahunan, program semester dan persiapan mengajar dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Rencana pengembangan program pembelajaran disusun berdasarkan SK-KD dan disesuaikan dengan kalender pendidikan yang berlaku, jadwal pelajaran sekolah yang bersangkutan dan sarana yang tersedia. b.pembelajaran ekstrakurikuler PAI dikembangkan oleh koordinator kesiswaan beserta pembina ekstra dan pengurus OSIS bidang ketaqwaan. Dimulai dari pemilihan anggota  OSIS bidang ketaqwaan , latihan Dasar Kepemimpinan OSIS, dan rapat koordinasi dengan para pembina OSIS dan pembina Ekstrakurikuler. Sedangkan program ekstrakurikuler yang mendukung pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang adalah Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) dan pidato bahasa Arab.

2. Pengembangan program dalam bentuk kegiatan tugas terstruktur dalam bentuk pembiasaan IMTAQ, pembiasaan sholat Jum’at di sekolah, dan bimbingan keputrian dirancang oleh guru Agama islam dan dibina oleh kelompok kajian Islam KIASS (Kreatifitas Insan Anak Sholeh dan Sholehah).

3. Pengembangan program mandiri tak terstruktur yaitu pembiasaan  suasana religius di kawasan sekolah dirancang oleh pengurus Osis bidang ketaqwaan dan dilaksanakan oleh seluruh siswa dan guru yaitu; (a). Budaya 3 SAS (Salam, Salim, Senyum, Ambil Sampah), (b). Budaya Jum’at Bersih, (c). Halal Bihalal, (d). Peringatan hari Besar Islam (PHBI), (e). Santunan Kematian, (f).Santunan Anak Yatim, (g). Budaya Anjang Sana keluarga Dewan Guru dan Karyawan, (h).Budaya Tasyakuran, (i). Berseragam busana muslim dan (j).Budaya beramal jariyah setiap jum’at.

Teknis pengembangan silabus yang dilakukan oleh sekolah adalah dengan cara mengajak semua guru melakukan rapat kerja khusus untuk mengembangkan silabus, dimulai dengan pemberian orientasi dan pengarahan dari kepala sekolah, dilanjutkan dengan orientasi dari nara sumber, kemudian diteruskan pada diskusi, semua guru diberi waktu untuk membuat pengembangan silabus mata pelajaran yang dibinanya secara berkelompok sesuai dengan mata pelajaran yang dipegang agar diketahui tingkat pemahaman mereka, kemudian diadakan penilaian kembali untuk presentasi dihadapan semua peserta. Setelah usai, semua guru diminta menyempurnakan pengembangan silabus, dan harus sudah jadi sebelum memasuki tahun pelajaran baru.

 

 

2. Pelaksanaan Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

SMP Negeri 4 Malang merupakan salah satu sekolah negeri favorit selain SMP Negeri 1, 3 dan 5 yang ada di wilayah Kota Malang. Dalam melaksanakan kegiatan pengembangan program pembelajaran PAI, mengikuti prosedur yang berlaku di SMP Negeri 4 Malang, yaitu dengan mengorganisasikan dan mengarahkan pengembangan program pembelajaran dengan mengacu pada kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tak terstruktur. Dalam hal ini yang dimaksud adalah pembelajaran Intrakurikuler dan Ekstrakurikuler serta pembiasaan Imtaq dan pembudayaan suasana religius.

a. Program Kegiatan Tatap Muka (Pembelajaran Intrakurikuler PAI )

Pelaksanaan pengembangan program kegiatan tatap muka dalam bentuk pembelajaran Intrakurikuler PAI di SMP Negeri 4 Malang mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh kurikulum yang mengacu pada KTSP SMP 4 Malang, sebagaimana dinyatakan oleh kepala  SMP Negeri 4 Malang sebagai berikut:

Pengembangan program pembelajaran PAI  di SMP Negeri 4 Malang ini telah diatur oleh urusan kurikulum untuk kegiatan pembelajaran di kelas (intrakurikuler) dengan 2 jam pelajaran per minggu. Sedangkan untuk kegiatan ekstrakurikuler diatur oleh kurikulum dengan pertimbangan unit kesiswaan dan pembina ekstrakurikuler PAI dengan ekuivalen 2 jam pembelajaran perminggunya.(W-1.KS.Plp.12-02-10)

 

Pelaksanaan pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang dilakukan dengan cara mengorganisasikan dan mengarahkan program-program serta melaksanakan pembelajaran PAI di kelas dengan tahapan : Pendahuluan, Kegiatan Inti, dan Penutup. Secara garis besar materi pembelajaran PAI dikelompokkan menjadi lima aspek yaitu Al-Qur’an/Hadis, aspek aqidah, aspek akhlak, aspek ibadah, aspek tarikh. Bentuk pengorganisasiannya seperti tabel berikut:

Tabel  4.7

Pengorganisasian Materi Pembelajaran PAI SMP Negeri 4 Malang T.P.2009/2010

AL-QUR’AN

 

KEIMANAN

  1. Menerapkan hukum bacaan “Al”  Syamsiyah  dan “Al” Qamariyah
  2. Menerapkan hokum bacaan Nun mati /Tanwin dan Mim mati
  3. Menerapkan hukum bacaanqolqolah dan Ra’
  4. Menerapkan hokum bacaan Mad dan Waqaf
  5. Memahami ajaran Al-Qur’an surat At-Tin
  6. Memahami Al-Qur’an surat Al-Insyirah.

 

 

 

  1. Meningkatkan keimanan kepada Allah Swt.   melalui pemahaman sifat-sifat-Nya
  2.  Memahami Asmaul Husna
  3. Beriman kepada malaikat-malaikat Allah dan memahami tugasnya
  4. Beriman kepada kitab-kitab allah swt dan memahami arti beriman kepadanya
  5. Beriman kepada rasul-rasul Allah Swt dan memahami arti beriman kepadanya
  6. Beriman kepada hari akhir dan memahami arti beriman kepadanya
  7. Beriman kepada qadha dan qadar Allah Swt dan memahami arti beriman kepadanya.
 

AKHLAK

  1. Membiasakan perilaku  terpuji (Tawadhu’, Taat, Qonaah dan Sabar)
  2. Membiasakan perilaku terpuji (Kerja keras, tekun, ulet dan teliti)
  3. Membiasakan perilaku terpuji (Zuhud dan Tawakkal)
  4. Menghindari perilaku tercela (Ananiah, ghadab, hasad, ghibah & Namimah)
  5. Membiasakan perilaku terpuji ( Adab makan dan minum)
  6. Menghindari perilaku tercela ( Dendam dan Munafik)
  7. Membiasakan perilaku terpuji ( Qonaah dan Tasamuh )
  8. Menghindari perilaku tercela (Takabur)

FIQH/IBADAH

TARIKH

 

  1. Memahami ketentuan Thoharoh
  2. memahami tata cara sholat wajib
  3. Memahami tata cara sholat jama’ah dan munfarid
  4. Memahami tata cara sholat Jum’at
  5. Memahami tata cara sholat jama’ dan qashar
  6. Mengenal tata cara sholat sunah
  7. Memahami macam-macam sujud
  8. Memahami tata cara puasa
  9. Memahami Zakat
  10. Memahami hokum islam tentang hewan sebagai sumber bahan makanan
  11. Memahami hokum Islam tentang Haji dan Umrah
  12. Memahami tata cara berbagai sholat sunnah (berjama’ah dan Munfarid)
  13. Memahami sejarah Nabi Muhammad SAW.
  14. Memahami sejarah Nabi Muhammad SAW.
  15. Memahami sejarah Nabi Muhammad SAW.
  16. Memahami sejarah dakwah Islam
  17. Memahami perkembangan Islam di Nusantara
  18. Memahami sejarah tradisi Islam di Nusantara.

(D-6.GPAI.Plp.30-04-10)

Tahapan-tahapan pembelajaran PAI di kelas dilakukan oleh guru PAI dengan teknik dan strategi pembelajaran seperti yang dibuat dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), tetapi tidak sama persis seperti apa yang ada dalam skenario pembelajaran, tentu dengan modifikasi dan penambahan sesuai dengan situasi kelas pada saat itu. Lebih jelasnya  dapat dilihat dalam observasi peneliti sebagai berikut:

 

Pada pukul 08.00. Pak Untung memasuki kelas IX F, anak-anak serentak berdiri memberi ucapan salam dipimpin oleh ketua kelasnya sambil memberi aba-aba “memberi saalam” terdengar suara serentak “Assalaamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh” kemudian Pak Untung menjawab “wa’alaikum salaam warohmatullahi wabarokaatuh” dilanjutkan dengan aba-aba lagi dari ketua kelas  dengan mengucapkan “Berdoa’a mulai!” anak-anak berdoa’a kurang lebih 3 menit lamanya sambil membaca teks do’a belajar yang disiapkan sebelumya.

 

Pukul 08.05. Pak Untung berdiri sambil melihat-lihat suasana kelas kemudian menanyakan siswa yang tidak hadir pada hari itu   “anak-anak, adakah temanmu yang tidak hadir saat ini?” anak-anak dengan serentak menjawab “ ada pak, yaitu Kivlan” ada apa  dengan Kivlan? Tanya Pak Untung, “sakit pak “jawab anak-anak. Kemudian Pak Untung kembali ke tempat duduknya sambil menulis sesuatu.

 

Kemudian Pak Untung berdiri lagi  dan berjalan menuju papan tulis dengan menulis “ Bab VIII. Al-Qur’an Surat Al-Insyirokh” selesai menulis, Pak Untung menghadap ke siswa sambil memberi kultum terkait dengan penjelasan isi kandungan surat Al-Insyirakh. Setelah kultum, selanjutnya pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah dipimpin oleh siswa yang bertugas secara bergiliran yang jadwalnya sudah diatur oleh ketua kelas. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dari guru tentang kandungan ayat yang tersirat di dalamnya, kemudian Pak Untung menjelaskan isi kandungan ayat dihubungkan dengan materi yang akan dipelajari yang diselingi dengan pertanyaan secara bergiliran kepada setiap siswa.

 

Pada pukul 08.15. Pak Untung membagi kelompok diskusi dimana masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 orang. “sebelum kita bahas lebih lanjut materi kita pada hari ini, silakan kalian membentuk kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4 sampai 5 orang!” perintah Pak Untung kepada anak-anak . sambil menunggu anak-anak membagi kelompok, pak Untung menyiapkan kertas yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan didiskusikan. Sambil berdiri dan menatap ke siswa, beliau bertanya lagi “apakah semua kelompok sudah siap?” anak-anak menjawab “sudah pak” “ada berapa kelompok?” tanya pak untung dengan tegas. “ada 10 kelompok pak” jawab ketua kelas yang masuk kelompok 1.

 

Pukul 08.25. Pak Untung menyuruh masing-masing kelompok supaya memilih ketua dan sekretaris diberi waktu 2 menit. Anak-anak berdiskusi memilih ketua dan sekretaris yang nantinya bertugas memimpin jalannya diskusi dan merangkumnya. Kemudian pak Untung mendatangi salah satu kelompok yang belum terpilih ketua dan sekretaris, sambil bertanya: “kenapa belum terpilih ketua dan sekretaris?” salah satu siswa menjawab: “tidak ada yang mau pak !”. akhirnya Pak Untung menunjuk satu siswa laki-laki sebagai ketua dan satu siswa perempuan sebagai sekretaris dalam kelompok tersebut.

 

Pukul 08.30. Pak Untung menyuruh masing-masing ketua kelompok mengambil kertas yang sudah disiapkan sebelumnya oleh pak Untung. “silakan ketua kelompoknya mengambil soal-soal diskusi kedepan” perintah pak Untung. Anak-anak mengambil kertas ke pak Untung kemudian diperlihatkan kepada kelompoknya masing-masing. Anak-anak memperhatikan perintah pak Untung dengan seksama dengan santai anak-anak mengerjakan secara kelompok selama 40 menit . sambil mengamati jalannya diskusi kelompok, pak Untung menyiapkan daftar penilaian diskusi kelompok sambil menilai secara kelompok.

 

Pukul 09.10 diskusi kelompok diakhiri, masing-masing kelompok melaporkan kepada pak Untung bahwa telah selesai mengerjakan semua pertanyaan yang didiskusikan. Akhirnya pak untung memberi penguatan dalam materi Al-Qur’an surat Al-Insyirokh 1-8. dan membahasnya kembali petemuan yang akan datang dengan presentasi masing-masing kelompok maju ke depan. Sambil terdengar bel berbunyi tanda jam pelajaran ke 3-4 berakhir. Pak Untung memberi salam.

(O-6.GPAI.Plp.18-04-10)

 

Selain itu, dalam observasi yang dilakukan peneliti pada tanggal 20 April 2010 khususnya pada kelas IX A ditemukan, guru pada kegiatan awal , sempat memberi tugas pada siswa pada tatap muka sebelumnya, guru terlebih dahulu memeriksa dan mengembalikan pekerjaan rumah siswa serta mengomentari jawaban mereka. Komentar ini tentunya dalam rangka mengoreksi (meluruskan) jika jawaban mereka kurang tepat. Sesekali dalam komentar guru juga, dalam bentuk reward verbal jika terdapat jawaban siswa yang sudah tepat.

(O-6.GPAI.Plp.20-04-10)

 

 

Sedangkan untuk kelas IX B, guru PAI memulainya dengan doa bersama, dilanjutkan dengan tadarrus berjamaah beserta pembacaan terjemahnya yang dipimpin langsung oleh guru. Setelah itu, guru memberikan sedikit penjelasan tentang makna yang terkandung dalam ayat yang baru saja mereka baca.Kegiatan selanjutnya adalah kultum dari guru yang akan mengajar. Guru yang  membawakan kultum ini bebas memilih tema apa yang akan disampaikan di depan kelas. Dengan model ini, siswa diharapkan mampu bisa mencontohnya yang pada akhirnya siswa diberi  tugas untuk melaksanakan kegiatan tersebut  selama 7-10 menit.  Selanjutnya guru memberi appersepsi  dengan tanya jawab seputar kultum yang dibawakan tadi tentu saja materinya sudah disesuaikan dengan bab yang akan dibahas.

(O-6.GPAI.Plp.18-04-10)

 

 

Dalam kaitannya dengan kegiatan inti pembelajaran, terdapat berbagai teknik dan cara yang ditemui pada penyampaian pembelajaran PAI oleh masing-masing guru di SMP Negeri 4 Malang. Pada kelas VII misalnya, setelah guru mengadakan kegiatan awal seperti kultum, tadarrus, dan penjelasan makna yang terkandung dalam ayat , guru kemudian menjelaskan beberapa konsep-konsep dan pokok-pokok materi yang telah dipersiapkan sebelumnya. Hal ini nampak dalam observasi penulis pada tanggal 25 April 2010 di kelas VII G sebagai berikut:

 

Pada Pukul 06.30 anak-anak kelas VII G berbaris di depan kelasnya. Secara bergantian, siswa laki-laki terlebih dahulu memasuki kelas disusul siswa perempuan. Kemudian Pak Untung masuk kelas. Dalam keadaan berdiri, ketua kelas VII G, Della Maulida menyiapkan teman-temannya sambil memberi salam kepada bapak Guru. Kurang lebih 3 menit dalam berdoa, siswa dengan khidmat membaca teks do’a yang dipersiapkan sebelumnya di laci mejanya masing-masing.

 

Pukul 06.35. Pak Untung menjelaskan tentang konsep-konsep dan garis besar pokok materi, yang kemudian sering diselingi dengan lontaran pertanyaan-pertanyaan yang menantang siswa untuk mengeluarkan pendapatnya. Hampir sering terlihat memberi pertanyaan kepada siswa yang sifatnya terbuka sehingga memotivasi siswa untuk mengeluarkan pendapatnya.

Selanjutnya, pada pukul 07.00. Pak Untung membagi tugas dengan tema atau kompetensi/sub kompetensi yang berbeda-beda sesuai dengan target kurikulum pada kelas VII, yang dibagi dalam beberapa kelompok, untuk didiskusikan pada pertemuan berikutnya, yang tentunya terkait dengan kompetensi yang telah dijelaskan. Pada saat itu, Pak Untung menerapkan metode ceramah plus yaitu disamping menggunakan ceramah secara langsung diselingi dengan tanya jawab di tengah-tengah penjelasan selama kurang lebih 30 menit sambil menulis dalil-dalil Al-Qur’an yang terkait dengan materi pada saat itu yaitu tentang Akhlak terpuji.

Pada pukul 07.30. Pak Untung memberi tugas untuk mengerjakan soal-soal yang ada di LKS selama 15 menit berlangsung. Sangat kelihatan Pak Untung agak serak suaranya sambil sesekali menatap wajah salah satu siswa yang mau minta ijin keluar.

Pukul 07.45 anak-anak kelihatan agak ramai karena sebagian sudah selesai mengerjakan. Selanjutnya Pak Untung bertanya kepada siswa: “Apakah sudah selesai semua” dengan sigap ketua kelas menjawab: “sudah pak”. Kalau begitu mari kita bahas satu persatu dari pertanyaan tersebut. Maka, selama kurang lebih 5 menit seluruh pertanyaan sudah dibahas. Dan tepat pukul 07.50 proses belajar mengajar di kelas VII G diakhiri. Sebelum salam Pak Untung masih memberi PR dengan satu perintah membuat rangkuman dengan menyebutkan akhlak baik dan akhlak buruk yang pernah dilakukan oleh siswa selama satu minggu ke depan.

(O-6.GPAI.Plp.25-04-10)

 

Dalam pembelajaran di kelas IX, ada sesuatu yang unik dalam pembelajarannya, yaitu dengan menggunakan metode diskusi yang sifatnya menantang kreativitas siswa. Bentuk rangsangan dan tantangan ini tentunya bersifat akademis. Guru memotivasi siswa untuk dapat tampil menjadi kelompok ‘the excellence’ lewat diskusi di kelas. Kriteria penilaian sebagai kelompok terbaik ini, dengan melihat bahasan dan isi makalah dan penampilan kelompok dalam presentasi makalah. Selanjutnya kelompok yang tergolong ‘the excellence’ akan mewakili kelasnya untuk mempresentasikan makalah terbaiknya dihadapan seluruh teman-temannya yang muslim (terutama kelas IX), pada pelajaran pembiasaan Imtaq  yang diselenggarakan setiap Jumat siang satu jam pelajaran menjelang pulang jam ke 5 (jam 10. 200 sampai dengan 11. 00 Wib lihat lampiran).

Berbeda halnya dengan model pembelajaran PAI kelas VIII pada kegiatan awalnya tidak dimulai dengan kultum. Setelah mengadakan tadarrus berjamaah, pada kegiatan awal sebagaimana dijelaskan di atas, guru kemudian menjelaskan materi yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Sepert nampak dalam observasi peneliti pada tanggal 30 April di kelas VIII A sebagai berikut:

 

Pada pukul 07.50 pak Untung memasuki kelas VIII A. Pada kegiatan pembelajarannya, Pak Untung  memulai pelajaran dengan mengaitkan antara ayat yang akan dipelajari dengan yang akan dibaca pada tadarrus,. Setelah melakukan kegiatan awal seperti yang dijelaskan di atas, seperti tadarus, mengoreksi pekerjaan siswa, kemudian pak Untung meminta siswa untuk mengulang-ulang bacaaan ayat tersebut sampai menghafalnya, dimulai dengan membaca secara berjamaah kemudian diteruskan dengan membaca sendiri-sendiri. Sambil membaca ayat tersebut, pak Untung menyimak dengan seksama dan kemudian mengoreksi bacaan siswa dengan memberi contoh bacaan yang benar/fasih sesuai dengan ketentuan ilmu tajwid, setelah itu pak Untung meminta siswa menirukan bacaan  tersebut.

 

Kegiatan selanjutnya, pukul 08.00 pak Untung meminta siswa menunjukan kata-kata sulit dalam ayat dan dilanjutkan mengartikan kata tersebut secara bersama-sama. Ada 3 siswa yang disuruh pak untung untuk menjelaskannya tetapi ketiga siswa ini nampak belum siap. Setelah semua kata sulit diartikan, pak Untung meminta siswa lain untuk menjelaskan hukum tajwid yang terdapat dalam ayat tersebut. Disamping menjelaskan hukum tajwid, pak Untung sesekali melontarkan pertanyaan kepada siswa tentang apa yang baru saja dijelaskan, Selanjutnya pak Untung meminta masing-masing siswa untuk menyalin ayat dan hadis dengan tulisan mereka sendiri, guna melatih kecakapan siswa menulis ayat.

(O-6.GPAI.Plp.30-04-10)

 

Dalam pembelajaran intrakurikuler PAI, pada dasarnya model pembelajaran di kelas reguler tidak jauh berbeda dengan apa yang diterapkan di kelas bilingual (VII A) Hanya saja kelas bilingual banyak materi pengembangan karena kelas ini secara akademik diatas rata-rata kelas regular dan kelas seni. Pada umumnya guru PAI tidak  membedakan , karena silabus dan RPP nampaknya untuk mata pelajaran PAI tidak dituntut banyak, kecuali mata pelajaran yang diujinasionalkan. Disamping ada jam tambahan juga ada kursus-kursus.

Terkait dengan aktivitas pembelajaran PAI yang dilakukan oleh Guru Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang ini, ketua kelas VII G, Della Maulida mengatakan:

Saya merasa senang diajar oleh pak Untung, karena setiap kali ngajar, pak Untung selalu memberi kultum (ceramah) yang menggugah hati teman-teman. Selalu mengingatkan pentingnya membaca al_Qur’an , sholat dan menghormati orang tua. Tiga masalah itu sering kali diingatkan oleh pak Untung. Disamping itu pak Untung termasuk guru yang sangat sabar dan telaten untuk ngajari yang tidak bisa baca al-Qur’an, yang belum bisa bacaan sholat, dan dengan rela pak Untung mau menyempatkan ngajari anak-anak yang belum bisa ngaji di Masjid Sekolah. (W-11.Sis.Plp.21-04-10)

 

Lebih lanjut, salah satu siswa kelas VIII A yang juga pengurus Osis seksi ketaqwaan (NZ) mengatakan:

 

Saya suka dengan model mengajar yang diterapkan oleh guru-guru Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang ini. Baik pak Untung atau pak Kirman sama-sama mempunyai kelebihan. Kalau pak Untung sangat tegas terhadap siswa yang melakukan pelanggaran, ini berarti sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kedisiplinan. Hal ini sering dikatakan  oleh pak untung kepada teman-teman di kelas.”Jika kalian ingin sukses dunia akhirat, maka tegakkan kedisiplinan” demikian sering diutarakan oleh pak Untung dan itu sangat aku sukai pak. Kemudian saya suka dengan cara mengajarnya pak Kirman. Karena setiap pertemuan pasti membawa laptop ke kelas , sehingga anak-anak itu tidak bosan dengan ceramah thok. Lagi pula pak kirman juga sering humor, nyantai, dan tidak pernah marah-marah di kelas VIII A ini. Dan yang lebih penting pak kirman ini mau diajak curhat tentang keagamaan di luar dari tema yang disampaikan di kelas. (W-11.Sis.Plp.18-04-10)

 

 

Terkait dengan prosedur penetapan guru yang akan mengajar intra maupun ekstrakurikuler mata pelajaran PAI, SMP Negeri 4 Malang juga mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh koordinator kurikulum dengan melihat SK pengangkatan dari Dinas Pendidikan atau  Departemen Agama, juga dari instansi lain yang sangat berkompeten terutama untuk guru ekstrakurikuler seperti penuturan Kepala SMP Negeri 4 Malang sebagai berikut:

Yang merencanakan dan menentukan guru yang akan mengajar PAI di kelas adalah koordinator kurikulum yaitu bu Nurul dengan melihat SK pengangkatan dari Dinas Pendidikan atau Departemen Agama, kecuali jika dirasa kurang memenuhi kebutuhan sekolah, maka diangkatlah Guru Tidak Tetap (GTT) oleh Kepala Sekolah dengan mempertimbangkan usulan dari Dewan Guru. sedangkan untuk pengajar ekstrakurikuler ditentukan oleh koordinator kesiswaan yaitu pak Gupuh dengan pertimbangan koordinator ekstrakurikuler yakni pak Prapto dengan melihat kompetensi guru tersebut.

(W-1.KS.Plp.12-02-10)

 

Prosedur pengorganisasian dan pengarahan pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang tersebut nampaknya telah disepakati melalui kerjasama tim antara koordinator kurikulum dengan koordinator kesiswaan SMP Negeri 4 Malang dengan mengacu pada tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) urusan kurikulum dan kesiswaan yang ada di SMP Negeri 4 Malang.

Berkaitan dengan prosedur distribusi guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), koordinator kurikulum menuturkan sebagai berikut:

…dalam upaya mewujudkan visi-misi SMP Negeri 4 Malang, maka penentuan guru mata pelajaran PAI diserahkan kepada urusan kurikulum. Sedangkan untuk guru ekstrakurikuler diserahkan kepada koordinator kesiswaan dengan pertimbangan koordinator ekstrakurikuler. Karena dari merekalah secara persis tahu karakteristik guru yang mengajar dan materi yang diajarkan. Untuk tahun ini,  Pak Untung mengajar PAI kelas VII dan IX dengan jumlah jam 24, sedangkan untuk pak Kirman mengajar kelas VII dan VIII dengan jumlah jam 18 ditambah ekstra dan Pembina OSIS bidang ketaqwaan. Pembagian jam seperti ini karena tuntutan sertifikasi yang harus dipenuhi. Karena pak untung tahun ini yang sertifikasi maka diberi jam 24 sisanya pak Kirman yang saat ini masih kuliah S2 dan belum sertifikasi (W-3-Urs.Kur.Plp.22-03-10)

 

Terkait dengan pengaturan beban jam mengajar ini, kepala sekolah (BW) juga menuturkan kepada penulis sebagai berikut:

Untuk program pembelajaran Intrakurikuler Pendidikan Agama Islam (PAI) diatur sesuai dengan SK mengajar bagi guru-guru PAI. Dilihat dari pembagian jamnya, masing-masing guru Agama islam mestinya mendapat jam mengajar sama. Kalau saat ini ada 20 kelas, maka masing-masing mendapat 20 jam mengajar. Berhubung pak Untung saat ini sudah sertifikasi, maka pak Untung mendapat 24 jam mengajar untuk memenuhi persyaratan dari sertifikasi itu. Sedang sisanya yang  16 jam pelajaran diberikan kepada Pak Kirman sendiri. Untuk pengaturan kelas yang ada non muslimnya, sejak dulu di SMP ini ditempatkan di kelas tersendiri. Jadi masing-masing jenjang ada di kelas B untuk saat ini. Jika waktunya jam pelajaran agama, maka kelas yang ada non muslimnya tadi bertempat ruang khusus agama non muslim yang sejak 4 tahun terakhir ini sudah disediakan. Yang kemudian ruang  tersebut digunakan untuk ruang kebhaktian setiap pelajaran agama Kristen/Katholik dan pembinaan IMTAQ bagi non muslim(W-1.KS.Plp.12-04-10).

b. Program Kegiatan Tugas Terstruktur (Pembelajaran Ekstrakurikuler PAI/Pengembangan Diri)

Kegiatan tugas terstruktur dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler termasuk kategori program pengembangan diri, merupakan kegiatan di luar jam yang tercantum pada struktur kurikulum. Kegiatan ekstrakurikuler ditujukan untuk mengembangkan bakat dan minat serta untuk memantapkan pembentukan kepribadian siswa. Kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMP Negeri 4 Malang dilaksanakan dengan menyesuaikan kebutuhan sekolah yang menunjang pembelajaran di kelas serta anggaran biaya yang ada. Seperti penuturan kepala SMP Negeri 4 Malang sebagai berikut:

Karena terbatasnya anggaran dana, maka kegiatan kesiswaan yang berkaitan dengan ekstrakurikuler tahun ini agak dibatasi, mengingat saat ini untuk penarikan kepada orang tua sangat seret, sementara dana BOS dirasa kurang bisa memenuhi anggaran yang dibutuhkan. Tetapi walaupun demikian untuk kegiatan ekstra keagamaan supaya jalan terus, baik yang sudah diprogramkan sebelumnya maupun yang berkaitan dengan program mandiri tak terstruktur termasuk pembudayaan perilaku religius harus tetap digalakkan di sekolah ini.(W-1.KS.Plp.22-03-10)

 

Sementara itu, proses pelaksanaan pembelajaran ekstrakurikuler PAI yang diselenggarakan di SMP Negeri 4 Malang dapat dilihat melalui observasi peneliti pada hari Rabu, 5 Mei 2010 di Masjid “Manarul Hadi” seperti di bawah ini:

Pukul 13.00 wib Pak Mashudi memasuki Masjid, kemudian bertanya kepada anak-anak: “apa kalian sudah sholat dzuhur? Sudah pak jawab anak-anak dengan serentak. Pada waktu itu Pak Mashudi rupanya belum sholat dzuhur. “Tunggu sebentar ya! Saya tak sholat dzuhur dulu” kata pak Mashudi. Dalam pengamatan peneliti, pada saat itu masih banyak peserta ekstra terutama yang putra belum hadir di Masjid. Setelah pak Mashudi selesai sholat dzuhur, sebanyak 10 siswa putra berlarian memasuki Masjid dengan berkata: “ Oh, Pak Mashudi sudah datang” he.. teman-teman gimana ini, kita sholat dzhuhur aja dulu ya? Kata salah seorang peserta tersebut. Akhirnya ke 10 siswa yang terlambat tadi mengambil air wudlu terlebih dahulu, setelah itu mereka melaksanakan sholat dzhuhur secara berjamaah.

Pukul 13.10 pelajaran ekstra Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) dimulai. Pak Mashudi mengambil tempat  sambil mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok belajar model  U dengan sebelah kiri ditempati peserta putra, sementara sebelah kanannya ditempati siswa putri. Pembelajaran dimulai dengan salam pembuka dari Pembina dilanjutkan dengan melihat daftar absensi peserta yang hadir pada saat itu sekitar 5 menit lamanya pak Mashudi menyiapkan peserta sambil mengabsennya.

Pukul 13.15. Pak Mashudi mempersilakan masing-masing peserta untuk membuka Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30-39. “Sudah ketemu semua”? Tanya pak Mashudi. “sudah pak!, “Jawab peserta ekstra dengan serentak. Pukul 13.20 Pak Mashudi memulai dengan membaca ayat sambil dilantunkan seperti model qiro’ah, kemudian pak Mashudi menyuruh siswa untuk menirukan bacaan yang baru saja dibacakan tadi. Secara berulang-ulang sambil sesekali membetulkan bacaan peserta yang masih kurang sempurna. Model pelaksanaan ekstra seperti yang dipraktekkan oleh pak mashudi diatas berlangsung sampai  pukul 14.20 . setelah itu  Pak Mashudi mempersilakan anak-anak untuk bertanya tentang ilmu tajwid atau yang lain. Nampaknya anak-anak masih banyak yang belum mengetahui ilmu tajwid, sehingga banyak sekali siswa yang bertanya.

Proses Tanya jawab berakhir pukul 14.30. dilanjutkan dengan penandatanganan kartu prestasi yang sudah disediakan sebelumnya oleh masing-masing peserta ekstra. Terlihat sangat berhati-hati pak mashudi membubuhkan tanda tangannya di kartu peserta tadi. Karena pak mashudi juga menanyakan tentang ilmu tajwid kepada masing-masing peserta. Jika bisa menjawab, maka kartu prestasi tadi ditanda tangani, jika tidak bisa menjawabnya, maka ditulis dalam kartu tersebut untuk diulang mingggu depan. Kegiatan penandatanganan kartu prestasi tersebut berlangsung sekitar 15 menit. Pada pukul 15. 45 pak Mashudi mengakhiri kegiatan dengan membaca do’a akhir majlis bersama-sama siswa. Dilanjutkan dengan membaca hamdalah dan salam oleh Pembina ekstra.

(O-10.Pb.Ekstra.05-05-10)

 

Dari hasil pengamatan peneliti diatas, nampak sekali bahwa pelaksanaan ekstrakurikuler BTA di SMP negeri 4 Malang berlangsung dengan tertib dan khidmat. Model pembelajarannya menerapkan seperti model pesantren dengan gaya menirukan apa yang dibacakan oleh guru. Hanya saja dalam gaya belajar menirukan tersebut diselingi dengan Tanya jawab, sehingga nampak ada timbal balik antara guru dan siswa.

Sementara di sisi lain, hasil pengamatan kegiatan ekstrakurikuler Bahasa Arab di SMP Negeri 4 Malang masih belum menunjukkan aktivitas yang menggairahkan, karena  kegiatan ini sepi peminat. Nampaknya kegiatan ekstrakurikuler bahasa arab untuk saat ini hanya dipersiapkan mengikuti jadwal lomba lima bahasa yang diadakan oleh Dinas pendidikan Kota Malang. seperti penuturan wakil kepala sekolah sebagai berikut:

….Begini ceritanya pak. Sewaktu kepala sekolah dipimpin Bu As (Asmiaty), ekstrakurikuler Bahasa Arab ini sangat maju, bahkan pembinanya dihadirkan dari dosen sastra Bahasa Arab UM yaitu pak Izzudin al-Adib. Pada waktu itu memang bu As menginginkan di SMP Negeri 4 Malang ini maju di 5 bahasa, yaitu Inggris, Mandarin, Arab, Indonesia, dan Jawa. Dan kebetulan dari Dinas pendidikan Kota Malang selalu menyelenggarakan kegiatan lomba 5 bahasa. Maka sekalian dipersiapkan untuk menuju ke sana. Selama 4 tahun bu As memimpin sekolah ini, ternyata memang lomba 5 bahasa ini selalu diikuti, dan hasilnya sangat bagus di 3 bahasa. Pernah juara 1 lomba bahasa Jawa 4 tahun berturut-turut, juara 2 lomba bahasa arab tahun 2006 pada saat itu pesertanya bernama Bunga Agari dan lomba pidato bahasa Indonesia juara 2. Nah setelah itu, ketika sekolah-sekolah dilarang menarik dana dari masyarakat, akhirnya berimbas pada penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah termasuk di SMP Negeri 4 Malang. Tetapii SMP 4 masih menyediakan bentuk kegiatan ekstra bahasa arab, namun tidak satupun yang memilih ekstra ini. Akhirnya SMP 4 tetap menyelenggarakan kegiatan ekstra Bahasa Arab ini yang  pesertanya diambilkan dari peserta ekstra BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) tentu dengan kemampuan penguasaan membaca Al-Qur’annya di atas rata-rata siswa lain. Sehingga penawaran  ekstra Bahasa Arab ini sampai sekarang masih terprogram tetapi pada pelaksanaannya masih menyesuaikan dengan kondisi di Dinas pendidikan Kota Malang. Kalau memang nanti lomba 5 bahasa ini dilaksanakan lagi, maka sekolah ini juga akan mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba tersebut, lagipula pembina ekstra Bahasa Arab sampai sekarang masih ada yaitu pak Mashudi. Hanya saja karena ekstranya masih vacum, maka beliaunya disuruh membantu untuk membina ekstra BTA (Baca Tulis Al-Qur’an)

(W-2.Wks.Plp.23-04-10)

 

Adapun cara mengatur program pembelajaran ekstrakurikuler seperti yang tercantum dalam mekanisme kegiatan pengembangan diri dicantumkan dalam jadwal tersendiri yang diatur oleh kurikulum seperti di bawah ini:

a)      Kegiatan Pengembangan Diri yang bersifat rutin/terstruktur dilaksanakan pada waktu pembelajaran efektif dengan mengalokasikan waktu khusus dalam jadwal pelajaran, dibina oleh guru dan konselor sekolah. b)Kagiatan Pengembangan Diri pilihan dilaksanakan di luar jam pembelajaran (ekstrakurikuler) dibina oleh guru, praktisi, atau alumni yang memiliki kualifikasi yang baik berdasarkan surat keputusan kepala sekolah.

(D-3.Urs.Kur.Plp.20-04-10)

 

 

Terkait dengan jadwal pelajaran pengembangan diri (ekstrakurikuler) di SMP Negeri 4 Malang  disusun seperli terlihat pada jadwal kegiatan di bawah ini:

 

 

 

 

Tabel  4.8

Jadwal Kegiatan Pengembangan Diri SMP Negeri 4 Malang

Tahun Pelajaran. 2009/2010

No.

 

Nama Kegiatan

 

Kelas

 

Hari

 

Pukul

 

1.

Rutin/Terstruktur

a.  Wajib Baca

 

VII, VIII, IX

 

Senin s.d. Sabtu

 

6.30 – 13.00

b.  Bimbingan Konseling VII, VIII, IX Senin – Sabtu 6.30 – 13.00

c.   Upacara Bendera VII, VIII, IX Senin 6.30 – 7.15

d.  Shalat Jumat/ Kebaktian VII, VIII, IX Jumat 11.15 – 12.30

e.   SKJ / Jumat Bersih VII, VIII, IX Jumat 06.30 – 7.15

2.

Pilihan

a.  Baca Tulis Al Quran

 

VII

VIII

 

Sabtu

 

11.30 – 12.00

  b. Seni Tari VII,VIII Senin

Kamis

13.35 – 16.00

13.00 – 16.00

  c. Pramuka VII,VIII Jumat,Sabtu 13.00 – 17.00
  d. Paskibra VII, VIII Jumat 13.00 – 15.00
  e. Bola Basket VII,VIII Senin, Selasa, Rabu 14.00 – 17.00
  f. PMR VII,VIII Kamis 15.00 – 17.00
  g. Band VII,VIII Jumat 13.00 – 15.00
  h. Seni Lukis VII,VIII Senin 14.00 – 15.00
  i. PKS VII,VIII Sabtu 15.00 – 17.00
  j. Karawitan VII,VIII Senin

Kamis

13.35 – 16.00

13.00 – 16.00

  k. Sepak Bola VII, VIII Jumat 14.00 – 17.00
  l. Jurnalistik VII,VIII Senin 13.00 – 15.00
  m. Modeling VII,VIII Sabtu 12.30 – 17.00
  n. Karate VII,VIII Kamis 14.00 – 17.00
  o. Paduan Suara VII,VIII Kamis 13.30 – 16.00
  p. KIR VII,VIII Jumat 12.30 – 15.00
  q. ECC VII, VIII Senin

Jumat

14.00 – 15.00

12.30 – 15.00

  r. Bulu Tangkis VII,VIII Senin 14.00 – 17.00

s. Pidato Bahasa Arab VII,VIII Sabtu 11.30 – 13.00

3

Spontanitas :

  1. Bakti Sosial
  2. Takziyah/menjenguk teman sakit
  3. Peringatan Hari Besar Nasional / Agama dan Ulang Tahun Sekolah
VII, VIII, IX    

(D-3.Urs.Kur.Plp.20-04-10)

Pengembangan program dalam bentuk kegiatan tugas terstruktur di SMP Negeri 4 Malang adalah (1) pembiasaan IMTAQ yang dikoordinasi oleh kurikulum, dilaksanakan di kelas dengan 1 jam pelajaran dibina oleh wali kelas masing-masing. Materi yang diajarkan adalah terkait dengan bacaan surat-surat pendek dalam Al-Qur,an dan do’a-do’a. hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah siswa bisa hafal dengan fasikh dari ayat dan do’a-do’a harian yang dibaca setiap jum’at siang. Terkait dengan kegiatan ini dibuatkan panduan peningkatan IMTAQ yang disusun oleh Guru Agama Islam. pengaturan jam dan Panduan peningkatan IMTAQ ini dapat dilihat dalam jadwal pelajaran SMP 4 Malang   (2)Pembiasaan sholat Jum’at di sekolah, diorganisasi oleh kesiswaan dan Pembina keagamaan dengan anggota OSIS bidang ketaqwaan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan berjenjang setiap jum’at. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini agar siswa terbiasa melaksanakan sholat jum’at karena masih banyak siswa yang tidak melakukan sholat jum’at dengan alasan jalan macet atau pulang sekolah terlalu siang habis untuk perjalanan pulang. Terkait dengan pelaksanaan sholat Jum’at di sekolah , diperoleh data seperti di bawah ini:

Tabel  4.9

JADWAL KEGIATAN JUM’AT

SMP NEGERI 4 MALANG TP. 2009/2010

NO BULAN Tgl Kls KHOTIB Thema/ Judul Khutbah
 

1.

AGUSTUS 2009

7

14

21

28

7

8

9

7

1.Bp. Sukirman , S.Ag

2.Bp. Untung Djarwadi, BA

3.Bp. Nasib Ibnu Hajar,S.Pd.

4.Bp. Slamet Udadi,S.Pd, SH

Syukur Nikmat

Hakekat Kemerdekaan

Persiapan menjelang Ramadhan

Ramadhan penuh Berkah

 

2.

SEPTEMBER 2009

4

11

18

25

8

9

7

8

1.Bp. Sukirman , S.Ag

2.Bp. Untung Djarwadi, BA

3.Bp. Nasib Ibnu Hajar,S.Pd.

4.Bp. Slamet Udadi,S.Pd, SH

Perintah Zakat mal dan Fitrah

Makna Lailatul Qodar

Tradisi Idul Fitri dan Halal Bihalal

Indahnya persatuan dan persaudaraan

 

3.

OKTOBER 2009

2

9

16

23

30

9

7

8

9

7

1.Bp. Sukirman , S.Ag

2.Bp. Untung Djarwadi, BA

3.Bp. Nasib Ibnu Hajar,S.Pd.

4.Bp. Slamet Udadi,S.Pd, SH

5.Bp. Mashudi

Mempertahanakan Iman dan Taqwa

Pentingnya ukhuwah diantara sesama

Amalan-amalan yang diridhoi Allah SWT

Bahaya Penyakit Hati

Menjadi Hamba yang sabar

4.

NOPEMBER 2009

6

13

20

27

8

9

7

8

1.Bp. Sukirman , S.Ag

2.Bp. Untung Djarwadi, BA

3.Bp. Nasib Ibnu Hajar,S.Pd.

4.Bp. Slamet Udadi,S.Pd, SH

Bagaimana Sholat yang khusu’?

Hari Pahlawan; meneladani Akhlak Rasulullah

Hakekat Qurban

Hari Raya idul Adha 1430 H

 

 

5.

DESEMBER 2009

4

11

18

25

9

7

-

-

1.Bp. Sukirman , S.Ag

2.Bp. Untung Djarwadi, BA

3. Libur

4. Libur

Pentingnya hidup sederhana

Mengenang peristiwa Hijrah

Libur Tahun Baru Hijriyah 1431 H

Libur Natal

 

6.

JANUARI   2010

1

8

15

22

29

8

9

7

8

9

1.Bp. Sukirman , S.Ag

2.Bp. Untung Djarwadi, BA

3.Bp. Nasib Ibnu Hajar,S.Pd.

4.Bp. Slamet Udadi,S.Pd, SH

5.Bp. Mashudi

Toleransi antar ummat beragama

Tujuan hidup manusia

Manusia, makhluk paling sempurna

Menggapai Ridho Allah melalui hidup sosial

Bagaimana mengenal Allah?

 

7.

PEBRUARI 2010

5

12

19

26

7

8

9

7

1.Bp. Sukirman , S.Ag

2.Bp. Untung Djarwadi, BA

3.Bp. Nasib Ibnu Hajar,S.Pd.

4.Bp. Slamet Udadi,S.Pd, SH

Bahaya mengikuti budaya skuler

Valentine menurut Islam

Bagaimana menjadi insan kamil?

Menyantuni anak yatim dan fakir miskin

 

8.

MARET

 2010

5

12

19

26

8

9

7

8

1.Bp. Sukirman , S.Ag

2.Bp. Untung Djarwadi, BA

3.Bp. Nasib Ibnu Hajar,S.Pd.

4.Bp. Slamet Udadi,S.Pd, SH

Mengenang peristiwa menjelang Maulid Nabi

Meneladani Pemimpin Agama dan Negara

Religious Culture di Indonesia

Menjadi Warga Negera Yang baik

 

9.

APRIL

 2010

2

9

16

23

30

9

7

8

9

7

1.Bp. Sukirman , S.Ag

2.Bp. Untung Djarwadi, BA

3.Bp. Nasib Ibnu Hajar,S.Pd.

4.Bp. Slamet Udadi,S.Pd, SH

5. Bp. Mashudi

Seni menurut Islam

Bagaimana mengendalikan nafsu?

Hukum Alam (sunnatullah) dlm pandangan Islam

Hakekat emansipasi

Hak-hak manusia sebagai Hamba Allah

 

 

10.

 

MEI

2010

7

14

21

28

8

9

7

8

1.Bp. Sukirman , S.Ag

2.Bp. Untung Djarwadi, BA

3.Bp. Nasib Ibnu Hajar,S.Pd.

4.Bp. Slamet Udadi,S.Pd, SH

Pentingnya Pendidikan Islam

Ciri-ciri Anak yang sholeh

Makna Kebangkitan Nasional

Pentingnya positif Thinking

 

11.

JUNI

 2010

4

11

18

25

9

7

8

9

1.Bp. Sukirman , S.Ag

2.Bp. Untung Djarwadi, BA

3.Bp. Nasib Ibnu Hajar,S.Pd.

4.Bp. Slamet Udadi,S.Pd, SH

Pentingnya Dzikir dan Do’a

Bentuk-bentuk cobaan Allah SWT

Bagaimana menghadapi ujian Allah?

Etika Merayakan kemenangan

(D-10.Pb.Osis.Plp.04-05-10)

(3) Bimbingan keputrian dibina oleh kelompok kajian Islam KIASS (Kreatifitas Insan Anak Sholeh dan Sholehah) Kota Malang. Pelaksanaan kegiatan ini  dikoordinasi oleh kesiswaan dengan Pembina keagamaan puteri baik dari Ibu guru SMP Negeri 4 maupun bekerjasama dengan kelompok mahasiswi yang tergabung dalam organisasi KiASS. Pelaksanaan kegiatan ini diatur oleh guru Agama Islam SMP Negeri 4 Malang dengan materi yang sudah dibuat oleh Pembina keagamaan puteri yang disesuaikan dengan tema-tema khutbah. Hal ini dilakukan supaya terjadi kesamaan pemahaman anak-anak baik yang diberikan oleh khotib maupun yang disampaikan oleh pembina keputerian. Terkait dengan program keputrian dapat dilihat pada perencanaan program keputrian seperti yang penulis cantumkan di atas.

c. Pengembangan Program Kegiatan Mandiri Tak Terstruktur

Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh guru namun tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran baik untuk sistem paket maupun sistem SKS. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah diskoveri inkuiri dengan metode seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek.

Pengembangan program mandiri tak terstruktur yang ada di SMP Negeri 4 Malang adalah kegiatan-kegiatan yang dirancang oleh siswa melalui pembiasaan suasana religius di kawasan sekolah. yaitu; (1). Budaya 3 SAS (Salam, Salim, Senyum, Ambil Sampah), (2). Budaya Jum’at Bersih, (3). Halal Bihalal, (4). Peringatan hari Besar Islam (PHBI), (5). Santunan Kematian, (6). Santunan Anak Yatim, (7). Budaya Anjang Sana keluarga Dewan Guru dan Karyawan, (8) Budaya Tasyakuran, dan (9). Budaya beramal jariyah setiap jum’at, (Berbusana Muslim/ah) setiap hari Jum’at.

Kegiatan ini masuk dalam program spontanitas, sekalipun sudah diprogramkan sebelumnya karena waktunya menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Program yang sudah jelas diatur dalam jadwal hanya khusus budaya-budaya yang mendukung kegiatan keagamaan selain upacara dan SKJ hal ini bisa dilihat dalam Jadwal Kegiatan Pengembangan diri seperti yang tercantum dalam tabel 4.8 di atas.

Dengan demikian Mekanisme pengembangan kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) baik intrakurikuler , ekstrakurikuler maupun kegiatan tugas terstruktur di SMP Negeri 4 Malang dilakukan secara simultan dengan pengembangan KTSP dan silabus mata pelajaran. Sekolah atau kelompok sekolah dengan karakteristik yang hampir sama dan/atau kelompok guru mata pelajaran merumuskan bersama pengembangan kegiatan pembelajaran. Kegiatan dilakukan dalam koordinasi kepala sekolah yang dilaksanakan oleh tim pengembang kurikulum di sekolah bersama dengan guru baik melalui rapat kerja dan/atau kegiatan MGMP/MGMPS

Dalam mengembangkan kegiatan program pembelajaran, diperlukan informasi yang cukup berkaitan dengan karakteristik sekolah yang terdiri dari, potensi dan kebutuhan peserta didik, sumber daya, fasilitas, lingkungan, dan lain-lain. Informasi diperoleh dari berbagai sumber seperti catatan dan pengalaman guru, hasil riset bagian penelitian dan pengembangan (Litbang), atau informasi bagian inventarisasi di sekolah, serta karakteristik keilmuan sesuai mata pelajaran.

Dari paparan di atas menunjukkan bahwa pelaksanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat ditempuh dengan cara mengorganisasikan dan mengarahkan pengembangan program pembelajaran pendidikan Agama Islam yang meliputi; 1. Kegiatan tatap muka dalam bentuk pembelajaran Intrakurikuler PAI di kelas 2. kegiatan tugas terstruktur dalam bentuk kegiatan pengembangan diri ekstrakurikuler Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) dan Bahasa Arab. 3. kegiatan mandiri tak terstruktur dalam bentuk pembiasaan IMTAQ, kegiatan sholat Jum’at dan Bimbingan Keputrian serta dalam bentuk budaya-budaya religius.

Prosedur pengorganisasian pengembangan program pembelajaran meliputi; Staf kurikulum menentukan guru yang mengajar  intrakurikuler dan kesiswaan menentukan guru yang mengajar ekstrakurikuler; Pengaturan penempatan guru PAI dan ekstrakurikuler diserahkan kepada koordinator kurikulum dan kesiswaan; Pengorganisasian dan pengarahan pengembangan program pembelajaran PAI dilaksanakan melalui workshop dan rapat pembina OSIS dengan mendatangkan nara sumber yang berkompeten baik dari perguruan tinggi maupun pondok pesantren; Fasilitas dan peralatan yang digunakan dalam pengembangan program pembelajaran PAI menggunakan fasilitas sekolah termasuk Masjid dan ruang Agama Islam.

 

3. Pengendalian Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

    a. Program Kegiatan Tatap Muka (Pembelajaran Intrakrikuler PAI)          

SMP Negeri 4 Malang merupakan sekolah menengah pertama yang memiliki program pengembangan pembelajaran berbasis bahasa inggris (bilingual) dan program unggulan seni. Dalam melaksanakan kegiatan pengendalian pengembangan program pembelajaran PAI baik program intrakurikuler maupun kegiatan pengembangan diri ekstrakurikuler PAI melibatkan berbagai pihak. Berikut petikan wawancara peneliti dengan kepala sekolah:

Setiap satu bulan sekali, kepala sekolah beserta staf wajib mengikuti rapat khusus sebelum diadakan rapat umum beserta dewan guru dan karyawan yang ada di SMP Negeri 4 malang. Biasanya membahas tentang evaluasi pelaksanaan program-program pembelajaran secara menyeluruh, mulai dari masalah di kelas sampai pada hal-hal yang kecil dibahas semua.(W-1.KS.Pdp.02-04-10)

 

Pengendalian pelaksanaan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang juga dilakukan dengan cara mengadakan evaluasi hasil belajar siswa dan monitoring, sebagaimana penuturan Kepala Sekolah ketika diwawancarai oleh Peneliti sebagai berikut:

Untuk pembelajaran secara umum di Kelas kami melakukan  pengendalian dalam bentuk supervisi kelas  dengan cara melakukan pembinaan-pembinaan terhadap proses pelaksanaan KBM pada saat itu. Jika tidak masuk kelas, kami melakukannya dengan cara penilaian perangkat pembelajaran yang dibuat oleh guru yang bersangkutan. Cara yang kedua adalah dengan supervisei secara klinis, yaitu melakukan pembinaan kepada guru yang bersangkutan baik dilakukan di ruang kepala sekolah maupun dalam rapat dinas dewan guru. Cara seperti ini diharapkan yang datang secara aktif adalah gurunya bukan kepala sekolahnya. Hal ini saya lakukan untuk mencari permasalahan-permasalahan yang terjadi sepanjang proses dan hasil pembelajaran di kelas.

(W-Ks.Pdp.20-04-10)

Lebih lanjut beliau menyatakan:

 

Untuk pembelajaran PAI di kelas kami mengadakan supervisi dengan cara bekerjasama dengan Pengawas Pendidikan Agama Islam dari Depag. Seperti yang sudah-sudah bahwa wilayah Pendidikan Agama Islam memang harus ditangani oleh Depag dan dari depag sendiri sudah ditentukan pengawasnya. Sehingga kami hanya melihat dari sisi administrasinya saja, belum sampai pada supervise di kelas . nampaknya masalah pengendalian pembelajaran PAI ini memang diatur sesuai dengan pengawas mata pelajaran. Dan khusus pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 ini pengawas dari Depag adalah bapak Syamsul Arifin. Kalau pengawas secara umum dan hanya pembinaan di SMP ini yang dari Dinas Pendidikan adalah Bu Mawar.

(W-Ks.Pdp.20-04-10)

 

Dalam kesempatan ini, koordinator Kesiswaan juga menuturkan sebagai berikut:

Memang kondisinya disini masih harus sering dikontrol pak, jika tidak dikontrol atau diawasi, akan menjadi kendor (malas dan tidak rajin), ya jadinya harus betul-betul maksimal pengawasannya.

(W-4.Urs.Sis.Pdp.02-04-10)

 

Dalam kaitannya dengan pengendalian pengembangan program pembelajaran PAI, Koordinator kurikulum Bu Nurul  juga menyatakan:

Disini ini Pak, budaya kerja tanpa harus diperintah masih belum jalan sekalipun itu menjadi motto SMP 4 , karenanya masih harus belajar banyak. Sering Pak Bambang bilang kepada kami-kami khususnya yang staf untuk selalu memonitor anak-anak, nyuwun tulung (minta tolong) lebih sregep (rajin) agar murid-murid kita pinter dan nantinya jadi orang yang berguna di masyarakat.

(W-3-Urs.Kur.Pdp.08-04-10)

Kegiatan pengendalian program pembelajaran PAI yang berkaitan dengan pembelajaran di kelas, Pak Untung sebagai Guru Agama Islam juga menyatakan:

Sesuai dengan Visi SMP 4, maka kegiatan – kegiatan yang dikembangkan harus mempunyai nilai dan dampak kepada kualitas iman dan taqwa siswa, sehingga, kami sebagai guru agama di sini dalam mengendalikan siswa agar mencapai visi tersebut membuat macam-macam penilaian sebagai bentuk pengendalian program. Seperti penilaian PAI kami tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, bahkan yang lebih banyak berpengaruh terhadap penilaian ini adalah afektif siswa melalui kegiatan-kegiatan pengembangan diri, praktek keagamaan di sekolah.

(W-6.GPAI.Pdp.20-04-10)

 

 

Berkaitan dengan kegiatan praktikum PAI, koordinator sarana prasarana juga menuturkan sebagai berikut:

 

Untuk kegiatan praktek ibadah, menggunakan tempat Masjid Sekolah, tetapi jika tempat tersebut berbenturan dengan kegiatan lain seperti waktu dzhuhur banyak yang sholat dzuhur, maka kegiatan praktikum dialihkan ke ruang agama Islam. Di ruang tersebut sudah disediakan alat-alat ibadah dan Al-Qur’an serta dilengkapi dengan Televisi 21 inchi dan player DVD. Jadi kalau memang dalam praktek tersebut menggunakan media yang berkaitan dengan pemutaran praktek-praktek sholat dan baca Al-Qur’an bias menggunakannya dengan baik tanpa harus mencari media di ruang lain.

(W-5.Urs.Sarpras.Pdp.20-04-10)

 

Kegiatan pengendalian pengembangan program pembelajaran PAI melalui penilaian hasil belajar siswa di SMP Negeri 4 dilakukan dengan mengkuti prosedur yang sudah diatur dalam pedoman penilaian PAI yang diterbitkan oleh BSNP yaitu dengan Tugas-tugas, Ulangan Harian (UH), Ulangan Tengah Semester (UTS), dan ulangan akhir semester (UAS) atau dikenal dengan UKK (Ujian Kenaikan Kelas) khusus semester genap. Juga penilaian afektif dan psichomotor yang diatur dalam penilian akhlak. Seperti penuturan Koordinator kurikulum sebagai berikut:

Begini pak, untuk penilaian Mata Pelajaran PAI, evaluasi pembelajarannya menggunakan model yang sudah ditetapkan oleh BSNP yaitu ada ujian tulis dan praktek. Yang termasuk ujian tulis diambilkan dari ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester. Sedangkan untuk ujian praktek diambilkan dari praktek-praktek keagamaan yang sudah diprogramkan di sekolah seperti rajin sholat wajib dzuhur dan jum’at di sekolah ditambah penilaian akhlak. Penilaian akhlak ini menyangkut; afektif dan psikhomotorik siswa. Untuk penilaian ujian praktek membaca Al-Qur’an yang dinilai adalah makhroj, tajwid, dan kelancaran baca.

(W-3.Urs.Kur.Pdp.04-04-10)

 

Berdasarkan dokumen KTSP SMP Negeri 4 Malang diperoleh keterangan bahwa penilaian aspek kognitif Pendidikan Agama Islam (PAI) dilaksanakan dengan menggunakan format yang dibuat oleh kurikulum dengan Guru Agama Islam sebagai berikut:

Tabel  4.10

Contoh format penilaian PAI SMP Negeri 4 Malang

Tahun Pelajaran 2009-2010

DAFTAR NILAI SMP 4 MALANG

TAHUN PELAJARAN 2009/2010

 

KELAS/ SEMESTER: VIII A / GASAL                                                MATA PELAJARAN/ KKM:Pendidikan Agama / 72

 

NO.

N A M A

PENGUASAAN KONSEP & NILAI

PENERAPAN DAN AKHLAQ

RT

AKHLAQ

RAPOT

UL  HARIAN

RTUH

TUGAS/ P R

RT TG

2A+1B/3

UTS

3C+2D/5

USEM

3E+2F/5

NA

DISIPLIN

BERSIH

Tanggung Jwb

SOPAN ANTUN

HUB SOSIAL

JUJUR

IBADAHRITUAL

1

2

A

1

2

B

C

D

E

F

                       

1

ALKAF MUHAMMAD ALKANAFI

 

 

 

             

2

ANDREAS YACOBUS

 

 

 

             

3

ANNISA’ NUR FIT.

 

 

 

             

4

ANNISA’ PRAM. W

 

 

 

             

5

ARJUN NI’AM

 

 

 

             

6

Dst.

 

 

 

             

(D-6.GPAI.Pdp.12-04-10)

 

Untuk ujian praktek kelas IX yang diselenggarakan di sekolah, biasanya mempraktekkan sholat dan membaca Al-Qur’an. Teknis pelaksanaannya dengan membagikan kartu yang berisi soal yang akan dipraktekkan dengan cara siswa mengambilnya dari penguji saat itu juga. Terkait dengan evaluasi model ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel  4.11

Contoh format Penilaian Pendidikan Agama Islam (PAI)

SMP Negeri 4 Malang Tahun Pelajaran 2009-2010

 

Aspek Sholat (Psychomotor):

Nomor

Aspek yang di nilai

Sekor hasil penilaian

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

Niat Sholat

Kelengkapan  pakaia  sholat

Takbirotul ikhrom

Do’a Iftitah

Bacaan Fatihah

Bacaan surat pebdek setelah membaca fatihah

Ruku dan bacaan tasbih rukuk

I’tidal

Do’a I’tidal

Sujud dan tasbih sujud

Duduk Iftirosy

Do’a duduk diantara dua sujud.

Duduk akhir ( Tawaruq)

Do’a Tasahud akhir.

Salam

         
  .Jumalah sekor

 

 

(D-6.GPAI.Pdp.12-04-10)

Sedangkan yang berkaitan dengan penilaian baca Al-Qur’an dapat diperoleh format penilaian seperti di bawah ini:

 

Tabel  4.12

Contoh format Penilaian Pendidikan Agama Islam (PAI)

SMP Negeri 4 Malang Tahun Pelajaran 2009-2010

 

Aspek Baca Al-qur’an (Psychomotor):

No. Aspek yang dinilai

Skor Maksimal

Skor Prolehan

1. Kelancaran bacaan

25

2. Kesesuaian dengan makhroj

25

3. Kesesuaian dengan tajwid

25

4. Adab membacanya

25

  Jumlah

100

(D-6.GPAI.Pdp.12-04-10)

 

Mencermati teknik dan proses penilaian guru PAI dalam pembelajarannya dari segi penilaian kognitif, sudah cukup memenuhi. Indikatornya adalah dengan pemberian tugas dan pekerjaan rumah kepada siswa, mengadakan ulangan lisan/tulisan pada ulangan Harian dan ujian tengah semester, sudah representative dalam penilaian kognitif.

Terkait dengan Penilaian afektif lebih cenderung mengarah kepada subyektifitas, walaupun mungkin keberadaan sikap siswa SMP Negeri 4 Malang sudah sangat baik berdasarkan penilaian guru. Subjektivitas ini dapat dilihat dari tidak adanya standar penilaian yang baku terhadap perilaku siswa. Guru hanya mengandalkan observasi sepintas dan tidak ada bukti fisik yang dapat dijadikan pegangan guru sebagai standar penilaian. Hal ini dapat dibuktikan dengan pernyataan guru PAI sendiri sebagaimana yang kami kutip utuh dari interview:

“Segi penilaian agama Islam untuk afektif masih menjadi problem memang. Bagaimana format yang bagus, yang semakin komplit. Dan tidak semua guru yang menilai afektif secara baik. Itu tadi, kadang-kadang menilai itu kan perlu ada bukti fisik, ini kadang-kadang yang nda, ini anaknya agamanya bagus. Anak ini, nilainya A, dasarnya apa? Dengan pengamatan saja tidak kuat, tapi kalau ada data-data otentik afektif, penilaian afektif dari aspek ini, bisa kita gunakan”

(W-6.GPAI.Pdp.12-04-10)

 

Teknik penilaian afektif sebagaimana yang telah dijelaskan di atas beberapa guru mengambilnya dari observasi terhadap performan siswa di dalam kelas. Hal yang diamati adalah cara berpakaian, cara bicara, penampilan diri, daftar hadir, keaktifan dalam kepengurusan organisasi ekstrakurikuler.

Semua bentuk pengendalian yang dilakukan di SMP Negeri 4 Malang mengacu pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Untuk PAI harus mencapai minimal 72. jika tidak memenuhinya, maka dilakukan program remedial. Seperti penuturan urusan kurikulum di bawah ini:

Ujian tulis maupun praktek dilaksanakan oleh Guru PAI dan sekolah dengan menggunakan nilai angka. Standar kelulusan yang digunakan adalah minimal mencapai angka 72. jika belum mencapai ketentuan tersebut, siswa harus mengikuti program remedial yang jadwalnya ditentukan oleh kurikulum.

(W-3.Urs.kur.Pdp.I.20-04-10)

 

Berikut jadwal program remedial bagi siswa yang belum mencapai Standar Kriteria Minimal (SKM) dan jadwal pengayaan bagi siswa yang dianggap memenuhi kriteria yang ditetapkan. Kegiatan perbaikan dan pengayaan dilaksanakan di luar jam tatap muka (sepulang sekolah) dengan jadwal sebagai berikut.

Tabel  4.13

Jadwal Remidi dan Pengayaan SMP Negeri 4 Malang  TP. 2009/2010

No.

Hari

Kelas VII

Kelas VIII

Kelas IX

1.

Senin Bahasa Inggris

PPKn

IPS

Pend. Agama

Matematika

Seni Budaya

2.

Selasa IPS

Pend. Agama

Matematika

Seni Budaya

IPA

Tinkom/Ketr.

3.

Rabu Matematika

Seni Budaya

IPA

Tinkom/Ketr.

Bhs. Indonesia

Bahasa Jawa

4.

Kamis IPA

Tinkom/Ketr.

Bhs. Indonesia

Bahasa Jawa

Bahasa Inggris

PPKn

5.

Sabtu Bhs. Indonesia

Bahasa Jawa

Bahasa Inggris

PPKn

IPS

Pend. Agama

(D-3.Urs.Kur.Pdp.30-04-10)

 

Sedangkan kriteria kenaikan kelas bagi kelas VII dan VIII dan kriteria kelululasan bagi kelas IX ditetapkan ketentuan-ketentuan seperti yang sudah dicantumkan dalam dokumen KTSP SMP Negeri 4 Malang Tahun Pelajaran 2009/2010 sebagai berikut:

Kriteria Kenaikan Kelas SMP Negeri 4 Malang

Tahun Pelajaran 2009/2010

 

 

Siswa SMP Negeri 4 Malang Kelas VII dan VIII  dinyatakan Naik Kelas apabila memenuhi persyaratan Akademis dan Non Akademis,

 

A. Akademis

  1. Memiliki nilai lengkap satu tingkat dibawahnya untuk semester ganjil dan genap.
  2. Nilai Raport  Semester Genap :
  3. Nilai setiap mata pelajaran minimal 50,0
  4. Nilai mata pelajaran termasuk muatan lokal yang tidak memnuhi KKM maksimum 3 mata pelajaran.

 

B. Non Akademis

  1. Nilai Kepribadian Semester Genap terdiri atas kelakuan, kerajinan dan kerapian minimal  Baik ( B ).
  2. Tidak hadir tanpa keterangan maksimal 15 hari dihitung dari hari efektif selama satu tahun.
  3. Nilai Pengembangan Diri minimal Baik( B ).

 

Kriteria ini ditetapkan berdasarkan Hasil Rapat Tim Perumus Kriteria Kelulusan dan Kenaikan Kelas Siswa SMP Negeri 4 Malang tanggal 9 Desember 2009

(D-3.Urs.Kur.Pdp.30-04-10)

 

Sedangkan yang terkait dengan kelulusan kelas IX disamping harus memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam Ujian Nasional(UN), juga ditetapkan kriteria yang ditetapkan oleh sekolah seperti dalam dokumen KTSP SMP Negeri 4 Malang TP. 2009/2010.

Kriteria Kelulusan siswa Kelas IX SMP Negeri 4 Malang

Tahun Pelajaran 2009/2010

Siswa SMP Negeri 4 Malang dinyatakan Lulus apabila memenuhi persyaratan Akademis dan Non Akademis,

 

A. Akademis

1.   Memiliki nilai lengkap raport kelas VII, kelas VIII, dan kelas IX

  1. Nilai Ujian Sekolah minimal  5,00, dengan rata-rata minimal 6,00.
  2. Nilai Ujian Nasional minimal 4,50, dan rata-ratanya minimal 5,50.

 

B. Non Akademis

  1. Nilai Kepribadian terdiri atas kelakuan, kerajinan dan kerapian minimal Baik ( B ).
  2. Tidak hadir tanpa keterangan maksimal 10 hari dihitung dari hari efektif selama duduk di kelas IX.
  3. Nilai Pengembangan Diri minimal Baik( B ).

 

Kriteria ini ditetapkan berdasarkan Hasil Rapat Tim Perumus Kriteria Kelulusan dan Kenaikan Kelas Siswa SMP Negeri 4 Malang tanggal 9 Desember 2009.

Apabila dikemudian hari ada perubahan akan dimusyawarahkan lebih lanjut.

(D-3.Urs.Kur.Pdp.30-04-10)

 

 

 

b. Program Kegiatan Tugas Terstruktur (Pembelajaran Ekstrakurikuler PAI)

Pengendalian kegiatan ekstrakurikuler PAI di SMP Negeri 4 Malang dimaksudkan untuk menjadi media pelatihan yang mendukung pembelajaran PAI di kelas dan pembiasaan bagi siswa untuk mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini nampak seperti penuturan Kepala Sekolah sebagai berikut:

Karena para siswa-siswi SMP 4 ini berada pada lingkungan sekolah umum, maka kegiatan ekstrakurikuler PAI ini diorientasikan pada penunjang mata pelajaran Agama Islam dimana hanya diberikan 2 jam setiap minggunya, untuk itu perlu digalakkan kegiatan ekstra yang menunjang dan dilaksanakan pada jam-jam di luar jam pelajaran. Disamping itu, misi SMP 4 ini adalah unggul dalam IPTEKs berlandaskan IMTAQ dan berbudi pekerti luhur. Maka salah satunya ya memperbanyak kegiatan kegamaan melalui ekstrakurikuler PAI.

(W-3.Ks.Pdp.I.20-04-10)

 

Sedangkan untuk mengendalikan program pembelajaran ekstrakurikuler, beliau juga menuturkan kepada Peneliti sebagai berikut:

Untuk program pembelajaran ekstrakurikuler kami lakukan dengan melihat daftar hadir Pembina ekstra sekaligus untuk menentukan honor pembinaannya. Juga melihatnya lewat keikutsertaan ekstra tersebut dalam kejuaraan lomba-lomba yang diselenggarakan di luar SMP 4 Malang ini. Kalau kemarin misalnya ada lomba Pidato dan Cerdas-cermat Agama Islam yang diselenggarakan oleh MGMP PAI SMP, maka kami kontak Pembina ekstra Agama Islam untuk mengikutinya, dan ternyata berhasil menjadi juara 2 lomba pidato tingkat SMP se-Kota Malang. (W-3.Ks.Pdp.I.20-04-10)

 

Lebih lanjut beliau menyatakan:

 

Untuk ekstra Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang ini dikembangkan program BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) dan Bahasa Arab, sedangkan untuk pengendaliannya juga lewat supervisi kegiatan dengan melihat silabus yang dibuat  dan daftar hadir Pembina ekstra. ada lagi kegiatan yang sudah terprogram dan masuk dalam struktur kurikulum yaitu pembiasaan IMTAQ diisi oleh wali kelasnya masing-masing. Nah kegiatan IMTAQ ini untuk sementara tujuannya supaya anak-anak terbiasa saja dalam melafalkan do’a-do’a harian dan ayat-ayat pendek dalam Al-Qur’an sedangkan untuk agama Kristen ditempatkan dalam kelas khusus untuk dibina tersendiri. Adapaun cara pengendaliannya tidak ada evaluasi  hanya pada daftar hadir wali kelas pada jam tersebut.

(W-3.Ks.Pdp.I.20-04-10)

 

Dalam membentuk pembiasaan untuk mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam, SMP 4 Malang mengadakan praktek keagamaan melalui pembiasaan budaya religius di kawasan SMP 4 dan salahsatunya dengan memprogramkan ekstrakurikuler BTA dan Bahasa Arab, seperti penuturan wakil kepala sekolah (SU) sebagai berikut:

Dalam kegiatan pembelajaran PAI di SMP 4 diadakan praktek pembiasaan budaya religius dan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan seperti BTA dan Bahasa Arab, sholat jum’at di Masjid sekolah, kajian keputrian, pondok romadhon dan peringatan hari besar Islam lainnya. Hal ini dimaksudkan agar para siswa berlatih dan terbiasa mepraktekkan ilmu-ilmu keislaman yang sudah diketahuinya dalam kehidupan sehari-hari.(W-2.WKS.Pdp.20-04-10)

 

Lebih lanjut beliau menyatakan:

 

Tujuan Ekstrakurikuler tersebut yaitu pengembangan potensi dan minat bakat siswa-siswi , menambah wawasan keislaman serta persiapan mengikuti lomba-lomba  5 bahasa yang setiap tahunnya diselenggarakan di kota Malang ini.

(W-2.Wks.Pdp.20-04-10)

 

Bentuk pengendalian dari semua kegiatan yang berkaitan dengan ekstrakurikuler  adalah dengan melihat daftar hadir Pembina, silabus yang dibuat, dan prestasi yang diraih. Lebih lanjut kepala sekolah berharap agar dikembangkan bentuk-bentuk keteladanan pada anak-anak seperti bersikap ramah, sopan-santun dan terbiasa berbusana muslim, seperti yang telah dituturkan kepala sekolah (BW) kepada peneliti:

Satu lagi yang ingin saya tekankan disini adalah bentuk keteladanan perlu dikembangkan disini. Karena kita lihat akhir-akhir ini siswa maupun guru kita banyak yang kurang pede karena krisis keteladanan itu. Karena itu saya ingin di SMP Negeri 4 Malang ini keteladanan yang baik  dari kepala sekolah, guru, dan siswa perlu digalakkan, agar muncul bibit pemimpin yang diteladani di masa-masa yang akan datang. Bentuk keteladanan dari siswa sudah dimulai dengan seragam busana muslim setiap hari Jum’at, yang dari guru-guru muslim semuanya sudah berbusana muslim.

(W-1.Ks.Pdp.20-04-10)

 

Terkait dengan  para siswa yang menghadapi masalah tidak bisa membaca Al-Qur’an dan sholat, tetapi tidak ikut kegiatan ekstrakurikuler PAI, biasanya mereka meminta bantuan khusus dengan cara mengundang guru privat terutama mereka yang sedang ada ujian praktek. Berikut penuturan guru agama Islam (UJ).

Sebenarnya para siswa SMP 4 ini masih banyak yang tidak bisa membaca Al-Qur’an dan Sholat, dari   rata-rata setiap kelasnya dijumpai sekitar ada 2-3 begitu yang tidak bias baca dengan lancar. Tetapi dasar-dasarnya sudah punya. Nah ketika ada ujian praktek atau ada uji kompetensi bab Al-Qur’an, banyak siswa yang minta orang tuanya untuk privat ngaji. Cara semacam ini sebenarnya kan bias ditempuh dengan mengikuti ekstra BTA di sekolah tetapi anak-anak banyak yang malu , sehingga yang mengikuti ekstra BTA di sekolah justru anak-anak yang sudah mampu membaca.

(W-6.GPAI.Pdp.12-04-10)

 

Untuk masalah guru yang terkait dengan kegiatan ekstrakurikuler PAI, berikut penuturan Wakil Kepala Sekolah (SU).

Biasanya, para guru ekstra yang menghadapi kesulitan terkait dengan kegiatan pembelajaran, baik masalah waktu, tempat, dan alat-alat praktek, biasanya disampaikan langsung kepada Koordinator  kesiswaan yang membidangi ekstrakurikuler (Pak Prapto), dan juga melalui rapat khusus pembina ekstra serta perbincangan ketika pelaksanaan ekstra tersebut.

(W-2.Wks.Pdp.20-04-10)

Kegiatan-kegiatan yang mendukung terhadap keberhasilan pembelajaran pendidikan Agama Islam dapat dilihat juga dalam kegiatan yang ditangani oleh Pembina Osis bidang ketaqwaan, dalam hal ini yang menangani adalah Pak Untung dan Pak Kirman. Melalui kegiatan ini disusun program peningkatan ketaqwaan lewat OSIS. Adapun kegiatannya adalah Sholat Jum’at di sekolah, Bimbingan Keputrian, Pembiasaan Amal Jariyah pada hari Jum’at, Pesantren Romadhon, dan lain-lain. Adapun bentuk pengendaliannya melalui monitoring dan daftar kehadiran siswa dan pembina.(Lihat lampiran  Daftar Hadir Peserta dan Pembina ekstra BTA dan Bahasa Arab).

c.  Program Kegiatan Mandiri Tak Terstruktur

Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa yang termasuk kegiatan mandiri tak terstruktur yang ada di SMP Negeri 4 Malang adalah pembiasaan nilai-nilai agama yang dikenal dengan budaya agama (religious culture). Untuk kegiatan-kegiatan yang masuk dalam budaya agama yang bentuknya tidak terstruktur tetapi dilaksanakan oleh warga sekolah dengan nilai-nilai agama yang kental bisa dilihat dalam kebiasaan anak-anak salim kepada bapak/ibu guru, berperilaku sopan-santun kepada siapa saja bila bertemu, ambil sampah setiap melihat sampah berkeliaran dan memasukkannya ke dalam bak sampah, dan lain-lain. Adapun bentuk pengendaliannya lewat pantauan baik dilakukan oleh guru, wali kelas, maupun kepala sekolah. Kegiatan ini dianggap berhasil di lingkungan SMP Negeri 4 Malang dengan ditunjuknya sekolah ini menjadi duta mewakili kota Malang dalam lomba adipura, dan adiwiyata tingkat Propinsi.

Dari paparan diatas menunjukkan bahwa pengendalian pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang secara menyeluruh dilakukan melalui rapat rutin bulanan dengan melibatkan seluruh staf dan dewan guru. Rapat rutin bulanan tersebut dilaksanakan sebagai kontrol terhadap pelaksanaan kegiatan pendidikan secara keseluruhan di SMP Negeri 4 Malang. Sedangkan pengendalian pelaksanaan program pembelajaran PAI baik program intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kegiatan pembiasaan budaya religius dilakukan dengan mengadakan evaluasi hasil belajar siswa dan kegiatan monitoring melalui supervise kelas, daftar kehadiran Pembina ekstra, hasil prestasi siswa di bidang keagamaan dan terkendalinya siswa dengan kenaikan kelas yang nilaianya ditentukan lewat ketercapaian dengan SKM yang ditetapkan.

B. TEMUAN PENELITIAN

1. Perencanaan pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang

Berdasarkan pada paparan data penelitian sebelumnya dapat dikemukakan beberapa temuan penelitian diantaranya yaitu bahwa, Perencanaan pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang dapat dilihat dalam bentuk perangkat atau program pembelajaran yang meliputi: pengembangan silabus bidang studi PAI, rencana tahunan, program semester dan persiapan mengajar dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP. Rencana pengembangan program pembelajaran disusun berdasarkan SK-KD dan disesuaikan dengan kalender pendidikan yang berlaku, jadwal pelajaran sekolah yang bersangkutan dan sarana yang tersedia.

Penelitian ini juga menemukan bahwa perencanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam dimulai dengan menyusun pengembangan Silabus dan sistem penilaiannya. Adapun teknis pengembangan silabus yang dilakukan oleh sekolah adalah dengan cara mengajak semua guru melakukan rapat kerja khusus, dimulai dengan pemberian orientasi dan pengarahan dari kepala sekolah, dilanjutkan dengan orientasi dari nara sumber, kemudian diteruskan pada orientasi dan diskusi , semua guru diberi waktu untuk membuat pengembangan silabus mata pelajaran yang dibinanya secara berkelompok sesuai dengan mata pelajaran yang dipegang agar diketahui tingkat pemahaman mereka, kemudian diadakan penilaian kembali untuk presentasi dihadapan semua peserta. Setelah usai, semua guru diminta menyempurnakan pengembangan silabus, dan harus sudah jadi sebelum memasuki tahun pelajaran baru.

Berdasarkan dokumentasi, pada data rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) semua guru PAI di SMP Negeri 4 Malang, ada kesamaan dalam struktur dan kegiatan yang tercantum di dalamnya. Bentuk perencanaan pembelajaran dengan konsep kurikulum sama halnya dengan perencanaan konsep kurikulum pelajaran yang lain, diantaranya menyusun kegiatan perencanaan pengajaran sistematis dan mengidentifikasi konsep-konsep yang akan dibahas serta memilih kegiatan pembelajaran yang sesuai.

Dalam kenyataan, walaupun masing-masing guru memiliki pendapat yang sama tentang perencanaan pengajaran, namun dalam realisasinya berbeda. Hal itu tampak dari penerapan di dalam kelas, utamanya dalam aplikasi metode pembelajaran. Semua guru menyusun kegiatan secara sistematis berupa RPP, namun dalam penerapan di kelas tidak jarang tidak sesuai dengan apa yang dituliskan dalam RPP. Banyak faktor yang mempengaruhi fakta tersebut, bisa jadi karena waktu, kemampuan guru, keadaan siswa, media dan suasana dalam kelas.

Selanjutnya, dalam penyusunan Rencana tahunan, program semester dan silabus ternyata belum dapat digunakan secara langsung untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu perlu dibuat rencana pelaksanan Pembelajaran (RPP), yang merupakan implementasi program pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus.

Temuan mengenai kegiatan perencanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang dapat dilihat dalam gambar 4.1.

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengembangkan Program pembelajaran Intrakurikuler PAI

Mengembangkan Program pembeljr. Ekstrakurikuler PAI

Program kerja OSIS Bidang Ketaqwaan

Program pembelajaran PAI SMP Negeri 4 Malang

Pemikiran Kepala Sekolah

KTSP SMP Negeri 4 Malang

Lulusan SMP Negeri 4 Malang

Tim

Kurikulum

Tim

Kesiswaan

Guru Pembina Agama islam

Telaah Program & Kebutuhan

Menyusun Program Sesuai kebutuhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.1. Kegiatan perencanaan Pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang

 

2. Pelaksanaan Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Berdasarkan pemaparan data tersebut di atas peneliti menemukan bahwa dalam melaksanakan kegiatan pengembangan program pembelajaran PAI, mengikuti prosedur yang berlaku di SMP Negeri 4 Malang, yaitu dengan mengorganisasikan dan mengarahkan pengembangan program pembelajaran dengan mengacu pada pembelajaran Intrakurikuler dan Ekstrakurikuler serta pembiasaan Imtaq dan pembudayaan suasana religius.

a. Program Kegiatan Tatap Muka (Pembelajaran Intrakurikuler PAI)

Dalam peneitian ini ditemukan bahwa pengorganisasian dan pengarahan pengembangan program pembelajaran intrakurikuler PAI di SMP Negeri 4 Malang mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh kurikulum yang mengacu pada KTSP SMP 4 Malang .

Terkait dengan pengorganisasian materi pembelajaran PAI, diperoleh data dokumen  yang menyatakan bahwa secara garis besar materi pembelajaran PAI dikelompokkan menjadi lima aspek yaitu Al-Qur’an/Hadis, aspek aqidah, aspek akhlak, aspek ibadah, aspek tarikh.

Dalam menetapkan guru yang akan mengajar mata pelajaran PAI, SMP Negeri 4 Malang juga mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh koordinator kurikulum dengan melihat SK pengangkatan dari Dinas Pendidikan atau  Departemen Agama dengan ketentuan bahwa yang merencanakan dan menentukan guru yang akan mengajar PAI di kelas adalah koordinator kurikulum dengan melihat SK pengangkatan dari Dinas Pendidikan atau Departemen Agama, kecuali jika dirasa kurang memenuhi kebutuhan sekolah, maka diangkatlah Guru Tidak Tetap (GTT) oleh Kepala Sekolah dengan mempertimbangkan usulan dari Dewan Guru. sedangkan untuk pengajar ekstrakurikuler ditentukan oleh koordinator kesiswaan

Penelitian ini juga menemukan bahwa prosedur pengorganisasian, pelaksanaan dan pengarahan pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang tersebut nampaknya telah disepakati melalui kerjasama tim antara koordinator kurikulum dengan koordinator kesiswaan SMP Negeri 4 Malang dengan mengacu pada tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) urusan kurikulum dan kesiswaan yang ada di SMP Negeri 4 Malang.

Berkaitan dengan prosedur distribusi guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), diperoleh informasi bahwa penentuan guru mata pelajaran PAI diserahkan kepada urusan kurikulum. Sedangkan untuk guru ekstrakurikuler diserahkan kepada koordinator kesiswaan dengan pertimbangan koordinator ekstrakurikuler. Karena dari merekalah secara persis tahu karakteristik guru yang mengajar dan materi yang diajarkan.

Terkait dengan pembagian jam mengajar Pendidikan Agama Islam untuk tahun pelajaran 2009-2010 ini,  Pak Untung mengajar PAI kelas VII dan IX dengan jumlah jam 24, sedangkan untuk pak Kirman mengajar kelas VII dan VIII dengan jumlah jam 18 ditambah ekstra dan Pembina OSIS bidang ketaqwaan. Pembagian jam seperti ini karena tuntutan sertifikasi yang harus dipenuhi. Karena pak untung tahun ini yang sertifikasi maka diberi jam 24 sisanya pak Kirman yang saat ini masih kuliah S2 dan belum sertifikasi .

Terkait dengan pengaturan beban jam mengajar ini, diperoleh informasi bahwa Untuk program pembelajaran Intrakurikuler Pendidikan Agama Islam (PAI) diatur sesuai dengan SK mengajar bagi guru-guru PAI. Dilihat dari pembagian jamnya, masing-masing guru Agama Islam mestinya mendapat jam mengajar sama. Kalau saat ini ada 20 kelas, maka masing-masing mendapat 20 jam mengajar. Berhubung pak Untung saat ini sudah sertifikasi, maka pak Untung mendapat 24 jam mengajar untuk memenuhi persyaratan dari sertifikasi itu. Sedang sisanya yang  16 jam pelajaran diberikan kepada Pak Kirman sendiri.

Untuk pengaturan kelas yang ada non muslimnya, ditempatkan di kelas tersendiri. Jadi masing-masing jenjang ada di kelas B untuk saat ini. Jika waktunya jam pelajaran agama, maka kelas yang ada non muslimnya tadi menempati ruang khusus agama non muslim yang sejak 4 tahun terakhir ini sudah disediakan, kemudian ruang  tersebut digunakan untuk ruang kebhaktian setiap pelajaran agama Kristen/Katholik dan pembinaan IMTAQ bagi non muslim.

Dalam melaksanakan pembelajaran PAI di kelas,  guru PAI menggunakan tahapan-tahapan sebagaimana dijelaskan dalam temuan peneliti melalui observasi  sebagai berikut:

1). Kegiatan awal (pendahuluan)

Model pembelajaran yang lazim digunakan diselenggarakan oleh Guru PAI di kelas VIII dimulai dengan berdoa bersama, kemudian dilanjutkan Kultum (kuliah tujuh menit) atau semacam ceramah singkat dari Guru. Kegiatan kultum ini dilaksanakan secara rutin dengan tujuan siswa diberi bekal untuk menyerap materi yang akan dipelajari pada saat itu. Tentu saja guru harus pandai-pandai mengaitkan materi kultum dengan materi yang akan dipelajari. Kegiatan ini dilaksanakan  pada tiap pertemuan jam pelajaran agama Islam kelas VIII SMP Negeri 4 Malang.

Setelah kultum, selanjutnya pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah dipimpin oleh siswa yang bertugas secara bergiliran yang jadwalnya sudah diatur oleh ketua kelas. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dari guru tentang kandungan ayat yang tersirat di dalamnya, kemudian dihubungkan dengan materi yang akan dipelajari yang diselingi dengan pertanyaan secara bergiliran kepada setiap siswa.

Pertanyaan guru, terkadang mengenai batas materi yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya, terkadang juga bertanya tentang materi yang terkait dengan pelajaran sebelumnya. Hal ini tentunya merupakan strategi guru dalam mengawali pembelajaran, yang bertujuan menarik perhatian siswa, mengetahui tingkat penguasaan materi sebelumnya dan juga untuk mengetahui kesiapan siswa dalam mengikuti pelajarannya.

Berbeda halnya dengan pembelajaran di kelas VII, dimana guru tidak memulai dengan kultum tetapi mengawali pembelajaran dengan tadarrus Al-Qur’an secara berjamaah, yang dilanjutkan dengan penjelasan makna yang terdapat dalam kandungan ayat tersebut.

Dalam penjelasan kandungan ayat, guru juga sering menghubungkannya dengan kejadian sosial dan fenomena alam yang menjadi trend saat itu untuk menghindari kebosanan dalam pembelajaran agama di kelas, mengingat tingkat kemampuan berfikir pada pengetahuan umum lebih mendominasi dalam pembelajaran di SMP Negeri 4 Malang. Sebagai contohnya, ketika guru menjelaskan kompetensi al Qur’an tentang ayat yang berhubungan dengan kebaikan pada QS. al Insyirokh ayat 1-8, disitu guru menghubungkannya dengan fenomena di sebagian masyarakat yang mengalami kesempitan hidup karena bencana alam seperti meluapnya Lumpur Lapindo Brantas di Sidoarjo atau gempa di Yogyakarta, yang nota bene membutuhkan uluran tangan dari para orang kaya, untuk mengeluarkan sebagian hartanya demi membantu mereka yang membutuhkan tersebut.

Selain itu, dalam observasi ditemukan, guru pada kegiatan awal ini, jika sempat memberi tugas pada siswa pada tatap muka sebelumnya, guru terlebih dahulu memeriksa dan mengembalikan pekerjaan rumah siswa serta mengomentari jawaban mereka. Komentar ini tentunya dalam rangka mengoreksi (meluruskan) jika jawaban mereka kurang tepat. Sesekali dalam komentar guru juga, dalam bentuk reward verbal jika terdapat jawaban siswa yang sudah tepat.

Sedangkan untuk kelas IX, guru PAI memulainya dengan doa bersama, dilanjutkan dengan tadarrus berjamaah beserta pembacaan terjemahnya yang dipimpin langsung oleh guru. Setelah itu, guru memberikan sedikit penjelasan tentang makna yang terkandung dalam ayat yang baru saja mereka baca.

Kegiatan selanjutnya adalah kultum dari guru yang akan mengajar. Guru yang  membawakan kultum ini bebas memilih tema apa yang akan disampaikan di depan kelas. Dengan model ini, siswa diharapkan mampu bisa mencontohnya yang pada akhirnya siswa diberi  tugas untuk melaksanakan kegiatan tersebut  selama 7-10 menit. Selanjutnya guru memberi appersepsi  dengan tanya jawab seputar kultum yang dibawakan tadi tentu saja materinya sudah disesuaikan dengan bab yang akan dibahas.

Model pembelajaran di awal kegiatan seperti ini, mirip dengan apa yang dilaksanakan di kelas VII, hanya saja pada kelas VII, tadarus dan membaca terjamahnya dipimpin oleh guru, sedangkan di kelas IX tadarus dan pembacaan terjamah secara berjamaah dipimpin oleh siswa. guru hanya memberi motivasi dengan cara memberi kultum dan mengaitkannya dengan materi yang akan dipelajari.

2). Kegiatan Inti

Dalam kaitannya dengan kegiatan inti pembelajaran, terdapat berbagai teknik dan cara yang ditemui pada penyampaian pembelajaran PAI oleh masing-masing guru di SMP Negeri 4 Malang. Pada kelas IX misalnya, setelah guru mengadakan kegiatan awal seperti kultum, tadarrus, dan penjelasan makna yang terkandung dalam ayat , guru kemudian menjelaskan beberapa konsep-konsep dan pokok-pokok materi yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Pada pertemuan perdana, guru menjelaskan tentang konsep-konsep dan garis besar pokok materi, yang kemudian sering diselingi dengan lontaran pertanyaan-pertanyaan yang menantang siswa untuk mengeluarkan pendapatnya. Hampir sering terlihat dalam aktifitas pembelajaran muncul pertanyaan yang sifatnya terbuka sehingga memotivasi siswa untuk mengeluarkan pendapatnya.

Selanjutnya, guru membagi tugas dengan tema atau kompetensi/sub kompetensi yang berbeda-beda sesuai dengan target kurikulum pada kelas IX, yang dibagi dalam beberapa kelompok, untuk didiskusikan pada pertemuan berikutnya, yang tentunya terkait dengan kompetensi yang telah dijelaskan.

Dalam pembelajaran di kelas IX, ada sesuatu yang unik dalam pembelajarannya, yaitu dengan menggunakan metode diskusi yang sifatnya menantang kreativitas siswa. Bentuk rangsangan dan tantangan ini tentunya bersifat akademis. Guru memotivasi siswa untuk dapat tampil menjadi kelompok ‘the excellence’ lewat diskusi di kelas. Kriteria penilaian sebagai kelompok terbaik ini, dengan melihat bahasan dan isi makalah dan penampilan kelompok dalam presentasi makalah. Selanjutnya kelompok yang tergolong ‘the excellence’ akan mewakili kelasnya untuk mempresentasikan makalah terbaiknya dihadapan seluruh teman-temannya yang muslim (terutama kelas IX), pada pelajaran pembiasaan Imtaq  yang diselenggarakan setiap Jumat siang satu jam pelajaran menjelang pulang jam ke 5 (jam 10. 20 sampai dengan 11. 00 Wib).

Berbeda halnya dengan model pembelajaran PAI kelas VIII pada kegiatan awalnya tidak dimulai dengan kultum. Setelah mengadakan tadarrus berjamaah, pada kegiatan awal sebagaimana dijelaskan di atas, guru kemudian menjelaskan materi yang sudah dijadwalkan sebelumnya.

Pada pembelajarannya, terlebih pada kompetensi Al-Qur’an, guru sering mengaitkan antara ayat yang akan dibaca pada tadarrus, dengan materi pelajaran yang akan diajarkan pada saat itu. Setelah melakukan kegiatan awal seperti yang dijelaskan di atas, seperti tadarus, mengoreksi pekerjaan siswa (jika ada), kemudian guru meminta siswa untuk mengulang-ulang bacaaan ayat tersebut sampai menghafalnya, dimulai dengan membaca secara berjamaah kemudian diteruskan dengan membaca sendiri-sendiri. Sambil membaca ayat tersebut, guru selalu menyimak dengan seksama dan kemudian mengoreksi bacaan siswa dengan memberi contoh bacaan yang benar/fasih sesuai dengan ketentuan ilmu tajwid, setelah itu guru meminta siswa menirukan bacaan guru tersebut.

Kegiatan selanjutnya, guru meminta siswa menunjukan kata-kata sulit dalam ayat dan dilanjutkan mengartikan kata tersebut secara bersama-sama. Setelah semua kata sulit diartikan, guru meminta siswa menjelaskan hukum tajwid yang terdapat dalam ayat tersebut.

Disamping menjelaskan hukum tajwid, guru sesekali melontarkan pertanyaan kepada siswa tentang apa yang baru saja dijelaskan, hal ini dalam rangka untuk mengetahui kemampuan memahami apa yang baru saja dijelaskan. Selanjutnya guru meminta masing-masing siswa untuk menyalin ayat dan hadis dengan tulisan mereka sendiri, guna melatih kecakapan siswa menulis ayat. Salinan ayat ini, biasanya diminta guru untuk disetorkan pada tatap muka minggu berikutnya.

Pada pembelajaran kelasVII, hampir mirip dengan model yang diterapkan pada kelas IX, dimana pembelajaran pada pertemuan awal (tatap muka), guru menjelaskan materi pertama, kemudian meminta siswa membentuk beberapa kelompok dan menugaskan mereka membuat makalah.

Diskusi berakhir disaat pertanyaan, tanggapan atau komentar dari siswa lainnya sudah tidak ada. Terkadang jika waktu 2 jam pelajaran yang tidak mencukupi, artinya diskusi terus berlanjut, maka guru meluangkan waktu pada pertemuan minggu depan untuk melanjutkan diskusi tersebut. Dan diskusi seperti ini, menurut komentar guru PAI sempat terjadi beberapa kali, namun lebih banyak diskusi tersebut selesai pada sekali pertemuan. Setelah diskusi berakhir, guru menjelaskan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban siswa, sekaligus menuntaskan segala problema yang muncul dalam diskusi.

Dalam pembelajaran PAI, pada dasarnya model pembelajaran di kelas reguler tidak jauh berbeda dengan apa yang diterapkan di kelas bilingual. Hanya saja kelas bilingual banyak materi pengembangan karena kelas ini secara akademik diatas rata-rata kelas regular dan kelas seni. Pada umumnya guru PAI tidak  membedakan , karena silabus dan RPP nampaknya untuk mata pelajaran PAI tidak dituntut banyak, kecuali mata pelajaran yang diujinasionalkan. Disamping ada jam tambahan juga ada kursus-kursus.

3). Kegiatan Akhir (penutup)

Kegiatan ini adalah kegiatan untuk memberikan penegasan atau kesimpulan dan penilaian terhadap penguasaan bahan kajian yang diberikan pada kegiatan inti. Pada kegiatan ini dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut berupa pekerjaan rumah dan lain-lain.

Pada kegiatan akhir, hampir semua guru PAI di SMP Negeri 4 Malang tidak memiliki perbedaan dalam pembelajarannya. Pada dasarnya kedua guru pada akhir pembelajaran memberikan penegasan dan kesimpulan serta penilaian terhadap penguasaan bahan kajian yang diberikan pada kegiatan inti.

Adapun penilaian akhir (post test), guru melakukannya dalam bentuk tanya jawab tentang apa yang belum dipahami oleh siswa. Hal-hal yang belum dipahami siswa, guru meminta siswa untuk ditanyakan, namun jika tidak ada yang bertanya dianggap sudah paham atau terkadang guru pun berbalik melontarkan pertanyaan kepada siswa secara bergiliran.

Penilaian akhir dalam bentuk pemberian tugas rumah atau pekerjaan rumah (PR) tidak jarang terjadi. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah mereka masing-masing, misalnya saja tugas untuk menuliskan kembali ayat-ayat Al-Qur’an yang baru saja dijelaskan dan menjelaskan tajwid yang ada dalam ayat tersebut. Hal ini bermaksud untuk mengetahui sejauh mana penguasaan materi yang telah dijelaskan dan melatih siswa mencapai kompetensi tertentu seperti mampu menuliskan ayat Al-Qur’an, dan lain sebagainya.

Selanjutnya pada kegiatan akhir, khusus untuk kelas VII dan IX, tindak lanjut dari penjelasan tentang pokok-pokok materi pembelajaran dilakukan dalam bentuk pembagian tugas kelompok. Masing-masing kelompok mendapatkan judul atau tema (kompetensi atau sub kompetensi) yang berbeda-beda, untuk dipresentasikan pada minggu berikutnya sesuai dengan jadwal yang diatur oleh guru. Terkhusus pada kelas VIII, kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pekerjaan rumah (PR), seperti menyalin ayat atau hadis dan lain sebagainya.

b. Program Kegiatan Tugas Terstruktur (Pembelajaran Ekstrakurikuler PAI)

Kegiatan tugas terstruktur dalam bentuk ekstrakurikuler termasuk kategori program pengembangan diri, merupakan kegiatan di luar jam yang tercantum pada struktur kurikulum. Kegiatan ekstrakurikuler ditujukan untuk mengembangkan bakat dan minat serta untuk memantapkan pembentukan kepribadian siswa. Kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMP Negeri 4 Malang dilaksanakan dengan menyesuaikan kebutuhan sekolah yang menunjang pembelajaran di kelas serta anggaran biaya yang ada.

Dalam penelitian ini ditemukan bahwa program kegiatan tugas terstruktur dalam bentuk pembelajaran ekstrakurikuler yang dikembangkan di SMP Negeri 4 Malang adalah Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) yang pelaksanaannya menggunakan model menirukan bacaan yang diperankan oleh pembinanya dengan sesekali bertanya tentang ilmu tajwidnya atau cara membaca makhroj yang benar. Cara semacam ini persis seperti model yang diterapkan di pesantren tetapi siswa diberi waktu untuk bertanya jawab dengan Pembina.

Dalam prakteknya, peserta ekstrakurikuler BTA ini sangat antusias mengikuti kegiatan terbukti dengan absensi kehadiran peserta sejumlah 60 peserta dari kelas VII dan VIII. Disamping itu kegiatan ini dilaksanakan di tempat Masjid sekolah sehingga pelaksanannya dengan mudah dapat dikendalikan. Namun sejauh ini prestasi yang diraih dari kegiatan ekstra ini belum menunjukkan prestasi yang menggembirakan. Karena selama ini prestasi keagamaan di SMP Negeri 4 diraihnya dari siswa yang bukan peserta ekstrakurikuler BTA.

Penelitian ini juga menemukan bahwa cara mengatur program pembelajaran ekstrakurikuler seperti yang tercantum dalam mekanisme kegiatan pengembangan diri dicantumkan dalam jadwal tersendiri yang diatur oleh kurikulum seperti di bawah ini:

a). Kegiatan Pengembangan Diri yang bersifat rutin/terstruktur dilaksanakan pada waktu pembelajaran efektif dengan mengalokasikan waktu khusus dalam jadwal pelajaran, dibina oleh guru dan konselor sekolah.

b). Kagiatan Pengembangan Diri pilihan dilaksanakan di luar jam pembelajaran (ekstrakurikuler) dibina oleh guru, praktisi, atau alumni yang memiliki kualifikasi yang baik berdasarkan surat keputusan kepala sekolah.

Dalam penelitian ini ditemukan juga bahwa pengembangan program dalam bentuk kegiatan tugas  terstruktur di SMP Negeri 4 Malang adalah:

(1) Pembiasaan IMTAQ yang dikoordinasi oleh kurikulum, dilaksanakan di kelas dengan I jam pelajaran dibina oleh wali kelas masing-masing. Materi yang diajarkan adalah terkait dengan bacaan surat-surat pendek dalam Al-Qur,an dan do’a-do’a. hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah siswa bisa hafal dengan fasikh dari ayat dan do’a-do’a harian yang dibaca setiap jum’at siang.

(2) Pembiasaan sholat Jum’at di sekolah, diorganisasi oleh kesiswaan dan Pembina keagamaan dengan anggota OSIS bidang ketaqwaan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan berjenjang setiap jum’at. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini agar siswa terbiasa melaksanakan sholat jum’at karena masih banyak siswa yang tidak melakukan sholat jum’at dengan alasan jalan macet atau pulang sekolah terlalu siang habis untuk perjalanan pulang.

(3) Bimbingan keputrian dibina oleh kelompok kajian Islam KIASS (Kreatifitas Insan Anak Sholeh dan Sholehah) Kota Malang. Pelaksanaan kegiatan ini  dikoordinasi oleh kesiswaan dengan Pembina keagamaan puteri baik dari Ibu guru SMP Negeri 4 maupun bekerjasama dengan kelompok mahasiswi yang tergabung dalam organisasi KiASS. Pelaksanaan kegiatan ini diatur oleh guru Agama Islam SMP Negeri 4 Malang dengan materi yang sudah dibuat oleh Pembina keagamaan puteri yang disesuaikan dengan tema-tema khutbah. Hal ini dilakukan supaya terjadi kesamaan pemahaman anak-anak baik yang diberikan oleh khotib maupun yang mengikuti keputerian.

c. Program Kegiatan Mandiri Tak Terstruktur

Dari pemaparan data di atas ditemukan bahwa pengembangan program kegiatan mandiri tak terstruktur yang ada di SMP Negeri 4 Malang adalah pembiasaan suasana religius di kawasan sekolah. yaitu; (1). Budaya 3 SAS (Salam, Salim, Senyum, Ambil Sampah), (2). Budaya Jum’at Bersih, (3). Halal Bihalal, (4). Peringatan hari Besar Islam (PHBI), (5). Santunan Kematian, (6). Santunan Anak Yatim, (7). Budaya Anjang Sana keluarga Dewan Guru dan Karyawan, (8) Budaya Tasyakuran, dan (9). Budaya beramal jariyah setiap jum’at.

Kegiatan ini masuk dalam program spontanitas, sekalipun sudah diprogramkan sebelumnya karena waktunya menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Program yang sudah jelas diatur dalam jadwal hanya khusus budaya-budaya yang mendukung kegiatan keagamaan selain upacara dan SKJ.

Dengan demikian Mekanisme pengembangan kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler di SMP Negeri 4 Malang dilakukan secara simultan dengan pengembangan KTSP dan silabus mata pelajaran. Sekolah atau kelompok sekolah dengan karakteristik yang hampir sama dan/atau kelompok guru mata pelajaran merumuskan bersama pengembangan kegiatan pembelajaran. Kegiatan dilakukan dalam koordinasi kepala sekolah yang dilaksanakan oleh tim pengembang kurikulum di sekolah bersama dengan guru baik melalui rapat kerja dan/atau kegiatan MGMP/MGMPS.

Oleh karena itu, dalam mengembangkan kegiatan program pembelajaran, diperlukan informasi yang cukup berkaitan dengan karakteristik sekolah yang terdiri dari, potensi dan kebutuhan peserta didik, sumber daya, fasilitas, lingkungan, dan lain-lain. Informasi diperoleh dari berbagai sumber seperti catatan dan pengalaman guru, hasil riset bagian penelitian dan pengembangan (Litbang), atau informasi bagian inventarisasi di sekolah, serta karakteristik keilmuan sesuai mata pelajaran.

Temuan mengenai kegiatan pelaksanaan pengembangan pembelajaran pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang dapat dilihat dalam gambar 4.2.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesiswaan mengatur jadwal ekstra

Pengembangan Program Sekolah

Mendistribusikan Kurikulum Intra dan Ekstra

KBM di Kelas/Keg. Tatap Muka

Menyusun Program Osis Bid. ketaqwaan

Guru hadapi masalah KBM di Kelas

Siswa hadapi masalah

Ada bantuan supervise kasek dan kur

Ada bantuan dari Kesiswaan, BK & GPAI

Kur. Melibatkan kesiswaan dalam mengatur Jadwal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.2. Kegiatan pelaksanaan Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang

 

3. Pengendalian Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

    a. Program Kegiatan Tatap Muka (Pembelajaran Intrakrikuler PAI)          

Dalam melaksanakan kegiatan pengendalian pengembangan program pembelajaran PAI yakni program pembelajaran intrakurikuler PAI SMP Negeri 4 Malang melibatkan berbagai pihak. Yaitu dilakukan Setiap satu bulan sekali. Dimana kepala sekolah beserta staf wajib mengikuti rapat khusus sebelum diadakan rapat umum beserta dewan guru dan karyawan yang ada di SMP Negeri 4 malang. Biasanya membahas tentang evaluasi pelaksanaan program-program pembelajaran secara menyeluruh, mulai dari masalah di kelas sampai pada hal-hal yang kecil dibahas semua.

Penelitian ini juga menemukan bahwa Pengendalian pelaksanaan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang  dilakukan dengan cara mengadakan evaluasi hasil belajar siswa dan monitoring kelas dalam pembelajaran intrakurikuler dan ekstrakurikuler.

Untuk pembelajaran secara umum di Kelas kepala sekolah melakukan  pengendalian dalam bentuk supervisi kelas  dengan cara melakukan pembinaan-pembinaan terhadap proses pelaksanaan KBM pada saat itu. Jika tidak masuk kelas, kami melakukannya dengan cara penilaian perangkat pembelajaran yang dibuat oleh guru yang bersangkutan. Cara yang kedua adalah dengan supervisei secara klinis, yaitu melakukan pembinaan kepada guru yang bersangkutan baik dilakukan di ruang kepala sekolah maupun dalam rapat dinas dewan guru. Cara seperti ini diharapkan yang datang secara aktif adalah gurunya bukan kepala sekolahnya. Hal ini saya lakukan untuk mencari permasalahan-permasalahan yang terjadi sepanjang proses dan hasil pembelajaran di kelas.

Selanjutnya ditemukan juga bahwa  ketika melaksanakan pembelajaran PAI di kelas, kepala sekolah juga pernah mengadakan supervisi terhadap cara mengajar guru Agama islam di kelas. Juga tidak jarang dilakukan dengan cara bekerjasama dengan Pengawas Pendidikan Agama Islam dari Depag. Seperti yang sudah-sudah bahwa wilayah Pendidikan Agama Islam memang harus ditangani oleh Depag dan dari depag sendiri sudah ditentukan pengawasnya, kepala sekolah  hanya melihat dari sisi administrasinya saja. Nampaknya masalah pengendalian pembelajaran PAI ini memang diatur sesuai dengan pengawas mata pelajaran.

Kegiatan pengendalian program pembelajaran PAI ini juga dilakukan oleh guru agama Islam . dengan cara menilai pembelajaran di kelas dan mengontrol kegiatan keagamaan. Yang tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja tetapi juga afektif dan psikhomotorik.

Penelitian ini juga menemukan bentuk pengendalian melalui ujian tulis dan praktek dengan menggunakan fasilitas masjid dan ruang-ruang khusus agama. Untuk kegiatan praktek ibadah, menggunakan tempat Masjid Sekolah, tetapi jika tempat tersebut berbenturan dengan kegiatan lain seperti waktu dzhuhur banyak yang sholat dzuhur, maka kegiatan praktikum dialihkan ke ruang agama Islam. Di ruang tersebut sudah disediakan alat-alat ibadah dan Al-Qur’an serta dilengkapi dengan Televisi 21 inchi dan player DVD. Jadi kalau memang dalam praktek tersebut menggunakan media yang berkaitan dengan pemutaran praktek-praktek sholat dan baca Al-Qur’an bisa menggunakannya dengan baik tanpa harus mencari media di ruang lain.

Kegiatan pengendalian pengembangan program pembelajaran PAI melalui penilaian hasil belajar siswa di SMP Negeri 4 dilakukan dengan mengkuti prosedur yang sudah diatur dalam pedoman penilaian PAI yang diterbitkan oleh BSNP yaitu dengan Tugas-tugas, Ulangan Harian (UH), Ulangan Tengah Semester (UTS), dan ulangan akhir semester (UAS) atau dikenal dengan UKK (Ujian Kenaikan Kelas) khusus semester genap, juga penilaian afektif dan psichomotor yang diatur dalam penilian akhlak.

Penelitian ini juga menemukan  untuk penilaian Mata Pelajaran PAI, evaluasi pembelajarannya menggunakan model yang sudah ditetapkan oleh BSNP yaitu ada ujian tulis dan praktek. Yang termasuk ujian tulis diambilkan dari ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester. Sedangkan untuk ujian praktek diambilkan dari praktek-praktek keagamaan yang sudah diprogramkan di sekolah seperti rajin sholat wajib dzuhur dan jum’at di sekolah ditambah penilaian akhlak. Penilaian akhlak ini menyangkut; afektif dan psikhomotorik siswa. Untuk penilaian ujian praktek membaca Al-Qur’an yang dinilai adalah makhroj, tajwid, dan kelancaran baca.

Berdasarkan dokumen ujian praktek yang diselenggarakan di sekolah, untuk kelas IX biasanya mempraktekkan sholat dan membaca Al-Qur’an. Teknis pelaksanaannya dengan membagikan kartu yang berisi soal yang akan dipraktekkan dengan cara siswa mengambilnya dari penguji saat itu juga.

Semua bentuk pengendalian yang dilakukan di SMP Negeri 4 Malang mengacu pada Kriteria kenaikan kelas. Untuk PAI harus mencapai minimal 72. jika tidak memenuhinya, maka dilakukan program remedial. Karena itu, ujian tulis maupun praktek dilaksanakan oleh Guru PAI dan sekolah dengan menggunakan nilai angka. Standar kelulusan yang digunakan adalah minimal mencapai angka 72. jika belum mencapai ketentuan tersebut, siswa harus mengikuti program remedial yang jadwalnya ditentukan oleh kurikulum.

 

b. Program Kegiatan Tugas Terstruktur (Pembelajaran Ekstrakurikuler PAI)

Bentuk pengendalian Kegiatan ekstrakurikuler PAI di SMP Negeri 4 Malang dirancang untuk dijadikan media pelatihan yang mendukung pembelajaran PAI di kelas dan pembiasaan bagi siswa untuk mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pengendaliannya hanyalah keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan melalui pengamatan dan daftar hadir serta prestasi yang dicapai.

Adapun mengenai prestasi yang diraih dari kegiatan ini diperoleh informasi bahwa selama tiga tahun terakhir ini sebayak 5 jenis lomba keagamaan yang diraih baik yang diselenggarakan oleh MGMP PAI tingkat kota maupun MGMP Seni Kota Malang. Sementara prestasi tingkat provinsi dan nasonal belum pernah diraih.

Penelitian ini juga menemukan bahwa untuk ekstra Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang ini dikembangkan program TPA dengan nama BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) dan Bahasa Arab, sedangkan untuk pengendaliannya juga lewat supervise kegiatan dengan melihat semacam silabus yang dibuat  dan daftar hadir Pembina ekstra. ada lagi kegiatan yang sudah terprogram dan masuk dalam struktur kurikulum yaitu pembiasaan IMTAQ diisi oleh wali kelasnya masing-masing. Nah kegiatan IMTAQ ini untuk sementara tujuannya supaya anak-anak terbiasa saja dalam melafalkan do’a-do’a harian dan ayat-ayat pendek dalam Al-Qur’an sedangkan untuk agama Kristen ditempatkan dalam kelas khusus untuk dibina tersendiri. Adapaun cara pengendaliannya tidak ada evaluasi  hanya pada daftar hadir wali kelas pada jam tersebut.

Diperoleh informasi bahwa  kegiatan pembelajaran PAI di SMP 4 diadakan praktek pembiasaan budaya religius dan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan seperti BTA dan Bahasa Arab, sholat jum’at di Masjid sekolah, kajian keputrian, pondok romadhon dan peringatan hari besar Islam lainnya. Hal ini dimaksudkan agar para siswa berlatih dan terbiasa mepraktekkan ilmu-ilmu keislaman yang sudah diketahuinya dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi dengan demikian diperoleh kesimpulan bahwa bentuk pengendalian dari semua kegiatan yang berkaitan dengan ekstrakurikuler yang ada di SMP Negeri 4 Malang  adalah dengan melihat daftar hadir Pembina, silabus yang dibuat, dan prestasi yang diraih. kepala sekolah juga berharap agar dikembangkan bentuk-bentuk keteladanan pada anak-anak seperti bersikap ramah, sopan-santun dan terbiasa berbusana muslim.

Kegiatan-kegiatan yang mendukung terhadap keberhasilan pembelajaran pendidikan Agama Islam dapat dilihat juga dalam kegiatan yang ditangani oleh Pembina Osis bidang ketaqwaan, dalam hal ini yang menangani adalah Pak Untung dan Pak Kirman. Melalui kegiatan ini disusun program peningkatan ketaqwaan lewat OSIS. Adapun kegiatannya adalah Sholat Jum’at di sekolah, Bimbingan Keputrian, Pembiasaan Amal Jariyah pada hari Jum’at, Pesantren Romadhon, dan lain-lain. Adapun bentuk pengendaliannya melalui monitoring dan daftar kehadiran siswa dan pembina.

c.  Program Kegiatan Mandiri Tak Terstruktur

Untuk kegiatan-kegiatan yang masuk dalam kegiatan mandiri tak terstruktur adalah pembiasaan suasana religious di kawasan lingkungan sekolah. Program ini dilaksanakan oleh semua warga sekolah dengan nilai-nilai agama yang kental bisa dilihat dalam kebiasaan anak-anak salim kepada bapak/ibu guru, berperilaku sopan-santun kepada siapa saja bila bertemu, ambil sampah setiap melihat sampah berkeliaran dan memasukkannya ke dalam bak sampah, dan lain-lain bentuk pengendaliannya lewat pantauan baik dilakukan oleh guru, wali kelas, maupun kepala sekolah. Kegiatan ini dianggap berhasil di lingkungan sekolah  dengan ditunjuknya sekolah ini menjadi duta mewakili kota Malang dalam lomba adipura, dan adiwiyata tingkat Propinsi.

Dengan demikian dapat disimpulkan  bahwa pengendalian pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang secara menyeluruh dilakukan melalui rapat rutin bulanan dengan melibatkan seluruh staf dan dewan guru. Rapat rutin bulanan tersebut dilaksanakan sebagai control terhadap pelaksanaan kegiatan pendidikan secara keseluruhan di SMP Negeri 4 Malang. Sedangkan pengendalian pelaksanaan program pembelajaran PAI baik program intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kegiatan pembiasaan budaya religius dilakukan dengan mengadakan evaluasi hasil belajar siswa dan kegiatan monitoring melalui supervise kelas, daftar kehadiran Pembina ekstra, hasil prestasi siswa di bidang keagamaan dan terkendalinya siswa dengan kenaikan kelas yang nilaianya ditentukan lewat ketercapaian dengan KKM yang ditetapkan.

Temuan mengenai pengendalian program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang dapat dilihat dalam gambar 4.3.

Program Sekolah

Program Kesiswaan

Pembelajaran Ekstrakurikuler

Evaluasi Program oleh kurikulum

Evaluasi program oleh kesiswaan

Laporan Hasil belajar

Remidi

Pengayaan

Pembelajaran Intrakurikuler

Program Kurikulum

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.3. Kegiatan pengendalian Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang

= =

 

 

BAB V

PEMBAHASAN

Pada bab sebelumnya telah dipaparkan data dan temuan penelitian. Dalam bab ini diuraikan pembahasan mengenai temuan penelitian dari kasus di lokasi penelitian dengan cara melakukan analisis empirik dan teoritik. Pembahasan temuan ini mengacu pada tema yang dihasilkan dari keseluruhan fokus penelitian, yaitu; (1) perencanaan  pengembangan program pembelajaran pendidikan Agama Islam, (2) pelaksanaan pengembangan program pembelajaran pendidikan Agama Islam dan (3) pengendalian pengembangan program pembelajaran pendidikan Agama Islam.

A. Perencanaan Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Perencanaan pengembangan program pembelajaran adalah suatu pemikiran atau persiapan untuk melaksanakan tugas mengajar atau aktivitas pembelajaran dengan menerapkan prinsip-prinsip pengajaran serta melalui langkah-langkah pengajaran; perencanaan itu sendiri, pelaksanaan dan pengendalian  dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentukan.

Kebutuhan akan perencanaan ada pada semua tingkat dan sebenarnya makin meningkat pada tingkat-tingkat yang lebih tinggi, dimana perencanaan itu mempunyai kemungkinan dampak yang paling besar pada keberhasilan organisasi/sekolah. Untuk kepentingan inilah, dalam pengembangan program pembelajaran benar-benar memanfaatkan langkah perencanaan sebaik-baiknya.

Perencanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam dimulai dengan kajian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-KD) PAI, pengembangan indikator sebagai hasil dari kajian SK-KD diatas, dilanjutkan dengan menyusun program tahunan (Prota), program semester (Promes) menyusun pengembangan silabus dan sistem penilaiannya, serta pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) PAI.

Melakukan pengembangan terhadap semua perangkat pembelajaran di atas didasarkan pada Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran (SKK-MP), Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran (SKL-MP) PAI serta Kriteria ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan. Hal ini sesuai dengan yang diamanatkan dalam peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tetang standar nasional pendidikan (SNP) dijelaskan: (1) Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan  pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan di bawah supervise Dinas Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab terhadap  pendidikan untuk SD, SMP, SMA dan SMK, serta departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK (Pasal 17 ayat 2). (2) Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.[146]

Pengembangan terhadap silabus merupakan pengembangan terhadap salah satu dari perangkat pembelajaran yang ada. Dimana silabus merupakan gambaran umum dan kerangka dasar kurikulum yang akan diajarkan kepada siswa. Silabus adalah bentuk pengembangan dan penjabaran kurikulum menjadi rencana pelaksanaan pembelajaran atau susunan materi pembelajaran yang teratur pada mata pelajaran tertentu pada kelas/semester tertentu.[147] SMP Negeri 4 Malang menerima pedoman silabus tersebut dari Diknas atau Depag pusat yang berisi: Standar Kompetensi Mata Pelajaran, Kompetensi Dasar, Kegiatan Pembelajaran, Indikator, Penilaian, Alokasi Waktu, dan Sumber Belajar.

Teknis pengembangan silabus yang dilakukan oleh SMP Negeri 4 Malang  adalah dengan cara mengajak semua guru melakukan rapat kerja khusus, dimulai dengan pemberian orientasi dan pengarahan dari kepala sekolah, dilanjutkan dengan orientasi dari nara sumber, kemudian diteruskan pada actionnya, semua guru diberi waktu untuk membuat pengembangan silabus mata pelajaran yang dibinanya secara berkelompok sesuai dengan mata pelajaran yang dipegang agar diketahui tingkat pemahaman mereka, kemudian diadakan penilaian kembali untuk presentasi dihadapan semua peserta. Setelah usai, semua guru diminta menyempurnakan pengembangan silabus, dan harus sudah jadi sebelum memasuki tahun pelajaran baru.

Berikutnya adalah perencanaan program tahunan yaitu suatu rencana pembelajaran selama satu tahun yang terdiri dari rencana semester 1 dan 2. Lebih lengkapnya program tahunan adalah rencana kegiatan yang akan dilakukan, disampaikan kepada siswa dan dikerjakan oleh guru dalam jangka waktu satu tahun (satu tahun ajaran).[148]

Rencana tahunan paling tidak memuat: Identitas pelajaran, Kompetensi dasar, materi dan alokasi waktu. Berdasarkan dokumentasi pada guru PAI SMP Negeri 4 Malang diketahui bahwa semua guru PAI telah membuat program tahunan (Prota) sebagai dasar pijakan dan schedule apa yang akan mereka ajarkan pada siswa selama satu tahun pelajaran. Program tahunan ini dibuat berdasarkan pengembangan silabus yang sudah mereka buat sebelumnya.

Program tahunan ini kemudian disesuaikan dengan analisis waktu program satu semester dengan format analisis waktu program semester yang berisi sekurang-kurangnya: menganalisa minggu efektif dan tidak efektif, menghitung jumlah jam pelajaran dalam satu semester, menghitung jam untuk kegiatan non tatap muka seperti, ulangan harian, Ulangan Tengah Semester (UTS) cadangan waktu, dan uji kompetensi akhir semester. Kemudian berisi juga tentang perhitungan pekan untuk setiap tatap muka.

Selanjutnya, bahan yang harus dipersiapkan guru adalah program semester. Program semester merupakan penjabaran dan rincian dari program tahunan yang dibuat sebelumnya. Secara lengkap Nazarudin mendefenisikan, program tahunan adalah rencana kegiatan yang akan dilakukan, disampaikan kepada siswa dan dikerjakan oleh guru dalam jangka waktu satu semester dan merupakan penjabaran dari program tahunan yang telah dibuat sebelumnya.[149]

Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam kajian teori bahwa program semester setidaknya memuat antara lain: Identitas pelajaran, kompetensi dasar, komponen pokok/pokok bahasan/sub pokok bahasan, alokasi waktu, bulan dan pekan pelaksanaan. Dalam menentukan alokasi waktu untuk setiap pokok bahasan perlu dipertimbangkan tingkat kesulitan dan keluasan/lain-lain[150]. SMP Negeri 4 Malang dalam menyusun Program tahunan (Prota), Analisis waktu, program semester  dan silabus ini harus sudah selesai sebelum pelajaran hari pertama dimulai. Teknis pembuatan prota dan prosem di SMP Negeri 4 Malang dilakukan bersama-sama dengan guru lain dibawah koordinasi bidang kurikulum. Rencana tahunan, program semester dan silabus belum dapat digunakan secara langsung untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu perlu dibuat rencana pelaksanan pembelajaran (RPP), yang merupakan implementasi program pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus.

Berdasarkan dokumentasi, pada data perencanaan pembelajaran (RPP) semua guru di SMP Negeri 4 Malang, ada kesamaan dalam struktur dan kegiatan yang tercantum di dalamnya, karena format dan modelnya dibuat oleh kurikulum. Bentuk perencanaan pembelajaran dengan konsep yang dibuat kurikulum sama halnya dengan perencanaan konsep kurikulum pelajaran yang lain, diantaranya menyusun kegiatan perencanaan pembelajaran sistematis dan mengidentifikasi konsep-konsep yang akan dibahas serta memilih kegiatan pembelajaran yang sesuai.

Dalam kenyataan, walaupun masing-masing guru memiliki pendapat yang sama tentang perencanaan pembelajaran, namun dalam realisasinya berbeda. Hal itu tampak dari penerapan di dalam kelas, utamanya dalam aplikasi metode pembelajaran. Semua guru menyusun kegiatan secara sistematis berupa RPP, namun dalam penerapan di kelas tidak jarang tidak sesuai dengan apa yang dituliskan dalam RPP. Banyak faktor yang mempengaruhi fakta tersebut, bisa jadi karena waktu, kemampuan guru, keadaan siswa, media dan suasana dalam kelas.

Pembelajaran pada pagi hari misalnya, siswa kelihatannya lebih siap mengikuti pelajaran sehingga penerapan RPP lebih mudah diwujudkan. Akan tetapi suasana pada siang hari, anak tampak banyak terganggu dengan banyak hal, misalnya suasana dalam kelas panas, siswa dalam keadaan lapar, mengantuk dan lain sebagainya. Boleh jadi penerapan RPP sulit untuk diwujudkan pada situasi dan kondisi demikian.

Demikian halnya dengan faktor yang lain, seperti kurangnya media, suasana kelas yang tidak kondusif, motivasi belajar yang rendah dalam pembelajaran agama akan sangat mempengaruhi implementasi RPP di dalam kelas. Namun pada sebagian guru, faktor tersebut boleh jadi bukan menjadi faktor penghambat dalam penerapan RPP, namun menjadi sebuah tantangan bagi guru agar dapat menjadi seorang yang lebih profesional.

Merujuk pada format RPP yang dibuat guru Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang, nampaknya belum secara rinci mempertimbangkan karakteristik siswa dan lingkungan belajar yang dihadapi. Hal ini belum sejalan dengan landasan KTSP yang lebih menekankan pada potensi lingkungan sekitar. Meskipun di SMP Negeri 4 Malang, para siswa rata-rata mempunyai kemampuan belajar yang lebih, namun tidak bisa dipungkiri juga di dalamnya terdapat banyak perbedaan dalam kemampuan siswa. Adanya kelas bilingual, kelas seni dan kelas reguler, mengindikasikan adanya tingkat perbedaan karakteristik siswa di SMP Negeri 4 Malang. Oleh karena itu perlu disusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang berbeda dari ketiga kelas di atas.

Satu sisi penerapan RPP di lingkungan SMP Negeri 4 Malang tidak menjadi masalah, karena input siswa di sekolah ini tergolong baik -diukur dari rata-rata nilai Ujian Nasional (UN) masuk, Namun hal ini menjadi masalah apabila diterapkan pada sekolah yang memiliki input siswa yang rendah atau sekolah yang terletak daerah-daerah terbelakang dari sisi metode pembelajaran atau fasilitas.

Nampak juga bahwa dokumentasi terhadap perencanaan perangkat pembelajaran yang dibuat oleh GPAI SMP Negeri 4 Malang maupun yang ada dalam dokumen II KTSP yang memuat tentang silabus dan RPP PAI belum ada tanda-tanda pengembangannya secara signifikan. Seperti upaya melakukan pengembangan terhadap Standar kompetensi Lulusan (SKL) mata pelajaran PAI belum dilakukan. Juga belum dilakukan upaya pengembangan terhadap Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-KD) Mata pelajaran terhadap masing-masing aspek materi. Bahkan melakukan analisis terhadap bentuk-bentuk perencanaan yang mendukung pengembangan silabus dan RPP juga dibiarkan apa adanya seperti contoh yang ada dalam panduan penyusunan silabus yang dikeluarkan oleh BSNP (Badan Standar nasional Pendidikan) beberapa tahun lalu. Oleh karena itu upaya perbaikan dan pengembangan terhadap perencanaan pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang perlu segera dilakukan agar pelaksanaan pembelajaran PAI di sekolah tersebut benar-benar mampu meningkatkan kualitas lulusannya.

  1. B.     Pelaksanaan Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)
  2. Pengorganisasian Pengembangan Program Pembelajaran PAI

Mengorganisir dalam mengembangkan program pembelajaran merupakan pekerjaan yang dilakukan seorang guru dan kepala sekolah dalam mengatur dan menggunakan sumber belajar dengan maksud mencapai tujuan belajar dengan cara yang efektif dan efisien.[151] Artinya bahwa organisasi merupakan proses pembagian sumber belajar untuk mempermudah mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Jika ditelusuri lebih jauh lagi, pengorganisasian sebenarnya tidak saja berhenti pada pengelolaan sumber belajar, sebagaimana yang dijelaskan Davis bahwa pengorganisasian dalam pembelajaran meliputi: (a) memilih alat taktik yang tepat; (b) memilih alat bantu belajar atau audio visual yang tepat; (c) memilih besarnya kelas (jumlah siswa yang tepat); (d) memilih strategi yang tepat untuk mengkomunikasikan peraturan-peraturan, prosedur serta pengajaran yang kompleks.[152]

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Syafarudin dan Irwan Nasution, bahwa seorang guru perlu menciptakan suasana belajar di kelas yang kondusif dan terarah pada pencapaian tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien diantaranya:

  1. Sebelum guru masuk kelas (pre condition).

Cara yang ditempuh oleh guru adalah: (1) merumuskan apa yang penting dan harus dimiliki oleh siswa; (2) merancang bantuan-bantuan yang cocok akan diberikan kepada siswa; (3) merancang waktu yang sesuai dengan topik/pokok bahasan pelajaran.

  1. Pada waktu guru di kelas (operating procedures)

Cara yang ditempuh mencakup kegiatan berikut: (1) memperhatikan keragaman siswa sehingga guru memperlakukan mereka dengan cara dan waktu yang berbeda; (2) mengadakan pengukuran terhadap berbagai pencapaian siswa sebagai hasil belajarnya.[153]

Pada tahapan di atas maka mutlak diperlukan metodologi yang tepat dalam pembelajaran. Dalam hal ini metode mengajar adalah (1) salah satu komponen dari proses pendidikan; (2) merupakan alat mencapai tujuan yang didukung oleh alat-alat bantu mengajar; (3) merupakan kebulatan dalam satu sistem pengajaran.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam temuan penelitian bahwa pengorganisasian bahan pelajaran yang dilakukan oleh guru Agama islam di SMP Negeri 4 Malang sudah mengacu pada tahap-tahap pengorganisasian secara rapi. Hal ini dapat dilihat dalam temuan penelitian yang menggambarkan bahwa sebelum mengajar di kelas, guru Agama Islam SMP Negeri 4 Malang selalu mengkondisikan kelas diskusi dengan tertib, membuat soal-soal atau bahan yang akan didiskusikan, mengecek kelengkapan dan kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran, menyiapkan siswa berbaris di depan kelas sebelum pelajaran dimulai, serta membuat alat peraga dan media pembelajaran yang aplikatif.

Berdasarkan observasi di kelas dan interview dengan guru PAI SMP Negeri 4 Malang, baik pengelolaan kelas maupun metode yang digunakan guru sangat variatif. Ada guru yang sering menggunakan metode ceramah, metode tanya jawab dan penugasan. Dan ada guru juga menerapkan metode diskusi, pembiasaan dan keteladanan. Guru menyadari bahwa setiap metode memiliki kekurangan dan kelebihan. Oleh karena itu guru tidak menggunakan metode pembelajaran secara terpisah melainkan dengan metode integratif yakni dilaksanakannya berbagai metode dalam satu proses pembelajaran misalnya ceramah digabung dengan tanya jawab dan sebagainya.

Metode-metode tersebut masih bersifat konvensional yakni metode yang lazim digunakan guru.[154] Metode ini sering disebut metode tradisional. Metode tersebut cenderung membuat siswa pasif dalam belajar sehingga tidak banyak pengetahuan yang diserap siswa maupun ketrampilan yang dapat dipelajari siswa sehingga tujuan pembelajaran pada aspek kognitif, psikomotorik dan afektif belum tercapai secara optimal. Meskipun di SMP Negeri 4 Malang telah diupayakan modifikasi metode dengan menambahkan metode keteladanan dan pembiasaan sebagai metode yang disarankan pada pendidikan agama Islam. Namun metode inkonvensional seperti metode pembelajaran modul, pengajaran berprogram, pengajaran unit belum terlihat. Dan terdapat satu metode yang membuat siswa aktif yang sering digunakan guru yaitu metode diskusi. Sedang metode yang dapat membuat siswa aktif lainnya belum diterapkan seperti metode sosiodrama, resume kelompok dan karyawisata.

Ada yang menarik dalam diskusi pembelajaran dalam kelas, utamanya pada kelas IX. Guru sering meminta siswa mendiskusikan tema-tema yang hangat dan sering terjadi dalam kehidupan masyarakat Islam dewasa ini, terlebih problema yang dekat dengan para remaja. Tema-tema yang diangkat dalam diskusi ini, sebagian besar terkait dengan pernikahan/perkawinan. Bagaimana tentang pernikahan sirri, perceraian, nikah hamil, poligami, masturbasi, onani dan tema-tema lainnya yang sering terjadi dalam masyarakat. Bahkan diskusi ini, setiap Jumat siang diselenggarakan di aula SMP Negeri 4 Malang dapat diikuti oleh seluruh siswa putrid dan sebagian guru.

Metode diskusi di atas menurut Syarkawi termasuk metode diskusi dilemma moral. Keunggulan penggunaan metode diskusi dilemma moral dalam meningkatkan pertimbangan moral, secara empiris ditunjukkan oleh penelitian Blatt, Kohlberg, Frankena, Rest, Chazan dan Soltis. Temuan penelitian tersebut mengidentifikasikan bahwa tingkat pertimbangan moral siswa meningkat secara berarti, apabila pendidikan moral diajar dengan menggunakan pendekatan perkembangan kognitif melalui metode diskusi dilemma moral.[155]

Penggunaan pendekatan perkembangan kognitif melalui metode diskusi dilemma moral mampu mengorganisasi struktur kognitif siswa setelah mereka mengalami konflik moral. Reorganisasi struktur kognitif yang terjadi pada seseorang akan melahirkan struktur kognitif baru. Struktur kognitif, menentukan kemampuan individu dalam mempertimbangkan dan menetapkan perilaku moralnya. Pendekatan perkembangan kognitif dalam pendidikan moral melalui metode diskusi dilemma moral telah menarik cukup besar beberapa peneliti selama sepuluh tahun terakhir ini. Berdasarkan beberapa penelitian tentang penggunaan metode diskusi dilemma moral ditentukan sebagian besar daripadanya berhasil mencapai peningkatan pertimbangan moral bila dibandingkan dengan penggunaan metode ceramah bervariasi (tanya-jawab).

Dengan demikian penggunaan metode diskusi dilemma moral dapat mendorong perkembangan seluruh tahap penalaran moral. Jika pelaksanaan penelitian dihubungkan dengan lamanya pemberian perlakuan, maka ditemukan penelitian yang dilakukan selama 7 minggu hanya mencapai 67% (10 dari 15 penelitan) berhasil meningkatkan pertimbangan moral, sedangkan penelitian yang dilakukan selama 18 minggu mencapai 100% (15 dari 15 penelitan) berhasil meningkatkan pertimbangan moral.[156]

Sebagai tambahan bahwa fungsi guru juga sebagai manajer. Sebagai menejer, guru dapat mengorganisasikan program atau bahan pelajaran untuk disampaikan kepada siswa dengan beberapa metode, antara lain: metode ceramah, metode demonstrasi, diskusi, metode tanya jawab, metode drill/latihan, atau metode resitasi/pemberian tugas belajar, karyawisata, sosiodrama, simulasi, dan lain-lain.[157] Dalam menggunakan dan memilih metode, yang penting diperhatikan guru adalah tujuan pengajaran yang akan dicapai, sifat materi pelajaran, kondisi siswa, kemampuan guru dan alokasi waktu. Artinya bahwa pengorganisasian ini erat terkait dengan pengelolaan kelas.

Penggunaan metode pembelajaran oleh guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) di SMP Negeri 4 Malang juga sudah lumayan bagus. Dalam penelitian ditemukan bahwa GPAI SMP Negeri 4 Malang pernah menerapkan metode pembelajaran model Jigsaw, STAD, Ceramah Plus, dan demonstrasi. Akan tetapi dari sekian banyak metode pembelajaran, yang paling sering dilakukan adalah model pembelajaran ceramah plus, dimana dalam metode ini disamping menggunakan pengantar ceramah juga disisipi tanya jawab dan inquiry.

Penggunaan metode dengan model ceramah plus ini sebagaimana yang dinyatakan Ismail [158], merupakan bentuk pengalihan suasana yang menjemukan, dimana dalam metode ini menggunakan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1. Membangun minat siswa dengan cara mengawali pelajaran dengan cerita atau menunjukkan gambar/ilustrasi yang menarik, mengajukan kasus atau masalah, dan member pertanyaan; 2. Memaksimalkan pemahaman dan ingatan siswa dengan cara memberikan kata-kata kunci, member contoh dan analogi, serta menggunakan multi media atau audio visual lainnya; 3. Melibatkan siswa dengan cara member kesempatan siswa menjawab pertanyaan dan member contoh dan menyelingi penyajian dengan aktivitas singkat; 4. Memperkuat pembelajaran dengan cara menerapkan materi pembelajaran pada masalah, meminta siswa mengkaji ulang materi yang disampaikan, dan merangkumnya dalam buku catatan.

Pengorganisasian pembelajaran juga identik dengan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh guru (penanggung jawab) dalam membantu siswa sehingga dicapai kondisi optimal pelaksanaan pembelajaran seperti yang diharapkan.[159] Edmund,  mendefenisikan pengelolaan kelas yaitu: (1) Tingkah laku guru yang dapat menghasilkan prestasi siswa yang tinggi karena keterlibatan siswa di kelas; (2) tingkah laku siswa yang tidak banyak mengganggu kegiatan guru dan siswa lain; (3) menggunakan waktu belajar yang efisien.[160] Kegiatan utama yang dilakukan dalam pengelolaan kelas yaitu: (1) yang berkaitan dengan siswa; (2) yang berkaitan dengan fisik (ruangan, perabot, alat pelajaran). Membuka jendela, merangsang anak untuk belajar maksimal, mengatur bangku, meja dan sebagainya merupakan pengelolaan. Jadi, tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

Dalam penelitian ditemukan bahwa cara guru Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang dalam pengelolaan kelas masih ada yang  menggunakan cara tradisional, dimana model kelas yang diterapkan sebagaian besar mengarah pada satu arah sekalipun pada saat itu guru menggunakan metode diskusi. Hal ini menurut penulis kurang memberi ruang kreativitas siswa, sehingga perlu cara pengelolaan kelas yang modern, seperti formasi huruf  U, formasi lingkaran, formasi corak tim dan lain-lain.

Sebuah kelas dapat dikatakan tertib, dilihat dari indikator yaitu: (1) setiap anak terus bekerja, tidak ada yang berhenti karena tidak tahu tugas belajar yang diberikan kepadanya, (2) setiap anak terus melakukan pekerjaan belajar tanpa membuang waktu agar dapat menyelesaikan tugas belajar yang diberikan kepadanya.[161] Jangan sampai ada anak yang dapat mengerjakan tugasnya, tetapi tidak bergairah dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru, karena situasi dan kondisi kelas tidak mendukung.

Dengan demikian, menurut penulis perlu juga diusahakan suatu pengelolaan kelas dengan perspektif baru. Pengelolaan kelas tidak sekedar pada hal-hal teknis atau menyangkut strategi belaka, namun lebih menyangkut faktor pribadi-pribadi peserta didik yang ada di kelas tersebut. Pengelolaan kelas tidak dapat dilepaskan dari aspek manusiawi dari pembelajaran dan pengajaran.[162] Pengelolaan kelas yang ditekankan pada bagaimana mengelola pribadi-pribadi yang ada akan lebih menolong dan mendukung perkembangan pribadi, baik pribadi peserta didik maupun gurunya.

Kelas atau kegiatan belajar mengajar hendaknya menjadi suasana yang menggairahkan dan mengasyikkan untuk kegiatan eksplorasi diri dan menemukan identitas diri. Maka pengajaran secara integral mesti berkaitan dengan pendidikan nilai. Faktor-faktor penting dalam pengelolaan kelas adalah faktor gurunya, faktor kedisiplinan, dan faktor evaluasi atau penilaian bagi peserta didik. Kesemua faktor tersebut saling berkaitan antara satu dengan lainnya yang harus diperhatikan guru dalam rangka mengelola kelas mencapai tujuan yang maksimal.

 

 

2.  Pengarahan (leading) Pengembangan Program Pembelajaran PAI

Mengarahkan atau dalam istilah lain memimpin adalah pekerjaan yang dilakukan oleh guru dan kepala sekolah untuk memberikan motivasi, mendorong dan membimbing siswa sehingga mereka akan siap untuk mencapai tujuan belajar yang telah disepakati.

Memotivasi siswa, mendorong ataupun membimbing mereka untuk belajar sangat tergantung seberapa besar jalinan yang dapat diperankan guru dalam pergaulannya dengan orang lain terutama dengan siswa. Dengan kata lain kepemimpinan dilaksanakan dengan baik ketika guru sebagai pemimpin mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan siswa atau guru yang lain.

Karakteristik hubungan yang harmonis antara guru PAI di SMP Negeri 4 Malang dengan siswanya dapat dilihat melalui beberapa indikator berikut sebagaimana yang diungkapkan oleh Syafarudin dan Irwan Nasution yakni:[163]

  1. Keterbukaan dan transparansi guru sehingga terjadinya keterusterangan satu dengan lainnya. Hal ini sangat nampak pada persoalan pemberian penilaian hasil belajar siswa. Guru PAI sering terbuka dan transparan bagi siswa yang mengajukan komplen terhadap pemberian nilai guru. Setiap butir penilaian guru dipaparkan sehingga ada rasa kepuasan terhadap nilai yang diberikan guru.
  2. Penuh perhatian, bila tiap pihak mengetahui bahwa dirinya dihargai oleh pihak lain. Sikap saling menghargai dan merasa dihargai ketika ada aturan yang jelas dalam proses pendidikan dalam sekolah. Berdasarkan observasi dan interview, perhatian guru Guru PAI dalam kaitan ini, sangat dihormati dan dihargai oleh siswanya, hal ini nampak disaat guru mulai masuk ke dalam kelas. Siswa diatur oleh aturan harus masuk ke dalam kelas sebelum guru masuk, dimana hal ini menunjukan adanya kesiapan siswa untuk mengikuti pelajarannya. Jika terdapat siswa yang terlambat, hal tersebut dapat mengganggu jalannya proses pembelajaran. Untuk mengeliminir sikap siswa ini, guru PAI memberikan sangsi yang sangat mendidik, yaitu tadarus Al-Qur’an satu juz banyaknya di ruangan mushola. Sanksi ini selain berdampak terhadap berkurangnya tingkat keterlambatan siswa masuk kelas dan melancarkan mereka dalam membaca Al-Qur’an, hal ini juga secara tidak langsung menunjukkan/mengajarkan bagaimana cara agar siswa memberikan perhatian dan penghargaan terhadap guru atau pelajaran PAI atau sebaliknya.

Demikian juga perhatian guru terhadap siswa dapat dilihat melalui sikapnya dalam mengajar. Pendapat siswa walaupun jauh dari yang diharapkan, sangat dihargai oleh guru. Begitupun dalam interaksi keseharian guru, jika ada siswa yang membutuhkan mereka, sesibuk apapun itu, guru menyempatkan waktu untuk memberikan layanan selayaknya kepada siswanya.

  1. Adanya saling ketergantungan. Sikap saling ketergantungan dapat dilihat baik dalam interaksi dalam pembelajaran formal dalam kelas maupun di luar kelas. Di luar kelas, sikap ketergantungan ini justru lebih nampak. Sebagai contoh, disaat siswa merencanakan suatu kegiatan baik itu bersifat umum atau ada kaitannya dengan keagamaan (PAI), saran dan masukan ide dari guru PAI masih dibutuhkan siswa, walaupun dari segi kemandirian siswa SMP Negeri 4 Malang, diakui sudah cukup dibanggakan. Hal ini terjadi bukan semata-mata karena guru PAI merupakan pejabat wakil kepala sekolah urusan kesiswaan namun juga karena saran yang dikemukakan bisa diterima oleh siswa dan mengena kepada sasaran yang diharapkan bersama.
  2. Keterpisahan, untuk memungkinkan guru dan siswa menumbuhkan dan mengembangkan keunikan, kreativitas dan individualitas masing-masing. Dalam kaitannya dengan point ini, peranan guru nampak disaat pembelajaran dalam kelas. Ada kecenderungan guru PAI berusaha untuk menciptakan suasana yang menantang kreativitas siswa dengan berbagai teknik pembelajaran seperti pemberian tugas makalah atau dalam bentuk yang lain. Sehingga dengan metode dan teknik ini, muncul keunikan dan karakteristik masing-masing individu dalam mengolah tugas yang dibebankan kepadanya. Contoh kongkritnya, pernah ada siswa SMP Negeri 4 Malang yang menampilkan uraian makalahnya PAI dengan menggunakan pendekatan ilmu Sains yang sangat jarang dilakukan oleh siswa seusianya, seperti tema tentang kiamat, dibahas oleh siswa lewat pendekatan ilmu pengetahuan.
  3. Pemenuhan kebutuhan bersama sehingga tidak ada satu pihak yang dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan pihak lain. Lewat sangsi yang diterapkan bagi siswa yang terlambat masuk kelas, memungkinkan semua kebutuhan siswa tidak dikorbankan. Keterlambatan siswa masuk kelas, selain mengganggu proses jalannya pembelajaran, juga berdampak pada kuantitas pembelajaran. Artinya ketika siswa yang terlambat masuk ke dalam kelas, tentunya banyak hal yang telah dijelaskan oleh guru atau diskusi siswa terlewati begitu saja. Khusus pada kelas IX penerapan sangsi cukup tegas dan diarahkan pada sangsi yang lebih mendidik seperti baca al quran satu juz (‘Amma) bagi siswa yang terlambat. Namun metode yang baik ini, tidak ditemui di kelas-kelas dibawahnya namun ditemui juga di kelas VII dan VIII ketika ada siswa yang terlambat mereka disuruh do’a menggunakan lafal dan teks Arab di depan kelas dengan suara keras.

Hubungan baik ini, sebagian guru PAI dapat menjalankan dengan baik, meskipun demikian pada sebagian guru justru kurang nampak atau kurang dapat diperankan dengan baik. Hal tersebut nampak dari ungkapan guru maupun siswa yang seolah-olah mengungkapkan pembelajaran PAI hanya sebagai pelajaran pelengkap saja. Dari sisi ini, mengindikasikan bahwa keinginan untuk belajar agama masih perlu ditingkatkan.

Guru sebagai motivator sedapat mungkin mempengaruhi siswa melakukan kegiatan belajar. Pemberian pengaruh dan bimbingan dalam konteks mengajar, guru sebagai pemimpin melakukan dua usaha utama, yaitu: (1) memperkokoh motivasi siswa, (2) memilih strategi mengajar yang tepat.[164] Berdasarkan observasi dalam penelitian ini, guru tidak henti-hentinya berusaha untuk memotivasi siswa. Begitupun dengan pemilihan strategi pembelajaran, juga sudah ditetapkan sejak tatap muka perdana, namun sebagian guru tidak dapat menjalankan dengan maksimal, bahkan sebagian cenderung monoton sehingga siswa nampak bosan dengan model pembelajaran tersebut.

Adapun usaha untuk memikat hati siswa telah banyak dilakukan guru misalnya dengan penyampaian informasi dengan bahasa yang dapat dipahami siswa, baik dengan bahasa lokal (bahasa Jawa) maupun dengan bahasa Indonesia. Berikutnya guru memberikan contoh atau menjelaskan kegunaan dan hal lain yang dirasa dapat memikat siswa untuk senantiasa merasa haus akan agama atau dengan menggunakan media pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi menarik. Namun hal ini tidak selamanya berjalan maksimal disebabkan adanya kendala lainnya diantaranya media pembelajaran yang terbatas.

Dari segi hubungan dengan siswa dalam konteks kepemimpinan, gaya kepemimpinan yang terapkan guru PAI di SMP Negeri 4 Malang sebagian besar adalah kepemimpinan yang demokratis dimana dalam pengambilan keputusan, guru lebih menyerahkan kepada siswa secara koordinatif. Sedangkan untuk gaya kepemimpinan yang otoritatif yang cenderung akan menumbuhkan sikap pasif dan agresif, tidak nampak selama dalam penelitian ini.

Demikian juga dalam interaksi pembelajaran, guru menempatkan diri bukan satu-satunya sebagai sumber informasi, tapi memberikan kesempatan kepada siswanya untuk melontarkan pendapat, ide atau gagasannya sesuai dengan pengalaman dan kemampuan mereka masing-masing.

Terkait dengan upaya memberikan motivasi kepada siswa agar tertarik mempelajari dan mengamalkan agamanya, guru PAI juga melakukan analisis motif-motif yang melatarbelakangi siswa malas melaksanakan sholat, menurun minatnya terhadap PAI dan lain sebagainya. Analasis guru, banyak dilakukan, melalui penilaian afektif dengan ulangan lisan terhadap afeksi siswa dan juga lewat pengajaran dalam kelas yang mengarah pada penyadaran akan sikap yang dirasa masih kurang maksimal dalam mengamalkan agama. Selanjutnya, diikuti dengan memberikan penguatan, penyadaran akan kebutuhan setiap manusia terhadap agamanya.

Bentuk pengarahan yang dilakukan oleh guru PAI SMP Negeri 4 Malang adalah pemberian motivasi. Motivasi ialah kekuatan yang tersembunyi di dalam diri dan mendorong seseorang berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khusus atau tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu.[165] Dengan bentuk penyadaran seperti halnya yang dilakukan guru sebagaimana penjelasan di atas, siswa dengan sendirinya akan memahami kelemahan atau dampak dari perbuatannya, sehingga dengan sendirinya motivasi untuk merubah kearah yang baik secara otomatis akan muncul dalam dirinya. Proses yang muncul dari dalam diri seperti inilah sering disebut dengan istilah lain motivasi intrinsik.

Motivasi intrinsik sebagaimana yang dinyatakan oleh Mulyasa, adalah dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi ini biasanya muncul karena adanya keinginan mencapai tujuan yang terkandung dalam perbuatan belajar seseorang.[166] Motivasi intrinsik inilah kemudian membuat perilaku siswa cenderung menjadikan kesadaran beragama di kalangan siswa SMP Negeri 4 Malang lebih berkualitas. Dengan kata lain, sebagian besar siswa melaksanakan perintah agama seperti shalat, bukanlah semata-mata sekedar ikut-ikutan atau takut akan hukuman dari guru, atau hanya sekedar pamor dihadapan orang lain namun dipastikan karena kesadaran dirinya akan pentingnya melaksanakan perintah agama, karena berbagai hikmah dan manfaat yang dapat dihasilkan dari perbuatan tersebut.

Fenomena menarik itu dapat kita saksikan sehari-harinya di lingkungan SMP Negeri 4 Malang, salah satunya kegiatan shalat berjamaah. Setiap harinya banyak siswa dengan tanpa perintah dari guru atau perintah dari siapapun mereka berbondong-bondong ngumpul di mushola untuk melaksanakan sholat. Demikian juga dengan bersalaman, berjabat tangan dan lain sebagainya.

3.  Pelaksanaan Pengembangan Program Pembelajaran PAI

Pelaksanaan pengembangan Program pembelajaran dapat dikategorikan dalam beberapa tahapan kegiatan yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir pembelajaran sebagaimana uraian dibawah:

  1. Kegiatan awal (pendahuluan)

Kegiatan awal dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada siswa, memusatkan perhatian, dan mengetahui apa yang telah dikuasai siswa berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari. Kegiatan awal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dalam bentuk apersepsi dengan memberikan ilustrasi berupa gambar, cerita, film, dan beberapa pertanyaan untuk menggali pemahaman.

Berdasarkan observasi karakteristik pembelajaran di kelas VII, VIII dan IX terdapat beberapa perbedaan. Hal ini salah satu penyebab karena faktor gurunya yang berbeda atau tingkat pemahaman siswa di kelas yang satu dengan lainnya berbeda. Namun dari perbedaan tersebut terdapat sisi kesamaan yang akan diuraikan sebagai berikut.

Model pembelajaran yang lazim digunakan diselenggarakan oleh Guru PAI di kelas VIII dimulai dengan berdoa bersama, kemudian dilanjutkan Kultum (kuliah tujuh menit) atau semacam ceramah singkat dari Guru. Kegiatan kultum ini dilaksanakan secara rutin dengan tujuan siswa diberi bekal untuk menyerap materi yang akan dipelajari pada saat itu. Tentu saja guru harus pandai-pandai mengaitkan materi kultum dengan materi yang akan dipelajari. Kegiatan ini dilaksanakan  pada tiap pertemuan jam pelajaran agama Islam kelas VIII SMP Negeri 4 Malang.

Setelah kultum, selanjutnya pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah dipimpin oleh siswa yang bertugas secara bergiliran yang jadwalnya sudah diatur oleh ketua kelas. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dari guru tentang kandungan ayat yang tersirat di dalamnya, kemudian dihubungkan dengan materi yang akan dipelajari yang diselingi dengan pertanyaan secara bergiliran kepada setiap siswa.

Pertanyaan guru, terkadang mengenai batas materi yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya, terkadang juga bertanya tentang materi yang terkait dengan pelajaran sebelumnya. Hal ini tentunya merupakan strategi guru dalam mengawali pembelajaran, yang bertujuan menarik perhatian siswa, mengetahui tingkat penguasaan materi sebelumnya dan juga untuk mengetahui kesiapan siswa dalam mengikuti pelajarannya.

Berbeda halnya dengan pembelajaran di kelas VII, dimana guru tidak memulai dengan kultum tetapi mengawali pembelajaran dengan tadarrus Al-Qur’an secara berjamaah, yang dilanjutkan dengan penjelasan makna yang terdapat dalam kandungan ayat tersebut.

Dalam penjelasan kandungan ayat, guru juga sering menghubungkannya dengan kejadian sosial dan fenomena alam yang menjadi trend saat itu untuk menghindari kebosanan dalam pembelajaran agama di kelas, mengingat tingkat kemampuan berfikir pada pengetahuan umum lebih mendominasi dalam pembelajaran di SMP Negeri 4 Malang. Sebagai contohnya, ketika guru menjelaskan kompetensi al Qur’an tentang ayat yang berhubungan dengan kebaikan pada QS. al Insyirokh ayat 1-8. Disitu guru menghubungkannya dengan fenomena di sebagian masyarakat yang mengalami kesempitan hidup karena bencana alam seperti meluapnya Lumpur Lapindo Brantas di Sidoarjo atau gempa di Yogyakarta, yang nota bene membutuhkan uluran tangan dari para orang kaya, untuk mengeluarkan sebagian hartanya demi membantu mereka yang membutuhkan tersebut.

Selain itu, dalam observasi ditemukan, guru pada kegiatan awal ini, jika sempat memberi tugas pada siswa pada tatap muka sebelumnya, guru terlebih dahulu memeriksa dan mengembalikan pekerjaan rumah siswa serta mengomentari jawaban mereka. Komentar ini tentunya dalam rangka mengoreksi (meluruskan) jika jawaban mereka kurang tepat. Sesekali dalam komentar guru juga, dalam bentuk reward verbal[167] jika terdapat jawaban siswa yang sudah tepat.

Sedangkan untuk kelas IX, guru PAI memulainya dengan doa bersama, dilanjutkan dengan tadarrus berjamaah beserta pembacaan terjemahnya yang dipimpin langsung oleh guru. Setelah itu, guru memberikan sedikit penjelasan tentang makna yang terkandung dalam ayat yang baru saja mereka baca.

Kegiatan selanjutnya adalah kultum dari guru yang akan mengajar. Guru yang  membawakan kultum ini bebas memilih tema apa yang akan disampaikan di depan kelas. Dengan model ini, siswa diharapkan mampu bisa mencontohnya yang pada akhirnya siswa diberi  tugas untuk melaksanakan kegiatan tersebut  selama 7-10 menit. Selanjutnya guru memberi appersepsi  dengan tanya jawab seputar kultum yang dibawakan tadi tentu saja materinya sudah disesuaikan dengan bab yang akan dibahas.

Model pembelajaran di awal kegiatan seperti ini, mirip dengan apa yang dilaksanakan di kelas VII, hanya saja pada kelas VII, tadarus dan membaca terjamahnya dipimpin oleh guru, sedangkan di kelas IX tadarus dan pembacaan terjamah secara berjamaah dipimpin oleh siswa. guru hanya memberi motivasi dengan cara memberi kultum dan mengaitkannya dengan materi yang akan dipelajari.

Dari deskripsi di atas tentang teknik-teknik pembelajaran di awal kegiatan seperti menjelaskan sekaligus melontarkan pertanyaan kepada siswa atau dalam bentuk mengoreksi pekerjaan siswa, dapat diidentifikasi sebagai kegiatan apersepsi. Metode apersepsi, salah satu teknik pembelajaran dengan menggali atau menghubungkan materi yang telah dipelajari/dikuasai siswa sebelumnya, dengan materi yang akan dipelajari.[168] Apersepsi ini menjadi titik tolak dalam memulai pelajaran baru.

Dalam hal ini, guru dapat menempuh jalan pelajaran secara induktif yaitu: (1) Dari contoh-contoh menuju kepada kaidah-kaidah; (2) dari hal-hal yang mudah kepada yang sulit; (3) dari hal-hal yang khusus kepada yang umum dan: (4) dari hal yang konkret kepada yang abstrak.[169]

Berikut pada kegiatan kultum, terdapat dua hal yang bisa diperoleh dari kegiatan tersebut, yaitu: Pertama secara psikologis, siswa mendapatkan penguatan dari tema-tema yang disampaikan kepada orang lain- sebagai bentuk untuk menemukan dirinya sendiri dan pada saat yang bersamaan terbangun suasana egaliter antara guru dan siswa. Untuk mencapai proses ini kemauan keras dari guru menjadi modal utama. Guru dituntut untuk lebih bersahabat dengan siswa, tidak ‘gila hormat’ dan rendah hati dengan tidak mengurangi kewibawaan guru dihadapan siswa demi mengutamakan kepentingan proses pendewasaannya.

Kedua, dalam pemahaman penulis, peran guru adalah menjadi fasilitator untuk mengaktifkan para siswa mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang tema dari berbagai sumber dan membantu menemukan serta menyakini nilai universal yang ada dalam Islam sebagai sarana penting untuk membantu manusia mencapai keselamatan dalam hidup. Dalam kehidupan generasi yang sangat berbeda dengan masa lalu, dimana persoalan kehidupan lebih rumit dan berat. Misi agama untuk membantu manusia mendapatkan keselamatan dalam hidup harus selalu diterjemahkan dalam konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda.

Dengan pembiasaan kultum, sebenarnya siswa dilatih untuk dapat mencontoh  dan mengatakan sekaligus mempraktekan nilai-nilai yang disampaikan oleh guru tersebut yang pada akhirnya diharapkan bisa dipraktekkan dalam kehidupan siswa di masyarakat nanti. Dengan belajar mengatakan, siswa dituntut bertanggung jawab dengan apa yang diterapkan . Dengan begitu, peluang internalisasi nilai akan tercapai maksimal. Hal ini sesuai penelitian bahwa, dengan mengatakan siswa dapat belajar sebanyak 70%. Jika dia mengatakan dan melakukan, siswa dapat belajar sebanyak 90%[170]

Begitu pula halnya dengan kegiatan tadarrus Al-Qur’an yang dilakukan secara terus menerus dan konsisten pada setiap jam pelajaran, dapat memberikan dampak yang besar dalam diri siswa. Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang dan terus menerus selain menambah kelancaran dalam membaca Al-Qur’an, tadarrus juga dapat menjadi sebuah kebiasaan.

Berawal dari pembiasaan, selanjutnya siswa akan secara terus-menerus melakukan kegiatan tersebut yang pada akhirnya akan menjadi suatu tradisi yang akan terpancang dalam diri selama hidupnya. Inilah bentuk strategi pengintegrasian pendidikan moral yang efektif.[171] Pembiasaan tadarrus Al-Qur’an, memang memerlukan waktu yang lama, tetapi apabila kegiatan positif ini telah terbiasa pada diri seseorang (siswa), maka hal itu menjadi suatu pola hidupnya sepanjang hayatnya.

  1. Kegiatan Inti

Kegiatan inti merupakan kegiatan utama dalam rangka menanamkan/mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang berkaitan dengan bahan kajian yang bersangkutan.

Dalam kaitannya dengan kegiatan inti pembelajaran, terdapat berbagai teknik dan cara yang ditemui pada penyampaian pembelajaran PAI oleh masing-masing guru di SMP Negeri 4 Malang. Pada kelas IX misalnya, setelah guru mengadakan kegiatan awal seperti kultum, tadarrus, dan penjelasan makna yang terkandung dalam ayat , guru kemudian menjelaskan beberapa konsep-konsep dan pokok-pokok materi yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Pada pertemuan perdana, guru menjelaskan tentang konsep-konsep dan garis besar pokok materi yang kemudian sering diselingi dengan lontaran pertanyaan-pertanyaan yang menantang siswa untuk mengeluarkan pendapatnya. Hampir sering terlihat dalam aktifitas pembelajaran muncul pertanyaan yang sifatnya terbuka sehingga memotivasi siswa untuk mengeluarkan pendapatnya.

Selanjutnya, guru membagi tugas dengan tema atau kompetensi/sub kompetensi yang berbeda-beda sesuai dengan target kurikulum pada kelas IX, yang dibagi dalam beberapa kelompok, untuk didiskusikan pada pertemuan berikutnya, yang tentunya terkait dengan kompetensi yang telah dijelaskan.

Dalam pembelajaran di kelas IX, ada sesuatu yang unik dalam pembelajarannya, yaitu dengan menggunakan metode diskusi yang sifatnya menantang kreativitas siswa. Bentuk rangsangan dan tantangan ini tentunya bersifat akademis. Guru memotivasi siswa untuk dapat tampil menjadi kelompok ‘the excellence’ lewat diskusi di kelas. Kriteria penilaian sebagai kelompok terbaik ini, dengan melihat bahasan dan isi makalah dan penampilan kelompok dalam presentasi makalah. Selanjutnya kelompok yang tergolong ‘the excellence’ akan mewakili kelasnya untuk mempresentasikan makalah terbaiknya dihadapan seluruh teman-temannya yang muslim (terutama kelas IX), pada pelajaran pembiasaan Imtaq  yang diselenggarakan setiap Jumat siang satu jam pelajaran menjelang pulang jam ke 5 (jam 10. 20 sampai dengan 11. 00 WIB)

Pada pembelajaran kelas VIII, terlebih pada kompetensi Al-Qur’an, guru sering mengaitkan antara ayat yang akan dibaca pada tadarrus, dengan materi pelajaran yang akan diajarkan pada saat itu. Setelah melakukan kegiatan awal seperti yang dijelaskan di atas, seperti tadarus, mengoreksi pekerjaan siswa (jika ada), kemudian guru meminta siswa untuk mengulang-ulang bacaaan ayat tersebut sampai menghafalnya, dimulai dengan membaca secara berjamaah kemudian diteruskan dengan membaca sendiri-sendiri. Sambil membaca ayat tersebut, guru selalu menyimak dengan seksama dan kemudian mengoreksi bacaan siswa dengan memberi contoh bacaan yang benar/fasih sesuai dengan ketentuan ilmu tajwid, setelah itu guru meminta siswa menirukan bacaan guru tersebut.

Kegiatan selanjutnya, guru meminta siswa menunjukan kata-kata sulit dalam ayat dan dilanjutkan mengartikan kata tersebut secara bersama-sama. Setelah semua kata sulit diartikan, guru meminta siswa menjelaskan hukum tajwid yang terdapat dalam ayat tersebut. Disamping menjelaskan hukum tajwid, guru sesekali melontarkan pertanyaan kepada siswa tentang apa yang baru saja dijelaskan, hal ini dalam rangka untuk mengetahui kemampuan memahami apa yang baru saja dijelaskan. Selanjutnya guru meminta masing-masing siswa untuk menyalin ayat dan hadis dengan tulisan mereka sendiri, guna melatih kecakapan siswa menulis ayat. Salinan ayat ini, biasanya diminta guru untuk disetorkan pada tatap muka minggu berikutnya.

Diskusi berakhir disaat pertanyaan, tanggapan atau komentar dari siswa lainnya sudah tidak ada. Terkadang jika waktu 2 jam pelajaran yang tidak mencukupi, artinya diskusi terus berlanjut, maka guru meluangkan waktu pada pertemuan minggu depan untuk melanjutkan diskusi tersebut. Dan diskusi seperti ini, menurut komentar guru PAI sempat terjadi beberapa kali, namun lebih banyak diskusi tersebut selesai pada sekali pertemuan. Setelah diskusi berakhir, guru menjelaskan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban siswa, sekaligus menuntaskan segala problema yang muncul dalam diskusi.

Dalam pembelajaran PAI, pada dasarnya model pembelajaran di kelas reguler tidak jauh berbeda dengan apa yang diterapkan di kelas bilingual. Hanya saja kelas bilingual banyak materi pengembangan karena kelas ini secara akademik diatas rata-rata kelas regular dan kelas seni. Pada umumnya guru PAI tidak  membedakan , karena silabus dan RPP nampaknya untuk mata pelajaran PAI tidak dituntut banyak, kecuali mata pelajaran yang diujinasionalkan. Disamping ada jam tambahan juga ada kursus-kursus.

Melihat fenomena pembelajaran di atas, nampak bahwa proses pembelajaran sudah sesuai dengan derap langkah yang diinginkan oleh KTSP, yaitu agar siswa memiliki kemampuan dan kompetensi dalam bidang-bidang sesuai dengan apa yang diajarkan di sekolah, termasuk pendidikan agama di dalamnya. Meskipun demikian, tidak dipungkiri dalam pelaksanaan pembelajaran masih terdapat kelemahan, baik itu dari cara penyampaian materi atau dalam hal lainnya. Guru sebagai aktor dalam merencanakan, mengorganisasikan dan menilai pembelajaran atau sebagai fasilitator, diharapkan dapat berperan maksimal dalam pekerjaannya.

Agar guru mampu memerankan dirinya sebagai fasilitator pembelajaran, menurut penulis terdapat beberapa hal yang harus dipahaminya dari peserta didik yaitu kemampuan, potensi, minat, hoby, sikap, kepribadian, kebiasaan, catatan kesehatan, latar belakang keluarga dan kegiatan di sekolah.

Sehubungan dengan pengembangan KTSP, guru perlu memperhatikan perbedaan individual peserta didik, sehingga dalam pembelajaran harus berusaha melakukan hal-hal sebagai berikut: (1) mengurangi metoda ceramah; (2) memberikan tugas yang berbeda bagi setiap peserta didik; (3) mengelompokkan peserta didik berdasarkan kemampuannya, serta disesuaikan dengan mata pelajaran; (4) memodifikasi dan memperkaya bahan pembelajaran; (5) menghubungi spesialis, bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan; (6) menggunakan prosedur yang bervariasi dalam membuat penilaian dan laporan; (7) memahami bahwa peserta didik tidak berkembang dalam kecepatan yang sama; (8) mengembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap anak bekerja dengan kemampuan masing-masing pada setiap pelajaran, dan; (9) mengusahakan keterlibatan peserta didik dalam berbagai kegiatan pembelajaran.[172]

  1. Kegiatan Akhir (penutup)

Kegiatan ini adalah kegiatan untuk memberikan penegasan atau kesimpulan dan penilaian terhadap penguasaan bahan kajian yang diberikan pada kegiatan inti. Pada kegiatan ini dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut berupa pekerjaan rumah dan lain-lain.

Pada kegiatan akhir, hampir semua guru PAI di SMP Negeri 4 Malang tidak memiliki perbedaan dalam pembelajarannya. Pada dasarnya kedua guru pada akhir pembelajaran memberikan penegasan dan kesimpulan serta penilaian terhadap penguasaan bahan kajian yang diberikan pada kegiatan inti.

Adapun penilaian akhir (post test), guru melakukannya dalam bentuk tanya jawab tentang apa yang belum dipahami oleh siswa. Hal-hal yang belum dipahami siswa, guru meminta siswa untuk ditanyakan, namun jika tidak ada yang bertanya dianggap sudah paham atau terkadang guru pun berbalik melontarkan pertanyaan kepada siswa secara bergiliran.

Penilaian akhir dalam bentuk pemberian tugas rumah atau pekerjaan rumah (PR) tidak jarang terjadi. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah mereka masing-masing, misalnya saja tugas untuk menuliskan kembali ayat-ayat Al-Qur’an yang baru saja dijelaskan dan menjelaskan tajwid yang ada dalam ayat tersebut. Hal ini bermaksud untuk mengetahui sejauh mana penguasaan materi yang telah dijelaskan dan melatih siswa mencapai kompetensi tertentu seperti mampu menuliskan ayat Al-Qur’an, dan lain sebagainya.

Selanjutnya pada kegiatan akhir, khusus untuk kelas VII dan IX, tindak lanjut dari penjelasan tentang pokok-pokok materi pembelajaran dilakukan dalam bentuk pembagian tugas kelompok. Masing-masing kelompok mendapatkan judul atau tema (kompetensi atau sub kompetensi) yang berbeda-beda, untuk dipresentasikan pada minggu berikutnya sesuai dengan jadwal yang diatur oleh guru. Terkhusus pada kelas VIII, kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pekerjaan rumah (PR), seperti menyalin ayat atau hadis dan lain sebagainya.

Terkait dengan pelaksanaan pengembangan program pembelajaran ekstrakurikuler,  Kegiatan ekstrakurikuler PAI di SMP Negeri 4 Malang terdiri atas program wajib dan program pilihan. Setiap siswa paling banyak mengambil dua kegiatan ekstrakurikuler. Jenis kegiatan ekstrakurikuler di SMP Negeri 4 Malang sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa program yang dikembangkan adalah Baca Tulis Al-Qur’an (BTA), Bahasa Arab (Kondisional), Kegiatan Keputerian setiap Jum,at siang, Pembinaan Imtaq satu jam pelajaran dan lain-lain. Secara spesifik kegiatan ekstrakurikuler yang terkait dengan PAI ditangani oleh organisasi badan otonom yang juga di bawah naungan OSIS yaitu Seksi Ketaqwaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan yang dilaksanakan dapat dilihat pada lampiran tabel berikut.

Berdasarkan observasi penulis bahwa kegiatan eskul yang menunjang pembelajaran PAI sangat aktif dan rutin dilaksanakan meskipun dalam pelaksanaannya terdapat berbagai hambatan seperti kurangnya minat dan antusias siswa kelas VII terhadap kegiatan  setiap Jumat Siang. Hal ini disebabkan, boleh jadi karena tidak adanya tuntutan  untuk mengikuti kegiatan tersebut atau semacam punishment (hukuman), baik dari sekolah maupun dari guru PAI sendiri. Walaupun dalam kondisi demikian, para mentor (instruktur) yang juga alumni SMP Negeri 4 Malang, tidak segan-segan meluangkan waktu membimbing adik-adiknya.

Di samping kegiatan rutin di atas, terdapat juga berbagai agenda kegiatan lainnya yang bernuansa keislaman yang diselenggarakan sekolah atau siswa  baik yang berskala kecil maupun besar. Kegiatan tersebut diantaranya kegiatan silaturahmi antar seluruh civitas sekolah yang dikenal dengan istilah ‘Syawalan’ atau halal bihalal di lingkungan sekolah setiap tanggal 1 Syawal. Berikut, terdapat kegiatan penyembelihan hewan qurban setiap hari raya Idhul Adha, buka puasa bersama (tahun 2009 sempat dilaksanakan di Masjid Kampus UM), dan even besar lainnya yaitu kegiatan Pensi Islami yang diselenggarakan untuk seluruh warga SMP 4 Malang.

Dari data-data tersebut, secara psikologis dapat dilihat bahwa terdapat berbagai macam keinginan siswa (karena usia remaja), yang kiranya perlu difasilitasi dan diarahkan pada hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi mereka untuk masa depan. Jika keinginan mereka tidak dapat terpenuhi karena bermacam-macam kendala dan yang sering terjadi adalah tidak tersedianya biaya. Adanya bermacam-macam larangan dari orang tua seringkali melemahkan atau mematahkan semangat para remaja. Kebanyakan remaja menemukan jalan keluar dari kesulitannya setelah mereka berkumpul dengan rekan sebaya untuk melakukan kegiatan bersama. Mereka melakukan suatu kegiatan secara berkelompok sehingga berbagai kendala dapat di atasi bersama-sama. [173]

Dari sini, sangat tepatlah kiranya, apa yang telah diciptakan dan dilakukan dalam lingkungan akademik SMP Negeri 4 Malang, dimana kegiatan ekstrakurikuler sangat banyak dan aktif. Bahkan para siswa baru, diwajibkan mengikuti dua kegiatan ekstrakurikuler berdasarkan pilihannya masing-masing. Saking padat dan banyaknya kegiatan, sampai-sampai kegiatan ini dilaksanakan sampai sore hari baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Dari kegiatan inilah kecenderungan sikap negatif siswa dapat dicegah dan dapat dialihkan kepada hal-hal positif.

 

  1. C.     Pengendalian Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

Pengendalian adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan untuk mengadakan pengawasan, penyempurnaan dan penilaian untuk menjamin agar tujuan dapat dicapai seperti yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Dalam pengendalian terdapat kegiatan monitoring hasil-hasil dan membandingkannya dengan standar, menentukan penyebab-penyebabnya, dan memperbaiki penyimpangan-penyimpangannya.[174]

Usman menyatakan pengendalian adalah proses pemantauan, penilaian dan pelaporan rencana atas pencapaian tujuan yang telah ditetapkan untuk tindakan korektif guna penyempurnaan lebih lanjut[175]. Pengendalian berbeda dengan pengawasan. Perbedaannya terletak pada wewenang yang ada. Karena itu, pengendalian memiliki wewenang turun tangan yang tidak dimiliki oleh pengawas. Pengawas hanya sebatas memberi saran, sedangkan tindak lanjutnya dilakukan oleh pengendali, karenanya pengendalian lebih luas daripada pengawasan. Meskipun demikian pengendalian juga sering disebut dengan pengawasan, sehingga pengendalian diartikan sebagai proses kegiatan melihat apakah yang terjadi itu sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi, jika tidak maka akan dilakukan penyesuaian. Dalam tulisan ini selanjutnya disebut dengan istilah pengendalian. Nur Ali dalam Murdick dalam fatah menyatakan pengendalian merupakan proses  dasar yang secara esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasnya suatu organisasi.[176] Proses dasarnya terdiri dari tiga tahap yaitu; menetapkan standar pelaksanaan, pengukuran pelaksanaan pekerjaan dibandingkan dengan standar, dan menentukan kesenjangan antara pelaksanaan dengan standar  dan rencana.

Salah satu fungsi pengendalian adalah mengadakan koreksi sehingga apa yang sedang dilakukan bawahan dapat diarahkan dengan benar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sukmadinata menyatakan ada tiga cara pengendalian yang dapat dilakukan oleh pemimpin[177]. Pertama pengendalian umpan maju (feedforward) dilakukan sebelum pekerjaan dimulai. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi kemungkinan masalah yang akan muncul serta melakukan tindakan-tindakan pencegahan. Kedua, pengendalian konkuren (concurent controls) yaitu memusatkan kegiatan pengendalian pada apa yang sedang berjalan atau proses pelaksanaan kegiatan. Cara pengendalian ini disebut steering controls, monitoring pekerjaan atau kegiatan yang sedang berjalan untuk meyakinkan bahwa segala sesuatu telah berjalan dengan baik. Ketiga, pengendalian umpan balik (feedback controls) atau disebut juga postaction controls, yaitu pengukuran dan perbaikan dilakukan setelah kegiatan dilakukan. Sedangkan proses pengendalian terdiri atas tiga langkah universal yaitu; mengukur perbuatan, membandingkan perbuatan, dan memperbaiki penyimpangan dengan tindakan pembetulan[178].

Dengan demikian, pengendalian berarti melakukan kegiatan yang terencana untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu pengendalian berkaitan erat dengan fungsi perencanaan, pengorganisasian, dan pengarahan. Pengendalian juga sangat menentukan baik-buruknya pelaksanaan suatu rencana karena tujuan pengendalian agar proses pelaksanaan dilakukan sesuai dengan ketentuan rencana dan melakukan perbaikan jika terdapat penyimpangan dalam pelaksanaannya, sehingga tujuan yang dicapai sesuai dengan perencanaannya.

Pengendalian yang baik apabila dilakukan tidak saja hanya pada tahap akhir dari suatu pekerjaan, akan tetapi pengendalian harus dilakukan sejak dari awal kegiatan, dalam arti dari sejak disusunnya rencana kegiatan sampai dengan berakhirnya suatu kegiatan. Pengendalian juga dapat dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disusun dan dapat pula dilakukan sewaktu-waktu. Dengan demikian dapat diformulasikan bahwa pengendalian pengembangan program pembelajaran yaitu proses pemantauan, penilaian dan pelaporan atas pencapaian tujuan dalam kegiatan-kegiatan manajemen pengembangan program pembelajaran yang telah ditetapkan untuk tindakan korektif guna penyempurnaan lebih lanjut.

Pengendalian program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan menilai program, proses dan hasil  pengembangan program pembelajaran dan kedua dengan melakukan pengawasan atau kontrol terhadap program-program yang dikembangkan..

Penilaian program dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana keterlaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara keseluruhan. Penilaian ini dilakukan dengan cara membandingkan perencanaan yang telah disusun dengan pelaksanaannya.

Penilaian ini mencakup penilaian terhadap rencana tahunan, semester dan persiapan mengajar. Penilaian dapat dilakukan oleh guru, kepala sekolah dan Pembina lainnya. Penilaian hasil belajar siswa dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, dapat menjadi masukan bagi penilaian ini. Hasil penilaian ini digunakan penyempurnaan dan pengembangan program selanjutnya.

Penilaian program yang ditujukan secara khusus kepada guru termasuk guru PAI di dalamnya, berbentuk kegiatan evaluasi secara menyeluruh dalam sebuah rapat, yang diberlakukan untuk seluruh mata pelajaran pada akhir semester atau pada awal tahun pelajaran. Dalam rapat evaluasi ini, masing-masing guru mengajukan laporan kegiatannya selama setahun disertai dengan laporan mengenai hambatan yang dihadapi dan solusi alternatifnya.

Penilaian program masih banyak diperankan oleh pimpinan sekolah sendiri. Sedang dari PPAI (Pengawas Pendidikan Agama Islam) Kementerian Agama Kota Malang memang ada, namun masih belum memadai kehadirannnya di SMP Negeri 4 Malang.

Dalam wadah organisasi guru mata pelajaran PAI (MGMP PAI) penilaian program juga intens dilakukan, misalnya dalam rapat MGMP biasanya menjadi ajang mengevaluasi kinerja pembelajaran PAI pada setiap guru, yang dilaksanakan pada setiap bulannya. Sekaligus wadah sharing informasi dan problem solving terhadap seluruh permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran PAI di dalam sekolah masing-masing. Bahkan saat terjadi pergantian kurikulum, kegiatan MGMP menjadi intens dilakukan, dalam rangka merumuskan silabus pembelajaran dan hal-hal yang terkait dengan pembelajaran lainnya, yang disesuaikan dengan kurikulum terbaru.

Sedangkan penilaian proses merupakan kegiatan secara menyeluruh dan berkesinambungan terhadap kegiatan belajar mengajar yang mencakup cara guru mengajar dan cara siswa belajar. Penilaian proses digunakan dalam rangka membina, memperbaiki dan membentuk sikap atau cara belajar maupun cara guru mengajar. Penilaian ini dapat dilakukan oleh guru sendiri atau pembina lainnya, baik secara berkala maupun pada waktu-waktu tertentu selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Penilaian proses dilakukan oleh guru PAI masing-masing agar cara mereka mengajar dan cara siswa belajar agar bisa dibuat lebih efektif. Dan penilaian dari pembina (penilik) PAI agak kurang dilakukan. Namun evaluasi ini sering dilaksanakan di intern sekolah dalam rangka menyatupadukan langkah tujuan pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang.

Sementara penilaian hasil merupakan penilaian terhadap hasil belajar siswa yang mencakup pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Pelaksanaan penilaian ini dapat dilakukan secara terus menerus dan atau pada waktu-waktu tertentu. Cara penilaian dapat dilakukan melalui pengamatan, tes tertulis atau lisan dan penugasan.

Penilaian hasil pembelajaran siswa berdasarkan observasi, in depth interview dan dokumentasi pada pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang menemukan bahwa proses penilaian pada masing-masing guru terdapat kesamaan  baik penilaian kognitif maupun afektif. Seperti yang dijelaskan dalam table penilaian PAI di bab IV. Adapun penilaian kognitif didasarkan pada hasil Ulangan Harian (UH), Tugas, Ulangan Tengah Semester (UTS), dan Ulangan Semester (Usem). Sedangkan hasil penilaian afektif dan Akhlak didasarkan pada rambu-rambu: Kedisiplinan, kebersihan, Tanggungjawab, sopan santun, hubungan social, jujur, dan aktif beribadah ritual.

Penilaian guru dalam bentuk interview sering dilakukan pada saat ujian lisan setiap semester. Contoh pertanyaan yang diajukan ke siswa adalah “apa yang kamu rasakan setelah kamu melaksanakan shalat? bagaimana kamu di luar, bagaimana shalat anda? terganggu nggak shalatmu diluar?…” dan lain sebagainya.

Keterlibatan siswa dan aktivitasnya dalam kegiatan ekstrakurikuler atau program sekolah pun menjadi sub penilaian tersendiri oleh guru PAI. Kegiatan tersebut diantaranya Pondok Romadhon, Pelaksanaan Zakat di Sekolah, Kegiatan Sholat Jum’at di Sekolah dan Bimbingan Keputrian, atau dari kegiatan Peringatan Hari-Hari Besar Islam (PHBI) lainnya.

Guru PAI SMP Negeri 4 Malang juga menambahkan penilaian narasi sebagai bentuk pengukuran pada kompetensi membaca Al-Qur’an, keimanan dan ibadah serta penerapan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tingkatan penerapannya guru menetapkan skor 1, 2, 3 dan 4. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada bentuk penilaian sholat pada bab IV.

Pada penilaian kognitif, guru tetap mengacu pada hasil ulangan harian, ujian tengah semester dan ujian akhir semester, berikut ditambah dengan presentasi makalah serta keaktifan siswa dalam diskusi dan pembelajaran PAI di kelas. Nilai pada Ujian Tengah Semester (UTS) yaitu ujian yang dilaksanakan dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar (KD) dalam bentuk ujian tengah semester dan akhir semester. Nilai  itu diambil rata-rata menjadi nilai rata-rata . Gabungan antara NRH ,UTS dan NUAS itulah yang menjadi Nilai Raport (NR) siswa.

Berdasarkan dokumen kurikulum SMP Negeri 4 Malang, hasil belajar siswa harus mencapai Standar Ketuntasan Minimal (SKM) atau sekarang berganti nama Kriteria ketuntasan Minimal (KKM) yaitu batas minimal yang harus dicapai oleh peserta didik dalam menempuh suatu mata pelajaran. Untuk mata pelajaran agama dan akhlak mulia minimal harus baik yaitu sesuai dengan KKM yang ditentukan (72)

Bagi siswa yang belum mencapai KKM tersebut diberi kesempatan untuk mengikuti ujian ulangan sebelum nilai final dimasukan ke dalam buku raport. Kategori pencapaian kompetensi bidang Studi PAI di klasifikasikan menjadi:

a)      Amat Baik       : antara 90 – 100

b)      Baik                 : antara 80 – 89

c)      Cukup             : antara 72 – 79

d)     Kurang                        : di bawah 72

Mencermati teknik dan proses penilaian guru PAI dalam pembelajarannya dari segi penilaian kognitif, menurut penulis sudah cukup memenuhi. Indikatornya adalah dengan pemberian tugas dan pekerjaan rumah kepada siswa, mengadakan ulangan lisan/tulisan pada ulangan harian dan ujian tengah semester, sudah representative dalam penilaian kognitif.

Namun jika ditelusuri dari segi penilaian afektif, masih terdapat berbagai kelemahan. Penilaian afektif lebih cenderung mengarah kepada subyektifitas, walaupun mungkin keberadaan sikap siswa SMP Negeri 4 Malang sudah sangat baik berdasarkan penilaian guru. Subjektivitas ini dapat dilihat dari tidak adanya standar penilaian yang baku terhadap perilaku siswa. Guru hanya mengandalkan observasi sepintas dan tidak ada bukti fisik yang dapat dijadikan pegangan guru sebagai standar penilaian.

Teknik penilaian afektif sebagaimana yang telah dijelaskan di atas beberapa guru mengambilnya dari observasi terhadap performan siswa di dalam kelas. Hal yang diamati adalah cara berpakaian, cara bicara, penampilan diri, daftar hadir, keaktifan dalam kepengurusan organisasi ekstrakurikuler.

Dari penilaian guru seperti ini, belum secara integrative merepresentasikan totalitas penilaian sikap siswa, di tempat lain seperti di luar sekolah, di rumah dan di masyarakatnya seperti apa. Boleh jadi, ketika siswa di kelas, sikapnya baik, tapi di ketika di luar kelas, atau di tempat lain sikapnya lain. Olehnya, penilaian afektif ini tidak terjadi secara parsial dan terpisah-pisah sehingga tidak menimbulkan ketidakadilan dan subyektifitas dalam penilaian sikap siswa.

Penilaian afektif yang dilakukan khususnya oleh guru PAI kelas IX sudah sangat baik. Dan usaha ini untuk menghilangkan subyektifitas dalam penilaian afektif sekaligus agar nilai tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Penilaian afektif ini, juga melibatkan kegiatan ekstrakurikuler sebagai tambahan penilaian PAI, seperti kegiatan sholat jum’at dan bimbingan keputrian, pondok romadhon dan BTA. Catatan kasus yang pernah dilakukan selama di sekolah oleh  guru lainpun menjadi bahan pertimbangan dalam penilaian sikap.

Keuntungan yang dapat diperoleh dari model penilaian afektif seperti ini adalah, satu sisi, program dan kegiatan ekstrakurikuler menjadi bernilai, anak juga memperhatikan, karena ada penilaian. Dan disisi lain guru juga mudah mendapatkan informasi nilai dari orang lain tentang anak ini. Sehingga penilaian menjadi tidak subjektif.

Model penilaian afektif memang masih menjadi problematik di kalangan guru PAI sampai saat ini, sebab untuk mengukur sejauh mana sikap dan perilaku siswa sulit untuk diukur. Alat ukur penilaian afektif siswa belum ada, sehingga penetapan nilai sulit untuk dilakukan. Penilaian afektif tidak bisa ditetapkan hanya melalui observasi, interview saja, tetapi penilaian tersebut membutuhkan suatu proses sistematis sehingga menjadi penilaian yang realistis.

Dengan model penilaian afektif seperti yang diterapkan pada kelas IX, guru berharap setidaknya penilaian afektif itu, ada alatnya. Walaupun diakui dengan alat ukur seperti di atas belum representatif dalam mengukur afeksi siswa secara integral.

Kendala yang dihadapi oleh guru dalam menerapkan model penilaian seperti ini, diantaranya adalah faktor waktu dan kesibukan guru. Guru PAI kelas IX, sehari-harinya selain bertugas sebagai guru, juga mendapatkan tugas tambahan. Di sekolah sebagai Staf Kepala Sekolah Urusan Humas,[179] dan satunya sebagai sekretaris MGMP PAI SMP Negeri dan Swasta Kota Malang.[180] Walaupun dengan sadar guru mengetahui model yang ideal seperti hal tersebut, namun dengan banyaknya kendala dan hambatan utamanya faktor kesibukan (waktu), maka penerapannya sulit dilaksanakan.

Walaupun instrumen dan bentuk penilaian-penilaian afektif di atas sudah sangat baik namun masih terdapat beberapa kelemahan, diantaranya yaitu sub-sub item penilaian afektif belum terlihat secara nyata. Sebagai contoh, untuk menilai ibadah siswa itu baik, tolok ukur yang dapat dijadikan penilaian belum ada, begitupun dengan tolok ukur penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari seorang siswa, masih cenderung subyektif.

Berikutnya, kegiatan dan aktifitas siswa di rumah dan masyarakat pun agak terabaikan dan belum nampak dalam penilaian afektif guru PAI. Berikut, keterlibatan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler, belum mendapatkan porsi yang jelas dimana akan ditambahkan dalam penilaian raport. Belum lagi dengan kompetensi melaksanakan ibadah mahdoh siswa masih jauh dari sentuhan penilaian afektif guru.

Subyektivitas dalam penilaian afektif masih sangat kental, hal ini disebabkan karena setiap item penilaian belum ada indikator yang jelas. Selanjutnya sistem penetapan angka dalam nilai raport belum ada rumusan baku yang dapat dipertanggungjawabkan secara logis kepada siswa.

Penilaian afektif siswa perlu mendapatkan penanganan yang serius sehingga tidak menimbulkan kecemburuan, ketidakadilan dan kesenjangan diantara siswa serta dapat dipertanggungjawabkan kepada siapa saja yang mengkomplain dalam penetapan nilai afektif yang tersebut.

Menurut hemat penulis, penilaian afektif siswa setidaknya perlu melibatkan seluruh kegiatan dan aktivitas siswa di sekolah, rumah dan masyarakat. Penilaian ini pun tidak mengabaikan penilaian kognitif jika dimungkinkan penilaian kognitif dan afektif digabung sebagaimana halnya yang terjadi pada masa lalu.

Penilaian ini, juga perlu melibatkan berbagai pihak yang terkait dengan kehidupan siswa. Misalnya aktivitas siswa di rumah, guru perlu bekerjasama dengan orang tua. Di masyarakat, guru perlu juga bekerjasama dengan tokoh-tokoh panutan di masyarakat. Apalagi di dalam lingkup sekolah, guru setidaknya bekerjasama dengan wali kelas, guru Bimbingan dan konseling (BK), Pembina kegiatan ekstrakurikuler atau dengan pihak terkait lainnya. Secara langsung maupun tidak, mereka (guru, orang tua, tokoh masyarakat) setidaknya juga sering berinteraksi sehingga mereka pun mempunyai penilaian tersendiri terhadap perilaku siswa tersebut. Jika penilaian dari berbagai unsure terkait tersebut digabungkan, maka tentunya penilaian akan menjadi lebih valid dn komprehensip.

Begitupun dengan penetapan score (angka) dalam menetapkan nilai. Hal ini menjadi sangat diperlukan karena nilai raport menuntut setiap bidang studi di tetapkan dalam bentuk angka. Oleh karena itu guru PAI perlu memiliki suatu rumusan baku dalam penetapan score penilaian afektif ini secara jelas dan akuntabel.

Dengan demikian, nilai afektif tersebut dapat diterima siswa dengan rasa puas, karena setiap item penilaian terpampang dengan jelas, kekurangan dan kelebihannya. Sehingga dasar penetapan nilai dapat dipertanggungjawabkan kepada siapa saja yang membutuhkan, baik terhadap orang tua, siswa atau guru lainnya.

= =

BAB VI

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Berdasarkan paparan data dan temuan penelitian di lapangan serta hasil pembahasan, penelitian ini yang difokuskan pada manajemen pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:

  1. Perencanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang yaitu: (1) pengembangan kegiatan tatap muka terdiri dari; (a) program pembelajaran Intrakurikuler PAI di Kelas dimulai dengan pengembangan silabus bidang studi PAI, rencana tahunan, program semester dan persiapan mengajar dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Rencana pengembangan program pembelajaran disusun berdasarkan SK-KD dan disesuaikan dengan kalender pendidikan yang berlaku, jadwal pelajaran sekolah yang bersangkutan dan sarana yang tersedia.Teknis pengembangan silabus yang dilakukan oleh sekolah adalah dengan cara mengajak semua guru melakukan rapat kerja khusus untuk mengembangkan program-program pembelajaran, dimulai dengan pemberian orientasi dan pengarahan dari kepala sekolah, dilanjutkan dengan orientasi dari nara sumber, kemudian diteruskan pada diskusi, semua guru diberi waktu untuk membuat pengembangan program pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang dibinanya secara berkelompok agar diketahui tingkat pemahaman mereka, kemudian diadakan penilaian kembali untuk presentasi dihadapan semua peserta. Setelah usai, semua guru diminta menyempurnakan pengembangan program pembelajaran tersebut, dan harus sudah jadi sebelum memasuki tahun pelajaran baru. (b) pengembangan program pembelajaran ekstrakurikuler PAI. Untuk program ekstrakurikuler dikembangkan oleh koordinator kesiswaan beserta pembina ekstra dan pengurus OSIS bidang ketaqwaan. Sedangkan program ekstrakurikuler yang mendukung pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang adalah Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) dan Pidato Bahasa Arab. (2) pengembangan program dalam bentuk kegiatan tugas terstruktur adalah pembiasaan IMTAQ, pembiasaan sholat Jum’at di sekolah, dan bimbingan keputrian dibina oleh kelompok kajian Islam KIASS (Kreatifitas Insan Anak Sholeh dan Sholehah), (3) pengembangan program mandiri tak terstruktur adalah pembiasaan  suasana religius di kawasan sekolah. yaitu; (a). Budaya 3 SAS (Salam, Salim, Senyum, Ambil Sampah), (b). Budaya Jum’at Bersih, (c). Halal Bihalal, (d). Peringatan hari Besar Islam (PHBI) seperti kegiatan pondok romadhan, Nuzulul Qur’an, Penerimaan dan penyaluran Zakat, Idul Fitri, Idul Qurban dan lain-lain. (e). Santunan Kematian, (f). Santunan Anak Yatim, (g). dan (h). Budaya beramal jariyah setiap jum’at.
  2. Pelaksanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat ditempuh dengan cara mengorganisasikan, mengarahkan, dan melaksanakan pengembangan program pembelajaran pendidikan Agama Islam yang meliputi;

a. Kegiatan pembelajaran intrakurikuler yaitu kegiatan tatap muka dengan mengembangkan metode dan strategi pembelajaran dengan tahapan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup; kegiatan ekstrakurikuler dalam bentuk kegiatan Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) dan Bahasa Arab; kegiatan tugas terstruktur dalam bentuk pembiasaan IMTAQ pada jam pelajaran oleh Wali Kelas masing-masing, kegiatan sholat Jum’at dan Bimbingan Keputrian; dan  kegiatan mandiri tak terstruktur dalam bentuk budaya-budaya religius.

  1. Staf kurikulum menentukan guru yang mengajar  intrakurikuler dan kesiswaan menentukan guru yang mengajar ekstrakurikuler.
  2. Pengaturan penempatan guru PAI dan ekstrakurikuler diserahkan kepada koordinator kurikulum dan kesiswaan.
  3. Pengorganisasian dan pengarahan pengembangan program pembelajaran PAI dilaksanakan melalui workshop dan rapat pembina OSIS dengan mendatangkan nara sumber yang berkompeten baik dari perguruan tinggi maupun pondok pesantren.
  4. Fasilitas dan peralatan yang digunakan dalam pengembangan program pembelajaran PAI menggunakan fasilitas sekolah termasuk Masjid dan ruang Agama Islam.
  5. Pengorganisasian dan pengarahan pengembangan program pembelajaran dinilai cukup baik dan efektif dalam pembinaan akhlak siswa dalam pembentukan moral dan kepribadian yang jujur dan amanat dimana hal tersebut sangat dibutuhkan dalam kehidupan di masyarakat.
  6. Pengendalian pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang secara menyeluruh dilakukan melalui rapat rutin bulanan dengan melibatkan seluruh staf dan dewan guru. Rapat rutin bulanan tersebut dilaksanakan sebagai kontrol terhadap pelaksanaan kegiatan pendidikan secara keseluruhan di SMP Negeri 4 Malang. Sedangkan pengendalian pelaksanaan program pembelajaran PAI baik program intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kegiatan pembiasaan budaya religius dilakukan dengan mengadakan evaluasi hasil belajar siswa dan kegiatan monitoring melalui supervisi kelas, daftar kehadiran Pembina ekstra, hasil prestasi siswa di bidang keagamaan dan terkendalinya siswa dengan kenaikan kelas yang nilaianya ditentukan lewat ketercapaian dengan KKM yang ditetapkan. Evaluasi pembelajaran secara umumnya dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu penilaian program, proses dan penilaian hasil pembelajaran. Pertama, penilaian program mencakup penilaian terhadap rencana tahunan, semester dan persiapan mengajar. Penilaian ini dilakukan oleh guru, kepala sekolah dan pembina lainnya. Kedua, penilaian proses, digunakan dalam rangka membina, memperbaiki dan membentuk sikap atau cara belajar maupun cara guru mengajar. Penilaian ini hanya dilakukan oleh guru PAI, dan penilaian dari pembina (penilik) PAI agak kurang dilakukan, sedangkan evaluasi dalam lingkup sekolah intens dilakukan dalam rangka menyatupadukan langkah tujuan pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang. Ketiga, penilaian hasil merupakan penilaian terhadap hasil belajar siswa yang mencakup pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Pelaksanaan penilaian ini dilakukan melalui pengamatan, tes tertulis, tes lisan dan penugasan. Namun dalam penetapan nilai afeksi siswa, masih ditemui beberapa kendala.
  7. Bagi Kepala sekolah dan staf lain supaya menyatukan system penyelenggaraan kegiatan pembelajaran baik intra maupun ekstrakurikuler yang mendukung kegiatan pembelajaran khususnya Pendidikan Agama Islam, karena dengan cara ini kerjasama antara kepala sekolah, staf, guru dan siswa akan semakin mengokohkan ikatan tali persaudaraan diantara kita. Bahkan dengan cara ini pula sekolah akan berkembang pesat dengan program-programnya untuk menjadi sekolah favorit di mata masyarakat.
  8. Untuk guru PAI, meskipun dalam penelitian ini menggambarkan keberhasilan yang diraih baik dalam pembuatan program, pelaksanaan  maupun pengendaliaannya, akan tetapi selama di lapangan, peneliti masih menemukan adanya perilaku siswa yang negative, malas beribadah, dan banyaknya siswa yang kurang peduli dengan kedisiplinan. Oleh karena itu, guru Agama perlu kiranya dapat mempengaruhinya dengan membuat program pembelajaran yang strategis bagi terciptanya suasana religious di lingkungan sekolah serta perlu juga membenahi model pembelajaran yang menghambat tercapainya tujuan pembelajaran yakni terinternalisasinya nilai-nilai agama kedalam diri siswa, dengan tetap memperhatikan kondisi perbedaan individu siswa yang tentunya sangat diperlukan dalam rangka mengatasi problematika pembelajaran di kelas, meski diketahui input siswa memiliki kompetensi akademik yang membanggakan.
  9. Model pembelajaran yang efektif, kultur sekolah, pembiasaan hal positif yang terbangun selama ini dalam lingkungan sekolah, sedapat mungkin dipertahankan dan dikembangkan menjadi sebuah habit siswa secara turun temurun didukung sepenuhnya oleh sekolah (kepala sekolah, guru-guru dan karyawan) atau pihak lainnya sehingga SMP Negeri 4 Malang bukan saja menjadi yang terdepan dalam kualitas pembelajaran saja namun juga dalam hal etika, moral dan agama.
  10. Untuk media pembelajaran kiranya pihak sekolah perlu mengusahakan penambahan media pembelajaran baik dari segi kualitas dan kuantitas. Berikut yang paling penting adalah memberikan kesempatan yang besar bagi guru PAI dan pembelajaran PAI menggunakan media pembelajaran ini, mengingat pembelajaran PAI sangat penting dan menjadi landasan bagi siswa yang berprestasi ini memasuki era kompetisi yang sarat dengan pengamalan iman dan taqwa di masa yang akan datang.
  11. Perhatian yang lebih serius dan reward atas kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler keagamaan serta koordinasi antara guru PAI dan siswa selain akan memperkuat motivasi siswa untuk mendalami, menghayati dan mencintai serta mengamalkan ajaran agamanya secara holistik, sekaligus dapat membentuk pribadi muslim yang kreatif berkualitas di masa yang akan datang.
  12. Keteladanan positif spritualistik dari guru PAI dan juga semua guru muslim bahkan terutama dari pimpinan sekolah, perlu digalakkan lagi, terutama dalam melaksanakan shalat sebagai cerminan keberagamaan yang tinggi dalam diri seorang pendidik. Karena faktor keteladanan ini menjadi sangat efektif dilakukan oleh seluruh elemen sekolah dalam rangka mencapai visi dan misi secara proporsional dan seimbang antara penguasaan ilmu pengetahuan berbasis teknologi informasi dan penyiapan generasi penerus yang memiliki iman, taqwa , dan berbudi pekerti luhur.
  13. Bagi peneliti berikutnya disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan mengembangkan fokus lain sehingga hasilnya dapat mendukung teori manajemen pengembangan program pembelajaran. Peneliti juga dianjurkan untuk mencari kasus lain yang memiliki karakteristik berbeda dengan kasus penelitian ini.
B.     Saran-saran

 

 

= =

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Ali, Mohammad, dan Muhammad Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006)

Arikunto, Suharsimi Pengelolaan Kelas dan Siswa: Sebuah Pendekatan Evaluatif, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986)

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 1998)

Baharudin, H., dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta, Ar Ruzz Media, 2007)

Bahtiar, Ahmad “Sekolah Sudah Mati!” PENDAIS, Vol.1 No. 3 September 2000

 

Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002)

 

Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu-ilmu sosial Lainnya (Jakarta: Kencana, 2007)

Bush, Tony, dan Marianne Coleman, Leadership and Strategic Management in Education, (Yogyakarta: Ircisod, 2006)

Bogdan Robert C dan Biklen Sari K, Qualitatif Researchlm for Education An Introduction to Theory and Methods

 

CD-Rom Alqur’an in Word, Versi 6. 50, PT. Software Sakhr, 1997Cholid Narkabo, et.al., metodologi penelitian (Jakarta: Bumi aksara, 2003)

Dauly, Haidar Putra., Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Prenada Media, 2004)

Dede Oetomo, “Penelitian Kualitatif: Aliran dan Tema”, dalam Bagong Suyanto, et.all.,(Eds), Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan (Jakarta: Kencana, 2007)

 

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, 2001

 

Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif., Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003)

 

Depdiknas, Panduan Penyusunan KTSP, Jakarta: BSNP, 2007

Djamarah, Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005)

 

Djiwandono, Sri Esti Wuryani., Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2006)

Djohar, MS, Guru, Pendidikan dan Pembinaannya, (Yogyakarta: Grafika Indah, 2006)

 

Dokumen SMP Negeri 4 Malang, Profil, Program Visi, Misi, dan Tujuan  Sekolah 2009/2010

 

Fahrurrozi, “Pendidikan Agama, Pendekatan, dan Internalisasi Nilai,” (Jakarta: PENDAIS, Vol.1. No.3 September 2000)

 

Fatur Rahman, Manajemen Mutu dalam Pengembangan Profesionalisme Guru Madarsaha di Pondok Pesantren, Tesis, PPs UIN Malang, 2008

 

Firdausi, Aini “Manajemen Pembelajaran Sekolah Unggulan Studi Multi Kasus pada MIN Malang 2 dan MI Al-Huda Malang, Tesis, Malang: PPs Universitas Negeri Malang, 2009

 

Furchan, Arif, Pengantar Metode Penelitian Kualitatif; Suatu Pendekatan Fenomenologis terhadap ilmu-ilmu Sosial (Surabaya; Usaha Nasional, 1992), h.23 lihat juga Budi puspo Priyadi, Metode Evaluasi Kualitatif (Yogjakarta: Pustaka pelajar, 2006)

Hersey, P., dan Blanchard K, Management of Organizational Behavior: Utilizing Human Resources, (4th ed.), (Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, INC, 1982)

Hadi, Sutrisno., Metodologi Riset I, (Yogyakarta, Fakultas Psikologi UGM, 1989)

 

Husaini Usman, Manajemen: Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006)

 

Husaini Usman, Metodologi Penelitian Sosial (Jakarta: Bumi Aksara, 2003)

 

Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2006)

 

Harsja W. Bachtiar, “Pengamatan Sebagai Suatu Metode Penelitian”, dalam Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1994)

 

Imam Suprayogo, Metodologi Penelitian Sosial Agama ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003)

 

Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, (Semarang: RaSAIL, 2008)

 

Jandra, Struktur Usulan Penelitian, (Makalah Pelatihan Penelitian Tenaga Educatif di Tingkatan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 11 Juli-11 Agustus 2002)

 

Johar, MS, Guru, Pendidikan dan Pembinaannya, (Yogyakarta: Grafika Indah, 2006)

 

Khaeruddin,Mafud junaidi, Kuriklum Tingkat Satuan Pendidkan, (Jogjakarta, Pilar Media, 2007.)

 

Komarudin “Manajemen Peningkatan Mutu pendidikan agama Islam di SMP Negeri 2 Delanggu Tahun Ajaran 2002/2003” TESIS, PPs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004

 

Lincoln , Naturalistic Inquiry (Beverly Hill: SAGE Publications, 1985)

 

Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi Revisi), Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2007.

 

M. Toha, Kepemimpinan dalam Manajemen, (Jakarta Rajawali Press, 1999)

 

Madjid, Abdul, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008)

 

Makmun Abin Syamsudin, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rosdakarya, 2002)

 

Martinis Yamin, 2006, Sertifikasi profesi keguruan di Indonesia,(Jakarta, Gaung Persada press)

Mastini et.al. Pengaruh Pacaran terhadap prestasi Siswa-siswi SMP Negeri 4 Malang, Penelitian diajukan dalam lomba PIR/KIR tingkat nasional di Jakarta, 2006.

 

Mastuhu, Menata Ulang Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad 21, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004)

 

Mas’ud, Abd. Rahman, dkk, Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001)

Miles, Matthew B., dan A. M. Hubermen, Qualitative Data Analysis, (London: Sage Publication, 1984), Terjemahan Tjetjep R.R. (Jakarta: Universitas Indonesia, 1992)

Megawangi, Ratna, Pendidikan Karakter: Solusi Yang Tepat Membangun Bangsa, (Jakarta: Star Enegy, 2004)

Mohammad,  Sodiq, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif: Tata Langkah dan Teknik-teknik Teorisasi Data (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003)

 

Mohammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, (Yogyakarta: Pustaka Bani Quraisy, 2004)

 

Moelong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003)

 

Muhaimin, Manajemen Pendidikan Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, (Jakarta:  Kencana Prenada Media Group, 2009)

 

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: Rosdakarya, 2002)

 

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007)

 

Muhaimin, Suti’ah, Prabowo, L.S, Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah & Madrasah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009)

 

Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam, dari paradigma Pengembangan, Manajemen kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta: 2009

Mulyana, Rohmat, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2004)

Mulyasa, E., Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK, (Bandung: Rosdakarya, 2006)

Mulyasa, E., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 200)

Mulyasa, E., Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Jakarta: Rosdakarya, 2007)N. Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999)

 

Nasution, Metode penelitian Naturalistik (Bandung: Tarsito, 1998)

 

Nasution, M. Nur , Manajemen Mutu Terpadu, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005)

Nazarudin, Mgs., Manajemen Pembelajaran: Implementasi Konsep, Karakteristik dan Metodologi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum, (Yogyakarta: Teras, 2007).

Noeng Muhajir, Metode penelitian kualitatif (Yogjakarta: Rake Sarasin, 2003).

 

Nur Ali, “Manajemen Pengembangan Kurikulum SMK di Lingkungan Pesantren” DISERTASI, PPs UM, Malang: 2008

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 (tentang standar isi)

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 tahun 2006 (tentang standar kompetensi lulusan) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

 

Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar proses untuk  Satuan pendidikan Dasar dan menengah, BSNP, Jakarta: 2007

 

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.

 

Rulam Ahmadi, Memahami metodologi Penelitian Kualitatif(Malang: UIN Malang Press, 2005)Ratna Megawangi, Pendidikan Karakter: Solusi Yang Tepat Membangun Bangsa, (Jakarta: Star Enegy, 2004)

 

Robert K. Yin, “Cash Study Research: Design and methods”, diterjemakan oleh M. Djauzi Mudzakir, Studi Kasus: Desain dan Metode (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002)

Rohani, Ahmad , Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta,  2004)

 

Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2004),

Saad, Hasballah M., Perkelahian Pelajar: Potret Siswa SMU di Jakarta, (Yogyakarta: Galang Press, 2003)

Sagala,Syaiful, Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta 2005

 

Sanjaya, Wina, Pembelajaran dalam Implementasi KBK, (Jakarta, Kencana, 2006)

Sirozi, Muhammad, Politik Kebijakan Pendidikan Di Indonesia: Peran Tokoh-tokoh Islam dalam Penyusunan UU No. 2/1989, (Leiden-Jakarta: INIS, 2004)

Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, (Jakarta: Quantum Teaching, 2005)

 

Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa: Sebuah Pendekatan Evaluatif, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986)

 

Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2006)

 

Syamsudduha, Manajemen Pesantren, (Yogyakarta: Grha Guru, 2004)

 

Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005)

 

Sukidin, Metode Penelitian: Membimbing dan mengantar Kesuksesan Anda Dalam Dunia Penelitian ( Surabaya: Insan Cendekia, 2005)

 

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif, dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2008).

 

Sukardi, Metodologi penelitian Pendidikan; Kompetensi dan Prakteknya (Jakarta: Bumi Aksara, 2007)

 

Sjarkawi, Pembentukkan Kepribadian Anak: Peran Moral, Intelektual, Emosional dan Sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006)

 

Sudarsono, Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja (Cet. II; Jakarta: Rineka Cipta, 1991),

 

Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogjakarta: Andi Ofset, 1981), Jilid II.

 

Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian: Petunjuk Praktis untuk Peneliti Pemula (Yogjakarta: Gadjah Mada University Press, 2006)

 

Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian: Suatu pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 1997)

 

Supriyatno, Hamid, “Pengembangan Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri Kota Yogyakarta”, TESIS, PPs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2005

Surya, Mohammad, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, (Yogyakarta: Pustaka Bani Quraisy, 2004)

Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, (Jakarta: Quantum Teaching, 2005)

 

Syaifuddin Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1999)

Syamsudduha, St., Manajemen Pesantren, (Yogyakarta: Grha Guru, 2004)

Syaodih, Nana, Psikologi Kepribadian, (Jakarta: Bumi Aksara, 1980)

Sjarkawi, Pembentukkan Kepribadian Anak: Peran Moral, Intelektual, Emosional dan Sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006)

Terry G.R., Principles of Management (3rd ed.). (Homewood IL: Richard D. Irwin, INC, 1997)

Tim Redaksi Fokusmedia, Himpunan Peraturan Perundang-undangan Tentang Guru dan Dosen, (Bandung: Fokusmedia, 2006)

Uno, Hamzah B., Perencanaan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2006)

Usman, Basyirudin., Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002)

Usman, Moch. Uzer, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Rosdakarya, 1991), 4.

Usman, Husaini, Manajemen: Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006)

Winarno surachmad, Dasar dan Tehnik Research: Pengantar Metodologi Ilmiah (Bandung: Tarsito, 1997).

 

Yesim Ozbarlas, Perspectives On Multicultural Education: Case Studies Of a Jerman and an American Female Minority Teacher, a Desertation, Not Published ( Atlanta: The College of Education in Georgia State Univercity, 2008)

Yusuf LN, Syamsu, Psikologi Belajar Agama: Perspektif Agama Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005)

Zuruiyah, Nurul, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan :Teori dan Aplikasi (Jakarta: Bumi Aksara,2006)

Zuriah, Nurul, Pendidikan Moral dan Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan: Menggagas Platform Pendidikan Budi Pekerti Secara Kontekstual dan Futuristik, (Jakarta: Bina Aksara, 2007)

 

 

 

= =

 

 

 

 

  Identitas Diri

          DAFTAR RIWAYAT HIDUP

 

                        

Nama                            :  Sukirman, S. Ag

Tempat Tanggal Lahir  : Lamongan, 20 April 1971

NIP                               :  19710420 200501 1 003

Pangkat/Golongan        : Penata Muda/III.b

Jabatan                          : Guru Pendidikan Agama Islam pada SMP Negeri 4 Malang

Alamat Rumah (asal)    : Jl. MT. Haryono XXI No. 10 Malang. HP.081334732623

Alamat Sekolah            : Jl. Veteran 37 Malang

Alamat Instansi            : Kantor Kementerian Agama Kota Malang.

                                         Jalan R. Panji Suroso no 2 Kota Malang

Nama Ayah                  :  Sumiadi

Nama Ibu                      :  Lasmi (Almarhumah)

Nama Istri                     :  Mustayah, S. Pd

Nama Anak                 :  1. Falih Azzam Naufali ( 10 Th )

2. Rahada “Aisy Safin Nayla ( 4 Th )

Riwayat Pendidikan

Tahun 1984                   :  Lulus Madrasah Ibtidaiyah (MI) Thoriqotul Hidayah, Karangwungu Lor, Laren,  Lamongan

Tahun 1987                   :  Lulus SMP Wahid Hasyim Sumberwudi, Karanggeneng, Lamongan

Tahun 1990                   :  Lulus Madrasah Aliyah Matholi’ul Anwar Simo-Sungelebak, Karanggeneng, Lamongan

Tahun 1994                   :  Lulus IAIN Sunan Ampel di Malang

Tahun 2008                   :  Masuk S2 PPs UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Riwayat Pekerjaan   :

-       Mengajar di SMP Negeri 18 Malang tahun 1996 – 2002

-       Mengajar di SMP Sunan Giri Malang tahun 1997 – 2003.

-       Mengajar di SMP Negeri 4 Malang tahun 2002 – 2005

-     CPNS Guru Agama Islam Depag Kota Malang diperbantukan mengajar di      SMP Negeri 4 Malang tahun 2005 – sekarang (2010)

Riwayat Organisasi

1.      Departemen HMJ Tarbiyah tahun 1992

  1. Sekretaris I Senat Mahasiswa Fak. Tarbiyah IAIN Malang tahun 1993
  2. Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Malang tahun 1993
  3. Sekretaris I MGMP Pendidikan Agama Islam (PAI) SMP Kota Malang 2009-2011

Malang,  01 Juli 2010

 

Lampiran 1.

 

CONTOH RINGKASAN HASIL WAWANCARA  DAN OBSERVASI

 

HASIL WAWANCARA

 

 

Sumber Data        : Drs. H. Bambang Widarsono, M. Pd

Tanggal                 : 12 & 20 April 2010

Jam                        : 12.00-13.00 WIB

Tempat                  : Ruang Kepala SMP Negeri 4 Malang

Peringkas               : Sukirman

 

Kode

Masalah

Kode Data

Kode

Teknik

Isi Ringkasan

Prp

KS

W

Yang merencanakan dan menentukan guru yang akan mengajar PAI di kelas adalah koordinator kurikulum yaitu bu Nurul dengan melihat SK pengangkatan dari Dinas Pendidikan atau Departemen Agama, kecuali jika dirasa kurang memenuhi kebutuhan sekolah, maka diangkatlah Guru Tidak Tetap (GTT) oleh Kepala Sekolah dengan mempertimbangkan usulan dari Dewan Guru. sedangkan untuk pengajar ekstrakurikuler ditentukan oleh koordinator kesiswaan yaitu pak Gupuh dengan pertimbangan koordinator ekstrakurikuler yakni pak Prapto.

 

Prp

KS

W

Untuk program pembelajaran Intrakurikuler Pendidikan Agama Islam (PAI) diatur sesuai dengan SK mengajar bagi guru-guru PAI. Dilihat dari pembagian jamnya, masing-masing guru Agama islam mestinya mendapat jam mengajar sama. Kalau saat ini ada 20 kelas, maka masing-masing mendapat 20 jam mengajar. Berhubung pak Untung saat ini sudah sertifikasi, maka pak Untung mendapat 24 jam mengajar untuk memenuhi persyaratan dari sertifikasi itu. Sedang sisanya yang  16 jam pelajaran diberikan kepada Pak Kirman sendiri. Untuk pengaturan kelas yang ada non muslimnya, sejak dulu di SMP ini ditempatkan di kelas tersendiri. Jadi masing-masing jenjang ada di kelas B untuk saat ini. Jika waktunya jam pelajaran agama, maka kelas yang ada non muslimnya tadi bertempat ruang khusus agama non muslim yang sejak 4 tahun terakhir ini sudah disediakan. Yang kemudian ruang  tersebut digunakan untuk ruang kebhaktian setiap pelajaran agama Kristen/Katholik dan pembinaan IMTAQ bagi non muslim

 

Prp

KS

W

Memang sudah seharusnya di SMP Negeri 4 Malang ini dikembangkan berbagai program pengembangan termasuk program keagamaan, karena SMP ini sudah maju baik akademiknya maupun non akademiknya. Sementara kalau hanya mengambil dan mengadopsi kurikulum dari BSNP nampaknya perlu banyak revisi. Wong tempatnya saja di kota yang strategis kok masih itu-itu saja program keagamaannya. Lagi pula, saat ini perkembangan siswa yang menjurus ke arah kenakalan remaja dan mengkonsumsi narkoba sudah sangat luar biasa. Untuk itu ke depan program-program sekolah yang berkaitan dengan pembentukan pribadi siswa harus diprioritaskan.

 

Prp

KS

W

Sejak saya pertama kali memasuki sekolah ini, satu tahun yang lalu ,saya jadi kagum dengan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di sini, ada bunyi musik gending jawa yang enak di dengar, sambutan warga yang santun, dan jika ada kegiatan keagamaan warga sangat antusias sampai malam tetap kompak, dan lain-lain. Ternyata setelah saya pelajari program-programnya ternyata memang disusun sedemikian rupa,  hal ini sudah menjadi tradisi warga SMP 4 Malang dari tahun ke tahun. Setelah kami mengumpulkan staf-staf yang ada termasuk koordinator Agama Islam (Pak Untung Djarwadi) semua ada programnya katanya. Karena itu saya jadi tertarik dan ingin memanfaatkan kegiatan yang serupa di Smp ini seperti mengembangkan meditasi saat menjelang ujian nasional nanti.

 

Plp

KS

W

Pengembangan program pembelajaran PAI  di SMP Negeri 4 Malang ini telah diatur oleh urusan kurikulum untuk kegiatan pembelajaran di kelas (intrakurikuler) dengan 2 jam pelajaran per minggu. Sedangkan untuk kegiatan ekstrakurikuler diatur oleh kurikulum dengan pertimbangan unit kesiswaan dan pembina ekstrakurikuler PAI dengan ekuivalen 2 jam pembelajaran perminggunya.

 

Plp

KS

W

Karena terbatasnya anggaran dana, maka kegiatan kesiswaan yang berkaitan dengan ekstrakurikuler tahun ini agak dibatasi, mengingat saat ini untuk penarikan kepada orang tua sangat seret, sementara dana BOS dirasa kurang bisa memenuhi anggaran yang dibutuhkan. Tetapi walaupun demikian untuk kegiatan ekstra keagamaan supaya jalan terus, baik yang sudah diprogramkan sebelumnya maupun yang berkaitan dengan program mandiri tak terstruktur termasuk pembudayaan perilaku religius harus tetap digalakkan di sekolah ini

 

Plp

KS

W

Untuk program pembelajaran Intrakurikuler Pendidikan Agama Islam (PAI) diatur sesuai dengan SK mengajar bagi guru-guru PAI. Dilihat dari pembagian jamnya, masing-masing guru Agama islam mestinya mendapat jam mengajar sama. Kalau saat ini ada 20 kelas, maka masing-masing mendapat 20 jam mengajar. Berhubung pak Untung saat ini sudah sertifikasi, maka pak Untung mendapat 24 jam mengajar untuk memenuhi persyaratan dari sertifikasi itu. Sedang sisanya yang  16 jam pelajaran diberikan kepada Pak Kirman sendiri. Untuk pengaturan kelas yang ada non muslimnya, sejak dulu di SMP ini ditempatkan di kelas tersendiri. Jadi masing-masing jenjang ada di kelas B untuk saat ini. Jika waktunya jam pelajaran agama, maka kelas yang ada non muslimnya tadi bertempat ruang khusus agama non muslim yang sejak 4 tahun terakhir ini sudah disediakan. Yang kemudian ruang  tersebut digunakan untuk ruang kebhaktian setiap pelajaran agama Kristen/Katholik dan pembinaan IMTAQ bagi non muslim.

Adapun cara mengatur program pembelajaran ekstrakurikuler dilakukan oleh urusan kurikulum dan koordinator ekstra.

 

Plp

KS

W

Kegiatan-kegiatan yang mendukung terhadap keberhasilan pembelajaran pendidikan Agama islam dapat dilihat juga dalam kegiatan yang ditangani oleh Pembina Osis bidang ketaqwaan, dalam hal ini yang menangani adalah Pak Untung dan Pak Kirman. Melalui kegiatan ini disusun program peningkatan ketaqwaan lewat OSIS. Adapun kegiatannya adalah Sholat Jum’at di sekolah, Bimbingan Keputrian, Pembiasaan Amal Jariyah pada hari Jum’at, Pesantren Romadhon, dan lain-lain. Bentuk pengendalian dari semua kegiatan itu adalah dengan melihat daftar hadir Pembina, silabus yang dibuat, dan prestasi yang diraih. Satu lagi yang ingin saya tekankan disini adalah bentuk keteladanan perlu dikembangkan disini. Karena kita lihat akhir-akhir ini siswa maupun guru kita banyak yang kurang pede karena krisis keteladanan itu. Karena itu saya ingin di SMP Negeri 4 Malang ini keteladanan yang baik  dari kepala sekolah, guru, dan siswa perlu digalakkan, agar muncul bibit pemimpin yang diteladani di masa-masa yang akan datang.

Plp

KS

W

Untuk kegiatan-kegiatan yang masuk dalam budaya agama yang bentuknya tidak terstruktur tetapi dilaksanakan oleh warga sekolah dengan nilai-nilai agama yang kental bias dilihat dalam kebiasaan anak-anak salim kepada bapak/ibu guru, berperilaku sopan-santun kepada siapa saja bila bertemu, ambil sampah setiap melihat sampah berkeliaran dan memasukkannya ke dalam bak sampah, dan lain-lain bentuk pengendaliannya lewat pantauan baik dilakukan oleh guru, wali kelas, maupun kepala sekolah. Kegiatan ini dianggap berhasil di lingkunag kita dengan ditunjuknya sekolah ini menjadi duta mewakili kota Malang dalam lomba adipura, dan adiwiyata tingkat Propinsi.

Pdp

KS

W

Setiap satu bulan sekali, kepala sekolah beserta staf wajib mengikuti rapat khusus sebelum diadakan rapat umum beserta dewan guru dan karyawan yang ada di SMP Negeri 4 malang. Biasanya membahas tentang evaluasi pelaksanaan program-program pembelajaran secara menyeluruh, mulai dari masalah di kelas sampai pada hal-hal yang kecil dibahas semua.

 

Pdp

KS

W

Untuk pembelajaran secara umum di Kelas kami melakukan  pengendalian dalam bentuk supervisi kelas  dengan cara melakukan pembinaan-pembinaan terhadap proses pelaksanaan KBM pada saat itu. Jika tidak masuk kelas, kami melakukannya dengan cara penilaian perangkat pembelajaran yang dibuat oleh guru yang bersangkutan. Cara yang kedua adalah dengan supervisei secara klinis, yaitu melakukan pembinaan kepada guru yang bersangkutan baik dilakukan di ruang kepala sekolah maupun dalam rapat dinas dewan guru. Cara seperti ini diharapkan yang datang secara aktif adalah gurunya bukan kepala sekolahnya. Hal ini saya lakukan untuk mencari permasalahan-permasalahan yang terjadi sepanjang proses dan hasil pembelajaran di kelas.

 

Pdp

KS

W

Untuk pembelajaran PAI di kelas kami mengadakan supervisi dengan cara bekerjasama dengan Pengawas Pendidikan Agama Islam dari Depag. Seperti yang sudah-sudah bahwa wilayah Pendidikan Agama Islam memang harus ditangani oleh Depag dan dari depag sendiri sudah ditentukan pengawasnya. Sehingga kami hanya melihat dari sisi administrasinya saja, belum sampai pada supervise di kelas . nampaknya masalah pengendalian pembelajaran PAI ini memang diatur sesuai dengan pengawas mata pelajaran. Dan khusus pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 ini pengawas dari Depag adalah bapak Syamsul Arifin. Kalau pengawas secara umum dan hanya pembinaan di SMP ini yang dari Dinas Pendidikan adalah Bu Mawar.

Pdp

KS

W

Karena para siswa-siswi SMP 4 ini berada pada lingkungan sekolah umum, maka kegiatan ekstrakurikuler PAI ini diorientasikan pada penunjang mata pelajaran Agama Islam dimana hanya diberikan 2 jam setiap minggunya, untuk itu perlu digalakkan kegiatan ekstra yang menunjang dan dilaksanakan pada jam-jam di luar jam pelajaran. Disamping itu, misi SMP 4 ini adalah unggul dalam IPTEKs berlandaskan IMTAQ dan berbudi pekerti luhur. Maka salah satunya ya memperbanyak kegiatan kegamaan melalui ekstrakurikuler PAI.

Pdp

KS

W

Untuk program pembelajaran ekstrakurikuler kami lakukan dengan melihat daftar hadir Pembina ekstra sekaligus untuk menentukan honor pembinaannya. Juga melihatnya lewat keikutsertaan ekstra tersebut dalam kejuaraan lomba-lomba yang diselenggarakan di luar SMP 4 Malang ini. Kalau kemarin misalnya ada lomba Pidato dan Cerdas-cermat Agama Islam yang diselenggarakan oleh MGMP PAI SMP, maka kami kontak Pembina ekstra Agama Islam untuk mengikutinya, dan ternyata berhasil menjadi juara 2 lomba pidato tingkat SMP se-Kota Malang.

Pdp

KS

W

Untuk ekstra Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang ini dikembangkan program TPA dengan nama BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) dan Bahasa Arab, sedangkan untuk pengendaliannya juga lewat supervise kegiatan dengan melihat semacam silabus yang dibuat  dan daftar hadir Pembina ekstra. ada lagi kegiatan yang sudah terprogram dan masuk dalam struktur kurikulum yaitu pembiasaan IMTAQ diisi oleh wali kelasnya masing-masing. Nah kegiatan IMTAQ ini untuk sementara tujuannya supaya anak-anak terbiasa saja dalam melafalkan do’a-do’a harian dan ayat-ayat pendek dalam Al-Qur’an sedangkan untuk agama Kristen ditempatkan dalam kelas khusus untuk dibina tersendiri. Adapaun cara pengendaliannya tidak ada evaluasi  hanya pada daftar hadir wali kelas pada jam tersebut. Satu lagi yang ingin saya tekankan disini adalah bentuk keteladanan perlu dikembangkan disini. Karena kita lihat akhir-akhir ini siswa maupun guru kita banyak yang kurang pede karena krisis keteladanan itu. Karena itu saya ingin di SMP Negeri 4 Malang ini keteladanan yang baik  dari kepala sekolah, guru, dan siswa perlu digalakkan, agar muncul bibit pemimpin yang diteladani di masa-masa yang akan datang. Bentuk keteladanan dari siswa sudah dimulai dengan seragam busana muslim setiap hari Jum’at, yang dari guru-guru muslim semuanya sudah berbusana muslim.

 

 

HASIL WAWANCARA

 

 

Sumber Data        : Slamet Udadi, S. Pd., SH

Tanggal                 : 23 April 2010

Jam                        : 10.00-11.00 WIB

Tempat                  : Ruang Staf  SMP Negeri 4 Malang

Peringkas               : Sukirman

 

Kode

Masalah

Kode Data

Kode

Teknik

Isi Ringkasan

Plp

WKS

W

Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler PAI.

….Begini ceritanya pak. Sewaktu kepala sekolah dipimpin Bu As (Asmiaty), ekstrakurikuler Bahasa Arab ini sangat maju, bahkan pembinanya dihadirkan dari dosen sastra Bahasa Arab UM yaitu pak Izzudin al-Adib. Pada waktu itu memang bu As menginginkan di SMP Negeri 4 Malang ini maju di 5 bahasa, yaitu Inggris, Mandarin, Arab, Indonesia, dan Jawa. Dan kebetulan dari Dinas pendidikan Kota Malang selalu menyelenggarakan kegiatan lomba 5 bahasa. Maka sekalian dipersiapkan untuk menuju ke sana. Selama 4 tahun bu As memimpin sekolah ini, ternyata memang lomba 5 bahasa ini selalu diikuti, dan hasilnya sangat bagus di 3 bahasa. Pernah juara 1 lomba bahasa Jawa 4 tahun berturut-turut, juara 2 lomba bahasa arab tahun 2006 pada saat itu pesertanya bernama Bunga Agari dan lomba pidato bahasa Indonesia juara 2. Nah setelah itu, ketika sekolah-sekolah dilarang menarik dana dari masyarakat, akhirnya berimbas pada penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah termasuk di SMP Negeri 4 Malang. Tetapii SMP 4 masih menyediakan bentuk kegiatan ekstra bahasa arab, namun tidak satupun yang memilih ekstra ini. Akhirnya SMP 4 tetap menyelenggarakan kegiatan ekstra Bahasa Arab ini yang  pesertanya diambilkan dari peserta ekstra BTA (Baca Tulis Al-Qur’an) tentu dengan kemampuan penguasaan membaca Al-Qur’annya di atas rata-rata siswa lain. Sehingga penawaran  ekstra Bahasa Arab ini sampai sekarang masih terprogram tetapi pada pelaksanaannya masih menyesuaikan dengan kondisi di Dinas pendidikan Kota Malang. Kalau memang nanti lomba 5 bahasa ini dilaksanakan lagi, maka sekolah ini juga akan mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba tersebut, lagipula pembina ekstra Bahasa Arab sampai sekarang masih ada yaitu pak Mashudi. Hanya saja karena ekstranya masih vacum, maka beliaunya disuruh membantu untuk membina ekstra BTA (Baca Tulis Al-Qur’an)

 

Pdp

WKS

W

Dalam kegiatan pembelajaran PAI di SMP 4 diadakan praktek pembiasaan budaya religius dan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan seperti BTA dan Bahasa Arab, sholat jum’at di Masjid sekolah, kajian keputrian, pondok romadhon dan peringatan hari besar Islam lainnya. Hal ini dimaksudkan agar para siswa berlatih dan terbiasa mepraktekkan ilmu-ilmu keislaman yang sudah diketahuinya dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Pdp

WKS

W

Tujuan Ekstrakurikuler tersebut yaitu pengembangan potensi dan minat bakat siswa-siswi , menambah wawasan keislaman serta persiapan mengikuti lomba-lomba  5 bahasa yang setiap tahunnya diselenggarakan di kota Malang ini.

 

Pdp

WKS

W

Biasanya, para guru ekstra yang menghadapi kesulitan terkait dengan kegiatan pembelajaran, baik masalah waktu, tempat, dan alat-alat praktek, biasanya disampaikan langsung kepada Koordinator  kesiswaan yang membidangi ekstrakurikuler (Pak Prapto), dan juga melalui rapat khusus pembina ekstra serta perbincangan ketika pelaksanaan ekstra tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL WAWANCARA

 

 

Sumber Data        : Hj. Nurul Qomariyah, S. Pd (Koord. Kurikulum)

Tanggal                 : 12,14, 25  Maret, 4 April  2010

Jam                        : 10.00-11.00 WIB

Tempat                  : Ruang Staf  SMP Negeri 4 Malang

Peringkas               : Sukirman

 

Kode

Masalah

Kode Data

Kode

Teknik

Isi Ringkasan

Prp

Urs.Kur

W

Kurikulum yang digunakan di SMP Negeri 4 Malang ini adalah kurikulum KTSP  dengan beberapa penambahan sesuai dengan kebutuhan sekolah yang disusun oleh Tim pengembang kurikulum dengan melibatkan berbagai pihak. Termasuk ada tim MGMPS yang bertugas mengembangkan program-program pembelajaran untuk dijadikan pedoman baik pembelajaran kokurikuler maupun ekstrakurikuler

 

Prp

Urs.Kur

W

Setiap memasuki liburan semester guru-guru mengikuti kegiatan workshop yang diselenggarakan sekolah untuk menyusun perangkat pembelajaran yang didalamnya akan membuat pengembangan silabus dan sistem penilaian, Rencana pelaksanaan pembelajaran, program tahunan, program semester, pemetaan materi, analisis standar isi, kriteria ketuntasan minimal dan lain-lain. Juga termasuk kegiatan pengembangan diri dalam bentuk ekstrakurikuler harus ada perangkat pembelajarannya berikut kriteria penilaian.  Hal ini dilakukan supaya pada waktu masuk pelajaran guru-guru tidak disibukkan dengan administrasi pembelajaran.

 

Prp

Urs.Kur

W

Di sini ekstrakurikuler yang mendukung kegiatan pembelajaran pendidikan Agama Islam adalah BTA dan Pidato Bahasa Arab. Hal ini diadakan dengan tujuan meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan menulis Al Quran dan Meningkatkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Arab dan kalau bisa ya  meningkatkan prestasi non akademik siswa dalam bahasa Arab alias bisa juara dalam mengikuti kegiatan lomba yang setiap tahunnya ada kegiatan lomba 5 bahasa itu

 

Prp

Urs.Kur

W

Kami membagi program pembelajaran kurikulum itu menjadi 2 bagian. Satu untuk program pembelajaran intrakurikuler atau kurikulum yang terstruktur, dua untuk program pengembangan diri yang pelaksanaannya tidak dicantumkan dalam struktur kurikulum, namun dilaksanakan di luar jam pelajaran dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Untuk program pembelajaran yang masuk dalam struktur kurikulum, kami memberikan keluasan kepada masing-masing guru untuk mengembangkan mulai dari perencanaan membuat silabus, RPP, menggunakan metode pada saat mengajar maupun membuat kriteria penilaian. Sedangkan untuk kegiatan pengembangan diri kami serahkan kepada masing-masing guru yang menanganinya tetapi harus mengacu pada aturan yang ditentukan. Misalnya pengembangan diri dalam bentuk ekstra BTA(Baca Tulis Al-Qur’an), harus sesuai dengan tujuan pembelajaran PAI, Pramuka harus sesuai dengan tujuan pembentukan kedisiplinan yang disesuaikan dengan Mapel PKn, dan lain-lain. Adapun yang terkait dengan budaya-budaya yang dikembangkan disini itu masuk dalam program spontanitas termasuk kerja bhakti, jum’at bersih, ta’ziyah, santunan kematian, santunan fakir-miskin, budaya salim dan lain-lain. Termasuk membudayakan berbahasa Inggris pada hari jum’at dan berbahasa Jawa pada hari Sabtu.

 

Plp

Urs.Kur

W

…dalam upaya mewujudkan visi-misi SMP Negeri 4 Malang, maka penentuan guru mata pelajaran PAI diserahkan kepada urusan kurikulum. Sedangkan untuk guru ekstrakurikuler diserahkan kepada koordinator kesiswaan dengan pertimbangan koordinator ekstrakurikuler. Karena dari merekalah secara persis tahu karakteristik guru yang mengajar dan materi yang diajarkan. Untuk tahun ini,  Pak Untung mengajar PAI kelas VII dan IX dengan jumlah jam 24, sedangkan untuk pak Kirman mengajar kelas VII dan VIII dengan jumlah jam 18 ditambah ekstra dan Pembina OSIS bidang ketaqwaan. Pembagian jam seperti ini karena tuntutan sertifikasi yang harus dipenuhi. Karena pak untung tahun ini yang sertifikasi maka diberi jam 24 sisanya pak Kirman yang saat ini masih kuliah S2 dan belum sertifikasi (W-3-Urs.Kur.Plp.22-03-10)

 

Pdp

Urs.Kur

W

Begini pak, untuk penilaian Mata Pelajaran PAI, evaluasi pembelajarannya menggunakan model yang sudah ditetapkan oleh BSNP yaitu ada ujian tulis dan praktek. Yang termasuk ujian tulis diambilkan dari ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester. Sedangkan untuk ujian praktek diambilkan dari praktek-praktek keagamaan yang sudah diprogramkan di sekolah seperti rajin sholat wajib dzuhur dan jum’at di sekolah ditambah penilaian akhlak. Penilaian akhlak ini menyangkut; afektif dan psikhomotorik siswa. Untuk penilaian ujian praktek membaca Al-Qur’an yang dinilai adalah makhroj, tajwid, dan kelancaran baca.

 

Pdp

Urs.Kur

W

Ujian tulis maupun praktek dilaksanakan oleh Guru PAI dan sekolah dengan menggunakan nilai angka. Standar kelulusan yang digunakan adalah minimal mencapai angka 72. jika belum mencapai ketentuan tersebut, siswa harus mengikuti program remedial yang jadwalnya ditentukan oleh kurikulum.

 

Pdp

Urs.Kur

W

Disini ini Pak, budaya kerja tanpa harus diperintah masih belum jalan sekalipun itu menjadi motto SMP 4 , karenanya masih harus belajar banyak. Sering Pak Bambang bilang kepada kami-kami khususnya yang staf untuk selalu memonitor anak-anak, nyuwun tulung (minta tolong) lebih sregep (rajin) agar murid-murid kita pinter dan nantinya jadi orang yang berguna di masyarakat.

 

 

HASIL WAWANCARA

 

 

Sumber Data        : Priyo Gupuh Suryantoro, S. Pd (Koord. Kesiswaan)

Tanggal                 : 23 Maret  2010

Jam                        : 08.00-08.30.00 WIB

Tempat                  : Ruang Staf  SMP Negeri 4 Malang

Peringkas               : Sukirman

 

Kode

Masalah

Kode Data

Kode

Teknik

Isi Ringkasan

Prp

Urs.Sis

W

Sejak saya ditunjuk teman-teman guru untuk menjadi koordinator kesiswaan di sini, saya hanya meneruskan tradisi yang sudah-sudah dalam memilih kepengurusan OSIS. Dimana setiap tahun menjelang kepengurusan OSIS lama berakhir, saya mengumpulkan anak-anak untuk saya mintai kesediaan mereka menjadi pengurus OSIS. Hasilnya setelah mereka mendapat persetujuan orang tuanya, baru saya nyatakan mereka bersedia untuk menjadi pengurus OSIS. Setelah menjaring lewat perwakilan kelas yang setiap kelasnya dipilih 2 orang yang bersedia, maka pada waktu pemilihan terdapat beberapa calon ketua OSIS. Kemudian setiap calon ada tim sukses mengadakan kampanye lewat selebaran atau tulisan-tulisan yang ditempel di setiap sudut papan pengumuman. Kemudian disediakan waktu khusus untuk memaparkan program satu tahun ke depan termasuk visi dan misi jika menjadi ketua OSIS dalam sidang pleno yang dihadiri perwakilan pengurus kelas masing-masing 2 orang , pengurus OSIS lama yang jumlahnya sekitar 45 orang , dan  pembina OSIS yang jumlahnya sekitar 10 pembina. Kemudian besoknya diadakan pemilihan ketua OSIS secara langsung oleh semua siswa dengan mencontreng  salah satu calon yang ada pada surat suara.

Setelah terpilih satu calon suara terbanyak, maka pada hari berikutnya diadakan pelantikan pengurus OSIS yang baru terpilih. Setelah pelantikan tersebut, tidak lama kemudian mereka harus mengikuti Diklat LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) selama tiga hari. Pada saat inilah semua pengurus OSIS membuat program-program sesuai dengan 8 seksi yang ada dalam kepengurusan OSIS tersebut. Untuk seksi ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, biasanya yang paling banyak programnya, karena kita tahu sendiri bahwa seksi ketaqwaan ini yang paling menonjol ada 3 agama besar di Indonesia. Yakni; Islam, Kristen, dan Katholik. Tentu dengan merangkum setiap acara keagamaan harus diperingati, maka setidaknya setiap tahunnya program-program ketaqwaan ini ada 20 an kegiatan baik yang diselenggarakan di sekolah maupun di luar sekolah

Prp

Urs.Sis

W

Memang kondisinya disini masih harus sering dikontrol pak, jika tidak dikontrol atau diawasi, akan menjadi kendor (malas dan tidak rajin), ya jadinya harus betul-betul maksimal pengawasannya.

 

 

HASIL WAWANCARA

 

 

Sumber Data        : Sucipto (Koord. Sarpras)

Tanggal                 : 20 April  2010

Jam                        : 009.00-09.15.00 WIB

Tempat                  : Ruang Guru  SMP Negeri 4 Malang

Peringkas               : Sukirman

 

Kode

Masalah

Kode Data

Kode

Teknik

Isi Ringkasan

Pdp

Urs.Sarpras

W

Untuk kegiatan praktek ibadah, menggunakan tempat Masjid Sekolah, tetapi jika tempat tersebut berbenturan dengan kegiatan lain seperti waktu dzhuhur banyak yang sholat dzuhur, maka kegiatan praktikum dialihkan ke ruang agama Islam. Di ruang tersebut sudah disediakan alat-alat ibadah dan Al-Qur’an serta dilengkapi dengan Televisi 21 inchi dan player DVD. Jadi kalau memang dalam praktek tersebut menggunakan media yang berkaitan dengan pemutaran praktek-praktek sholat dan baca Al-Qur’an bias menggunakannya dengan baik tanpa harus mencari media di ruang lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL WAWANCARA

 

 

Sumber Data        : U. Djarwadi (GPAI)

Tanggal                 : 12 April  2010

Jam                        : 13.00-13.30 WIB

Tempat                  : Ruang Guru  SMP Negeri 4 Malang

Peringkas               : Sukirman

 

Kode

Masalah

Kode Data

Kode

Teknik

Isi Ringkasan

Pdp

GPAI

W

Sesuai dengan Visi SMP 4, maka kegiatan – kegiatan yang dikembangkan harus mempunyai nilai dan dampak kepada kualitas iman dan taqwa siswa, sehingga, kami sebagai guru agama di sini dalam mengendalikan siswa agar mencapai visi tersebut membuat macam-macam penilaian sebagai bentuk pengendalian program. Seperti penilaian PAI kami tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, bahkan yang lebih banyak berpengaruh terhadap penilaian ini adalah afektif siswa melalui kegiatan-kegiatan pengembangan diri, praktek keagamaan di sekolah.

 

Sebenarnya para siswa SMP 4 ini masih banyak yang tidak bisa membaca Al-Qur’an dan Sholat, dari   rata-rata setiap kelasnya dijumpai sekitar ada 2-3  yang tidak bisa baca dengan lancar. Tetapi dasar-dasarnya sudah punya. Nah ketika ada ujian praktek atau ada uji kompetensi bab Al-Qur’an, banyak siswa yang minta orang tuanya untuk privat ngaji. Cara semacam ini sebenarnya kan bisa ditempuh dengan mengikuti ekstra BTA di sekolah tetapi anak-anak banyak yang malu , sehingga yang mengikuti ekstra BTA di sekolah justru anak-anak yang sudah mampu membaca.

 

“Segi penilaian agama Islam untuk afektif masih menjadi problem memang. Bagaimana format yang bagus, yang semakin komplit. Dan tidak semua guru yang menilai afektif secara baik. Itu tadi, kadang-kadang menilai itu kan perlu ada bukti fisik, ini kadang-kadang yang nda, ini anaknya agamanya bagus. Anak ini, nilainya A, dasarnya apa? Dengan pengamatan saja tidak kuat, tapi kalau ada data-data otentik afektif, penilaian afektif dari aspek ini, bisa kita gunakan”

 

 

 

 

 

 

 

HASIL WAWANCARA

 

 

Sumber Data        : Ust. Mashudi (Pembina Ekstra )

Tanggal                 : 24 Maret  2010

Jam                        : 13.00-14.00  WIB

Tempat                  : Ruang Guru  SMP Negeri 4 Malang

Peringkas               : Sukirman

 

Kode

Masalah

Kode Data

Kode

Teknik

Isi Ringkasan

Prp

Pb.Ekstra

W

Ketika saya disuruh pak Prapto (koordinator ekstrakurikuler) untuk mengajar ekstra PAI di SMP 4 ini, Baru disini saya disuruh membuat silabus, RPP, dan program-program yang akan saya kerjakan untuk membina ekstra sekaligus saya disuruh membuat target yang akan dicapai selama satu tahun ke depan. Juga disuruh dalam membuat program tersebut untuk mencantumkan sistem atau metode yang digunakan dalam pembelajaran ekstra itu. Serta biaya yang dibutuhkan dalam melaksanakan program-program tersebut.

 

Prp

Pb.Ekstra

W

Sebelum saya mengajar ekstra Bahasa Arab ini, saya membuat program-program yang akan saya ajarkan nanti  karena permintaan dari pembina kesiswaan begitu. Program-program itu menyangkut; silabus. Dalam silabus itu saya cantumkan Kompetensi yang harus dikuasai siswa atau materi yang saya ajarkan, metode yang saya gunakan, target yang harus dikuasai siswa dan lain-lain. Termasuk saya membuat rancangan kegiatan ini berdasarkan waktu yang tersedia, apa saja alat-alat yang saya butuhkan dalam mengajar, berapa anggaran biaya yang dibutuhkan, dan lain-lain. Hal ini karena memang saya disuruh seperti itu oleh pak Ndang (Endang Sutisna; tim pengembang kurikulum). Sedangkan berkaitan dengan sistem pengajarannya saya tekankan pada aspek khitobahnya untuk sementara saya menghiraukan aspek nahwunya karena tuntutan ekstra ini adalah minimal bisa berbicara bahasa Arab. Dan anak-anak bisa berbicara bahasa arab ketika nanti ada lomba 5 bahasa yang salahsatunya adalah bisa mengikuti lomba pidato bahasa Arab.

 

Prp

Pb.Ekstra

W

Materi yang saya ajarkan pada ekstrakurikuler BTA saya kembangkan sesuai dengan kompetensi yang diajarkan di SMP. Saya lihat pada SKL (Standar Kompetensi Lulusan) Pendidikan Agama Islam di SMP aspek Al-Qur’an, ternyata menekankan pada penguasaan ilmu Tajwid, maka saya menyusun silabus ini banyak saya tekankan pada ilmu tajwid. Sedangkan pengembangannya nanti sesekali saya ajari qiro’ah, tentu saja jika nanti anak-anak sudah banyak yang lancar baca dan fasih dalam bacaannya. Hal ini saya lakukan untuk mengisi acara-acara peringatan hari besar keagamaan Islam yang biasanya dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an .

 

HASIL WAWANCARA

 

 

Sumber Data        : Ustz Flouren (Pembina Keputrian )

Tanggal                 : 19 Maret  2010

Jam                        : 13.00-13.30  WIB

Tempat                  : Ruang Guru  SMP Negeri 4 Malang

Peringkas               : Sukirman

 

Kode

Masalah

Kode Data

Kode

Teknik

Isi Ringkasan

Prp

Pb.Putri

W

Ketika saya dan teman-teman dipercaya membina kegiatan keputrian disini, kami pertama kali memperkenalkan kegiatan-kegiatan yang dijalankan KiASS secara umum dalam bentuk proposal, kala itu Pak Untung yang memanggil kami, pada saat itu pak Untung sebagai pembina keagamaan putra sebelum pak Kirman yang sekarang, akhirnya setelah kami ajukan proposal, oleh pak untung disuruh membuat reng-rengan program yang akan diajarkan. Maka proposal tersebut saya ganti semacam rencana pembelajaran tetapi dalam bentuk silabus yang isinya hanya materi, tujuan dan penanggungjawab kegiatan yang mengacu pada jadwal kegiatan Jum’at yang dibuat oleh OSIS.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL WAWANCARA

 

 

Sumber Data        : Nadzila Zafarina (Pengurus Ketaqwaan Osis)

Tanggal                 : 19 Maret ,18 & 21 April 2010

Jam                        : 13.30-14.00  WIB

Tempat                  : Ruang Osis  SMP Negeri 4 Malang

Peringkas               : Sukirman

 

Kode

Masalah

Kode Data

Kode

Teknik

Isi Ringkasan

Prp

Pg.Osis

W

….program kegiatan Jum’at di sekolah sudah kami susun, tetapi hanya pada kegiatan jum’at atau jadwal kegiatan jum’at bukan jadwal keputrian, nah yang keputrian menyesuaikan saja dengan tema-tema atau judul yang ada dalam khutbah. Kemudiaan yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan yang ditangani OSIS sudah ada sebelumnya kami rancang ketika kami mengadakan latihan dasar kepemimpinan dulu. Sehingga secara garis besar kegiatan keagamaan yang dikembangkan di SMP Negeri 4 ini ditangani oleh OSIS dengan pembina masing-masing seksi, kalau pembina ketaqwaan Agama islam ya Pak Kirman sendiri kan?

 

Plp

Sis

W

Saya merasa senang diajar oleh pak Untung, karena setiap kali ngajar, pak Untung selalu memberi kultum (ceramah) yang menggugah hati teman-teman. Selalu mengingatkan pentingnya membaca al_Qur’an , sholat dan menghormati orang tua. Tiga masalah itu sering kali diingatkan oleh pak Untung. Disamping itu pak Untung termasuk guru yang sangat sabar dan telaten untuk ngajari yang tidak bisa baca al-Qur’an, yang belum bisa bacaan sholat, dan dengan rela pak Untung mau menyempatkan ngajari anak-anak yang belum bisa ngaji di Masjid Sekolah.

 

Plp

Sis

W

Saya suka dengan model mengajar yang diterapkan oleh guru-guru Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang ini. Baik pak Untung atau pak Kirman sama-sama mempunyai kelebihan. Kalau pak Untung sangat tegas terhadap siswa yang melakukan pelanggaran, ini berarti sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kedisiplinan. Hal ini sering dikatakan  oleh pak untung kepada teman-teman di kelas.”Jika kalian ingin sukses dunia akhirat, maka tegakkan kedisiplinan” demikian sering diutarakan oleh pak Untung dan itu sangat aku sukai pak. Kemudian saya suka dengan cara mengajarnya pak Kirman. Karena setiap pertemuan pasti membawa laptop ke kelas , sehingga anak-anak itu tidak bosan dengan ceramah thok. Lagi pula pak kirman juga sering humor, nyantai, dan tidak pernah marah-marah di kelas VIII A ini. Dan yang lebih penting pak kirman ini mau diajak curhat tentang keagamaan di luar dari tema yang disampaikan di kelas.

 

 

 

HASIL OBSERVASI

 

Lokasi                    : Masjid “Manarul Hadi” SMP Negeri 4 Malang

Jenis Obyek          : Kegiatan Ekstra BTA (Baca Tulis Al-Qur’an)

Tanggal                 : 05 Mei 2010

Jam                        : 13.00-15.00

Pengamat              : Sukirman

 

Kode

Data Hasil Pengamatan

O-Plp.Ekstra Pukul 13.00 wib Pak Mashudi memasuki Masjid, kemudian bertanya kepada anak-anak: “apa kalian sudah sholat dzuhur? Sudah pak jawab anak-anak dengan serentak. Pada waktu itu Pak Mashudi rupanya belum sholat dzuhur. “Tunggu sebentar ya! Saya tak sholat dzuhur dulu” kata pak Mashudi. Dalam pengamatan peneliti, pada saat itu masih banyak peserta ekstra terutama yang putra belum hadir di Masjid. Setelah pak Mashudi selesai sholat dzuhur, sebanyak 10 siswa putra berlarian memasuki Masjid dengan berkata: “ Oh, Pak Mashudi sudah datang” he.. teman-teman gimana ini, kita sholat dzhuhur aja dulu ya? Kata salah seorang peserta tersebut. Akhirnya ke 10 siswa yang terlambat tadi mengambil air wudlu terlebih dahulu, setelah itu mereka melaksanakan sholat dzhuhur secara berjamaah.

Pukul 13.10 pelajaran ekstra Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) dimulai. Pak Mashudi mengambil tempat  sambil mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok belajar model  U dengan sebelah kiri ditempati peserta putra, sementara sebelah kanannya ditempati siswa putri. Pembelajaran dimulai dengan salam pembuka dari Pembina dilanjutkan dengan melihat daftar absensi peserta yang hadir pada saat itu sekitar 5 menit lamanya pak Mashudi menyiapkan peserta sambil mengabsennya.

Pukul 13.15. Pak Mashudi mempersilakan masing-masing peserta untuk membuka Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30-39. “Sudah ketemu semua”? Tanya pak Mashudi. “sudah pak!, “Jawab peserta ekstra dengan serentak. Pukul 13.20 Pak Mashudi memulai dengan membaca ayat sambil dilantunkan seperti model qiro’ah, kemudian pak Mashudi menyuruh siswa untuk menirukan bacaan yang baru saja dibacakan tadi. Secara berulang-ulang sambil sesekali membetulkan bacaan peserta yang masih kurang sempurna. Model pelaksanaan ekstra seperti yang dipraktekkan oleh pak mashudi diatas berlangsung sampai  pukul 14.20 . setelah itu  Pak Mashudi mempersilakan anak-anak untuk bertanya tentang ilmu tajwid atau yang lain. Nampaknya anak-anak masih banyak yang belum mengetahui ilmu tajwid, sehingga banyak sekali siswa yang bertanya.

Proses Tanya jawab berakhir pukul 14.30. dilanjutkan dengan penandatanganan kartu prestasi yang sudah disediakan sebelumnya oleh masing-masing peserta ekstra. Terlihat sangat berhati-hati pak mashudi membubuhkan tanda tangannya di kartu peserta tadi. Karena pak mashudi juga menanyakan tentang ilmu tajwid kepada masing-masing peserta. Jika bisa menjawab, maka kartu prestasi tadi ditanda tangani, jika tidak bisa menjawabnya, maka ditulis dalam kartu tersebut untuk diulang mingggu depan. Kegiatan penandatanganan kartu prestasi tersebut berlangsung sekitar 15 menit. Pada pukul 15. 45 pak Mashudi mengakhiri kegiatan dengan membaca do’a akhir majlis bersama-sama siswa. Dilanjutkan dengan membaca hamdalah dan salam oleh Pembina ekstra.

 

 

 

 

 

HASIL OBSERVASI

 

Lokasi                    : Kelas IX A, B, & F

Jenis Obyek          : Kegiatan Ekstra BTA (Baca Tulis Al-Qur’an)

Tanggal                 : 18, 20 April & 05 Mei 2010

Jam                        : 13.00-15.00

Pengamat              : Sukirman

 

Kode

Data Hasil Pengamatan

O-Plp.Intra Pada pukul 08.00. Pak Untung memasuki kelas IX F, anak-anak serentak berdiri memberi ucapan salam dipimpin oleh ketua kelasnya sambil memberi aba-aba “memberi saalam” terdengar suara serentak “Assalaamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh” kemudian Pak Untung menjawab “wa’alaikum salaam warohmatullahi wabarokaatuh” dilanjutkan dengan aba-aba lagi dari ketua kelas  dengan mengucapkan “Berdoa’a mulai!” anak-anak berdoa’a kurang lebih 3 menit lamanya sambil membaca teks do’a belajar yang disiapkan sebelumya.

 

Pukul 08.05. Pak Untung berdiri sambil melihat-lihat suasana kelas kemudian menanyakan siswa yang tidak hadir pada hari itu   “anak-anak, adakah temanmu yang tidak hadir saat ini?” anak-anak dengan serentak menjawab “ ada pak, yaitu Kivlan” ada apa  dengan Kivlan? Tanya Pak Untung, “sakit pak “jawab anak-anak. Kemudian Pak Untung kembali ke tempat duduknya sambil menulis sesuatu.

 

Kemudian Pak Untung berdiri lagi  dan berjalan menuju papan tulis dengan menulis “ Bab VIII. Al-Qur’an Surat Al-Insyirokh” selesai menulis, Pak Untung menghadap ke siswa sambil memberi kultum terkait dengan penjelasan isi kandungan surat Al-Insyirakh. Setelah kultum, selanjutnya pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah dipimpin oleh siswa yang bertugas secara bergiliran yang jadwalnya sudah diatur oleh ketua kelas. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dari guru tentang kandungan ayat yang tersirat di dalamnya, kemudian Pak Untung menjelaskan isi kandungan ayat dihubungkan dengan materi yang akan dipelajari yang diselingi dengan pertanyaan secara bergiliran kepada setiap siswa.

 

Pada pukul 08.15. Pak Untung membagi kelompok diskusi dimana masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 orang. “sebelum kita bahas lebih lanjut materi kita pada hari ini, silakan kalian membentuk kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4 sampai 5 orang!” perintah Pak Untung kepada anak-anak . sambil menunggu anak-anak membagi kelompok, pak Untung menyiapkan kertas yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan didiskusikan. Sambil berdiri dan menatap ke siswa, beliau bertanya lagi “apakah semua kelompok sudah siap?” anak-anak menjawab “sudah pak” “ada berapa kelompok?” tanya pak untung dengan tegas. “ada 10 kelompok pak” jawab ketua kelas yang masuk kelompok 1.

 

Pukul 08.25. Pak Untung menyuruh masing-masing kelompok supaya memilih ketua dan sekretaris diberi waktu 2 menit. Anak-anak berdiskusi memilih ketua dan sekretaris yang nantinya bertugas memimpin jalannya diskusi dan merangkumnya. Kemudian pak Untung mendatangi salah satu kelompok yang belum terpilih ketua dan sekretaris, sambil bertanya: “kenapa belum terpilih ketua dan sekretaris?” salah satu siswa menjawab: “tidak ada yang mau pak !”. akhirnya Pak Untung menunjuk satu siswa laki-laki sebagai ketua dan satu siswa perempuan sebagai sekretaris dalam kelompok tersebut.

 

Pukul 08.30. Pak Untung menyuruh masing-masing ketua kelompok mengambil kertas yang sudah disiapkan sebelumnya oleh pak Untung. “silakan ketua kelompoknya mengambil soal-soal diskusi kedepan” perintah pak Untung. Anak-anak mengambil kertas ke pak Untung kemudian diperlihatkan kepada kelompoknya masing-masing. Anak-anak memperhatikan perintah pak Untung dengan seksama dengan santai anak-anak mengerjakan secara kelompok selama 40 menit . sambil mengamati jalannya diskusi kelompok, pak Untung menyiapkan daftar penilaian diskusi kelompok sambil menilai secara kelompok.

 

Pukul 09.10 diskusi kelompok diakhiri, masing-masing kelompok melaporkan kepada pak Untung bahwa telah selesai mengerjakan semua pertanyaan yang didiskusikan. Akhirnya pak untung memberi penguatan dalam materi Al-Qur’an surat Al-Insyirokh 1-8. dan membahasnya kembali petemuan yang akan datang dengan presentasi masing-masing kelompok maju ke depan. Sambil terdengar bel berbunyi tanda jam pelajaran ke 3-4 berakhir. Pak Untung memberi salam.

 

  Selain itu, dalam observasi yang dilakukan peneliti pada tanggal 20 April 2010 khususnya pada kelas IX A ditemukan, guru pada kegiatan awal , sempat memberi tugas pada siswa pada tatap muka sebelumnya, guru terlebih dahulu memeriksa dan mengembalikan pekerjaan rumah siswa serta mengomentari jawaban mereka. Komentar ini tentunya dalam rangka mengoreksi (meluruskan) jika jawaban mereka kurang tepat. Sesekali dalam komentar guru juga, dalam bentuk reward verbal jika terdapat jawaban siswa yang sudah tepat.

 

Sedangkan untuk kelas IX B, guru PAI memulainya dengan doa bersama, dilanjutkan dengan tadarrus berjamaah beserta pembacaan terjemahnya yang dipimpin langsung oleh guru. Setelah itu, guru memberikan sedikit penjelasan tentang makna yang terkandung dalam ayat yang baru saja mereka baca.Kegiatan selanjutnya adalah kultum dari guru yang akan mengajar. Guru yang  membawakan kultum ini bebas memilih tema apa yang akan disampaikan di depan kelas. Dengan model ini, siswa diharapkan mampu bisa mencontohnya yang pada akhirnya siswa diberi  tugas untuk melaksanakan kegiatan tersebut  selama 7-10 menit.  Selanjutnya guru memberi appersepsi  dengan tanya jawab seputar kultum yang dibawakan tadi tentu saja materinya sudah disesuaikan dengan bab yang akan dibahas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL OBSERVASI

 

Lokasi                    : Kelas VII G

Jenis Obyek          : Kegiatan pembelajaran

Tanggal                 : 25 April 2010

Jam                        : 06.30-07.50 WIB

Pengamat              : Sukirman

 

Kode

Data Hasil Pengamatan

O-Plp.Intra Pada Pukul 06.30 anak-anak kelas VII G berbaris di depan kelasnya. Secara bergantian, siswa laki-laki terlebih dahulu memasuki kelas disusul siswa perempuan. Kemudian Pak Untung masuk kelas. Dalam keadaan berdiri, ketua kelas VII G, Della Maulida menyiapkan teman-temannya sambil memberi salam kepada bapak Guru. Kurang lebih 3 menit dalam berdoa, siswa dengan khidmat membaca teks do’a yang dipersiapkan sebelumnya di laci mejanya masing-masing.

 

Pukul 06.35. Pak Untung menjelaskan tentang konsep-konsep dan garis besar pokok materi, yang kemudian sering diselingi dengan lontaran pertanyaan-pertanyaan yang menantang siswa untuk mengeluarkan pendapatnya. Hampir sering terlihat memberi pertanyaan kepada siswa yang sifatnya terbuka sehingga memotivasi siswa untuk mengeluarkan pendapatnya.

Selanjutnya, pada pukul 07.00. Pak Untung membagi tugas dengan tema atau kompetensi/sub kompetensi yang berbeda-beda sesuai dengan target kurikulum pada kelas VII, yang dibagi dalam beberapa kelompok, untuk didiskusikan pada pertemuan berikutnya, yang tentunya terkait dengan kompetensi yang telah dijelaskan. Pada saat itu, Pak Untung menerapkan metode ceramah plus yaitu disamping menggunakan ceramah secara langsung diselingi dengan tanya jawab di tengah-tengah penjelasan selama kurang lebih 30 menit sambil menulis dalil-dalil Al-Qur’an yang terkait dengan materi pada saat itu yaitu tentang Akhlak terpuji.

Pada pukul 07.30. Pak Untung memberi tugas untuk mengerjakan soal-soal yang ada di LKS selama 15 menit berlangsung. Sangat kelihatan Pak Untung agak serak suaranya sambil sesekali menatap wajah salah satu siswa yang mau minta ijin keluar.

Pukul 07.45 anak-anak kelihatan agak ramai karena sebagian sudah selesai mengerjakan. Selanjutnya Pak Untung bertanya kepada siswa: “Apakah sudah selesai semua” dengan sigap ketua kelas menjawab: “sudah pak”. Kalau begitu mari kita bahas satu persatu dari pertanyaan tersebut. Maka, selama kurang lebih 5 menit seluruh pertanyaan sudah dibahas. Dan tepat pukul 07.50 proses belajar mengajar di kelas VII G diakhiri. Sebelum salam Pak Untung masih memberi PR dengan satu perintah membuat rangkuman dengan menyebutkan akhlak baik dan akhlak buruk yang pernah dilakukan oleh siswa selama satu minggu ke depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 2.

 

Foto Dokumen Kegiatan di SMP Negeri 4 Malang

 

 

Gambar 1. Papan Nama SMP Negeri 4 Malang di pintu gerbang masuk menuju lokasi penelitian

 

 

 

Gambar 2. Gedung SMP Negeri 4 Malang, tampak lokasi halaman tengah

 

 

Gambar 3. Kepala SMP Negeri 4 Malang Drs. H. Bambang Widarsono, M. Pd (Berkopyah) beserta Wakil dan staf yang lain

 

 

Gambar 4. Wawancara Peneliti dengan Bapak U. Djarwadi, GPAI

                    SMP Negeri 4 Malang

 

 

Gambar 5. Kegiatan workshop dewan guru SMP Negeri 4 Malang untuk merancang kegiatan pembelajaran selama dua semester ke depan.

 

 

Gambar 6. Kelompok diskusi Guru SMP Negeri 4 Malang mempresentasikan  hasil workshop menjelang tahun pelajaran baru dimulai.

 

 

Gambar 7. Kegiatan Pembelajaran siswa di kelas VII G dengan menggunakan metode Diskusi kelompok.

 

 

Gambar 8. Pengurus Osis SMP Negeri 4 Malang selesai dilantik yang selanjutnya menyusun program kerja diantaranya program kegiatan ekstrakurikuler PAI.

 

 

Gambar 9. Kegiatan Ekstrakurikuler Baca Tulis Al-Qur’an yang diadakan setiap Rabu pukul 13.00 – 15.00 Wib.

 

 

Gambar 10. Pembina Keagamaan Puteri dari KiASS yang selalu hadir setiap Jum’at Siang pukul 11.30-13.00 Wib.

 

Gambar 11. Kajian Keislaman Puteri dengan rileks (lesehan) diperankan di depan kelas . dengan antusias siswa puteri mendengarkan dari pembina KiASS (Kreatifitas insan sholeh sholehah) Malang.

 

 

Gambar 12. Kegiatan sholat jum’at di Masjid “Manarul Hadi” SMP Negeri 4 Malang memakai seragam busana muslim setiap hari jum’at.

 

 

 

Gambar 13. Suasana penyembelihan hewan qurban pada hari raya iedul adha 1430 H di halaman depan SMP Negeri 4 Malang.

 

 

 

Gambar 14. Pengurus Osis menerima penjelasan dari korlap untuk mendistribusikan zakat ke wilayah Jabung kab. Malang

 

 

Gambar 15. Kegiatan Maulid nabi Muhammad SAW di Aula SMP Negeri 4 Malang.

 

 

Gambar 16. Kegiatan Sholat Dhuha dan mendengarkan ceramah Isra’ Mi’raj di Aula SMP Negeri 4 Malang.

 

 

Lampiran 3.

 

Struktur Organisasi SMP Negeri 4 Malang tahun pelajaran 2009-2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 4.

 

Daftar Nama –nama Kepala SMP Negeri 4 Malang dari tahun berdiri sampai sekarang (2010)

 

No Nama Kepala Sekolah Tahun Keterangan
1. Prof.DR.Ny. Supartinah Pakasi 1968 – 1973 SD LAB IKIP Malang
2. Drs. Syamsul Arifin 1973 -1975 PSDP IKIP Malang
3. Dra. Thatik Romlah 1975 – 1986 SD/SMP PPSP IKIP
4. Drs. Sidik Watjana 1986 – 1993 SMP Negeri 17 Malang
5. Dra. Liliek Rochani 1993 – 1997 SMP Negeri 4 Malang
6. R. Mudjiono Sudiono, S. Pd 1997 – 2001 SLTP Negeri 4 Malang
7. Drs. Hadi Hariyanto, M. Pd 2001 – 2005 SMP Negeri 4 Malang
8. Dra. Asmiaty 2005 – 2008 SMP Negeri 4 Malang
9. Drs. Bambang Widarsono, M. Pd 2008 – sekarang (2010) SMP Negeri 4 Malang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 5.

 

Daftar Pimpinan Sekolah dan  Staf SMP Negeri 4 Malang

Tahun Pelajaran 2009-2010

 

No

Nama

Jabatan

1

Drs. H. Bambang widarsono, M. Pd Kepala Sekolah

2

Slamet Udadi, S. Pd., SH Wakil Kepala Sekolah

3

Hj. Nurul Qomariyah, S. Pd Koord. Urusan Kurikulum

4

Drs. Endang Sutisna Urs. Kurikulum Bilingual, Bimbel, workshop

5

Priyo Gupuh Suryantoro, S. Pd Koord. Urs. Kesiswaan

6

Suprapto, A. Md Koord. Ekstrakurikuler

7

Sucipto Koord. Sarana Prasarana

8

Untung Djarwadi, S. Pd.I Koord. Urusan Humas

9

Heni Purwanto, S. Pd Sistem Informasi Manajemen

10

Farida Sukaryanti, S. Pd Bendahara Sekolah

11

Licin Wijaya, S. Pd Bendahara Gaji

12

Mahfud Kepala Staf Tata Usaha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 6.

 

Program Kerja Osis Bidang Ketaqwaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa tahun pelajaran 2009-2010

 

NO

BENTUK KEGIATAN

JENIS KEGIATAN

WAKTU

SASARAN

PERKIRAAN DANA

SUMBER DANA

1

Amal Jariyah

1. Amal Jariyah

Setiap pel. Agama

Siswa kelas 7,8, dan 9

 -

-

2

Baca Tulis Al-Qur’an

1. Baca Al-Qur’an

Setiap Hari Senin

Siswa yang mengikuti extra

-

-

3

Kegiatan Jum’at

1. Shalat Jum’at

2. Bimbingan Keputrian

Setiap Hari Jum’at

Siswa kelas 7,8, dan 9

Rp.2.400.000,00/thn

Pekas Kesiswaan

4

PHBI :

  1. Ramadhan 1428 H

 

 

 

 

 

 

 

 

b.  Idul Fitri

 

 

 

  1. Idul Adha

 

 

 

 

 

 

d. Tahun Baru Islam(Gebyar Muharam)

 

 

 

 

e. Maulid Nabi Muhammad SAW

 

 

 

 

 

 

 

 

 

f. Doa bersama

 

 

 

g. Isra’ dan Mi’raj

1. Pondok Ramadhan 1428 H

2. Buka puasa bersama nuzul quran

3. Pengumpulan Zakat Fitrah

 

 

1.Penyaluran Zakat Fitrah

2.Halal Bi Halal

 

1. Pengumpulan Dana Kurban

 

 

2.Penyembelihan Hewan                                 Kurban

 

1.Shalat Dhuha

2. Ceramah Agama

3. Lomba Karya Tulis Ilmiah Tentang tahun baru islam

4. Lomba Pidato

 

1.Sholat Dhuha

2. Cerdas Cermat Keagamaan

3. Lomba karya tulis ilmiah    tentang riwayat Nabi Muhammad SAW

4.Lomba Fashion Show Muslim

5.Lomba Kaligrafi

 

1. Shalat berjamaah

2. Ceramah agama

 

1.  Lomba pidato

2.  Lomba karya tulis tentang        isra’ mi’raj

3.  Ceramah agama

 

 

17-23 September 2009

28 September 2009

17 Sept-5 Oktober 2009

 

6 Oktober 2009

 

 

22 Oktober 2009

 

 

1-19 Desember 2009

 

20Des2009

 

 

11 Januari 2010

22 Maret 2010

 

 

 

2 Agustus 2010

Kelas I,II,III yang beragama islam

Pengurus OSIS

Kelas I,II,III yang beragama islam

Kelas I,II,III yang beragama islam

Seluruh Warga SMPN 4 Malang

Kelas I,II,III yang beragama islam

Kelas I,II,II yang beragama islam

 

 

 

 

 

Kelas I,II yang beragama islam

Kelas 9

Kelas 7 dan 8

Rp.1.750.000,00

Rp.500.000,00

 

Rp.7.000.000,00

 

 

 

 

Rp.600.000,00

 

 

 

 

 

 

Rp.750.000,00

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rp.100.000,00

 

 

 

Rp. 500.000,00

Iuran Siswa

Pekas Kesiswaan

Pekas Kesiswaan

Iuran OSIS

@Rp.12.500,00

 

 

Pekas Kesiswaan

@Rp.12.500,00

 

 

 

 

Pekas Kesiswaan

 

 

 

 

 

 

 

Pekas Kesiswaan

Pekas Kesiswaan

 

 

Pekas Kesiswaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Tafsir, Berbagai Permasalahan Dalam Pendidikan Agama Islam, (Bandung: IAIN Sunan Gunung Jati, 1997), hal. 14.

[2] Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP Kurikulum 2004, (Jakarta : Rancang Grafis, 2003), hal. 2.

[3] Daradjat, Zakiah, Remaja Harapan dan Tantangan, (Jakarta : Ruhama, 2001), hal. 49.

[4] Zuhairini, dkk., Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya : Usaha Nasional, 1983), hal. 12.

[5] Surya, Psikologi Pembelajaran dan pengajaran, (Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2004), hlm. 52. Lihat juga Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, ( Jakarta: Rajawali Pers, 2007) hlm. 23

[6] Ismail, Strategi Pembelajaran  Agama Islam Berbasis PAIKEM, Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, (Semarang: Pustaka RaSAIL, cet.I,  2008), hlm. 12

[7]  Wina Sanjaya,  Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:  Kencana Prenada Media, 2006), Hal. 1.

[8]Ahmad Bahtiar, “Sekolah Sudah Mati!” PENDAIS, Vol.1 No. 3 September 2000, hal.105.

[9]Sudarsono, Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja (Cet. II; Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hal. 25.

[10] Mastuhu, Menata Ulang Sistem Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad 21, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004), hal. 97-701, 131, 136.

[11] Abd. Rahman Mas’ud, Widodo Supriyono, dkk, Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2001), hal. 125.

[12] Mastuhu, Menata Ulang Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad 21, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004), hal. 97.

[13] Dokumen SMP Negeri 4 Malang, Program Visi, Misi, dan Tujuan  Sekolah 2009/2010

[15] Slamet Udadi, Waka SMP Negeri 4 Kota Malang, “Wawancara”, di SMP N 4, tanggal 28 Oktober  2009.

[16] Mastini et.al. Pengaruh Pacaran terhadap prestasi Siswa-siswi SMP Negeri 4 malang, Penelitian diajukan dalam lomba PIR/KIR SMP/MTs tingkat nasional di Jakarta, 2006.

[17] Hamid Supriyatno, “Pengembangan Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri Kota Yogyakarta”, TESIS, PPs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2005, hal.v.

[18] Ibid, hal. v-vi

[19] Komarudin “Manajemen Peningkatan Mutu pendidikan agama Islam di SMP Negeri 2 Delanggu Tahun Ajaran 2002/2003” TESIS, PPs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004, hlm v.

[20] Ibid., hal.vi

[21] Fatur Rahman, Manajemen Mutu dalam Pengembangan Profesionalisme Guru Madrasah di Pondok Pesantren, Tesis, PPs UIN Malang, 2008

[22] Nur Ali, “Manajemen Pengembangan Kurikulum SMK di Lingkungan Pesantren” DISERTASI, PPs UM, Malang: 2008

[23] Aini Firdausi, “Manajemen Pembelajaran Sekolah Unggulan Studi Multi Kasus pada MIN Malang 2 dan MI Al-Huda Malang, TESIS, Malang: PPs Universitas Negeri Malang, 2009

[24] Nazarudin, Manajemen Pembelajaran, (Yogyakarta: Teras, 2007), hal. 12.

[25] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: Rosdakarya, 2002), hal. 75-76.

[26] Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2004), hal. 198.

[27] Nazarudin, Manajemen Pembelajaran, hal. 13.

[28] Nazarudin, Manajemen Pembelajaran . hlm. 13

[29] Nazarudin, Manajemen Pembelajaran , hlm. 16.

[30] Lihat Permen Diknas , Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Lihat juga dalam Lampiran  Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran PAI SMP. Lihat juga Muhaimin, Rekonstruksi  Pendidikan Islam Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009) hlm. 310.

[31] Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Peraturan Mendiknas No. 22 Tahun 2006 (tentang standar isi) dan Peraturan Mendiknas No. 23 tahun 2006 (tentang standar kompetensi lulusan) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

[32] Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi KBK, (Jakarta, Kencana, 2006), hal. 30-32 dan Nazarudin, Manajemen Pembelajaran…, hal. 19-20.

[33] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.

[34] Nazarudin, Manajemen Pembelajaran…, hal. 62.

[35] Nazarudin, Manajemen Pembelajaran, hlm.165.

[36] Abin Syamsudin Makmun, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rosdakarya, 2002), hlm.232-236.

[37] E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK, (Bandung: Rosdakarya, 2006), hlm. 137-157.

[38] Djohar, MS, Guru, Pendidikan dan Pembinaannya,…, hlm. 93.

[39]  Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: PT. Karya Toha Putra,tt) hlm. 1271

[40] Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996) hlm. 77

[41] Ismail, Strategi Pembelajaran  Agama Islam Berbasis PAIKEM, Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, (Semarang: Pustaka RaSAIL, cet.I,  2008), hlm. 12

[42] Ibid. hlm. 12

[43] Husaini Usman, Manajemen: Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm. 3.

[44] Syamsudduha, Manajemen Pesantren, (Yogyakarta: Grha Guru, 2004), hlm. 16.

[45] M. Toha, Kepemimpinan dalam Manajemen, (Jakarta Rajawali Press, 1999), hlm. 35.

[46] N. Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), hlm. 13.

[47] Terry G.R., Principles of Management (3rd ed.). (Homewood IL: Richard D. Irwin, INC, 1997), hlm. 4.

[48] P. Hersey dan Blanchard K, Management of Organizational Behavior: Utilizing Human Resources, (4th ed.), (Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, INC, 1982), hlm.3.

[49] N. Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan…, hlm. 15.

[51] Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm. 2.

[52] Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, (Jakarta: Quantum Teaching, 2005), hlm. 77.

[53] Mohammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, (Yogyakarta: Pustaka Bani Quraisy, 2004), hlm, 9.

[54] Mohammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, hlm, 9-10.

[55] Mohammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran .hlm.10

[56] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta,  2004), hlm. 2.

[57] Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, (Jakarta: Quantum Teaching, 2005), hlm. 77.

[58] St. Syamsudduha, Manajemen Pesantren…, hlm. 19.

[59] Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hlm. 91.

[60] Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hlm. 91.

[61] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 69.

[62] Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hlm. 94.

[63] Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hlm.  101.

[64] Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…,  hlm. 110.

[65] Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hlm.110

[66] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa: Sebuah Pendekatan Evaluatif, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), hlm. 27-28.

[67] Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hlm. 112-115.

[68] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa…, hlm. 68.

[69] Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2006), hlm. 264.

[70] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa…, hlm. 68-69.

[71] Nuryatno, Agus, Pendidikan Agama Perlu direkonstruksi dalam http://www.sfeduresearch.org/content/view/175/66/1/5/lang,id/ diakses tanggal 27 Maret 2010

[72] Tunggal, Manajemen Suatu Pengantar, Jakarta: Rieneka Cipta, 1993, hlm 94

[73] Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hlm. 121.

[74] Ibid

[75] Loc. Cit, hlm. 124.

[76] Loc. Cit, hlm. 125.

[77] Ibid.

[78] Loc. Cit, hlm. 131.

[79] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 45.

[80] E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 200), hlm. 264.

[81] Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, .., hal. 264,  Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hlm. 131.

[82] Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 10.

[83] Sutopo, Administrasi manajemen Organisasi, Jakarta: LAN RI, 1998, hlm.96

[84] Usman H, Manajemen; Teori, Praktek dan Riset Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2006, lihat juga Nur Ali, Manajemen Pengembangan Kurikulum SMK, DISERTASI, UM, 2008 hlm.96

[85] Nur Ali, Manajemen pengembangan Kurikulum SMK, DISERTASI, Malang: PPs UM, 2008, hlm.96

[86] Sumadinata, dkk, Pengendalian Mutu pendidikan Sekolah Menengah; Konsep, prinsip dan Instrumen, Bandung: PT. Refika Aditama, 2006, hlm.46-47

[87] Syaiful, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Bandung: Alfabeta, 2000, hlm. 60

[88] Muhaimin, Suti’ah, Prabowo, L.S, Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Sekolah dan Madrasah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009) hlm.7

[89] Sjarkawi, Pembentukkan Kepribadian Anak: Peran Moral, Intelektual, Emosional dan Sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm. 114-115.

[90] Ibid, hlm 115

[91] Sjarkawi, Pembentukkan Kepribadian Anak  http://www.depdiknas.go.id/ diakses tanggal 17 November 2009

[92]  Sjarkawi, Pembentukkan Kepribadian Anak ….Ibid.

[93] Ratna Megawangi, Pendidikan Karakter: Solusi Yang Tepat Membangun Bangsa, (Jakarta: Star Enegy, 2004), hlm. 97-98.

[94] Sjarkawi, Pembentukkan Kepribadian Anak http://www.depdiknas.go.id/ diakses tanggal 17 November 2009

[95] Muhaimin, Sutiah, Prabowo, L. S., Manajemen Pendidikan: Aplikasinya dalam penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (Jakarta: Kencana, 2009) hlm. 5

[96] Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009) hlm. 37

[97] Uno. B. Hamzah, Model Pembelajaran; menciptakan Proses Belajar mengajar yang Kreatif dan Efektif, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007, hlm. 89

[98] Ibid., hlm. 23

[99] Ibid., hal.165.

[100] Abin Syamsudin Makmun, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rosdakarya, 2002), hal.232-236.

[101] E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK, (Bandung: Rosdakarya, 2006), hal. 137-157.

[102] Djohar, MS, Guru, Pendidikan dan Pembinaannya,…, hal. 93.

[103] Muhaimin, Suti’ah, Prabowo, L. S., Manajemen Pendidikan : Aplikasinya dalam penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, (Jakarta: Kencana, 2009) hlm. 185

[104] E.Mulyasa, ,KTSP (Bandun: Remaja Rosdakarya, 2007), hlm.190.

[105]Khaeruddin,mafud junaidi,2007.Kuriklum Tingkat Satuan Pendidkan, (Jogjakarta:Pilar Media), hlm.129

[106] . Martinis Yamin, 2006, Sertifikasi profesi keguruan di Indonesia,(Jakarta, Gaung Persada press), hlm.153

[107]. PP. N0.19 tahun 2005, pasal 19 ( ayat 1)

[108] .E.Mulyasa, 2006, Kurikulum yang disempurnakan,(Bandung ,Remaja Rosdakarya), hlm. 243

[109] Corey (1986 ) dalam Sagala,Syaiful, Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta 2005, hlm. 61

[110] Permendiknas RI nomor 52 tahun 2008 tentang standar proses.

[111] Robert K. Yin, “Cash Study Research: Design and methods”, diterjemakan oleh M. Djauzi Mudzakir, Studi Kasus: Desain dan Metode (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), h.1

[112] Stauss mengidentifikasi pendekatan kualitatif sebagai jenis penelitian yang  temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik dan bentuk hitungan lainnya. Terkait alasan penggunaan pendekatan ini, Stauss mengatakan bahwa banyak alasan yang melandasi digunakannya pendekatan kualitatif. Diantara beberapa alasan terpenting adalah kemantapan peneliti sendiri dan sifat dari masalah yang diteliti. Lihat Anselm Stauss, et.all; “Basic of  Qualitative Research : Grounded Teory Prosedures and Techniques”, diterjemahkan oleh Mohammad,  Sodiq et.all. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif: Tata Langkah dan Teknik-teknik Teorisasi Data (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 5.

[113] Menurut Suprayogo, secara umum, penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami (understanding) dunia makna yang disimpulkan dalam perilaku masyarakat menurut perspektif masyarakat itu sendiri. Lihat Imam Suprayogo, et. All., Metodologi Penelitian Sosial Agama ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003)h 9

[114] Sukidin, et. All., Metode Penelitian: Membimbing dan mengantar Kesuksesan Anda Dalam Dunia Penelitian ( Surabaya: Insan Cendekia, 2005), h 23.

[115] Nurul Zuruiyah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan :Teori dan Aplikasi (Jakarta: Bumi Aksara,2006), h 91

[116] IKIP Jakarta, Memperluas Cakrawala Penelitian Ilmiah (Jakarta: IKIP Jakarta, 1988) h 67

[117]Yesim Ozbarlas, Perspectives On Multicultural Education: Case Studies Of a Jerman and an American Female Minority Teacher, a Desertation, Not Published ( Atlanta: The College of Education in Georgia State Univercity, 2008), h 60

[118]  Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif., Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003) , h 201

[119] Moelong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, Edisi Revisi, 2005,) hlm.174

[120] Noeng Muhajir, Metode penelitian kualitatif (Yogjakarta: Rake Sarasin, 2003).

[121] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif, dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2008). h.223.

[122] Dede Oetomo, “Penelitian Kualitatif: Aliran dan Tema”, dalam Bagong Suyanto, et.all.,(Eds), Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan (Jakarta: Kencana, 2007), h.186

[123] Jandra, Struktur Usulan Penelitian, (Makalah Pelatihan Penelitian Tenaga Educatif di Tingkatan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 11 Juli-11 Agustus 2002), hlm. 9-10

 [124] Moelong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 18

[125]  Sukardi, Metodologi penelitian Pendidikan; Kompetensi dan Prakteknya (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h.75

[126] Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogjakarta: Andi Ofset, 1981), Jilid II, h.136

[127] Sugiono, Op.Cit., h. 233

[128] Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian: petunjuk Praktis untuk peneliti Pemula (Yogjakarta: Gadjah Mada University Press, 2006), h.73

[129] Sugiono, Loc.Cit.

[130] Nasution, Metode penelitian Naturalistik (Bandung: Tarsito, 1998), h.133

[131] Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu-ilmu sosial Lainnya (Jakarta: Kencana, 2007), h.108

[132] Cholid Narkabo, et.al., metodologi penelitian (Jakarta: Bumi aksara, 2003)h.70

[133] Husaini Usman, et.al., Metodologi Penelitian Sosial (Jakarta: Bumi Aksara, 2003),h.54

[134] Sugiono, Op. Cit, h.226

[135] Untuk itu peneliti harus mendapatkan kepercayaan dari subyek penelitian. Hal ini diperlukan demi mengantisipasi rusaknya situasi alamiah dari subyek penelitian dengan kehadiran peneliti di tengah-tengah mereka. Lihat Harsja W. Bachtiar, “Pengamatan Sebagai Suatu Metode Penelitian”, dalam Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1994), h.121-122

[136] Arif  Furchan, Pengantar Metode Penelitian Kualitatif; Suatu Pendekatan Fenomenologis terhadap ilmu-ilmu Sosial (Surabaya; Usaha Nasional, 1992), h.23 lihat juga Budi puspo Priyadi, Metode Evaluasi Kualitatif (Yogjakarta: Pustaka pelajar, 2006), h.124

[137] Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian: Suatu pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 236

[138] Lincoln et.al., Naturalistic Inquiry (Beverly Hill: SAGE Publications, 1985) h. 23

[139] Bogdan dan Biklen, dalam Nur Ali, Manajemen Pengembangan Kurikulum SMK di Lingkungan Pesantren, DISERTASI, PPS UM, Malang: 2008, hlm.152

[140] Moelong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 15

[141] Miles M B dan Hubermen AM, An Expended Source Book, Qualitative data Analysis, (London: Sage Publication, 1984), hlm. 20

[142] Tjetjep R.R., Analisis Data Kualitatif, Terjemahan (Jakarta: Universitas Indonesia, 1992 ), hlm. 16.

[143] Miles, M.B., & Huberman, A.M. 1984. Qualitative Date Analysis…, hal. 17.

[144]  Nur Ali, Manajemen Pengembangan…. Hlm. 154

[145] Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi Revisi), Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2007, h.324-325

[146] Peraturan pemerintah Nomor 19 tahun 2005 pasal 20.

[147] Nazarudin, Manajemen Pembelajaran: Implementasi Konsep, Karakteristik dan Metodologi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum, (Yogyakarta: Teras, 2007), hal. 126.

[148] Ibid., hal. 118

[149] Ibid., hal. 123.

[150] BSNP, Pedoman Pengembangan Silabus Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP, Jakarta: 2007, hal 10

[151] Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…,  hlm. 110.

[152] Ibid

[153] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa: Sebuah Pendekatan Evaluatif, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), hlm. 27-28.

[154] Basyiruddin, Metodologi Pembelajaran PAI, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hal. 33.

[155] Sjarkawi, Pembentukkan Kepribadian Anak: Peran Moral, Intelektual, Emosional dan Sosial sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hal. 71.

[156] Ibid. , hal. 72.

[157] Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hlm. 112-115.

[158] Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, Semarang: RaSAIL, 2008, hlm.95

[159] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa…, hlm. 68.

[160] Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2006), hlm. 264.

[161] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa…, hlm. 68-69.

[162] Nuryatno, Agus, Pendidikan Agama Perlu direkonstruksi dalam http://www.sfeduresearch.org/content/view/175/66/1/5/lang,id/ diakses tanggal 27 Maret 2010

[163] Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, (Jakarta: Quantum Teaching, 2005), hal. 125.

[164] Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hal. 124.

[165] Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 200), hal. 264.

[166] Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hal. 10.

[167] Menurut defenisinya reward teknik verbal yaitu pemberian penghargaan yang berupa pujian, dukungan, dorongan atau pengakuan. Lihat Syamsu Yusuf LN, Psikologi Belajar Agama: Perspektif Agama Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005), hal. 99.

[168] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 27.

[169] Ibid.

[170] Nazarudin, Manajemen Pembelajaran: Implementasi Konsep, Karakteristik dan Metodologi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum (Yogyakarta: Teras, 2007), hal. 19-20.

[171] Nurul Zuriah, Pendidikan Moral dan Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan: Menggagas Platform Pendidikan Budi Pekerti Secara Kontekstual dan Futuristik, (Jakarta: Bina Aksara, 2007), hal. 87.

[172] Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 200), hal. 163.

[173] Mohammad Ali dan Muhammad Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hal. 17.

[174] Sutopo, Administrasi manajemen Organisasi, Jakarta: LAN RI, 1998, hlm.96

[175] Usman H, Manajemen; Teori, Praktek dan Riset Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2006, lihat juga Nur Ali, Manajemen Pengembangan Kurikulum SMK, DISERTASI, UM, 2008 hlm.96

[176] Nur Ali, Manajemen pengembangan Kurikulum SMK, DISERTASI, Malang: PPs UM, 2008, hlm.96

[177] Sumadinata, dkk, Pengendalian Mutu pendidikan Sekolah Menengah; Konsep, prinsip dan Instrumen, Bandung: PT. Refika Aditama, 2006, hlm.46-47

[178] Syaiful, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Bandung: Alfabeta, 2000, hlm. 60

[179] Lihat Lampiran tentang Pimpinan Sekolah dan Staf Tahun Pelajaran 2009/2010, Dokumentasi tentang Profil SMP Negeri 4 Malang TP. 2009/2010

[180] Dokumentasi tentang RPP MGMP PAI SMP Kota Malang.

3 comments on “Tesis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s