Jurnal Ilmiah

MANAJEMEN PENGEMBANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
NEGERI 4 MALANG
Oleh: Sukirman

                                                ABSTRAK
Sukirman. 2010. Manajemen Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Malang. Tesis. Program Studi Manajemen
Pendidikan Islam. Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang. Pembimbing Dr. H. Wahidmurni, Ak., M. Pd
Kata kunci : Manajemen, Pengembangan Program, Pembelajaran, Pendidikan Agama
Islam.
Suatu kenyataan yang dihadapi dunia pendidikan khususnya Pendidikan Agama
Islam di lembaga pendidikan formal saat ini, adalah rendahnya kualitas manajerial
pembelajaran baik pada tataran perencanaan, pelaksanaan maupun cara pengendaliannya,
akibatnya proses pembelajaran pendidikan Agama Islam kurang berhasil dalam
pembentukan perilaku positif siswa. Lemahnya aspek metodologi yang dikuasai oleh guru
juga merupakan penyebab rendahnya kualitas pembelajaran. Metode yang banyak dipakai
adalah model konvensional yang kurang menarik. Ketidakberdayaan pendidikan agama
dalam menginternalisasikan nilai-nilai agama juga merupakan salah satu faktor penyebab
munculnya output yang tidak mampu mengemban misi pendidikan nasional yaitu menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt. Oleh karenanya rekonstruksi
terhadap manajemen program-program pembelajaran agama mutlak dilakukan demi
tercapainya tujuan yang diharapkan.
Fokus penelitian ini adalah manajemen pengembangan program pembelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP Negeri 4 Malang. Ada tiga rumusan masalah yang
dijawab dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana proses perencanaan pengembangan
program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang? (2) Bagaimana
proses pelaksanaan pengembangan program pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP
Negeri 4 Malang? dan (3) Bagaimana proses pengendalian pengembangan program
pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 4 Malang?
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 4 Malang dengan menggunakan pendekatan
kualitatif. Prosedur pengumpulan data adalah sebagai berikut: (1) in depth interview
(wawancara mendalam), (2) Observasi non partisipan (pengamatan tidak berperan), dan (3)
studi dokumentasi. Data yang terkumpul diperiksa keabsahannya dengan pengecekan
kredibiltas. Pelaksanaan pengecekan kredibilitas data menggunakan triangulasi,
pengecekan dan observasi. Setelah dilakukan pemeriksaan keabsahannya, data tersebut
dianalisis dengan cara: (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan.
Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Pertama, Perencanaan
pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang
yaitu: (1) pengembangan program kegiatan tatap muka terdiri dari; (a).Pembelajaran
Intrakurikuler PAI dimulai dengan pengembangan perangkat pembelajaran yang terdiri
dari: program tahunan(prota), program semester (promes), kajian SK-KD, Pemetaan
Indikator dan pengembangannya, merumuskan kriteria ketuntasan minimal (KKM),
2
mengembangkan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Rencana
pengembangan program pembelajaran disusun berdasarkan kajian SK-KD dan indikator
yang ditetapkan dengan berpijak pada Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
mata pelajaran PAI yang tertuang dalam PP. 19/2005 dan permendiknas nomor 22, 23, dan
24 tahun 2006. Adapun teknis pengembangannya dilakukan dengan cara mengajak semua
guru melakukan rapat kerja khusus untuk mengembangkan program-program
pembelajaran, dimulai dengan pemberian orientasi dan pengarahan dari kepala sekolah,
dilanjutkan dengan orientasi dari nara sumber. (b) pembelajaran ekstrakurikuler PAI yaitu
kegiatan Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) dan Pidato Bahasa Arab dikembangkan oleh
koordinator kesiswaan beserta pembina ekstra dan guru Agama Islam. (2). Pengembangan
program kegiatan tugas terstruktur dalam bentuk pembiasaan IMTAQ, pembiasaan sholat
Jum’at dan bimbingan keputrian. Teknis pembiasaan IMTAQ dilakukan pada jam tatap
muka oleh wali kelas dengan cara hafalan do’a dan surat-surat pilihan yang sudah
ditetapkan oleh tim pengembang materi IMTAQ. Sedangkan pembiasaan sholat jum’at dan
bimbingan keputerian dilakukan dengan kerjasama antara sekolah dan kelompok kajian
Islam (KIASS) (3) Pengembangan program mandiri tak terstruktur adalah pembiasaan
suasana religius di kawasan sekolah yang dibuat oleh siswa (OSIS) dengan melibatkan
seluruh steakholder sekolah yaitu dengan membudayakan nilai-nilai religious seperti:
Budaya 3 S (Senyum,Salam, Salim), Budaya Jum’at Bersih, Halal Bihalal, Peringatan hari
Besar Islam (PHBI), Santunan Kematian, Santunan Anak Yatim, berseragam busana
muslim, dan Budaya beramal jariyah setiap jum’at.
Kedua, Pelaksanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama
Islam (PAI) dapat ditempuh dengan cara: Mengorganisasikan, mengarahkan dan
melaksanakan pembelajaran intra dan ekstrakurikuler. Pelaksanaan pengembangan
program pembelajaran pendidikan Agama Islam meliputi; (1) Kegiatan tatap muka
dengan mengembangkan metode dan strategi pembelajaran yang dimulai dengan kegiatan
awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Kegiatan ekstrakurikuler dalam bentuk kegiatan
Baca Tulis Al-Qur’an (BTA), Pidato bahasa Arab , (2). Kegiatan tugas terstruktur dalam
bentuk pembiasaan IMTAQ, sholat Jum’at dan Bimbingan Keputrian diorganisir oleh
urusan kurikulum bersama Pembina Osis ketaqwaan, (3) kegiatan mandiri tak terstruktur
dalam bentuk budaya-budaya religius. Kegiatan-kegiatan tersebut dimenej secara baik oleh
Kepala Sekolah, Waka, Urusan Kurikulum, Urusan Kesiswaan, Guru Agama Islam dan
dilaksanakan oleh seluruh siswa dan guru.
Ketiga, Pengendalian pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4
Malang secara menyeluruh dilakukan melalui rapat rutin bulanan dengan melibatkan
seluruh staf dan dewan guru. Sedangkan pengendaliannya dilakukan dengan mengadakan
evaluasi hasil belajar siswa dan kegiatan monitoring melalui supervisi kelas, daftar
kehadiran Pembina ekstra dan hasil prestasi siswa di bidang keagamaan . Evaluasi
pembelajaran secara umum dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu penilaian program,
proses dan penilaian hasil pembelajaran. Pengawasan secara keseluruhan dilakukan oleh
kepala sekolah beserta staf kurikulum dan kesiswaan. Sedangkan penilaian dilakukan oleh
guru agama Islam dan Pembina keagamaan yang lain (Guru ekstra dan Pembina
keputerian).
3
ABSTRACT
Sukirman, 2010, The Management of Developing the Learning Program of Islamic
Education at the State of Junior High School 04 Malang. Thesis, The study
Program of Islamic Education Management. The Post Graduate Program of the
State of Islamic University of Maulana Malik Ibrahim Malang. Advisor: Dr. H.
Wahidmurni, AK., M.Pd
Keywords: Management, Developing of Program, Learning, Islamic Education.
A reality in our education particularly the Islamic Education at the formal
institution is the problem in the quality of learning managerial either in the planning sector,
the implementation or the controlling, as the result that the learning process of Islamic
education was not succeeded yet for the forming of their students’ positive behavior. The
mastering of methodological aspect is also causes of the lack of learning quality. Most of
the used method is conventional model which is not interesting enough. Then, inability of
Islamic education to internalizing of the religion values is makes the appearing of Output
that is unable to bring the mission of national education, it is being the faithful man and
believe of Allah SWT. Therefore, the reconstruction of this management of Islamic
learning programs is absolutely must be done to make the goals is came true.
The research focus is the management of developing the learning program of
Islamic education (PAI) at the State of Junior High School 04 Malang. There are three
problems that are answered: (1) how is the planning process of developing the learning
program of Islamic education at the State of Junior High School 04 Malang? (2) How is the
implementation process of developing the learning program of Islamic education at the
State of Junior High School 04 Malang? And (3) how is the controlling process of
developing the learning program of Islamic education at the State of Junior High School 04
Malang?
The research in the State of Junior High School 04 Malang is using the qualitative
approach. The procedure of data collection is: (1) in depth interview, (2) non-participant
observation, (3) study of documentation. The validity of these data is edited by using
credibility checking. The undertaking of data credibility checking is by using triangulation,
checking and observation. Then, the data is analyzed by using: (1) reduction, (2)
presentation, and (3) concluding.
The results of this research are: firstly, the planning of developing the learning
program of Islamic education at the State of Junior High School 04 Malang, that are: (1)
developing of the program intra-curriculum learning of Islamic education in the class is
starting by syllabus developing, annual planning, program of semester and preparation of
teaching in the form of the Planning of Learning Implementation (RPP). The planning
design of developing the learning program is based on SK-KD and deal with the calendar
of the applied education, the schedule of school studies and school supplies. The technical
of syllabus developing that is conducted by school is by inviting all teachers to have
special plan meeting in developing the programs of learning, started by giving the
orientation and briefing from the headmaster, and orientation from the speaker. Developing
of the program intra-curriculum learning of Islamic education is increased by coordinator
of the students and advisor of extra and the committee of OSIS in religious field. Whereas
the extra-curriculum that increased in the State of Junior High School 04 Malang is
reciting-writing the holy Qur’an (BTA) and Arabic speeches. (2) The developing of
program in the form of the structured independent activity is the custom of IMTAQ, the
custom of praying Friday in the school, and woman guidance (3) the developing of
4
unstructured independent program is the custom of religious condition in the school, that
are: (a) the custom of 3 SAS (Salam, Salim, Senyum, Ambil Sampah), (b) the custom of
Friday clean, (c) Halal Bihalal, (d) PHBI, (e) the sympathetic care of death, (f) uniform the
Muslim cloths, and (h) the custom of charitable contribution in every Friday.
Secondly, the implementation of developing the learning program of Islamic
education (PAI) is processed by: organize, instruction, and conducted the intra and extra
learning. The implementation of developing the learning program of Islamic education that
include: (1) face-to-face activity by developing the method and strategy of learning that
started by the beginning, main and closing activity, (2) the extra-curriculum activity is
reciting and writing the holy Qur’an (BTA) and Arabic Language, (3) the structured
independent activity in the form of a custom of IMTAQ, praying Jum’at and woman
guidance (4) unstructured independent activity in the form of religious cultures.
Thirdly, the control of developing the learning program of Islamic education at the
State of Junior High School 04 Malang is comprehensively conducted by the meeting of
month routine that by involving all of the staff and teachers. This meeting is conducted for
controlling toward the implementation of the whole education process in the State of
Junior High School 04 Malang. Whereas the supervising of the learning program
implementation of Islamic education either the intra-curriculum, extra-curriculum or the
custom activity of religious cultural is conducted by evaluating the result of students
studies and monitoring activity through the supervise of class, the attendance list of extra
advisor and achievement result of students in religious sector. Generally, the learning
evaluation is conducted in three ways that are the assessment of program, process and
learning result. This assessment is conducted through the observation, interview, and an
assignment. But, some factors are found in determining the students’ affection result. The
way of controlling extra-curriculum learning is by supervising the activity through the
program (syllabus) that made and the attendance list of extra advisor. But, there is not an
evaluation in the controlling way of the IMTAQ custom activity through monitoring.
5
􀎚􀎤􀎒􀏟􀎍􀎺􀎨􀏠􀏣
􀎔􀏴􀏣􀏮􀏜􀎤􀏟􀎍 􀎔􀏄􀎳􀏮􀎘􀏤􀏟􀎍 􀎔􀎳􀎭􀎪􀏣 􀏰􀏓 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎗 􀏰􀏓 􀎮􀏴􀎑􀎪􀎘􀏟􀎍 2010􀋬􀏥􀎎􀏣􀎮􀏴􀏛􀏮􀎳
􀎔􀏌􀏣􀎎􀎠􀏟􀎍 􀏰􀏓 􀏲􀏠􀏌􀏟􀎍 􀎔􀎳􀎍􀎭􀎪􀏟􀎍 .􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍 􀎮􀏴􀎑􀎪􀎗 􀏰􀏓 􀎔􀎳􀎍􀎭􀎪􀏟􀎍 :􀏰􀏤􀏠􀏌􀏟􀎍 􀎚􀎤􀎒􀏟􀎍 .􀎞􀏧􀏻􀎎􀏣 4
􀏰􀏧􀎭􀏮􀏣 􀎪􀎣􀎍􀏭 􀎫􀎎􀎘􀎳􀏷􀎍 :􀏑􀎍􀎮􀎷􀏹􀎍 􀎖􀎤􀎗 .􀎞􀏧􀏻􀎎􀏣 􀏢􀏴􀏫􀎍􀎮􀎑􀎇 􀏚􀏟􀎎􀏣 􀎎􀏧􀏻􀏮􀏣 􀎔􀏴􀏣􀏮􀏜􀎤􀏟􀎍 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍
.􀎮􀏴􀎘􀎴􀎟􀎎􀏤􀏟􀎍
.􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍 􀋬􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀋬􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎒􀏟􀎍 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎗 􀋬􀎮􀏴􀎑􀎪􀎘􀏟􀎍 :􀎕􀎎􀏤􀏠􀏜􀏟􀎍 􀎡􀎎􀎘􀏔􀏣
􀏦􀏣 􀎪􀏫􀎎􀎸􀏳 􀎪􀏗 􀎔􀏴􀏤􀎳􀎮􀏟􀎍 􀎔􀎴􀎳􀎆􀏣 􀏰􀏓 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍 􀎔􀎻􀎎􀎨􀏟􀎍􀏭 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍 􀎔􀏬􀎟 􀏥􀎃 􀏡􀏮􀏠􀏌􀏤􀏟􀎍 􀏦􀏣
􀏚􀏟􀎍􀎬􀏟 􀋬􀏂􀎒􀏀􀏟􀎍 􀏖􀏳􀎮􀏃 􀏭􀎍 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏂􀏴􀏄􀎨􀎘􀏟􀎍 􀏞􀏴􀏫􀎄􀎗 􀎎􀏣􀎍 􀋬􀎔􀏴􀏤􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎔􀏳􀎭􀎍􀎩􀏹􀎍 􀎓􀎩􀏮􀎠􀏟􀎍 􀎔􀏀􀏴􀏔􀎨􀏨􀏤􀏟􀎍 􀎎􀏬􀏨􀏣 􀏞􀎋􀎎􀎴􀏤􀏟􀎍
􀎔􀏴􀎣􀎎􀏨􀏟􀎍 􀏒􀏌􀎿 􀏥􀏮􀏜􀏳􀏭 .􀎏􀏼􀏄􀏠􀏟 􀎔􀏴􀎑􀎎􀎠􀏳􀏹􀎍 􀎔􀏠􀏣􀎎􀏌􀏤􀏟􀎍 􀏞􀏴􀏜􀎸􀎘􀏟 􀏝􀏮􀎼􀎤􀏟􀎍 􀏦􀏣 􀎍􀎪􀏴􀏌􀎑 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍􀏭 􀎮􀎠􀏤􀏟􀎍
􀎍􀎬􀏫 􀏰􀏓 􀎚􀎣􀎎􀎒􀏟􀎍 􀏡􀎍􀎪􀎨􀎘􀎳􀎍􀏭 .􀎔􀏴􀏤􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎓􀎩􀏮􀎠􀏟􀎍 􀎔􀏀􀏴􀏔􀎨􀏨􀏣 􀎎􀎑􀎎􀎒􀎳 􀏥􀏮􀎳􀎭􀎪􀏤􀏟􀎍 􀎍􀏮􀏌􀏴􀏄􀎘􀎴􀏳 􀏢􀏟 􀏱􀎬􀏟􀎍 􀎎􀏴􀎟􀏮􀏟􀏭􀎩􀏮􀎜􀏴􀏤􀏟􀎍
􀏦􀏣 􀏩􀎬􀏬􀏓 􀎔􀏴􀏨􀏳􀎪􀏟􀎍 􀎔􀏤􀏴􀏗 􀏞􀋷􀎧􀎪􀏳􀏭 􀎎􀏋􀎎􀏄􀎘􀎳􀎇 􀏪􀏴􀏓 􀎲􀏴􀏟􀏭 .􀎓􀎮􀎣􀎎􀎴􀏟􀎍 􀏦􀏣 􀎎􀎼􀏴􀏘􀏧 􀏥􀏮􀏜􀏳􀏭 􀏱􀎪􀏴􀏠􀏘􀎘􀏟􀎍 􀎯􀎍􀎮􀏄􀏟􀎍 􀏮􀏫 􀎚􀎤􀎒􀏟􀎍
􀏲􀏬􀏓 􀎔􀏴􀏨􀏃􀏮􀏟􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎗 􀏰􀏓 􀎔􀎜􀏌􀎒􀏟􀎍 􀎔􀏴􀏟􀎎􀎳􀎭􀎍 􀏪􀏴􀏓 􀏥􀎎􀏛 􀎎􀏣􀏭 (out put) 􀏝􀏮􀎼􀎤􀏤􀏟􀎍 􀎮􀏬􀏈􀏳 􀏯􀎬􀏟􀎍 􀎐􀎒􀎴􀏟􀎍 􀏞􀏣􀎎􀏋 􀎪􀎣􀎍
􀏎􀏠􀎒􀏳 􀏥􀎍􀏭 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎒􀏟􀎍 􀎮􀏴􀎑􀎪􀎗 􀏰􀏟􀎍 􀎍􀎮􀏳􀏮􀎼􀎗 􀏥􀏮􀏜􀏳 􀏥􀎍 􀏲􀏐􀎒􀏨􀏳 􀏚􀏟􀎍􀎬􀏟 .􀍿􀎎􀎑 􀎎􀏘􀎘􀏣􀏭 􀎎􀏨􀏣􀎁 􀎎􀏧􀎎􀎴􀏧􀎍
.􀎎􀎟􀎮􀏳 􀎎􀏣 􀏝􀏮􀎼􀎤􀏠􀏟
􀎔􀎳􀎭􀎪􀏣 􀏰􀏓 (PAI) 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎗 􀏰􀏓 􀎮􀏴􀎑􀎪􀎗 􀏮􀏫 􀎚􀎤􀎒􀏟􀎍 􀏂􀏌􀎿 􀎎􀏣􀎍
􀎔􀏘􀏳􀎮􀏃 􀏒􀏴􀏛 (1) :􀏲􀏫􀏭 􀎚􀎤􀎒􀏟􀎍 􀏰􀏓 􀎏􀏮􀎟􀏷􀎍 􀏡􀎪􀏘􀏴􀎳 􀏰􀎘􀏟􀎍 􀎔􀏠􀎌􀎳􀎍 􀎔􀎛􀏼􀎛 􀏥􀎎􀏛 .􀎞􀏧􀏻􀎎􀏣 4 􀎔􀏴􀏣􀏮􀏜􀎤􀏟􀎍 􀎔􀏄􀎳􀏮􀎘􀏤􀏟􀎍
􀏰􀏓 􀎮􀏴􀎑􀎪􀎘􀏟􀎍 􀏖􀏳􀎮􀏃 􀏒􀏴􀏛􀏭 (2) 􀋮􀎔􀎳􀎭􀎪􀏤􀏟􀎍 􀏰􀏓 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀎭􀏮􀏄􀎗 􀏰􀏓 􀎔􀏴􀏄􀏴􀏄􀎨􀎘􀏟􀎍
􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎗 􀏰􀏓 􀏂􀎒􀏀􀏟􀎍 􀏖􀏳􀎮􀏃 􀏒􀏴􀏛􀏭 (3) 􀋮􀎔􀎳􀎭􀎪􀏤􀏟􀎍 􀏰􀏓 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎗
􀋮􀎔􀎳􀎭􀎪􀏤􀏟􀎍 􀏰􀏓 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍
􀎚􀎤􀎒􀏟􀎍 􀎍􀎬􀏫 􀏰􀏓 􀎚􀎣􀎎􀎒􀏟􀎍 􀏡􀎍􀎪􀎨􀎘􀎴􀏳􀏭 􀎞􀏧􀏻􀎎􀏣 4 􀎔􀏴􀏣􀏮􀏜􀎤􀏟􀎍 􀎔􀏄􀎳􀏮􀎘􀏤􀏟􀎍 􀎔􀎳􀎭􀎪􀏤􀏟􀎍 􀏰􀏓 􀎚􀎤􀎒􀏟􀎍 􀏖􀏘􀎤􀏳 􀎪􀏗
􀎮􀏴􀏐􀏣 􀎐􀏴􀏗􀎮􀎘􀏟􀎍 (2) 􀋬􀎔􀏘􀏤􀏌􀎘􀏤􀏟􀎍 􀎔􀏠􀎑􀎎􀏘􀏤􀏟􀎍 (1) :􀏲􀏫 􀎕􀎎􀏧􀎎􀏴􀎒􀏟􀎍 􀏞􀏴􀏠􀎤􀎗 􀏖􀏳􀎮􀏃􀏭 .(kualitatif) 􀎔􀏴􀏔􀏴􀏜􀏟􀎍 􀎔􀏘􀏳􀎮􀏄􀏟􀎍
􀎔􀏴􀏤􀏨􀎗􀏭 .􀏕􀏮􀎛􀏮􀏟􀎍 􀏚􀎼􀋷 􀏟􀎍 􀏖􀏳􀎮􀏄􀎑 􀎎􀏬􀎘􀎤􀎻􀎺􀎤􀏔􀎘􀎳 􀎕􀎎􀏌􀏤􀎘􀎠􀏤􀏟􀎍 􀎕􀎎􀏧􀎎􀏴􀎒􀏟􀎍 􀎎􀏣􀎍 .􀏖􀏴􀎛􀏮􀎘􀏟􀎍 􀎚􀎤􀎒􀏟􀎍 (3) 􀋬􀎔􀏛􀎮􀎘􀎸􀏤􀏟􀎍
􀏩􀎬􀏫 􀏥􀏮􀏜􀏳 􀏢􀎛 􀎔􀎒􀏗􀎍􀎮􀏤􀏟􀎍􀏭 􀏚􀋷􀎼􀏟􀎍􀏭 􀋬(triangulasi) 􀏲􀎳􀏻􀏮􀏋􀎄􀏳􀎮􀎗 􀏡􀎍􀎪􀎨􀎘􀎴􀏳􀏭 􀎕􀎎􀏧􀎎􀏴􀎒􀏟􀎍 􀏕􀏮􀎛􀏮􀏟􀎍 􀏚􀎼􀋷 􀏟􀎍
.􀎝􀎎􀎘􀏨􀎘􀎳􀏹􀏭 (3) 􀎕􀎎􀏧􀎎􀎒􀏴􀏟􀎍 􀏡􀎪􀏘􀎗 (2) 􀎕􀎎􀏧􀎎􀏴􀎒􀏟􀎍􀎺􀏘􀏧 (1) :􀏖􀏳􀎮􀏄􀏟􀎍􀏭 􀎎􀎜􀎤􀎑 􀎕􀎎􀏧􀎎􀏴􀎒􀏟􀎍
􀎔􀎳􀎭􀎪􀏣 􀏰􀏓 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎗 􀏰􀏓 􀎮􀏴􀎑􀎪􀎗 􀋬􀏝􀏭􀏷􀎍 􀏮􀏫 􀎚􀎤􀎒􀏟􀎍 􀏞􀎻􀎎􀎣 􀎎􀏣􀎍
(ekstrakurikuler) 􀎔􀏴􀎟􀎭􀎎􀎨􀏟􀎍 􀎔􀏴􀏟􀎎􀏤􀏌􀏟􀎍􀏭 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎗 (1) :􀏮􀏫 􀎞􀏧􀏻􀎎􀏣 4 􀎔􀏴􀏣􀏮􀏜􀎤􀏟􀎍 􀎔􀏄􀎳􀏮􀎘􀏤􀏟􀎍
􀎔􀏨􀎴􀏟􀎍 􀏒􀎼􀏧 􀏰􀏓 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑􀏭 􀎓􀏮􀏨􀎴􀏟􀎍 􀎡􀎍􀎮􀎘􀏗􀎍 􀏭 􀏂􀏄􀎨􀏤􀏟􀎍 􀎭􀎎􀎸􀎘􀏧􀎎􀎑 􀋯􀎍􀎪􀎒􀏳 􀏞􀎼􀏔􀏟􀎍 (PAI) 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍􀏭
􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎗 􀏰􀏓 􀎡􀎍􀎮􀎘􀏗􀏹􀎍 􀎎􀏣􀎍􀏭 .(RPP) 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎘􀏟􀎍 􀎡􀎍􀎮􀎘􀏗􀎍 􀏦􀏳􀏮􀏜􀎗 􀏰􀏓 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎩􀎍􀎪􀏌􀎘􀎳􀎍􀏭
􀏡􀎯􀎍􀏮􀏠􀏟􀎍􀏭 􀎔􀏘􀏠􀏌􀎘􀏤􀏟􀎍 􀎔􀎳􀎭􀎪􀏤􀏟􀎍 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀏝􀏭􀎪􀎟􀏭 􀋬􀎪􀏔􀏨􀏳 􀏰􀎘􀏟􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍 􀏢􀏳􀏮􀏘􀎘􀏟 􀎎􀏌􀎒􀎗􀏭 SK-KD 􀏰􀏠􀏋 􀋯􀎎􀏨􀎑 􀎐􀋷􀎗􀎮􀏳􀏭
􀏉􀎎􀏤􀎘􀎟􀏹􀎍 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎗􀏭 􀎬􀏴􀎗􀎎􀎳􀏷􀎍 􀏞􀏛 􀎍􀏮􀏋􀎪􀏳 􀏮􀏫 􀎔􀎳􀎭􀎪􀏤􀏟􀎍 􀏖􀏘􀎤􀏳 􀏯􀎬􀏟􀎍 􀏂􀏄􀎨􀏤􀏟􀎍 􀎭􀎎􀎸􀎘􀏧􀎍 􀏲􀏋􀎎􀏨􀎻 􀎎􀏣􀎍 .􀎓􀎰􀏫􀎎􀎠􀏟􀎍
􀏢􀎛 􀎔􀎳􀎭􀎪􀏤􀏟􀎍 􀎲􀏴􀎋􀎭 􀏦􀏣 􀎔􀏴􀎟􀏮􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏉􀎎􀎿􀏭􀏻􀎍 􀋯􀎎􀏘􀏟􀎍 􀏥􀏮􀏜􀏳􀏭 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎍􀎮􀎒􀏟􀎍 􀏊􀏴􀏤􀎟 􀎭􀎎􀎸􀎘􀏧􀎍􀏭 􀎹􀎎􀎨􀏟􀎍 􀎡􀎍􀎮􀎘􀏗􀎍􀏭
􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍􀏭 (intrakurikuler) 􀎔􀏴􀏠􀎧􀎍􀎪􀏟􀎍 􀎔􀏴􀏟􀎎􀏌􀏔􀏟􀎍􀏭 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀏰􀏓 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎘􀏟􀎍 (2) .􀏞􀎋􀎎􀏘􀏟􀎍 􀏦􀏣 􀏉􀎎􀎿􀏭􀏻􀎍 􀋯􀎎􀏘􀏟􀎍
􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀎎􀏣􀎍 .􀏯􀏮􀏘􀎘􀏟􀎍 􀎔􀏬􀎟 􀏰􀏓 OSIS 􀎮􀏳􀎪􀏣􀏭 􀏰􀏓􀎎􀎿􀏻􀎍 􀎲􀎳􀎆􀏣􀏭 􀎏􀏼􀏄􀏟􀎍 􀏖􀎴􀏨􀏣 􀏊􀏣 􀎮􀏫􀎩􀎬􀏳 􀎪􀏗 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍
(3) .􀎔􀏴􀎑􀎮􀏌􀏟􀎍 􀎔􀏐􀏠􀏟􀎍 􀎔􀎒􀏄􀎧􀏭 (BTA) 􀏥􀎍􀎮􀏘􀏟􀎍 􀎏􀏮􀎘􀏛􀏭 􀎓􀎃􀎮􀏗 􀏮􀏫 􀎔􀎳􀎭􀎪􀏤􀏟􀎍 􀏰􀏓 􀎮􀏫􀎩􀎬􀏳 􀎪􀏗 􀎔􀏴􀎟􀎭􀎎􀎨􀏟􀎍 􀎔􀏴􀏟􀎎􀏌􀏔􀏟􀎍
􀎓􀏼􀎻􀏭 􀋬(IMTAQ) 􀏰􀏘􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏥􀎎􀏤􀏳􀏹􀎍 􀎭􀎍􀎮􀏤􀎘􀎳􀏹􀎍 􀏮􀏫 􀎐􀏴􀏛􀎮􀎗􀏭 􀏞􀏘􀎘􀎴􀏤􀏟􀎍 􀏁􀎎􀎸􀏧 􀏰􀏓 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎒􀏟􀎍 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎗􀏭
􀎔􀏟􀎎􀎣􀏭 􀎔􀎌􀏴􀎑􀏭 􀎭􀎍􀎮􀏤􀎘􀎳􀏹􀎍 􀏮􀏫 􀎐􀏴􀏛􀎮􀎗 􀏻􀏭 􀏞􀏘􀎘􀎴􀏤􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎒􀏟􀎍 􀏰􀏴􀏤􀏨􀎗 􀏰􀎋􀎎􀎴􀏨􀏟􀎍 􀏑􀎍􀎮􀎷􀎍􀏭 􀋬􀎔􀎳􀎭􀎪􀏤􀏟􀎍 􀏰􀏓 􀎔􀏌􀏤􀎠􀏟􀎍
Salam, Salim, Senyum, Ambil ) SAS 3 􀎭􀎍􀎮􀏤􀎘􀎳􀎍 (1) :􀏮􀏫 .􀎔􀎳􀎭􀎪􀏤􀏟􀎍 􀏝􀏮􀎣 􀎔􀏴􀏨􀏳􀎪􀏟􀎍
(􀎭) 􀋬􀎓􀎎􀏓􀏮􀏟􀎍 􀎓􀎪􀏋􀎎􀎴􀏣 (􀎫) 􀋬 PHBI (􀎩) 􀋬􀏝􀏼􀎤􀎑 􀏝􀏼􀎣 (􀎝) 􀋬􀏒􀏇􀎎􀏨􀏟􀎍 􀎔􀏌􀏤􀎟􀏭 􀎭􀎍􀎮􀏤􀎘􀎳􀎍 (􀎏) 􀋬(Sampah
.􀎔􀏌􀏤􀎠􀏟􀎍 􀏞􀏛 􀎔􀏳􀎮􀎠􀏟􀎍 􀏝􀎎􀏤􀏋 􀎭􀎍􀎮􀏤􀎘􀎳􀎍 (􀎱) 􀋬􀏢􀏠􀎴􀏤􀏟􀎍 􀎏􀎎􀏴􀎛 􀎲􀏴􀎒􀏟 (􀎯) 􀋬􀏰􀏣􀎎􀎘􀏴􀏟􀎍 􀎓􀎪􀏋􀎎􀎴􀏣􀏭
6
􀋬􀏢􀏴􀏈􀏨􀎘􀏟􀎍 :􀏖􀏳􀎮􀏄􀎑 􀏖􀏘􀎤􀎘􀏳 􀎪􀏗 (PAI) 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎗 􀏰􀏓 􀎮􀏴􀎑􀎪􀎘􀏟􀎍 􀋬􀏲􀏧􀎎􀎜􀏟􀎍􀏭
􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎗􀏭 􀏖􀏴􀏘􀎤􀎘􀏟􀎍 􀎎􀏣􀎍 .􀏲􀎟􀎭􀎎􀎨􀏟􀎍􀏭 􀏲􀏠􀎧􀎍􀎪􀏟􀎍 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎗􀏭 􀋬􀎔􀏴􀎟􀏮􀎘􀏟􀎍􀏭
􀏭 􀎓􀎍􀏮􀏨􀏟􀎍􀏭 􀋬􀏝􀏭􀏷􀎍 􀎔􀏴􀏟􀎎􀏤􀏌􀎑 􀋯􀎍􀎪􀎒􀏳 􀏯􀎬􀏟􀎍 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎔􀏴􀏔􀏴􀏛􀏭 􀏖􀏳􀎮􀏄􀏟􀎍 􀎮􀎸􀎘􀏨􀏳􀏭 􀏪􀎟􀎍􀏮􀎘􀏟􀎍 􀎔􀏴􀏟􀎎􀏤􀏋 (1) :􀏦􀏤􀏀􀎘􀏳
􀎔􀏴􀏟􀎎􀏤􀏋􀏭 (3) 􀎔􀏴􀎑􀎮􀏌􀏟􀎍 􀎔􀏐􀏠􀏟􀎍􀏭 (BTA) 􀏥􀎍􀎮􀏘􀏟􀎍 􀎔􀎑􀎎􀎘􀏛􀏭 􀎓􀎍􀎮􀏗 􀏥􀏮􀏜􀎗 􀎪􀏗 􀎔􀏴􀏠􀎧􀎍􀎪􀏟􀎍 􀎔􀏴􀏟􀎎􀏤􀏋􀏭 (2) 􀋬􀏡􀎎􀎘􀎘􀎧􀏹􀎍
􀏰􀎋􀎎􀎴􀏨􀏟􀎍 􀏑􀎍􀎮􀎷􀎍􀏭 􀎔􀏌􀏤􀎠􀏟􀎍 􀎓􀏼􀎻􀏭 􀋬(IMTAQ) 􀏰􀏘􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏥􀎎􀏤􀏳􀏹􀎍 􀎭􀎍􀎮􀏤􀎘􀎳􀎎􀎑 􀏥􀏮􀏜􀏳􀏭 􀎐􀏴􀏛􀎮􀎘􀏤􀏟􀎍 􀏞􀏘􀎘􀎴􀏤􀏟􀎍
.􀎔􀏴􀏨􀏳􀎪􀏟􀎍 􀎔􀏗􀎎􀏘􀎜􀏟􀎍􀏭 􀎐􀏴􀏛􀎮􀎗 􀏻􀏭 􀏞􀏘􀎘􀎴􀏤􀏟􀎍 􀎔􀏴􀏟􀎎􀏤􀏋􀏭
􀎔􀏄􀎳􀏮􀎘􀏤􀏟􀎍 􀎔􀎳􀎭􀎪􀏣 􀏰􀏓 (PAI) 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀏰􀏓 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎘􀏟􀎍 􀏂􀎒􀎿 􀋬􀎚􀏟􀎎􀎜􀏟􀎍􀏭
􀏉􀎎􀏤􀎘􀎟􀏹􀎍 􀎎􀏣􀎍 .􀎬􀏴􀎗􀎎􀎳􀏷􀎍􀏭 􀎪􀏋􀎎􀎴􀏤􀏟􀎍 􀏊􀏴􀏤􀎟 􀏉􀎎􀎒􀎗􀎎􀎑 􀎔􀏳􀎮􀏬􀎸􀏟􀎍 􀏉􀎎􀏤􀎘􀎟􀏹􀎍􀏭 􀏖􀏴􀏘􀎤􀎗 􀏰􀏓 􀎞􀏧􀏻􀎎􀏣 4 􀎔􀏴􀏣􀏮􀏜􀎤􀏟􀎍
4 􀎔􀏴􀏣􀏮􀏜􀎤􀏟􀎍 􀎔􀏄􀎳􀏮􀎘􀏤􀏟􀎍 􀎔􀎳􀎭􀎪􀏤􀏟􀎍 􀏰􀏓 􀏡􀎎􀏋􀏷􀎍 􀏰􀏠􀏋 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍 􀏖􀏴􀏘􀎤􀎗􀏭 􀎔􀏴􀏤􀏨􀎘􀏟􀎍 􀎐􀏴􀏗􀎮􀎘􀏟􀎍 􀏖􀏴􀏘􀎤􀎗 􀏰􀏓 􀎔􀏳􀎮􀏬􀎸􀏟􀎍
􀏭􀎍 􀏲􀎟􀎭􀎎􀎨􀏟􀎍􀏭 􀏲􀏠􀎧􀎍􀎪􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀏮􀏫 􀏡􀎍 􀎔􀏴􀏣􀏼􀎳􀏹􀎍 􀎔􀏴􀎑􀎮􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀏖􀏴􀏘􀎤􀎗 􀏰􀏓 􀎐􀏴􀏗􀎮􀎘􀏟􀎍 􀎎􀏣􀎍 .􀎞􀏧􀏻􀎎􀏣
􀎐􀏴􀏗􀎮􀎘􀏟􀎍 􀏖􀏴􀏘􀎤􀎗􀏭 􀎏􀏼􀏄􀏟􀎍 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎘􀏟􀎍 􀏰􀏓 􀏞􀎻􀎎􀎤􀏟􀎍 􀎔􀏀􀎣􀏼􀏤􀏟􀎍 􀏖􀏴􀏘􀎤􀎗􀏭 􀎔􀏴􀏨􀏳􀎪􀏟􀎍 􀎔􀏓􀎎􀏘􀎜􀏟􀎍 􀎭􀎍􀎮􀏤􀎘􀎳􀏹􀎍 􀏖􀏴􀏘􀎤􀎗 􀏰􀏓
􀏦􀏣 􀎮􀏴􀎜􀏛 􀎪􀎟􀏮􀏳 􀎪􀏗 􀋬􀎏􀏼􀏄􀏟􀎍 􀎔􀎠􀏴􀎘􀏨􀏟􀎍 􀏞􀎻􀎎􀎣􀏭 􀏰􀏓􀎎􀎿􀏹􀎍 􀎲􀎳􀎆􀏤􀏟􀎍 􀎭􀏮􀏀􀎤􀏟􀎍 􀎭􀎎􀎘􀏓􀎩􀏭 􀋬􀏞􀎼􀏔􀏟􀎍 􀏒􀏳􀎮􀎸􀏤􀏟􀎍
􀎭􀎎􀎘􀏓􀎩􀏭 (􀎎􀏄􀏄􀎨􀏣) 􀎎􀎠􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀏰􀏟􀎍 􀏯􀎮􀏈􀏨􀏟􀎎􀎑 􀎔􀏴􀏓􀎍􀎮􀎷􀏻􀎍 􀏖􀏴􀏘􀎤􀎘􀎑 􀎐􀏴􀏗􀎮􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏲􀎟􀎭􀎎􀎨􀏟􀎍 􀎞􀏣􀎎􀏧􀎮􀎑 􀏢􀏴􀏠􀏌􀎗􀏭 .􀏞􀏣􀎍􀏮􀏌􀏟􀎍
􀏥􀏮􀏜􀏳􀏻 􀎐􀏴􀏗􀎮􀎘􀏟􀎍 􀏊􀏣 􀏰􀏘􀎘􀏟􀎍􀏭 􀏥􀎎􀏤􀏳􀏹􀎍 􀎭􀎍􀎮􀏤􀎘􀎳􀏹􀎍 􀎐􀏴􀏗􀎮􀎘􀏟􀎍 􀏖􀏴􀏘􀎤􀎗 􀎎􀏣􀎍 .􀏰􀏓􀎎􀎿􀏻􀎍 􀏑􀎮􀎸􀏤􀏟 􀎭􀏮􀏀􀎤􀏟􀎍
.􀎔􀏈􀎣􀏼􀏣
7
A. Konteks Penelitian
Suatu kenyataan yang dihadapi dunia pendidikan khususnya Pendidikan Agama
Islam di lembaga pendidikan formal saat ini, adalah rendahnya kualitas pembelajaran
yang dilakukan oleh guru dan siswa di dalam kelas. Permasalahannya adalah proses
pembelajaran Pendidikan Agama Islam kurang berhasil dalam pembentukan perilaku
positif siswa. Lemahnya aspek metodologi yang dikuasai oleh guru juga merupakan
penyebab rendahnya kualitas pembelajaran. Metode yang banyak dipakai adalah model
konvensional yang kurang menarik.
Permasalahan nyata yang tampak dan diakui pula oleh para ahli pendidikan
dewasa ini adalah pendidikan agama yang diajarkan di sekolah umum ternyata kurang
berhasil untuk mengembangkan pribadi-pribadi yang taat dan berakhlak mulia. Buktibukti
yang diajukan untuk memperkuat pernyataan tersebut antara lain kenyataan
adanya siswa yang tidak mampu membaca Al-Qur’an dengan baik meski sudah duduk
di bangku SMP, belum dapat melaksanakan shalat dengan baik, tidak puasa di bulan
Ramadhan, tidak menunjukkan perilaku yang terpuji, banyaknya perilaku asusila dan
penggunaan obat terlarang dan minum minuman keras di kalangan pelajar.
Kesimpulannya, pendidikan agama belum mampu untuk menumbuhkan sikap positif
dalam diri anak yang berguna bagi kemaslahatan masyarakat.1
Kenyataan di lapangan bahwa guru-guru agama (Islam), jarang yang mau
mencermati efektivitas pengunaan metode mengajar, perhatiannya lebih terfokus pada
buku pegangan (teks book) yang dipergunakan. Disamping itu, dalam mengajar
kebanyakan guru agama, lebih dominan menggunakan metode ceramah, belum mampu
mengembangkan program-program pembelajaran yang efektif dan aplikatif. Guru
Agama belum banyak menggunakan manajemen pembelajaran yang profesional, masih
banyak menggunakan paradigma lama yaitu pendidikan sebagai transfer ilmu saja
belum pada pencapaian tiga ranah (kognitif, afektif, dan psikomototik).2
Dalam Islam, penggunaan metodologi yang tepat dalam rangka mempermudah
proses belajar-mengajar sangat dinanti baik dari kalangan siswa maupun dari pemerhati
dan pengguna lulusan keguruan. Ismail3 mengatakan bahwa metode sebagai seni
dalam mentrasfer ilmu pengetahuan kepada siswa dianggap lebih signifikan dibanding
1 Daradjat, Zakiah, Remaja Harapan dan Tantangan, (Jakarta : Ruhama, 2001), hal. 49.
2 Surya, Psikologi Pembelajaran dan pengajaran, (Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2004), hlm. 52.
Lihat juga Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan
Perguruan Tinggi, ( Jakarta: Rajawali Pers, 2007) hlm. 23
3 Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, Pembelajaran Aktif, Inovatif,
Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, (Semarang: Pustaka RaSAIL, cet.I, 2008), hlm. 12
8
dari materi itu sendiri. Sebuah adagium mengatakan bahwa “At-Thariqat Ahamm min
al-Maddah” (metode jauh lebih penting dibanding materi). Ini adalah sebuah realita
bahwa cara penyampaian yang komunikatif lebih disenangi oleh siswa, walaupun
sebenarnya materi yang disampaikan sesungguhnya tidak terlalu menarik. Sebaliknya
materi yng cukup menarik, karena disampaikan dengan cara yag kurang menarik maka
materi itu kurang dapat dicerna oleh siswa.
Al-qur’an sebagai sumber hukum Islam telah memrintahkan untuk memilih
metode yang tepat dalam proses pembelajaran, seperti yang terdapat dalam surh an-
Nahl : 125.
uqèd y7/
u‘ ¨bÎ) 4 ß`|¡ômr& }‘Ïd ÓÉL©9$$Î/ Oßgø9ω»y ur ( ÏpuZ|¡ptø:$# ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ y7nÎ/u‘ È@‹Î6y™ 4’n<Î) äí÷Š$#
ÇÊËÎÈtûïωtGôgßJø9$$Î/ ÞOn=ôãr& uqèdur ( ¾Ï&Î#‹Î6y™ `tã ¨@|Ê `yJÎ/ÞOn=ôãr&
“Serulah (manusia) kepada Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Selama ini, metodologi pembelajaran agama Islam yang diterapkan masih
mempertahankan cara-cara lama (tradisional) seperti ceramah, menghafal dan
demonstrasi praktik-praktik ibadah yang tampak kering. Seperti halnya pada materi
ilmu tajwid dari masa kemasa selalu menggunakan cara-cara lama dengan ceramah dan
membaca al-Qur’an sehingga cara-cara seperti itu diakui atau tidak, membuat siswa
tampak bosan, jenuh dan kurang bersemangat dalam belajar agama.
Oleh karenanya secara umum seluruh praktisi pendidikan, khususnya pendidikan
agama Islam perlu melakukan inovasi, kreatifitas sehingga tujuan pendidikan Islam
dapat tercapai. Strategi PAIKEM merupakan pendekatan dalam proses belajar
mengajar yang bila diterapkan secara tepat berpeluang dalam meningkatkan tiga hal,
pertama, maksimalisasi pengaruh fisik terhadap jiwa, kedua, maksimalisasi pengaruh
jiwa terhadap proses psikofisik dan psikososial,dan ketiga, bimbingan ke arah
pengalaman kehidupan spiritual.
Hal ini memang merupakan masalah pendidikan secara umum, namun dilihat
dari aspek psikologis bahwa dalam praktek pembelajaran Agama kurang dapat
9
memobilisasikan seluruh potensi yang ada pada diri siswa: berfikir, sikap dan
keterampilan anak didik. Dengan kata lain bila pengajaran agama (Islam)
menggunakan metode ceramah, berarti hanya menyentuh aspek kognitif saja
(menghafal dan mengetahui). Padahal inti Pendidikan Agama Islam adalah keimanan
yang lebih berdimensi afektif dengan sasaran utama hati nurani (concience) yang harus
diterapkan (psikomotor) dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu pengajaran
Pendidikan Agama Islam hendaknya bersifat integralistik yang menyentuh semua
ranah.
Untuk itulah dibutuhkan suatu program pengembangan pembelajaran Pendidikan
Agama Islam yang didalamnya diarahkan bukan hanya sekedar menyuruh siswa untuk
menghafal nilai-nilai normatif, disampaikan lewat ceramah dan diakhiri dengan
ulangan, tetapi program pengembangan Pendidikan Agama Islam yang mengarahkan
siswa tidak hanya memahami berbagai konsep, tetapi mereka mampu menguasai
ketrampilan berpikir, karena memang seharusnya learning itu berisi thinking dan juga
values. Disamping itu seorang guru agama harus pandai membuat perencanaan yang
mengarah pada pengembangan ke arah yang lebih baik.
Atas dasar itulah dipilih program-program pengembangan yang tepat dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan maksud sebagai suatu upaya untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam upaya pencapaian tujuan Pendidikan
Agama Islam secara sempurna dan diharapkan dapat diimplementasikan dalam
kehidupan sehari-hari maka dipandang perlu untuk mengkaji sebuah program
pembelajaran Pendidikan Agama Islam selanjutnya disingkat PAI. Dalam hal ini,
penulis akan mengadakan penelitian mengenai Manajemen Pengembangan program
pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang.
Salah satu masalah pendidikan agama Islam yang dihadapai di SMP Negeri 4
Malang adalah lemahnya manajemen (pengelolaan) program-program pembelajaran
mulai dari proses perencanaan program pembelajaran, pelaksanaan program
pembelajaran baik di kelas atau di luar kelas (Intra maupun ekstrakurikuler), dan proses
pengendalian program pembelajaran, baik lewat penilaian program yang
dikembangkan maupun proses pengawasan dari pihak-pihak terkait dengan penilaian
Pendidikan Agama Islam (PAI).
Dalam proses pelaksanaan program pembelajaran PAI di kelas, anak kurang
didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pelaksanaan program
pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilakukan di SMP Negeri 4 Malang hanya
10
diarahkan pada kemampuan anak untuk meniru program yang selama ini diterapkan
tanpa meneliti sejauhmana program pembelajaran itu benar-benar dapat dijalankan.
Seringkali anak-anak hanya disuruh untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa
untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami
informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Akibatnya? Ketika anak didik lulus dari sekolah tersebut, mereka pintar secara teoritis,
tetapi mereka miskin aplikasi.4
SMP Negeri 4 Malang, sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai tugas
setara dengan sekolah lain yaitu mempelopori penyempurnaan proses dan tujuan
pembelajaran melalui perbaikan pengembangan program-program pembelajaran
khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam(PAI) dengan cara
pengintegrasian dan internalisasi nilai-nilai pendidikan di dalam hidup dan kehidupan
para pelajar, yang pada gilirannya merupakan bekal yang berharga baginya untuk
membangun diri sendiri dan bangsa sesuai dengan yang kita harapkan bersama
sebagaimana yang tercantum dalam salah satu visinya yakni Unggul dalam Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi serta Seni (IPTEKs) yang berlandaskan Iman dan Taqwa
(IMTAQ) dan Berbudi pekerti yang luhur.5
Untuk mencapai tujuan tersebut, SMP Negeri 4 Malang banyak melakukan
berbagai terobosan program sekolah diantaranya: Pertama, penyiasatan kurikulum
pendidikan yang dipercaya akan mampu menjawab tantangan kebutuhan di masa depan
yang disusun oleh sekolah bersama dengan seluruh stakeholder yang ada. Kedua,
penyelenggaraan program pembelajaran yang lebih diorientasikan pada pengembangan
nilai-nilai yang benar-benar dapat terinternalisasi dalam kepribadian dan kehidupan
siswa sehingga berkemampuan nyata untuk mengidentifikasi masalah serta mencari
solusi untuk pemecahan masalah-masalah kemasyarakatan dalam lingkungannya, tanpa
mengabaikan penyiapan kemampuan akademik untuk berhasil menapaki jenjang
pendidikan tinggi. Begitupun dengan sistem seleksi calon siswa, penambahan wawasan
profesionalisme tenaga edukasi dan program-program unggulan lainnya.6 Sehingga
dengan program ini, menjadikan sekolah ini meraih image dalam masyarakat sebagai
4 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencana Prenada Media, 2006), Hal. 1.
5 Dokumen SMP Negeri 4 Malang, Program Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah 2009/2010
6 Ibid.
11
salah satu sekolah favorit yang mengembangkan disamping seni juga nilai-nilai agama
di Kota Malang.7
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan konteks penelitian di atas, maka peneliti memfokuskan penelitian ini
pada “manajemen pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam di
SMP Negeri 4 Malang”. Fokus penelitian ini selanjutnya dijabarkan dalam beberapa sub
fokus sebagai berikut:
1. Bagaimana proses perencanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan
Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang?
2. Bagaimana proses pelaksanaan pengembangan program pembelajaran Pendidikan
Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang?
3. Bagaimana proses pengendalian pengembangan program pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang?
C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk :
1. Mendeskripsikan proses perencanaan pengembangan program pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang
2. Mendeskripsikan proses pelaksanaan pengembangan program pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang.
3. Mendeskripsikan proses pengendalian pengembangan program pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang.
D. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan yaitu: Pertama, sebagai bahan
percontohan untuk sekolah lainnya di Kota Malang dan atau sekolah-sekolah di daerah
lain terkhusus di lokasi peneliti yaitu SMP Negeri 4 Kota Malang, tentang bagaimana
proses manajemen pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama
Islam(PAI) .
Kedua, memberikan informasi kepada instansi terkait yang dalam hal ini adalah
Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama, serta Institusi SMP
Negeri 4 Malang sendiri agar lebih mengembangkan dan mempertahankan programprogram
unggulan dan sesegera mungkin dapat mengadakan pembenahan jika terdapat
7 Slamet Udadi, Waka SMP Negeri 4 Kota Malang, “Wawancara”, di SMP N 4, tanggal 28 Oktober
2009.
12
kekurangan atau kelemahan yang terjadi dalam kaitannya dengan Proses
pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
Ketiga, hasil penelitian ini bisa digunakan bagi peneliti lain untuk mengkaji secara
mendalam konsep-konsep teoritik manajemen dalam pengembangan program
pembelajaran pendidikan Agama Islam (PAI) yang berkualitas dan lebih luas.
E. Definisi Istilah
Definisi istilah merupakan penjelasan atas konsep penelitian yang ada dalam judul
dan fokus penelitian. Definisi istilah sangat berguna untuk memberikan pemahaman dan
batasan yang jelas agar penelitian ini tetap terfokus pada kajian yang diinginkan
peneliti. Adapun istilah-istilah yang perlu didefinisikan adalah sebagai berikut:
1. Manajemen adalah ilmu dan seni yang menyangkut aspek-aspek yang sistematis,
suatu proses kerjasama dan usaha melalui orang lain, pengaturan, pengarahan,
koordinasi, evaluasi untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan serta dengan
memperhatikan sumber dana, alat, metode, waktu dan tempat pelaksanaan.
2. Pengembangan adalah proses yang dilakukan secara terus menerus dalam mencapai
tujuan yang lebih baik dan lebih memperbaiki dari program yang ada. Istilah
pengembangan dapat bermakna kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif,
bagaimana menjadikan yang sedikit menjadi lebih banyak. Sedang secara kualitatif,
bagaimana yang belum berkembang menjadi lebih berkembang dan lebih baik.
3. Program adalah rancangan mengenai asas serta usaha yang akan dijalankan.
sedang yang dimaksud program disini adalah program pembelajaran yang
menyangkut tentang perencanaan program pembelajaran, pelaksanaan program
pembelajaran dan pengendalian program pembelajaran. Arah pengembangannya
dimulai dari (1).Mengkaji , memetakan dan mengembangkan KD (Kompetensi
Dasar) agar diketahui karakteristiknya. Hal ini perlu dilakukan guna merancang
strategi dan metode yang akan digunakan pada kegiatan tatap muka, tugas
terstruktur, dan mandiri tidak terstruktur (2).Mendeskripsikan KD secara lebih rinci
dan terukur ke dalam rumusan indikator kompetensi. Indikator berguna untuk
merancang kegiatan pembelajaran yang diperlukan. Indikator yang dominan pada
prinsip dan prosedural misalnya, menyarankan kegiatan pembelajaran dengan
strategi diskoveri inkuiri. (3).Membuat desain pengembangan pembelajaran dalam
bentuk silabus atau desain umum pembelajaran seperti disajikan dalam Contoh
Desain Umum Pembelajaran Sistem SKS (4).Menjabarkan silabus atau desain
13
pembelajaran dalam bentuk rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) tiap
pertemuan (5). Melaksanaan pembelajaran sesuai dengan silabus/desain
pembelajaran dan RPP (6).Melakukan penilaian proses maupun hasil belajar untuk
mengukur pencapaian kompetensi
4. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Jadi interakasi siswa dengan guru
atau sumber belajar yang lain dalam lingkungan belajar disebut pembelajaran.
5. Manajemen Pengembangan Pembelajaran adalah suatu upaya mengatur
(memanejemeni, mengendalikan) aktivitas mengembangkan pembelajaran
berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip pembelajaran untuk menyukseskan
tujuan pembelajaran agar tercapai secara lebih efektif dan efisien. Wilayah
pengembangan disini menyangkut pengembangan perencanaan proses
pembelajaran, pengembangan pelaksanaan proses pembelajaran, dan
pengembangan penilaian hasil pembelajaran.
6. Pendidikan agama Islam (PAI) merupakan usaha sadar dan terencana untuk
menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, dan mengamalkan Islam melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan. PAI yang pada hakekatnya
merupakan sebuah proses itu, dalam perkembangannya juga dimaksud sebagai
rumpun mata pelajaran yang diajarkan di sekolah maupun perguruan tinggi.
F. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini, akan dijelaskan ruang lingkup kajian mengenai manajemen
pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dikembangkan
di SMP Negeri 4 Malang. Dalam observasi awal ditemukan bahwa perlu dirumuskan
program-program pembelajaran pendidikan Agama Islam (PAI) yang mampu
mewujudkan visi misi sekolah. Disamping itu perlu juga adanya pengelolaan program
pembelajaran secara efektif dan efisien. Karena selama ini program yang ada di SMP
Negeri 4 Malang ini kurang dimenej (dikelola) dengan baik, padahal
pengembangannya sudah dilakukan.
Untuk memudahkan pembahasan dalam penelitian ini, dibuatlah diagram
pelaksanaan manajemen pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4
Malang seperti di bawah ini:
14
G. Kajian Pustaka
1. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam (PAI) merupakan usaha sadar dan terencana untuk
menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, dan mengamalkan Islam melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan. PAI yang pada hakekatnya
merupakan sebuah proses itu, dalam perkembangannya juga dimaksud sebagai rumpun
mata pelajaran yang diajarkan di sekolah maupun perguruan tinggi. 8
Dari pengertian tersebut dapat dikemukakan bahwa kegiatan (pembelajaran)
PAI diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan
pengamalan ajaran agama Islam peserta didik, disamping untuk membentuk
keshalehan sosial. Dalam arti, kualitas atau keshalehan pribadi itu diharapkan mampu
memancar keluar dalam hubungan keseharian dengan manusia lainnya
(bermasyarakat) baik yang seagama maupun yang tidak serta dalam berbangsa dan
8 Nazarudin, Manajemen Pembelajaran, (Yogyakarta: Teras, 2007), hal. 12.
15
bernegara sehingga dapat terwujud persatuan dan kesatuan nasional (ukhuwah
wathoniyah) dan bahkan ukhuwah insaniyah.9
Berikutnya, PAI dapat dimaknai dari dua sisi yaitu: Pertama, ia dipandang
sebagai sebuah mata pelajaran seperti dalam kurikulum sekolah umum (SD, SMP,
SMA). Kedua, ia berlaku sebagai rumpun pelajaran yang terdiri atas mata pelajaran
Aqidah Akhlak, Fiqih, Al-Qur’an-Hadis, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab
seperti yang diajarkan di Madrasah (MI, MTs DAN MA).10 Pada bagian ini
pendidikan nilai PAI dimaksudkan pada pemaknaan yang pertama walaupun dalam
kerangka umum dapat mencakup keduanya.
Adapun tujuan Pendidikan agama Islam (PAI) pada sekolah umum adalah
meningkatkan keimanan, ketaqwaan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan siswa
terhadap ajaran Islam sehingga menjadi manusia muslim yang bertaqwa kepada Allah
Swt serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.11
Dari tujuan tersebut, terdapat beberapa dimensi yang hendak dituju dalam
pembelajaran PAI yaitu: (1) keimanan siswa terhadap ajaran agama Islam; (2)
pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan siswa; (3) penghayatan atau
pengalaman batin yang dirasakan siswa dalam menjalankan ajaran agama; (4)
pengamalan,12 dalam arti bagaimana ajaran yang telah diimani, dipahami dan dihayati
atau diinternalisasikan oleh peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam
dirinya untuk menggerakan, mengamalkan dan mentaati ajaran agama dan nilainilainya
dalam kehidupan pribadi sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Allah swt serta mengaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Depdiknas merumuskan tujuan PAI di sekolah umum, yaitu:
a. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemukuan dan pengembangan
pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan serta pengalaman siswa
tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang
keimanannya kepada Allah Swt.
9 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di
Sekolah (Bandung: Rosdakarya, 2002), hal. 75-76.
10 Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2004), hal. 198.
11 Ibid.
12 Ibid., hal. 16.
16
b. Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu
manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis,
berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan
sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah. 13
Tujuan PAI ini terelaborasi untuk masing-masing satuan pendidikan dan
jenjangnya serta kemudian dijabarkan menjadi standar kompetensi dan kompetensi
dasar yang harus dikuasai siswa. Tujuan pendidikan ini sangat terkait dengan standar
kelulusan yang tetapkan oleh pemerintah. Penetapan standar kelulusan ini berlaku bagi
semua siswa di Indonesia, sesuai dengan mata pelajaran, jenis dan jenjang pendidikan.
Standar kelulusan tersebut termaktub dalam Permendiknas RI Nomor 24 tahun 2006
yang menyebutkan bahwa standar kompetensi lulusan pada mata pelajaran PAI pada
SMP/MTs, ditetapkan yaitu: 1.). Menerapkan tata cara membaca Al-qur’an menurut
tajwid, mulai dari cara membaca “Al”- Syamsiyah dan “Al”- Qomariyah sampai
kepada menerapkan hukum bacaan mad dan waqaf 2). Meningkatkan pengenalan dan
keyakinan terhadap aspek-aspek rukun iman mulai dari iman kepada Allah sampai
kepada iman pada Qadha dan Qadar serta Asmaul Husna 3).Menjelaskan dan
membiasakan perilaku terpuji seperti qanaah dan tasamuh dan menjauhkan diri dari
perilaku tercela seperti ananiah, hasad, ghadab dan namimah 4). Menjelaskan tata cara
mandi wajib dan shalat-shalat munfarid dan jamaah baik shalat wajib maupun shalat
sunat 5). Memahami dan meneladani sejarah Nabi Muhammad dan para shahabat serta
menceritakan sejarah masuk dan berkembangnya Islam di nusantara 14
Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan
lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi siswa. Untuk
terjadinya perubahan perilaku sudah tentu di dalam pembelajaran tersebut terdapat
pengalaman belajar yang sistematis yang langsung menyentuh kebutuhan siswa.15
Untuk keperluan pembelajaran dalam konteks pemberian pengalaman belajar
dimaksud, maka model pembelajaran yang monoton yang selama ini berlangsung di
kelas sudah saatnya diganti dengan model pembelajaran yang memungkinkan siswa
aktif, siswa mengidentifikasi, merumuskan dan menyelesaikan masalah.
13 Ibid.
14 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2006 tentang
pelaksanaan Peraturan Mendiknas No. 22 Tahun 2006 (tentang standar isi) dan Peraturan Mendiknas No. 23
tahun 2006 (tentang standar kompetensi lulusan) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
15 Ibid., hal.165.
17
Model pembelajaran yang ditawarkan para ahli untuk mewujudkan kegiatan
belajar aktif dimaksud diantaranya: (1) Inquiry-discovery approach (belajar mencari
dan menemukan sendiri); (2) Expository teaching (menyajikan bahan dalam bentuk
yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik dan lengkap sehingga siswa tinggal
menyimak dan mencernanya secara teratur dan tertib); (3) Mastery learning (belajar
tuntas); (4) Humanistic education yaitu menitik beratkan pada upaya membantu siswa
mencapai perwujudan dirinya sesuai dengan kemampuan dasar dan keunikan yang
dimilikinya).16
Mulyasa menawarkan konsep tentang model pembelajaran yang efektif bagi
terbentuknya kompetensi siswa diantaranya: (1) Contectual Teaching and Learning
yaitu model pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan materi pembelajaran
dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata; (2) role playing yaitu model
pembelajaran yang menekankan pada problem solving (pemecahan masalah); (3)
modular Instruction yaitu pembelajaran dengan menggunakan system modul/paket
belajar mandiri yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah; (4)
pembelajaran partisipatif yaitu pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran.17
Dari sekian model di atas, masih banyak model pembelajaran lainnya yang
dapat dipilih dan digunakan oleh guru, guna mendesain pengalaman belajar yang
bermanfaat bagi siswa baik bagi perkembangan ranah kognitif, afektif maupun
psikomotoriknya. Yang jelas tidak ada satu model pembelajaran pun yang paling
efektif untuk satu mata pelajaran, yang ada adalah satu atau beberapa model
pembelajaran yang efektif untuk mata pelajaran tertentu tetapi belum tentu untuk
materi lainnya. Oleh karenanya guru harus cerdas dalam menentukan model
pembelajaran yang sesuai untuk suatu kegiatan pembelajaran guna tercapainya
indikator-indikator yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Bagi guru jangan terlalu merisaukan cara mengajar yang penting adalah
bagaimana kondisi pembelajaran yang diharapkan itu dapat terjadi dan dirasakan oleh
siswa. Karena dari kondisi pembelajaran itu diharapkan maksud dan tujuan
pembelajaran dapat terjadi, dengan cara mengajar yang bervariasi. Setiap cara
mengajar memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Yang kurang baik
16 Abin Syamsudin Makmun, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rosdakarya, 2002), hal.232-236.
17 E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK, (Bandung:
Rosdakarya, 2006), hal. 137-157.
18
adalah apabila guru sering menggunakan satu cara pembelajaran yang terus menerus
dengan slogan dikotomis yakni bila guru aktif maka siswa diam bila siswa aktif, maka
guru pasif.18 Dengan menghindari penggunaan metode monoton diharapkan
pencapaian pendidikan agama terjadi secara maksimal.
2. Manajemen Pengembangan Program Pembelajaran
a. Konsep Manajemen dalam Pembelajaran
Dalam Webster, News Collegiate Dictionary disebutkan bahwa manajemen
berasal dari kata to manage berasal dari bahasa Italia “managgio” dari kata
“managgiare” yang diambil dari bahasa Latin, dari kata manus yang berarti tangan
dan agere yang berarti melakukan. Managere diterjemahkan dalam bahasa Inggris
dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda management dan manager
untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen. Management diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan.19
Kata manage dalam kamus tersebut diberi arti: (1) to direct and control
(membimbing dan mengawasi); (2) to treat with care (memperlakukan dengan
seksama); (3) to carry on business or affair (mengurus perniagaan, atau
urusan/persoalan); (4) to achieve one’s purpose (mencapai tujuan tertentu).20
Pengertian manajemen dalam kamus tersebut memberikan gambaran bahwa
manajemen adalah suatu kemampuan atau ketrampilan membimbing, mengawasi dan
memperlakukan/mengurus sesuatu dengan seksama untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
Manajemen banyak dikemukakan oleh beberapa pakar manajemen yaitu:
manajemen adalah suatu proses pencapaian tujuan organisasi lewat usaha orang
lain.21 Menurut Gurlick manajemen adalah suatu bidang pengetahuan yang secara
sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama.22
Terry memberikan defenisi: “management is a distinct process consisting of
planning, organizing, actuating and controlling, performed to determine and
18 Djohar, MS, Guru, Pendidikan dan Pembinaannya,…, hal. 93.
19 Husaini Usman, Manajemen: Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006),
hal. 3.
20 Syamsudduha, Manajemen Pesantren, (Yogyakarta: Grha Guru, 2004), hal. 16.
21 M. Toha, Kepemimpinan dalam Manajemen, (Jakarta Rajawali Press, 1999), hal. 35.
22 N. Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), hal. 13.
19
accomplish stated objectives by the use of human beings and other resources”.23
Maksudnya bahwa manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan
dan mencapai tujuan dengan menggunakan sumber manusia dan sumber lain.
Berdasarkan beberapa pengertian manajemen di atas, maka dapat penulis
simpulkan bahwa manajemen dapat diartikan sebagai ilmu dan seni yang
menyangkut aspek-aspek yang sistematis, suatu proses kerjasama dan usaha melalui
orang lain, pengaturan, pengarahan, koordinasi, evaluasi untuk mencapai tujuan yang
telah ditentukan serta dengan memperhatikan sumber dana, alat, metode, waktu dan
tempat pelaksanaan.
Sedangkan Konsep Pembelajaran Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 pada Pasal 1 Bab pertama, menyebutkan bahwa
pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan/atau sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar.24 Jadi interakasi siswa dengan guru atau
sumber belajar yang lain dalam lingkungan belajar disebut pembelajaran.
Sedang menurut Degeng dalam Uno bahwa pembelajaran adalah upaya untuk
membelajarkan siswa.25 Dalam pengertian ini secara implisit dalam pengajaran
terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai
hasil pengajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan dan pengembangan metode
ini didasarkan pada kondisi pengajaran yang ada.
Senada dengan itu, Syafarudin mengemukakan bahwa guru sebagai seorang
menejer seharusnya melakukan pembelajaran yaitu dengan proses pengarahan anak
didik untuk melakukan kegiatan belajar dalam rangka perubahan tingkah laku
(kognitif, afektif dan psikomotik) menuju kedewasaan.26 Pengarahan agar siswa
belajar sehingga terjadi peningkatan dalam tingkah lakunya, disebut sebagai
pembelajaran.
Surya berkesimpulan bahwa secara umum pembelajaran merupakan suatu proses
perubahan, yaitu perubahan dalam perilaku sebagai hasil interaksi antara dirinya
dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara lengkap
pengertian pembelajaran dapat dirumuskan sebagai berikut: “Pembelajaran ialah
23 Terry G.R., Principles of Management (3rd ed.). (Homewood IL: Richard D. Irwin, INC, 1997),
hal. 4.
24 http://www.depdiknas.go.id/RPP/modules.php?name=News&file=article&sid=36
25 Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hal. 2.
26 Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, (Jakarta: Quantum Teaching, 2005),
hal. 77.
20
suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan
perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.”27
Beberapa prinsip yang menjadi landasan pengertian di atas diantaranya:
Pertama, pembelajaran sebagai usaha memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini
mengandung makna bahwa ciri utama output pembelajaran ialah adanya perubahan
perilaku dalam diri individu. Artinya seseorang yang telah mengalami pembelajaran
akan berubah perilakunya. Tetapi tidak semua perubahan perilaku sebagai hasil
pembelajaran. Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut: (1) perubahan yang disadari; (2) bersifat kontinyu
(berkesinambungan); (3) bersifat fungsional (memberikan manfaat); (4) bersifat
positif; (5) bersifat permanent (menetap); (6) bertujuan dan terarah artinya perubahan
itu terjadi karena ada sesuatu yang akan dicapai.28
Kedua, hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara
keseluruhan (kognitif, afektif dan motorik). Ketiga, pembelajaran merupakan suatu
proses. Artinya pembelajaran itu merupakan suatu aktivitas yang berkesinambungan,
sistematis dan terarah. Keempat, proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu
yang mendorong dan ada sesuatu tujuan yang akan dicapai. Kelima, pembelajaran
merupakan bentuk pengalaman. Perubahan perilaku yang diperoleh dari
pembelajaran pada dasarnya merupakan pengalaman.
Berkaitan dengan pengembangan program pembelajaran berarti melakukan suatu
proses yang terus menerus untuk melakukan perbaikan program yang sudah ada.
Melakukan pengembangan pembelajaran berarti melakukan suatu proses
pembelajaran yang terus-menerus sehingga terjadi perbaikan dalam pembelajaran .
perbaikan dalam pembelajaran ditandai dengan adanya usaha perbaikan program
maupun perbaikan tingkah laku pada diri siswa. Hal-hal yang perlu dikembangkan
dalam pembelajaran mengacu pada SKKD meliputi; silabus, Indikator , Materi
pembelajaran, Strategi Pembelajaran, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan
evaluasi pembelajaran.
Jadi, pengembangan Program pembelajaran yang diamksud adalah usaha yang
dilakukan secara sistematis dan terus menerus untuk memperbaiki program-program
27 Mohammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, (Yogyakarta: Pustaka Bani Quraisy,
2004), hal, 9.
28 Ibid., hal, 9-10.
21
pembelajaran dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran yang ada pada satuan
pendidikan tersebut dengan syarat potensi yang sudah ada lebih memenuhi dari yang
distandarkan.
Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa manajemen pengembangan
program pembelajaran adalah usaha untuk melakukan perbaikan program baik dalam
arti kuantitatif maupun kualitatif yang dimulai dari merencanakan, melaksanakan dan
mengendalikan program dalam rangka memperoleh perubahan perilaku yang baru
dalam diri peserta didik secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu
itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya sesuai dengan tujuan yang telah
ditentukan dengan memperhatikan sumber dana, alat, metode, waktu dan tempat
pelaksanaan.
b. Kegiatan Manajemen dalam Pengembangan Program Pembelajaran
Dalam teori pembelajaran, manajemen pembelajaran adalah ilmu murni, terapan
dan sistem. Teori pembelajaran melintasi teori pengajaran yang di dalamnya
dihubungkan berbagai faktor ke dalam sistem manajemen pembelajaran.
Menurut Reigeluth bahwa manajemen pembelajaran adalah berkenaan dengan
pemahaman, peningkatan dan pelaksanaan dari pengelolaan program pengajaran
yang dilaksanakan.29 Itu berarti manajemen pembelajaran adalah proses
pendayagunaan seluruh komponen yang saling berinteraksi (sumber daya
pengajaran) untuk mencapai tujuan program pembelajaran.
Rohani berpendapat bahwa manajemen (pengelolaan) pembelajaran adalah lebih
mengacu pada suatu upaya mengatur (memanejemeni, mengendalikan) aktivitas
pembelajaran berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip pembelajaran untuk
menyukseskan tujuan pembelajaran agar tercapai secara lebih efektif dan efisien dan
produktif yang diawali dengan penentuan strategi, dan perencanaan, diakhiri dengan
penilaian.30 Penilaian tersebut pada akhirnya akan dapat dimanfaatkan sebagai
feedback bagi perbaikan pembelajaran lebih lanjut.
Sebagai seorang manajer dalam organisasi kelas pembelajaran, guru setidaknya
melalakukan hal sebagai berikut: (1) merencanakan yaitu menyusun tujuan
pembelajaran; (2) mengorganisasikan, yaitu menghubungkan atau menggabungkan
seluruh sumber daya belajar mengajar dalam mencapai tujuan secara efektif dan
efisien; (3) memimpin yaitu memotivasi para peserta didik untuk siap mengikuti
29 Ibid.
30 Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 2.
22
pelajaran; (4) mengawasi yaitu apakah pekerjaan atau kegiatan belajar mengajar
mencapai tujuan pembelajaran. Karena itu harus ada proses evaluasi pengajaran
sehingga diketahui hasil yang dicapai.31 Sehingga jika diruntut, maka manajemen
memiliki unsur atau fungsi yang meliputi: perencanaan pembelajaran,
pengorganisasian, kepemimpinan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), dan
evaluasi pembelajaran.
Para ahli menajemen memberikan pendapat beragam mengenai fungsi
manajemen, namun pada intinya mengandung kesamaan. Sebagai contoh, fungsifungsi
manajemen menurut: Henry Fayol (planning, organizing, commanding, dan
controlling), George R. Terry (planning, organizing, actuating, controlling), L.M.
Gulick (planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting,
budgeting), Kantz O’ Donniell (planning, organizing, staffing, leading, controlling),
32
Pendapat beragam tentang fungsi manajemen di atas, menunjukkan banyaknya
aspek yang dikerjakan oleh seorang manejer. Dari beberapa pendapat di atas, terlihat
adanya beberapa aspek utama yaitu planning, organizing, commanding, controlling.
Keempat fungsi tersebut akan dijelaskan berikut:
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah salah satu fungsi awal dari aktivitas manajemen dalam
mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Menurut Anderson, perencanaan adalah
pandangan masa depan dan menciptakan kerangka kerja untuk mengarahkan
tindakan seseorang di masa depan.33
Walaupun semua fungsi manajemen saling terkait namun setiap pelaksanaan
kegiatan organisasi harus dimulai dari perencanaan. Dijelaskan Davis bahwa
perencanaan pengajaran adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang guru untuk
merumuskan tujuan pengajaran. Sedangkan Dick dan Reiser menjelaskan bahwa
rencana pembelajaran terdiri dari sejumlah komponen yang jika dipadukan
memberikan panduan bagi penyampaian pengajaran efektif kepada pembelajar.34
31 Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, (Jakarta: Quantum Teaching, 2005),
hal. 77.
32 St. Syamsudduha, Manajemen Pesantren…, hal. 19.
33 Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hal. 91.
34 Ibid.
23
Sesungguhnya fungsi perencanaan dalam organisasi untuk menyajikan suatu
sistem keputusan yang terpadu sebagai kerangka dasar bagi kegiatan organisasi.
Menurut Nurhida Amir dan Rocdhita, perencanaan pengajaran merupakan suatu
proses analisis dari kebutuhan dan tujuan belajar, pengembangan materi, kegiatan
belajar mengajar dan penilaian hasil belajar peserta didik, mencobakan semua
kegiatan mengajar dan penilaian peserta didik.35
Setidaknya terdapat beberapa alasan rencana guru menjadi penting, yaitu: (1)
untuk mengurangi kecemasan dan ketidakpastian; (2) memberikan pengalaman
pembelajaran bagi guru; (3) perencanaan membolehkan para guru untuk
mengakomodasi perbedaan individu diantara siswa; (4) memberikan struktur dan
arah untuk pembelajaran.36 Tegasnya, perencanaan memang sangat diperlukan oleh
guru.
Adapun model perencanaan pembelajaran, terdiri dari dua model yaitu: (1)
Model perencanaan pengajaran sistemik; (2) Prosedur Pengembangan Sistem
Instruksional (PPSI).
Model perencanaan pengajaran sistemik terdiri dari beberapa langkah yaitu: (a)
mengidentifikasi tugas-tugas; (b) analisis tugas; (c) penetapan kemampuan; (d)
Spesifikasi pengetahuan, ketrampilan dan sikap; (e) Identifikasi kebutuhan
pendidikan dan latihan; (f) perumusan tujuan; (g) kriteria keberhasilan program; (h)
organisasi sumber-sumber belajar; (i) pemilihan strategi pengajaran; uji lapangan
program; (j) pengukuran reliabilitas program; (k) perbaikan dan penyesuaian (l)
pelaksanaan program; (m) monitoring program.
Sedangkan PPSI sebagai suatu pedoman yang disusun oleh guru untuk
menyusun satuan pelajaran memiliki langkah-langkah yaitu (a) menetapkan tujuan
pengajaran khusus; (b) menetapkan bahan pelajaran/pokok bahasan; (c) menetapkan
metode/alat pelajaran; (d) menetapkan alat evaluasi; (e) menetapkan sumber bahan
pelajaran.
Terkait dengan tujuan pembelajaran, proses pembelajaran menekankan
pencapaian tujuan baik berdimensi kognitif, afektif maupun psikomotor sehingga
pencapaian hasil belajar menjadi terpadu dari totalitas kepribadian peserta didik.
Bentuk pembelajaran tentu saja diterapkan oleh guru yang diawali dari penyusunan
tujuan pembelajaran.
35 Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 69.
36 Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hal. 94.
24
Tujuan pembelajaran adalah pernyataan umum dari apa yang dapat dilakukan
pelajar sebagai hasil pembelajaran yang dilakukan. Adapun fungsi utama tujuan
dalam proses pembelajaran yaitu: (1) sebagai pedoman dalam merancang
pembelajaran yang sesuai guna memilih dan mengatur aktivitas pengajaran dan
sumber daya yang akan digunakan untuk mendukung pembelajaran efektif; (2)
tujuan pengajaran memberikan kerangka kerja bagi menentukan cara dalam
mengevaluasi pengajaran; (3) pembuatan tujuan adalah untuk mengarahkan pelajar.
37
Bagaimanapun seorang guru profesional berharap agar siswa yang menerima
pelajaran dapat mengetahui informasi tentang sesuatu dengan baik dan mampu
mengerjakan dengan baik pula. Dengan penerapan model pembelajaran di atas dapat
digunakan untuk membantu guru dan murid dengan mudah.
2. Pengorganisasian (Organizing)
Mengorganisir dalam pembelajaran merupakan pekerjaan yang dilakukan
seorang guru dalam mengatur dan menggunakan sumber belajar dengan maksud
mencapai tujuan belajar dengan cara yang efektif dan efisien.38 Artinya bahwa
organisasi merupakan proses pembagian sumber belajar untuk mempermudah
mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Jika ditelusuri lebih jauh lagi, pengorganisasian sebenarnya tidak saja berhenti
pada pengelolaan sumber belajar, sebagaimana yang dijelaskan Davis bahwa
pengorganisasian dalam pembelajaran meliputi: (a) memilih alat taktik yang tepat;
(b) memilih alat bantu belajar atau audio visual yang tepat; (c) memilih besarnya
kelas (jumlah siswa yang tepat); (d) memilih strategi yang tepat untuk
mengkomunikasikan peraturan-peraturan, prosedur serta pengajaran yang
kompleks.39
Dalam rangka pengelolaan pembelajaran, guru perlu menciptakan suasana
belajar di kelas yang kondusif dan terarah pada pencapaian tujuan pembelajaran
secara efektif dan efisien diantaranya:
a. Sebelum guru masuk kelas (pre condition).
Cara yang ditempuh oleh guru adalah: (1) merumuskan apa yang penting dan
harus dimiliki oleh siswa; (2) merancang bantuan-bantuan yang cocok akan
37 Ibid., hal. 101.
38 Ibid. hal. 110.
39 Ibid.
25
diberikan kepada siswa; (3) merancang waktu yang sesuai dengan
topik/pokok bahasan pelajaran.
b. Pada waktu guru di kelas (operating procedures)
Cara yang ditempuh mencakup kegiatan berikut: (1) memperhatikan
keragaman siswa sehingga guru memperlakukan mereka dengan cara dan
waktu yang berbeda; (2) mengadakan pengukuran terhadap berbagai
pencapaian siswa sebagai hasil belajarnya.40
Pada tahapan di atas maka mutlak diperlukan metodologi yang tepat dalam
pembelajaran. Dalam hal ini metode mengajar adalah (1) salah satu komponen dari
proses pendidikan; (2) merupakan alat mencapai tujuan yang didukung oleh alat-alat
bantu mengajar; (3) merupakan kebulatan dalam satu sistem pengajaran.
Sebagai menejer, guru dapat mengorganisasikan bahan pelajaran untuk
disampaikan kepada siswa dengan beberapa metode, antara lain: metode ceramah,
metode demonstrasi, diskusi, metode tanya jawab, metode drill/latihan, atau metode
resitasi/pemberian tugas belajar, karyawisata, sosiodrama, simulasi, dll.41 Dalam
menggunakan dan memilih metode, yang penting diperhatikan guru adalah tujuan
pengajaran yang akan dicapai, sifat materi pelajaran, kondisi siswa, kemampuan guru
dan alokasi waktu. Artinya bahwa pengorganisasian ini erat terkait dengan
pengelolaan kelas.
Pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh guru
(penanggung jawab) dalam membantu siswa sehingga dicapai kondisi optimal
pelaksanaan pembelajaran seperti yang diharapkan.42 Edmund, dkk, mendefenisikan
pengelolaan kelas yaitu: (1) Tingkah laku guru yang dapat menghasilkan prestasi
siswa yang tinggi karena keterlibatan siswa di kelas; (2) tingkah laku siswa yang
tidak banyak mengganggu kegiatan guru dan siswa lain; (3) menggunakan waktu
belajar yang efisien.43
Kegiatan utama yang dilakukan dalam pengelolaan kelas yaitu: (1) yang
berkaitan dengan siswa; (2) yang berkaitan dengan fisik (ruangan, perabot, alat
pelajaran). Membuka jendela, merangsang anak untuk belajar maksimal, mengatur
bangku, meja dan sebagainya merupakan pengelolaan Jadi, tujuan pengelolaan kelas
40 Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa: Sebuah Pendekatan Evaluatif, (Jakarta: CV.
Rajawali, 1986), hal. 27-28.
41 Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hal. 112-115.
42 Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa…, hal. 68.
43 Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2006), hal. 264.
26
adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan
pengajaran secara efektif dan efisien.
Sebuah kelas dapat dikatakan tertib, dilihat dari indikator yaitu: (1) setiap anak
terus bekerja, tidak ada yang berhenti karena tidak tahu tugas belajar yang diberikan
kepadanya, (2) setiap anak terus melakukan pekerjaan belajar tanpa membuang
waktu agar dapat menyelesaikan tugas belajar yang diberikan kepadanya.44 Jangan
sampai ada anak yang dapat mengerjakan tugasnya, tetapi tidak bergairah dalam
mengerjakan tugas yang diberikan guru, karena situasi dan kondisi kelas tidak
mendukung.
Perlu juga diusahakan suatu pengelolaan kelas dengan perspektif baru.
Pengelolaan kelas tidak sekedar pada hal-hal teknis atau menyangkut strategi belaka,
namun lebih menyangkut faktor pribadi-pribadi peserta didik yang ada di kelas
tersebut. Pengelolaan kelas tidak dapat dilepaskan dari aspek manusiawi dari
pembelajaran dan pengajaran.45 Pengelolaan kelas yang ditekankan pada bagaimana
mengelola pribadi-pribadi yang ada akan lebih menolong dan mendukung
perkembangan pribadi, baik pribadi peserta didik maupun gurunya.
Kelas atau kegiatan belajar mengajar hendaknya menjadi suasana yang
menggairahkan dan mengasyikkan untuk kegiatan eksplorasi diri dan menemukan
identitas diri. Maka pengajaran secara integral mesti berkaitan dengan pendidikan
nilai. Faktor-faktor penting dalam pengelolaan kelas adalah faktor gurunya, faktor
kedisiplinan, dan faktor evaluasi atau penilaian bagi peserta didik. Kesemua faktor
tersebut saling berkaitan antara satu dengan lainnya yang harus diperhatikan guru
dalam rangka mengelola kelas mencapai tujuan yang maksimal.
3. Pengarahan (Leading)
Pengarahan (leading) yang biasanya juga diartikan kepemimpinan adalah proses
mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berhubungan dengan tugas dari
anggota-anggota kelompok46. Tugas mengarahkan dilakukan oleh pemimpin, oleh
karena itu kepemimpinan kepala sekolah, mempunyai peran yang sangat penting
dalam mengarahkan personil untuk melaksanakan kegiatan pengembangan program
pembelajaran.
44 Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa…, hal. 68-69.
45 http://www.sfeduresearch.org/content/view/175/66/1/5/lang,id/
46 Tunggal, Manajemen Suatu Pengantar, Jakarta: Rieneka Cipta, 1993, hlm 94
27
Kepemimpinan dalam pengembangan program pembelajaran merupakan proses
aktivitas peningkatan pemanfaatan sumberdaya manusia dan material di sekolah
secara lebih kreatif, mengintegrasikan semua kegiatan dalam kepemimpinan,
sedangkan manajemen dan administrasi pendidikan membuat keputusan untuk
kelangsungan pembelajaran secara efektif.47
Menurut Sue dan Glover dalam konteks pembelajaran, peran guru adalah
menolong siswa untuk mengembangkan kapasitas pembelajaran, yang
memungkinkan aktivitas manajemen, struktur organisasi, sistem dan proses yang
diperlukan untuk menangani kegiatan mengajar dan peluang belajar para siswa
secara maksimal.48 Semakin senang perasaan (enjoyable) anak dalam mengikuti
pembelajaran, diharapkan tujuan pembelajaran yaitu perubahan tingkah laku siswa
tercapai secara optimal.
Menurut Davis dalam konteks peran guru, memimpin adalah pekerjaan yang
dilakukan oleh guru untuk memberikan motivasi, mendorong dan membimbing
siswa sehingga mereka akan siap untuk mencapai tujuan belajar yang telah
disepakati. Jadi peran guru disini lebih mengarah pada kegiatan memotivasi siswa
untuk dapat belajar. Untuk memberikan pengaruh dan bimbingan dalam konteks
mengajar, guru sebagai pemimpin melakukan dua usaha utama, yaitu: (1)
memperkokoh motivasi siswa, (2) memilih strategi mengajar yang tepat.49 Ketika
guru berhasil melaksanakan kedua usaha di atas, maka secara tidak langsung guru
telah menjalin hubungan harmonis dengan siswa, sehingga memudahkan guru dalam
mengarahkan siswa ke arah tujuan yang diharapkan.
Karakteristik hubungan yang baik antar guru dan siswa yaitu: (1) keterbukaan
dan transparan sehingga memungkinkan terjadinya keterusterangan satu dengan
lainnya; (2) penuh perhatian, bila tiap pihak mengetahui bahwa dirinya dihargai oleh
pihak lain; (3) saling ketergantungan dari pihak yang satu kepada pihak yang lain; (4)
keterpisahan, untuk memungkinkan guru dan siswa menumbuhkan dan
mengembangkan keunikan, kreativitas dan individualitas masing-masing; (5)
pemenuhan kebutuhan bersama sehingga tidak ada satu pihak yang dikorbankan
untuk memenuhi kebutuhan pihak lain. 50
47 Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran…, hlm. 121.
48 Ibid
49 Loc. Cit, hlm. 124.
50 Loc. Cit…, hlm. 125.
28
Silberman berpendapat bahwa pembelajaran akan memikat hati siswa manakala
guru melakukan hal-hal berikut: (1) menyampaikan informasi dalam bahasa mereka
(siswa); (2) memberikan contoh tentang hal tersebut; (3) Memperkenalkan dalam
berbagai arahan dan keadaan; (4) melihat hubungan antara informasi dan fakta atau
gagasan lainnya; (5) membuat kegunaannya dalam berbagai cara; (6) memperhatikan
beberapa konsekuensi informasi tersebut; (7) menyatakan perbedaan informasi itu
dengan lainnya. 51
Tidak hanya itu saja, tetapi pembelajaran akan lebih memantapkan siswa untuk
tekun mengikuti pembelajaran guru dan termotivasi untuk giat belajar sangat
dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan yang diterapkan guru dalam lingkungan
pendidikan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Sriyono, dkk bahwa dalam konteks
kepemimpinan, terdapat beberapa gaya kepemimpinan guru, yaitu: (1) guru yang
otoriter; (2) guru yang memberikan kebebasan; (3) guru yang demokratis.52 Terdapat
perbedaan signifikan antara guru dalam pembelajaran. Guru yang otoriter cenderung
berbuat banyak untuk mengambil keputusan, sedangkan guru yang demokratis,
membagi kepada kelompok untuk membuat keputusan.
Sebagai seorang manejer, guru pun diharapkan mampu memberikan penguatan
motivasi kepada siswa untuk belajar. Perlu diketahui juga bahwa persoalan motivasi
bukan hanya kajian dalam psikologi, tetapi juga berkaitan dengan manajemen dan
pembelajaran. Semua orang mempunyai motivasi dalam melakukan suatu tindakan.
Guru sebagai pemimpin dalam proses pengajaran, berperan dalam mempengaruhi
atau memotivasi siswa agar mau melakukan pekerjaan yang diharapkan sehingga
pekerjaan guru dalam mengajar menjadi lancar, siswa mudah paham dan menguasai
materi pelajaran sehingga tercapai tujuan pengajaran.
Dalam upaya memberikan motivasi, guru dapat menganalisis motif-motif yang
melatarbelakangi siswa malas belajar dan menurun prestasinya di sekolah. Motivasi
dapat efektif bila dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan siswa.
Penganekaragaman cara belajar memberikan penguatan dan sebagainya, juga dapat
memberikan motivasi pada anak didik untuk lebih bergairah dalam belajar.53
Menurut Davis, kegiatan motivasi ialah kekuatan yang tersembunyi dalam diri
dan mendorong seseorang berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khusus.
51 Ibid.
52 Loc. Cit, hlm. 131.
53 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta,
2005), hlm. 45.
29
Mitchel berpendapat bahwa motivasi sebagai suatu tingkat kejiwaan berkaitan
dengan keinginan individu dan pilihan untuk melakukan perilaku tertentu. Menurut
Callahan dan Clark, motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang
menyebabkan adanya tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu.54 Jadi motivasi
adalah keinginan untuk melakukan sesuatu tindakan. Suatu kondisi dimana
keinginan-keinginan (needs) pribadi dapat mencapai kepuasan.
Maslow mengemukakan tingkat kebutuhan sebagai dasar motivasi yaitu:
a. Kebutuhan psikologis, mencakup: lapar haus, dan dorongan seksual
b. Kebutuhan rasa aman, mencakup: keamanan dan perlindungan fisik dan emosi
c. Kebutuhan sosial, meliputi: kepemilikan, penerimaan dan persahabatan
d. Kebutuhan harga diri, mencakup: harga diri, pengakuan dan prestasi (faktor
internal), status, pengakuan dan perhatian (faktor eksternal)
e. Kebutuhan aktualisasi diri, mencakup: pertumbuhan pencapaian potensi individu55
Lain halnya dengan Basyirudin, justru memetakan motivasi atas dua bagian,
yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah dorongan yang timbul dari
dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi ini biasanya mucul karena
adanya keinginan mencapai tujuan yang terkandung dalam perbuatan belajar
seseorang, sebagaimana dikatakan para psikolog “Intrinsic motivations are inherence
in the learning situation and meeting pupil needs and purposes”. Sedangkan
Motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang timbul karena adanya pengaruh luar,
seperti adanya keinginan mencari penghargaan berupa angka, hadiah, dan
sebagainya.56
Guru harus selalu berusaha untuk memperkuat motivasi siswa dalam belajar. Hal
tersebut dapat dicapai melalui penyajian pelajaran yang menarik dan hubungan
pribadi yang menyenangkan baik dalam kegiatan belajar mengajar di kelas maupun
di luar kelas. Bagaimanapun, siswa akan senang belajar di kelas yang nyaman dan
menarik, laboratorium modern yang direncanakan dengan baik. Siswa harus
diperlakukan sedemikian rupa sehingga terwujud rasa harga diri, status dan
pengenalan diri. Intinya adalah menciptakan iklim kesehatan yang tinggi di sekolah
baik fisik maupun non fisik.
54 E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 200), hlm. 264.
55 Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, .., hal. 264, Syafarudin dan Irwan Nasution,
Manajemen Pembelajaran…, hlm. 131.
56 Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm.
10.
30
Tentu saja untuk menciptakan motivasi siswa dalam belajar tidak hanya
persoalan keprofesionalan guru. Hal tersebut juga berkaitan dengan efektifitas
manajemen sekolah dalam menyediakan sumber daya yang mendukung munculnya
motivasi belajar yang tinggi.
4. Pengendalian (Controlling)
Pengendalian adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan untuk
mengadakan pengawasan, penyempurnaan dan penilaian untuk menjamin agar tujuan
dapat dicapai seperti yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Dalam pengendalian
terdapat kegiatan monitoring hasil-hasil dan membandingkannya dengan standar,
menentukan penyebab-penyebabnya, dan memperbaiki penyimpanganpenyimpangannya.
57
Usman menyatakan pengendalian adalah proses pemantauan, penilaian dan
pelaporan rencana atas pencapaian tujuan yang telah ditetapkan untuk tindakan
korektif guna penyempurnaan lebih lanjut58. Pengendalian berbeda dengan
pengawasan. Perbedaannya terletak pada wewenang yang ada. Karena itu,
pengendalian memiliki wewenang turun tangan yang tidak dimiliki oleh pengawas.
Pengawas hanya sebatas memberi saran, sedangkan tindak lanjutnya dilakukan oleh
pengendali, karenanya pengendalian lebih luas daripada pengawasan. Meskipun
demikian pengendalian juga sering disebut dengan pengawasan, sehingga
pengendalian diartikan sebagai proses kegiatan melihat apakah yang terjadi itu sesuai
dengan apa yang seharusnya terjadi, jika tidak maka akan dilakukan penyesuaian.
Dalam tulisan ini selanjutnya disebut dengan istilah pengendalian. Nur Ali dalam
Murdick dalam fatah menyatakan pengendalian merupakan proses dasar yang secara
esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasnya suatu organisasi.59 Proses
dasarnya terdiri dari tiga tahap yaitu; menetapkan standar pelaksanaan, pengukuran
pelaksanaan pekerjaan dibandingkan dengan standar, dan menentukan kesenjangan
antara pelaksanaan dengan standar dan rencana.
Salah satu fungsi pengendalian adalah mengadakan koreksi sehingga apa yang
sedang dilakukan bawahan dapat diarahkan dengan benar untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Sukmadinata menyatakan ada tiga cara pengendalian yang
57 Sutopo, Administrasi manajemen Organisasi, Jakarta: LAN RI, 1998, hlm.96
58 Usman H, Manajemen; Teori, Praktek dan Riset Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2006, lihat juga
Nur Ali, Manajemen Pengembangan Kurikulum SMK, DISERTASI, UM, 2008 hlm.96
59 Nur Ali, Manajemen pengembangan Kurikulum SMK, DISERTASI, Malang: PPs UM, 2008,
hlm.96
31
dapat dilakukan oleh pemimpin60. Pertama pengendalian umpan maju (feedforward)
dilakukan sebelum pekerjaan dimulai. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi
kemungkinan masalah yang akan muncul serta melakukan tindakan-tindakan
pencegahan. Kedua, pengendalian konkuren (concurent controls) yaitu memusatkan
kegiatan pengendalian pada apa yang sedang berjalan atau proses pelaksanaan
kegiatan. Cara pengendalian ini disebut steering controls, monitoring pekerjaan atau
kegiatan yang sedang berjalan untuk meyakinkan bahwa segala sesuatu telah berjalan
dengan baik. Ketiga, pengendalian umpan balik (feedback controls) atau disebut juga
postaction controls, yaitu pengukuran dan perbaikan dilakukan setelah kegiatan
dilakukan. Sedangkan proses pengendalian terdiri atas tiga langkah universal yaitu;
mengukur perbuatan, membandingkan perbuatan, dan memperbaiki penyimpangan
dengan tindakan pembetulan61.
Dengan demikian, pengendalian berarti melakukan kegiatan yang terencana
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu pengendalian berkaitan
erat dengan fungsi perencanaan, pengorganisasian, dan pengarahan. Pengendalian
juga sangat menentukan baik-buruknya pelaksanaan suatu rencana karena tujuan
pengendalian agar proses pelaksanaan dilakukan sesuai dengan ketentuan rencana
dan melakukan perbaikan jika terdapat penyimpangan dalam pelaksanaannya,
sehingga tujuan yang dicapai sesuai dengan perencanaannya.
Pengendalian yang baik apabila dilakukan tidak saja hanya pada tahap akhir dari
suatu pekerjaan, akan tetapi pengendalian harus dilakukan sejak dari awal kegiatan,
dalam arti dari sejak disusunnya rencana kegiatan sampai dengan berakhirnya suatu
kegiatan. Pengendalian juga dapat dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah
disusun dan dapat pula dilakukan sewaktu-waktu. Dengan demikian dapat
diformulasikan bahwa pengendalian pengembangan program pembelajaran yaitu
proses pemantauan, penilaian dan pelaporan atas pencapaian tujuan dalam kegiatankegiatan
manajemen pengembangan program pembelajaran yang telah ditetapkan
untuk tindakan korektif guna penyempurnaan lebih lanjut.
Untuk kegiatan pengendalian pengembangan program pembelajaran dapat
dilakukan sejak mulai penyusunan perencanaan program, pengorganisasian program,
dan pengarahan kegiatan, proses aktivitas orang-orang yang terlibat di dalamnya,
60 Sumadinata, dkk, Pengendalian Mutu pendidikan Sekolah Menengah; Konsep, prinsip dan
Instrumen, Bandung: PT. Refika Aditama, 2006, hlm.46-47
61 Syaiful, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Bandung: Alfabeta, 2000, hlm. 60
32
serta berbagai upaya menggerakkannya, sehingga tujuan yang ingin dicapai dapat
berhasil dengan baik sesuai dengan rencana yang ditetapkan.
Berdasarkan pada uraian tentang fungsi-fungsi manajemen di atas, maka
pelaksanaan kegiatan-kegiatan pengembangan program pembelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI) pada Sekolah Menengah Pertama tidak bisa terlepas dari system
manajemen pendidikan di sekolah. Dimulai dari unsur perencanaan yang
mengandung pokok-pokok pikiran sebagai berikut: (1) perencanaan selalu
berorientasi masa depan yaitu berusaha memprediksi bentuk dan sifat masa depan
siswa (profil sekolah) yang diinginkan berdasarkan situasi dan kondisi masa lalu dan
masa kini; (2) perencanaan merupakan sesuatu yang sengaja dilahirkan dan bukan
secara kebetulan, sebagai hasil dari pemikiran yang matang dan cerdas bersumber
dari hasil eksplorasi terhadap penyelenggaraan pendidikan sebelumnya; (3)
perencanaan memerlukan tindakan dari orang-orang yang terlibat dalam
pengelelolaan pendidikan secara individu maupun kelompok; (4) perencanaan harus
bermakna, dalam arti bahwa usaha-usaha yang dilakukan dalam rangka mencapai
tujuan yang telah ditetapkan seefektif dan seefisien mungkin.
3. Manajemen Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
(PAI)
Berkaitan dengan program pengembangan pembelajaran PAI, maka seorang
guru harus melaksanakan proses pembelajaran minimal yang sudah ditentukan dalam
PP no. 19 tahun 2005 tentang standar Nasional pendidikan ditindaklanjuti dengan
Permendiknas no. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk pendidikan Dasar dan
menengah, kemudian dikembangkan dalam pelaksanaan kegiatan program
pembelajaran mulai dari merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan
a. Perencanaan Pengembangan Program Pembelajaran PAI
Rencana program dikembangkan dengan tujuan untuk memperjelas bagaimana
suatu visi dapat dicapai. Rencana program pada dasarnya merupakan upaya untuk
implementasi strategi utama organisasi. Rencana program juga juga merupakan
proses penentuan jumlah dan jenis sumber daya yang diperlukan dalam rangka
pelaksanaan suatu rencana.62
Dalam kegiatan perencanaan program pembelajaran, seorang guru harus
menyusun program pengembangan perangkat pembelajaran yang terdiri dari silabus
62 Muhaimin, Suti’ah, Prabowo, L. S., Manajemen Pendidikan : Aplikasinya dalam penyusunan
Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, (Jakarta: Kencana, 2009) hlm. 185
33
dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran,
standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD ), indikator pencapaian kompetensi,
tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.
1). Silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran dengan
tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi ,kompetensi dasar, materi
pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang
dikembangkan oleh setiap satuan pendidkan.63
Silabus sebagai acuan kegiatan pembelajaran dapat dilakukan oleh para guru
secara mandiri atau kelompok, kelompok MGMP, KKG, Dinas pendidikan
kabupaten dan Kandepag Kabupaten/Kota harus memperhatikan;
1. Mengembangan indikator
2. Mengidentifikasi materi ajar/ materi pokok
3. Mengembangkan kegiatan pembelajaran
4. Pengalokasian waktu
5. Pengembangan penilaian dan
6. menentukan sumber/ Bahan /alat.64
Silabus yang direncanakan dan yang akan dilaksanakan dalam proses
pembelajaran hendakanya disesuaikan dengan situasi dan kodisi anak di lingkungan
dimana sekolah itu berada. Silabus yang terlampau ideal akan mengakibatkan
kegagalan dalam proses pembelajaran dan hasilnya tentu akan jauh dari yang
diharapkan. Untuk itu para guru dalam menyuusun silabus, sendiri maupun
berkelompok, disamping mengacu pada kurikulum juga memusatkan perhatian pada
pengembangan seluruh kompetensi siswa serta merespon secara proaktif berbagai
perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, tegnologi, dan seni serta program
pembelajarannya terhadap kepentingan daerah dan karakteristik peserta didik serta
tetap memiliki fleksibilitas dalam melaksanakan kurikulum yang berdiversifikasi.
2). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP )
RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik
dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban
63 E.Mulyasa, ,KTSP (Bandun: Remaja Rosdakarya, 2007), hlm.190.
64Khaeruddin,mafud junaidi,2007.Kuriklum Tingkat Satuan Pendidkan, (Jogjakarta:Pilar Media),
hlm.129
34
menyusun RPP secara lengkap dan sistematis serta sesuai dengan karakteristik siswa,
agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat,
minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali
pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang
disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan dan disesuaikan pula dengan
kondisi siswa dan keberadaan lingkungan dimana sekolah itu berada.
Komponen RPP adalah :
1. Identitas mata pelajaran
I d en titas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester,
program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah
pertemuan.
2. Standar kompetensi
S tandar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik
yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang
diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.
3. Kompetensi dasar
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik
dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi
dalam suatu pelajaran.
4. Indikator pencapaian kompetensi
In dikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi
untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan
penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan
menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang
mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
5. Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan
dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
6. Materi ajar
Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis
dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.
35
7. Alokasi waktu
A lokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan
beban belajar.
8. Metode pembelajaran
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau
seperangkat indikator yang telah ditetapkan.
M a rtinis Yamin mengatakan bahwa metode adalah cara melakukan atau
menyajikan, ,menguraikan, memberi contoh ,dan member latihan isi pelajaran
kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu.65 Pemilihan metode pembelajaran
disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap
indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.
9. Kegiatan pembelajaran
Kegiatan pembelajarn diakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandiriaan sesuai dengan bakat
, minat dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik.66 Kegiatan
pembelajaran ini di awali dengan pendahualuan ,kegiatan inti dan penutup.
10.Penilaian hasil belajar
Penilaian hasil belajar pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan untuk
mengukur perubahan perilaku yang telah terjadi pada diri pesertadidik.67 Prosedur
dan instrumen penilia proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator
pencapaian kompetensi dan mengacu pada standar penilaian yang ditetapkan
sekolah maupun pemerintah.
b. Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran
Berdasarkan Permendiknas no 41 tahun 2007 tentang standar proses,
diketahui bahwa; Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP.
yang meliputi kegiatan pendahuluan, kagiatan inti dan kegiatan penutup.
1). Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan, guru: a. menyiapkan peserta didik secara psikis dan
fisik untuk mengikuti proses pembelajaran; b. mengajukan pertanyaan-pertanyaan
65 . Martinis Yamin, 2006, Sertifikasi profesi keguruan di Indonesia,(Jakarta, Gaung Persada press),
hlm.153
66. PP. N0.19 tahun 2005, pasal 19 ( ayat 1)
67 .E.Mulyasa, 2006, Kurikulum yang disempurnakan,(Bandung ,Remaja Rosdakarya), hlm. 243
36
yang mengaitkan pengetahuan sebe-lumnya dengan materi yang akan dipelajari; c.
menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; d.
menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
2). Kegiatan Inti
Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD
yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi
peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi
prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan
fisik serta psikologis peserta didik. Karena Pembelajaran adalah suatu proses dimana
lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta
dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi- kondisi khusus atau menghasilkan
respons terhadap situasi tertentu.” 68
Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta
didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan
konfirmasi.
Dalam kegiatan eksplorasi, guru: (1). Melibatkan peserta didik mencari informasi
yang luas dan dalam tentang topik/ tema materi yang akan dipelajari dengan
menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber; (2).
Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembe-lajaran, dan sumber
belajar lain; (3). Memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara
peser-ta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya; (4). Melibatkan
peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan (5). Memfasilitasi
peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
Dalarn kegiatan elaborasi, guru: (1). membiasakan peserta didik membaca dan
menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
(2).memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain
untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis; (3)memberi
kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masa-lah, dan bertindak
tanpa rasa takut; (4). memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan
kola-boratif; (5). memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk
meningkat- kan prestasi belajar; (6). memfasilitasi peserta didik membuat laporan
eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun
68 Corey (1986 ) dalam Sagala,Syaiful, Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta
2005, hlm. 61
37
kelompok; (7). memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan variasi; kerja
individual maupun kelompok; (8). memfasilitasi peserta didik melakukan pameran,
turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;(9).memfasilitasi peserta didik
melakukan kegiatan yang menumbuhkan ke-banggaan dan rasa percaya diri peserta
didik.
Dalam kegiatan konfirmasi, guru: (1). memberikan umpan balik positif dan
penguatan dalam bentuk lisan, tuli-san, isyarat, maupunhadiah terhadap
keberhasilan peserta didik, (2). memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi
dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber, (3). memfasilitasi peserta
didik melakukan refleksi untuk memperoleh pe-ngalaman belajar yang telah
dilakukan, (4). memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang
bermakna dalam mencapai kompetensi dasar: (a). berfungsi sebagai narasumber
dan fasilitator dalam menjawab perta-nyaan peserta didik yang menghadapi
kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar; (b). membantu
menyelesaikan masalah; (c). memberi acuan agar peserta didik dapatmelakukan
pengecekan hasil eksplorasi; (d). memberi informasi untuk bereksplorasi Iebih jauh;
(e). memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi
aktif.
3). Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru: (a). Bersama-sama dengan peserta didik
dan/atau sendiri membuat rangkuman/ kesimpulan pelajaran; (b). melakukan
penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah di-laksanakan secara
konsisten dan terprogram; (c).memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil
pembelajaran; (d).merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran
remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas balk tugas
indivi-dual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; (e).
menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya
Selain tiga kegiatan inti di atas, untuk mendukung ketercapaian dan ketuntasan
suatu pembejalaran, guru perlu menerapkan dan mengembangkan metode dan
menggunakan media pembelajaran yang tepat:
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau
seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Dalam hal ini banyak metode
pembelajaran yang bisa dipilih oleh seorang guru. Pemilihan metode pembelajaran
38
ini tentu saja harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta
karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap
mata pelajaran.
Di antara metode pembelajaran yang bisa digunakan adalah: metode ceramah,
diskusi, belajar kelompok, inquiry dan discovery, bermain peran, dan pembelajaran
dengan modul (Modular Instruction). Pelaksanaan pembelajaran bisa dilaksanakan
di kelas (in class teaching) atau luar kelas (out of class teaching).
Adapun media pembelajaran adalah segala sesuatu yang bisa digunakan
sebagai alat bantu dalam rangka mendukung usaha-usaha pelaksanaan strategi serta
metode pembelajaran yang mengarah kepada pencapaian tujuan pembelajaran.
Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang membawa atau menyalurkan
informasi antara sumber dan penerima. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa media pembelajaran adalah setiap alat baik hardware maupun software yang
dipergunakan sebagai media komunikasi dan bertujuan untuk meningkatkan
aktivitas proses belajar mengajar.
Secara garis besar media dapat digolongkan menjadi tiga jenis yakni: Media
berupa benda asli, seperti candi, masjid, dan artefak lainnya. Rekaman, yaitu media
yang dimaksudkan untuk memperkecil atau membawa benda asli secara mirip
dengan cara direkam, misalnya film, foto kopi, kaset, slide, dan lain-lain. Rekaan,
artinya bentuk media yang dirancang secara khusus oleh pembuat media dengan
sengaja dengan menambah, mengurangi, atau berbeda sama sekali dengan wujud
benda yang asli. Rekaan juga dapat berupa berbagai bentuk rancangan
pembelajaran seperti media powerpoint, flash, dan seterusnya.
Kegunaan media dalam pembelajaran adalah untuk : membangkitkan motivasi,
membuat konsep abstrak menjadi konkrit, mengatasi batas-batas ruang kelas,
mengatasi perbedaan pengalaman siswa, memungkinkan mengamati objek yang
terlalu kecil, menggantikan penampilan objek yang berbahaya/sulit terjangkau,
menyajikan informasi belajar secara konsisten, menyajikan pesan secara serempak,
menyajikan peristiwa yang telah lewat, memusatkan perhatian, mengatasi objek
yang kompleks, mengatasi penampilan objek yang terlalu cepat atau lambat, besar
atau kecil.
Dengan penjelasan rinci tentang kegiatan pembelajaran di atas diharapkan
proses pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) mengikuti
langkah-langkah dan prinsip-prinsipnya. Karena itu, guru Pendidikan Agama Islam
39
(PAI) harus memahami hal ini agar proses pembelajaran PAI bisa berjalan dengan
baik dan berhasil sesuai dengan yang diharapkan.
c. Penilaian Program Pembelajaran
Pengendalian dalam pengembangan program pembelajaran Pendidikan Agama
Islam dilakukan dengan dua cara yaitu dengan mengadakan penilaian hasil
pembelajaran dan melakukan pengawasan terhadap proses pembelajaran.
Penilaian hasil pembelajaran dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran
untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan
sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses
pembelajaran.69
Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik, dan terprogram dengan
menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis atau lisan, pengamatan kinerja,
pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk,
portofolio, dan penilaian diri. Penilaian hasil pembelajaran menggunakan Standar
Penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran.
Sedangkan terhadap pengawasan atau pengendalian terhadap proses
pembelajaran dilakukan dengan cara:
1) Pemantauan.
a) Pemantauan proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan,
pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran.
b) Pemantauan dilakukan dengan cara diskusi kelompok terfokus, pengamatan,
pencatatan, perekaman, wawacara, dan dokumentasi.
c) Kegiatan pemantauan dilaksanakan oleh kepala dan pengawas satuan
pendidikan.
2) Supervisi
a) Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan,
pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran.
b) Supervisi pembelajaran diselenggarakan dengan cara pemberian contoh,
diskusi, pelatihan, dan konsultasi
c) Kegiatan supervisi dilakukan oleh kepala dan pengawas satuan pendidikan.
69 Permendiknas RI nomor 52 tahun 2008 tentang standar proses.
40
3) Evaluasi
a) Evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas
pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan proses
pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil
pembelajaran.
b) Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara:
i. membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan
standar proses,
ii. mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan
kompetensi guru.
iii. Evaluasi proses pembelajaran memusatkan pada keseluruhan kinerja
guru dalam proses pembelajaran.
4) Pelaporan
Hasil kegiatan pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran
dilaporkan kepada pemangku kepentingan.
5) Tindak lanjut
a). Penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi
standar.
b). Teguran yang bersifat mendidik diberikan kepada guru yang belum
memenuhi standar.
c). Guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/penataran lebih lanjut.
H. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian.
Fokus Penelitian adalah manajemen pengembangan program pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang. Untuk menjawab fokus penelitian
tersebut dibutuhkan subfokus yang mempertanyakan bagaimana proses perencanaan,
pelaksanaan, dan pengendalian pengembangan program pembelajaran pendidikan
Agama Islam. Fokus penelitian yang demikian berbentuk eksplanatori dan menurut
Yin lebih mengarah ke penggunaan strategi studi kasus.70
Studi Kasus sendiri merupakan bagian dari penelitian kualitatif. Jadi penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan/desain studi kasus. Alasan
digunakannya pendekatan kualitatif sebagai pendekatan penelitian ini adalah karena
70 Robert K. Yin, “Cash Study Research: Design and methods”, diterjemakan oleh M. Djauzi Mudzakir,
Studi Kasus: Desain dan Metode (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), h.1
41
peneliti melihat sifat dari masalah yang diteliti dapat berkembang secara alamiah
sesuai dengan kondisi dan situasi di lapangan. Peneliti juga berkeyakinan bahwa
dengan pendekatan alamiah, penelitian ini akan menghasilkan informasi yang lebih
kaya.71
Jadi, dipilihnya pendekatan kualitatif sebagai pendekatan penelitian ini karena
peneliti berkeinginnan untuk memahami secara mendalam kasus yang terjadi di lokasi
di atas.72 Rancangan penelitian ini dibuat sebagaimana umumnya rancangan penelitian
yang menggunakan pendekatan kualitatif, umumnya bersifat sementara dan lebih
banyak memperhatikan pembentukan teori substantif dari data empiris yang akan
didapat di lapangan.73
Untuk itu, desain penelitian ini dikembangkan secara terbuka dari berbagai
perubahan yang diperlukan sesuai dengan kondisi lapangan.74 Hal ini penting untuk
dijelaskan, mengingat penelitian kualitatif merupakan penelitian yang didesain dalam
kondisi dan situasi alamiah (Naturalistic) sehingga dapat ditemukan kebenaran dalam
bentuk semurni-murninya tanpa mengalami distorsi yang disebabkan oleh instrumen
dan desain penelitian. Karena instrumen dan desain penelitian cenderung mengkotakkotakkan
manusia dalam kerangka konsepsi yang kaku. 75
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrument sekaligus sebagai
pengumpul data. Kehadiran peneliti sebagai instrument karena peneliti saat ini adalah
bagian dari dewan guru yang ada pada lokasi penelitian. Untuk menjaga obyektivitas
penelitian, peneliti menempatkan diri sebagai pihak luar yang tidak meneliti diri
sendiri. Kehadirannya hanya sebatas orang dalam yang berfungsi memberikan
informasi kepada instrument manusia lain demi perbaikan program sekolah. Karena itu
71 Stauss mengidentifikasi pendekatan kualitatif sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya
tidak diperoleh melalui prosedur statistik dan bentuk hitungan lainnya. Terkait alasan penggunaan
pendekatan ini, Stauss mengatakan bahwa banyak alasan yang melandasi digunakannya pendekatan
kualitatif. Diantara beberapa alasan terpenting adalah kemantapan peneliti sendiri dan sifat dari masalah yang
diteliti. Lihat Anselm Stauss, et.all; “Basic of Qualitative Research : Grounded Teory Prosedures and
Techniques”, diterjemahkan oleh Mohammad, Sodiq et.all. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif: Tata Langkah
dan Teknik-teknik Teorisasi Data (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 5.
72 Menurut Suprayogo, secara umum, penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami
(understanding) dunia makna yang disimpulkan dalam perilaku masyarakat menurut perspektif masyarakat
itu sendiri. Lihat Imam Suprayogo, et. All., Metodologi Penelitian Sosial Agama ( Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2003)h 9
73 Sukidin, et. All., Metode Penelitian: Membimbing dan mengantar Kesuksesan Anda Dalam Dunia
Penelitian ( Surabaya: Insan Cendekia, 2005), h 23.
74 Nurul Zuruiyah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan :Teori dan Aplikasi (Jakarta: Bumi
Aksara,2006), h 91
75 IKIP Jakarta, Memperluas Cakrawala Penelitian Ilmiah (Jakarta: IKIP Jakarta, 1988) h 67
42
yang diharapkan banyak dari penelitian ini adalah instrument non-manusia seperti
dokumen-dokumen dan kejadian-kejadian saat observasi maupun pengamatan
mendalam sepanjang penelitian ini dilakukan.
Oleh karena itu penelitian ini dilaksanakan dengan sebaik mungkin, bersikap
selektif, hati-hati dan bersungguh-sungguh dalam menjaring data sesuai dengan
kenyataan di lapangan, sehingga data yang terkumpul benar-benar relevan dan terjamin
keabsahannya. Menurut Moelong kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif
sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpul data, analis, penafsir data, dan
pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitian.76
Penelitian kualitatif merupakan pendekatan yang menekankan pada hasil
pengamatan peneliti. Sehingga manusia sebagai instrumen penelitian menjadi suatu
keharusan.77 Bahkan dalam penelitian kualitatif, posisi peneliti menjadi instrumen
kunci (the key Instrument).78 Untuk itu, validitas dan reliabilitas data kualitatif banyak
tergantung pada keterampilan metodologis, kepekaan, dan integritas peneliti sendiri.79
Untuk dapat memahami makna dan penafsiran terhadap fenomena dan simbolsimbol
interaksi di sekolah maka dibutuhkan keterlibatan dan penghayatan langsung
peneliti terhadap subyek penelitian di lapangan. Ini merupakan alasan lain kenapa
peneliti harus menjadi instrumen kunci penelitian ini.
Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan pelaku utama dalam pengumpulan
data. Kapasitas jiwa raganya dalam mengamati, bertanya, melacak, dan mengabstraksi
merupakan instrumen penting yang tiada duanya. Selaku pengumpul data, peneliti
memainkan peranan kreatif; ia melacak informasi atau fakta deskriptif, kemudian
merakit sejumlah fakta dan informasi ke tingkat konsep, hipotesis, dan atau teori.80
Lebih jauh lagi, penelitian kualitatif juga mengandalkan kemampuan komunikasi (dan
atau manusiawi) dalam menyesuaikan diri terhadap berbagai ragam realitas, yang tidak
dapat dikerjakan instrumen non human. Peneliti diharapkan mampu memahami
fenomena yang terjadi dan selanjutnya menangkap makna dibalik gejala yang ada.
Sedang instrument penelitian non manusia, seperti panduan wawancara, observasi atau
76 Moelong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, Edisi Revisi,
2005,) hlm.174
77 Noeng Muhajir, Metode penelitian kualitatif (Yogjakarta: Rake Sarasin, 2003).
78 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif, dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2008). h.223.
79 Dede Oetomo, “Penelitian Kualitatif: Aliran dan Tema”, dalam Bagong Suyanto, et.all.,(Eds),
Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan (Jakarta: Kencana, 2007), h.186
80 Jandra, Struktur Usulan Penelitian, (Makalah Pelatihan Penelitian Tenaga Educatif di Tingkatan
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 11 Juli-11 Agustus 2002), hlm. 9-10
43
pengamatan, maupun dokomentasi sekedar fungsi sebagai alat bantu dalam proses
perekaman informasi.81
Maka dalam penelitian ini, peneliti berusaha dapat menghindari pengaruh subyektif
dan menjaga lingkungan secara alami agar proses social yang terjadi berjalan
sebagaimana biasa. Sehingga dari hal tersebut, peneliti kualitatif dapat menahan dan
menjaga dirinya untuk tidak terlalu jauh mengintervensi terhadap lingkungan yang
menjadi obyek penelitian tersebut.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di SMP Negeri 4 Malang. Dipilihnya lembaga
Pendidikan ini karena prestasi dan program unggulannya. Prestasi yang diraih baik
akademis maupun nonakademis sudah mencapai taraf nasional. SMP Negeri 4 Malang
sejak tahun 2006 sudah masuk kategori Sekolah Standar Nasional (SSN), sejak tahun
2008/2009 membuka kelas dua bahasa (Bilingual)sampai sekarang, hal ini dilakukan
dalam rangka menuju rintisan sekolah bertaraf Internasional ( RSBI ). Berkaitan
dengan prestasi akademik SMP Negeri 4 Malang termasuk urutan ke 5 (2008/2009)
dari 25 SMP Negeri yang ada di Kota Malang dilihat dari rata-rata nilai UN, dan
termasuk salah satu diantara SMP negeri yang meluluskan 100 % siswa sejak tiga
tahun terakhir ini.
Disamping itu, dipilihnya lokasi ini sebagai tempat penelitian karena peneliti ingin
mengetahui sejauhmana program-program pembelajaran yang dilaksanakan hingga
mampu menjadi sekolah unggulan di kota Malang termasuk ingin mengetahui
program-program pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang diterapkan. Karena
menurut observasi peneliti terdapat 22 ekstrakurikuler yang dikembangkan termasuk
ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam dan Budaya religius yang kondusif. Hal
inilah yang menjadi alasan tersendiri bagi peneliti untuk menjadikan lembaga tersebut
sebagai lokasi penelitian.
4. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk menggali data di lapangan.
Fungsi dari instrumen penelitian adalah untuk memperoleh data yang diperlukan
ketika peneliti menginjak pada langkah pengumpulan informasi di lapangan.82
81 Moelong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 18
82 Sukardi, Metodologi penelitian Pendidikan; Kompetensi dan Prakteknya (Jakarta: Bumi Aksara,
2007), h.75
44
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam penelitian ini, peneliti berperan menjadi
instrumen kunci penelitian. Sebagai instrumen kunci, peneliti melakukan penelitiannya
dengan instrumen tambahan berupa pedoman wawancara, pedoman observasi dan
pedoman dokumentasi. Pedoman wawancara merupakan lembar acuan yang berisi
pertanyaan-pertanyaan yang dirancang oleh peneliti untuk mengetahui bagaimana
merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan program-program pembelajaran
PAI di sekolah. Dengan melibatkan guru agama, guru ekstra, koordinator kurikulum,
koordinator kesiswaan, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah. Pedoman
wawancara tersebut dapat berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi pada saat
wawancara dilakukan.
Sedangkan pedoman observasi merupakan alat untuk memudahkan peneliti dalam
mengamati data secara lengkap pada waktu berlangsungnya proses penelitian.
Pedoman observasi peneliti gunakan untuk mengetahui kondisi lingkungan sekolah,
keadaan siswa, kegiatan pembelajaran Agama Islam di kelas. Adapun pedoman
dokumentasi digunakan untuk menggali data terkait dengan kurikulum yang
digunakan, program-program pembelajaran yang dikembangkan, dan dokumendokumen
tentang fasilitas pembelajaran yang ada di sekolah.
Untuk menetapkan informan dalam penelitian ini diikuti saran Guba dan Lincoln
agar memilih informan yang memiliki pengetahuan khusus, informative, dan dekat
dengan situasi yang menjadi focus penelitian, disamping memiliki status khusus.
Kepala sekolah dari sabyek yang diteliti, diasumsikan memiliki banyak informasi
tentang sekolah yang dipimpinnya, termasuk situasi dari sekolahnya. Hal ini berarti
bahwa kepala sekolah dapat dijadikan informan pertama untuk diwawancarai.
Langkah selanjutnya adalah wakil kepala sekolah, staf kurikulum, staf kesiswaan,
staf sarana prasarana, guru PAI, guru ekstrakurikuler PAI dan informan lain yang
dianggap memiliki informasi yang dibutuhkan, relevan dan memadahi, serta dapat
dijadikan informan berikutnya, demikian seterusnya.
Dari hasil wawancara ini diperoleh 19 orang yang dijadikan informan penelitian
dengan rincian sebagaimana disajikan pada tabel berikut ini.
45
Tabel Rincian Informan Penelitian
No Informan Jumlah Data Tentang Fokus
No.
1 Kepala Sekolah(KS) 1 Perencanaan, Pelaksanaan
& Pengendalian Program
1, 2 &
3
2 Wakil Kepala
Sekolah(WKS)
1 Perencanaan Program 1
3 Urusan
Kurikulum(Urs.Kur)
2 Perencanaan Program 1
4 Urusan
Kesiswaan(Urs.Sis)
2 Pelaksanaan Program 2
5 Urusan Sarana
Prasarana(Urs.Sarpras)
1 Pelaksanaan Program 2
6 Guru Pendidikan
Agama Islam(GPAI)
2 Perencanaan, Pelaksanaan
dan Pengendalian Program
1,2, &
3
7 Pembina
Ekstrakurikuler
PAI(Pb.Ekstra)
2 Perencanaan dan
Pelaksanaan Program
1 & 2
8 Pembina
Keputrian(Pb.Putri)
2 Perencanaan dan
Pelaksanaan Program
1 & 2
9 Pengurus
OSIS(Pg.Osis)
2 Perencanaan dan
Pelaksanaan Program
1 & 2
10 Pembina Osis
Ketaqwaan(Pb.Osis)
1 Perencanaan dan
Pelaksanaan Program
1 & 2
11 Siswa 3 Pelaksanaan &
Pengendalian Program
1 & 3
Jumlah 19
5. Data dan Sumber Data
Data Kualitatif adalah apa yang dikatakan oleh orang-orang berkaitan dengan
seperangkat pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Apa yang orang-orang katakan itu
merupakan sumber utama data kualitatif, apakah yang mereka katakan diperoleh
secara verbal melalui suatu wawancara atau dalam bentuk tertulis melalui analisa
dokumen atau respon survey.83
Data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu data primer dan data skunder.
Sumber data primer adalah sumber data yang langsung berkaitan dengan subyek
penelitian.84 Dalam penelitian ini peneliti menganggap Kepala Sekolah dan Guru
Agama Islam sebagai pihak yang terkait langsung dengan poenelitian ini. Untuk itu
83 Rulam Ahmadi, Memahami metodologi Penelitian Kualitatif(Malang: UIN Malang Press, 2005),
h.63
84 Winarno surachmad, Dasar dan Tehnik Research: Pengantar Metodologi Ilmiah (Bandung:
Tarsito, 1997),h.156
46
peneliti menjadikan Kepala sekolah dan Guru Agama Islam sebagai sumber data
primer penelitian ini.
Alasan ditetapkannya kepala sekolah dan Guru Agama Islam sebagai informan
kunci karena kepala sekolah dan Guru Agama Islam memiliki otoritas tertinggi
terhadap program-program pengembangan pembelajaran PAI. Disamping itu kepala
sekolah dan Guru Agama Islamlah yang paling tahu terhadap keberhasilan dari
program pengembangan yang dijalankannya.
Adapun data skunder diperoleh dari informan-informan lain seperti wakil kepala
sekolah, urusan kurikulum, urusan kesiswaan, urusan humas, Pengurus Osis dan dari
guru mata pelajaran lain yang ditentukan lewat teknik snowball sampling. Tehnik
snowball sampling ini diibaratkan sebagai bola salju yang menggelinding, semakin
lama semakin besar. Proses penelitian ini baru berhenti setelah informasi yang
diperoleh diantara informan yang satu dengan yang lainnya mempunyai kesamaan,
sehingga tidak ada data yang dianggap baru. Sumber data skunder juga diambil dari
dokumen-dokumen yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
6. Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data secara holistik yang integratif, dan memperoleh relevansi
data berdasarkan fokus dan tujuan penelitian, maka pengumpulan data dalam
penelitian ini dilakukan dengan tiga teknik, yaitu wawancara mendalam, observasi
partisipan, dan studi dokumentasi.
a. Wawancara (Interview)
Teknik wawancara adalah suatu cara untuk mengumpulkan data dengan
jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada
penyelidikan, pada umumnya dua orang atau lebih hadir secara fisik dalam proses
tanya jawab.85 Teknik wawancara terdiri atas tiga jenis, yaitu: wawancara struktur
(Structure Interview), wawancara semi terstruktur (semistructured interview), dan
wawancara tidak terstruktur (unstructured interview)86 dalam penelitian ini peneliti
berupaya menggunakan ketiga jenis wawancara tersebut. Hal ini peneliti lakukan
dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi wawancara serta kebutuhan akan
informasi yang dapat berkembang setiap saat.
Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan sesuai dengan
pedoman wawancara penelitian, apabila muncul diluar pedoman tersebut maka hal
85 Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogjakarta: Andi Ofset, 1981), Jilid II, h.136
86 Sugiono, Op.Cit., h. 233
47
itu tidak perlu diperhatikan.87 Jenis wawancara ini dilakukan untuk mengetahui
bagaimana proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian program
pembelajaran pendidikan Agama Islam. Untuk itu yang menjadi responden dari
jenis wawancara ini adalah Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Koordinator
Kurikulum, dan Koordinator Kesiswaan.
Adapun wawancara semi terstruktur adalah wawancara yang dilakukan
dengan mengembangkan instrumen penelitian. Wawancara semistruktur ini sudah
masuk dalam kategori in-dept interview (wawancara mendalam), dimana
pelaksanaannya lebih bebas dan terbuka dibanding wawancara terstruktur.88 Dalam
hal ini peneliti akan melakukan wawancara kepada Guru Agama Islam, Pengurus
OSIS, Pembina Ekstrakurikuler PAI, dan siswa. Wawancara ini dilakukan sebagai
pelengkap data untuk menjawab focus penelitian tentang bagaimana proses
perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian program pembelajaran PAI.
Wawancara mendalam yang sebenarnya adalah jenis wawancara yang
ketiga. yaitu wawancara tak terstruktur yang menerapkan metode interview secara
lebih mendalam, luas, dan terbuka dibanding wawancara terstruktur. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui pendapat, persepsi, perasaan, pengetahuan dan
pengalaman seseorang.89
Bungin menyatakan bahwa kekhasan dari model wawancara mendalam
adalah keterlibatan peneliti dalam kehidupan informan.90 Teknik ini mirip dengan
percakapan informal, yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang lebih luas
dari semua informan. Wawancara tak struktur ini bersifat luwes, susunan
pertanyaan dan kata-katanya dapat diubah pada saat wawancara, disesuaikan
dengan kebutuhan dan kondisi responden yang dihadapi. Dalam teknik wawancara
mendalam ini, peneliti berupaya mengambil peran pihak yang diteliti (Taking the
role of the other), secara intim menyelami dunia psikologis dan sosial mereka serta
mendorong pihak yang diwawancarai agar mengemukakan semua gagasan dan
perasaannya dengan bebas dan nyaman.
Alasan dipilihnya teknik interview (wawancara) ini adalah karena dengan
teknik pengumpulan data ini maka peneliti akan berhasil memperoleh data dari
87 Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian: petunjuk Praktis untuk peneliti Pemula (Yogjakarta:
Gadjah Mada University Press, 2006), h.73
88 Sugiono, Loc.Cit.
89 Nasution, Metode penelitian Naturalistik (Bandung: Tarsito, 1998), h.133
90 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu-ilmu
sosial Lainnya (Jakarta: Kencana, 2007), h.108
48
informan yang lebih banyak dan sesuai dengan kebutuhan penelitian. Untuk
menjamin kelengkapan dan kebenaran data yang diperoleh melalui teknik ini maka
peneliti menggunakan alat perekam dan pencatat. Adapun instrument yang akan
diwawancarai sebanyak 19 orang mulai dari kepala sekolah sampai siswa, seperti
yang dijelaskan dalam tabel 3.1 di atas.
b. Pengamatan (Observation)
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
mengamati dan mencatat secara sistematis gejala-gejala yang diselidiki.91
Observasi juga berarti pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejalagejala
yang diteliti.92 Teknik pengamatan terdiri atas tiga jenis, yaitu pengamatan
berperan serta (participant observation), pengamatan terus terang dan tersamar
(overt observation and covert observation), dan pengamatan tak terstruktur
(unstructured observation).93
Dalam penelitian ini peneliti hanya menggunakan pengamatan berperan serta
dan pengamatan terus terang dan tersamar alasannya bahwa jarang sekali peneliti
dapat mengamati subyek penelitian tanpa terlibat dalam kegiatan orang-orang yang
menjadi sasaran penelitiannya.94
Teknik pengamatan berperan serta digunakan untuk melengkapi dan menguji
hasil wawancara yang diberikan oleh informan yang kemungkinan belum
menggambarkan segala macam situasi yang dikendaki peneliti. Teknik ini
dilaksanakan dengan cara peneliti melibatkan diri pada kegiatan sehari-hari yang
dilakukan oleh subjek penelitian. Bahkan peneliti saat ini menjadi bagian dari yang
diteliti karena sedang mengajar di lokasi yang menjadi obyek penelitian. Menurut
Bogdan dalam Arif Furchan tujuan keterlibatan ini adalah untuk mengembangkan
pandangan dari dalam tentang apa yang sedang terjadi untuk dimengerti.95
Penggunaan cara ini sangat penting untuk dilakukan guna memberi hasil yang
obyektif dari sebuah penelitian kualitatif. Dengan teknik ini peneliti dapat melihat
91 Cholid Narkabo, et.al., metodologi penelitian (Jakarta: Bumi aksara, 2003)h.70
92 Husaini Usman, et.al., Metodologi Penelitian Sosial (Jakarta: Bumi Aksara, 2003),h.54
93 Sugiono, Op. Cit, h.226
94 Untuk itu peneliti harus mendapatkan kepercayaan dari subyek penelitian. Hal ini diperlukan demi
mengantisipasi rusaknya situasi alamiah dari subyek penelitian dengan kehadiran peneliti di tengah-tengah
mereka. Lihat Harsja W. Bachtiar, “Pengamatan Sebagai Suatu Metode Penelitian”, dalam Koentjaraningrat,
Metode-metode Penelitian Masyarakat (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1994), h.121-122
95 Arif Furchan, Pengantar Metode Penelitian Kualitatif; Suatu Pendekatan Fenomenologis terhadap
ilmu-ilmu Sosial (Surabaya; Usaha Nasional, 1992), h.23 lihat juga Budi puspo Priyadi, Metode Evaluasi
Kualitatif (Yogjakarta: Pustaka pelajar, 2006), h.124
49
dan merasakan secara langsung suasana dan kondisi subyek penelitian. Untuk itu
mempelajari secara langsung permasalahan yang sedang diteliti sehingga dapat
diketahui secara empiris fenomena apa yang terjadi dalam kaitannya dengan
persoalan yang dikaji yang tidak mungkin didapat dengan menggunakan teknik
pengumpulan data lainnya. Teknik ini peneliti gunakan untuk mengetahui
bagaimana guru Agama Islam menerapkan teknik-teknik dan model pembelajaran
di kelas, suasana sehari-hari di SMP Negeri 4 Malang, dan kegiatan ekstrakurikuler
Pendidikan Agama Islam yang dikembangkan di SMP Negeri 4 Malang, serta
suasana rapat atau pertemuan yang diadakan oleh para guru dan kepala sekolah di
SMP Negeri 4 Malang. Peneliti perlu mengikuti kegiatan tersebut untuk
mengetahui dan merasakan kondisi riil dari subyek penelitian.
c. Studi Dokumentasi (Documentation Review)
Dalam penelitian kualitatif kebanyakan diperoleh dari sumber manusia, melalui
observasi dan wawancara. Akan tetapi ada pula sumber nonmanusia yang dapat
digunakan, diantaranya dokumen, foto, dan bahan statistik. Untuk itu dalam
penelitian ini, peneliti juga menggunakan teknik dokumentasi. Data dokumentasi
ini digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh dari wawancara dan observasi
partisipasi.
Studi dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,
legger, agenda program, dan sebagainya.96 Penggunaan dokumentasi dalam
pengumpulan data pada penelitian ini didasarkan atas beberapa alasan sebagai
berikut:
1). Merupakan sumber informasi yang stabil dan kaya.
2). bermanfaat untuk membuktikan sebuah peristiwa.
3). Sifatnya alamiah dengan konteks.
4). Hasil pengkajian akan diperluas sesuai dengan pengetahuan terhadap
sesuatu yang diteliti.97
Teknik ini sangat dibutuhkan oleh peneliti untuk meneliti arsip-arsip sekolah.
Arsip-arsip kegiatan pada masa lampau sangat perlu untuk dihadirkan karena kegiatan
ini sangat sulit untuk dapat diputar ulang. Begitu juga dengan program-program
96 Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian: Suatu pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,
1997), 236
97 Lincoln et.al., Naturalistic Inquiry (Beverly Hill: SAGE Publications, 1985) h. 23
50
kegiatan sekolah akan lebih muda untuk digali dengan menggunakan metode ini.
Adapun dokumen yang diperlukan dalam penelitian ini menyangkut; (1)Dokumen II
KTSP SMP Negeri 4 Malang meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
pendidikan agama Islam, (2)Catatan hasil-hasil rapat dinas dan workshop yang
diselenggarakan oleh SMP Negeri 4 Malang, (3)foto kegiatan pembelajaran
Pendidikan Agama Islam, dan foto-foto kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler PAI,
serta foto-foto kegiatan keagamaan di SMP Negeri 4 Malang.
7. Analisis Data
Dalam penelitian ini analisis data dilakukan selama pengumpulan data di
lapangan dan setelah semua data terkumpul dengan teknik analisis model interaktif.98
Analisis data berlangsung secara simultan yang dilakukan bersamaan dengan proses
pengumpulan data dengan alur tahapan: pengumpulan data (data collection), reduksi
data (data reduction), penyajian data (data display), dan kesimpulan atau verifikasi
(consclution drawing & verifying). Teknik analisis data model interaktif tersebut dapat
dibagankan sebagai berikut:
Gambar . Teknik Analisis Data model Interaktif 99
Peneliti menggunakan model analisis interaktif yang mencakup tiga komponen
yang saling berkaitan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, dan penarikan
kesimpulan. Sedangkan konseptualisasi, kategorisasi, dan diskripsi dikembangkan atas
dasar kejadian (incidence) yang diperoleh ketika di lapangan. Karenanya antara
kegiatan pengumpulan data dan analisis data menjadi satu kesatuan yang tidak
98 Tjetjep Rohendi R., Analias Data Kualitatif, Jakarta: UI Press, 1994, hlm. 20
99 Miles M B dan Hubermen AM, An Expended Source Book, Qualitative data Analysis, (London:
Sage Publication, 1984), hlm. 20
Data Reduction
Conclution
drawing &
Data Collection Data Display
51
mungkin dipisahkan, keduanya berlangsung secara simultan, serempak dan berjalan
berkelindan.
Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan, perhatian pada
penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data mentah atau data kasar yang
muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan.100 Dengan kata lain reduksi data ialah
proses penyederhanaan data, memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus
penelitian. Reduksi data dalam penelitian kualitatif berlangsung secara simultan
selama proses pengumpulan data berlangsung, baik dalam bentuk ringkasan,
mengkode, menelusuri tema, dan membuat gugus-gugus, membuat partisipan dan
menulis memo. Dalam penelitian kualitatif, reduksi data merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari analisis data.
Display atau penyajian data ialah proses pengorganisasian untuk memudahkan
data dianalisis dan disimpulkan. Proses ini dilakukan dengan cara membuat matrik,
diagram atau grafik, sehingga dengan begitu peneliti dapat memetakan semua data
yang ditemukan dengan lebih sistematis. Penyajian menurut Miles dan Huberman
merupakan sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya
penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.101 Display data ini merupakan
tahapan kedua dari kegiatan analisis data, yakni menyampaikan hasil temuan
penelitian kepada pembaca atau peneliti lain.
8. Pengecekan Keabsahan Temuan
Untuk menjamin kesahihan dan keabsahan data, maka peneliti berupaya
menggunakan metode pengecekan keabsahan temuan. Dalam penelitian ini,
pemeriksaan keabsahan data didasarkan pada kriteria-kriteria untuk menjamin
kepercayaan data yang diperoleh melalui penelitian. Menurut Moeloeng kriteria
tersebut ada 4, yaitu: kredibilitas, keteralihan, kebergantungan, dan konfirmabilitas.102
Disamping itu peneliti juga secara teratur mengadakan diskusi dengan Kepala
Sekolah, guru, dan Siswa yang ada di lokasi SMP Negeri 4 Malang.
a. Uji Kredibilitas Data.
Uji Kredibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil
dikumpulkan sesuai fakta yang sebenarnya terjadi. Untuk mencapai nilai kredibilitas
100 Tjetjep R.R., Analisis Data Kualitatif, Terjemahan (Jakarta: Universitas Indonesia, 1992 ), hlm.
16.
101 Miles, M.B., & Huberman, A.M. 1984. Qualitative Date Analysis…, hal. 17.
102 Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi Revisi), Bandung: PT. Remaja Rosda
Karya, 2007, h.324-325
52
ada beberapa teknik yaitu: teknik trianggulasi sumber, pengecekan anggota, dan
perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan.
Trianggulasi sumber data adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu. Trianggulasi data dilakukan dengan
cara menanyakan kebenaran data tertentu yang diperoleh dari kepala SMP negeri 4
malang, kemudian dikonfirmasikan kepada informan lain seperti Wakil kepala
Sekolah dan urusan kurikulum.
Pengecekan anggota dilakukan dengan cara menunjukkan data atau informasi,
termasuk hasil interpretasi penelitian yang sudah ditulis dengan rapi dalam bentuk
catatan lapangan atau transkrip wawancara pada informan kunci agar dikomentari,
disetujui atau tidak, dan bisa ditambah informasi lain jika dianggap perlu.
Perpanjangan keikutsertaan peneliti sebagaimana telah dikemukakan sangat
menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan tersebut tidak dilaksanakan
dalam waktu singkat tetapi memerlukan waktu yang relatif panjang pada latar
penelitian. Perpanjangan keikutsertaan peneliti dapat menguji kebenaran informasi
yang diperoleh secara distorsi baik berasal dari peneliti sendiri maupun dari kepala
sekolah. Distorsi tersebut memungkinkan tidak disengaja, sehingga kehadirannya
dapat membangun kepercayaan kepala sekolah kepada peneliti, sehingga antara
peneliti dengan informan kunci (kepala sekolah) akhirnya tercipta hubungan
keakraban yang baik sehingga memudahkan kepala sekolah untuk mengungkapkan
sesuatu secara lugas dan terbuka.
b. Dependebilitas (kebergantungan)
Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya
kemungkinan kesalahan dalam menyimpulkan dan menginterpretasikan data, sehingga
data dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kesalahan banyak disebabkan oleh
kesalahan manusia itu sendiri terutama peneliti sehingga instrumen kunci dapat
menimbulkan ketidakpercayaan pada peneliti. Dalam penelitian ini sebagai auditor
peneliti adalah pembimbing tesis.
c. Konfirmabilitas (kepastian)
Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara
mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh
materi yang ada. Dalam pelacakan ini, peneliti menyiapkan bahan-bahan yang
diperlukan seperti data lapangan berupa catatan lapangan dari hasil pengamatan
penelitian tentang peran kepala sekolah dalam mengembangkan program-program
53
pembelajaran dan transkrip wawancara serta catatan proses pelaksanaan penelitian
yang mencakup metodologi, strategi serta usaha keabsahan.
Dengan demikian metode konfirmabilitas lebih menekankan pada karakteristik
data. Upaya konfirmabilitas untuk mendapat kepastian data yang diperoleh itu
obyektif, bermakna, dapat dipercaya, faktual dan dapat dipastikan. Berkaitan dengan
pengumpulan data ini, keterangan dari kepala sekolah perlu diuji kredibilitasnya. Hal
inilah yang menjadi tumpuan penglihatan, pengamatan objektifitas dan subjektifitas
untuk menuju suatu kepastian.
I. Hasil Penelitian
1 . Perencanaan pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4
Malang
Perencanaan pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4
Malang dapat dilihat dalam bentuk perangkat atau program pembelajaran yang
meliputi: pengembangan silabus bidang studi PAI, rencana tahunan, program
semester dan persiapan mengajar dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP. Rencana pengembangan program pembelajaran disusun berdasarkan SK-KD
dan disesuaikan dengan kalender pendidikan yang berlaku, jadwal pelajaran sekolah
yang bersangkutan dan sarana yang tersedia.
Penelitian ini juga menemukan bahwa perencanaan pengembangan program
pembelajaran Pendidikan Agama Islam dimulai dengan menyusun pengembangan
Silabus dan sistem penilaiannya. Adapun teknis pengembangan silabus yang
dilakukan oleh sekolah adalah dengan cara mengajak semua guru melakukan rapat
kerja khusus, dimulai dengan pemberian orientasi dan pengarahan dari kepala
sekolah, dilanjutkan dengan orientasi dari nara sumber, kemudian diteruskan pada
orientasi dan diskusi , semua guru diberi waktu untuk membuat pengembangan
silabus mata pelajaran yang dibinanya secara berkelompok sesuai dengan mata
pelajaran yang dipegang agar diketahui tingkat pemahaman mereka, kemudian
diadakan penilaian kembali untuk presentasi dihadapan semua peserta. Setelah usai,
semua guru diminta menyempurnakan pengembangan silabus, dan harus sudah jadi
sebelum memasuki tahun pelajaran baru.
Berdasarkan dokumentasi, pada data perencanaan pembelajaran (RPP) semua
guru PAI di SMP Negeri 4 Malang, ada kesamaan dalam struktur dan kegiatan yang
tercantum di dalamnya. Bentuk perencanaan pembelajaran dengan konsep kurikulum
sama halnya dengan perencanaan konsep kurikulum pelajaran yang lain, diantaranya
54
menyusun kegiatan perencanaan pengajaran sistematis dan mengidentifikasi konsepkonsep
yang akan dibahas serta memilih kegiatan pembelajaran yang sesuai.
Dalam kenyataan, walaupun masing-masing guru memiliki pendapat yang sama
tentang perencanaan pengajaran, namun dalam realisasinya berbeda. Hal itu tampak
dari penerapan di dalam kelas, utamanya dalam aplikasi metode pembelajaran.
Semua guru menyusun kegiatan secara sistematis berupa RPP, namun dalam
penerapan di kelas tidak jarang tidak sesuai dengan apa yang dituliskan dalam RPP.
Banyak faktor yang mempengaruhi fakta tersebut, bisa jadi karena waktu,
kemampuan guru, keadaan siswa, media dan suasana dalam kelas.
Selanjutnya, dalam penyusunan Rencana tahunan, program semester dan silabus
ternyata belum dapat digunakan secara langsung untuk melaksanakan kegiatan
pembelajaran. Oleh karena itu perlu dibuat rencana pelaksanan Pembelajaran (RPP),
yang merupakan implementasi program pembelajaran yang sudah dituangkan di
dalam silabus.
Temuan mengenai kegiatan perencanaan pengembangan program pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang dapat dilihat dalam gambar
dibawah ini:
I.
II.
III.
IV.
Pemikiran
Kepala Sekolah
KTSP SMP
Negeri 4 Malang
Lulusan SMP
Negeri 4 Malang
Tim
Kurikulum
Tim
Kesiswaan
Guru Pembina
Agama islam
Telaah Program
& Kebutuhan
Menyusun Program
Sesuai kebutuhan
Mengembangkan
Program
pembelajaran
Intrakurikuler PAI
Mengembangkan
Program pembeljr.
Ekstrakurikuler
PAI
Program kerja
OSIS Bidang
Ketaqwaan
Program pembelajaran
PAI SMP Negeri 4
Malang
55
2. Pelaksanaan Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
(PAI)
Berdasarkan pemaparan data tersebut di atas peneliti menemukan bahwa dalam
melaksanakan kegiatan pengembangan program pembelajaran PAI, mengikuti prosedur
yang berlaku di SMP Negeri 4 Malang, yaitu dengan mengorganisasikan dan
mengarahkan pengembangan program pembelajaran dengan mengacu pada
pembelajaran Intrakurikuler dan Ekstrakurikuler serta pembiasaan Imtaq dan
pembudayaan suasana religius.
a. Program Kegiatan Tatap Muka (Pembelajaran Intrakurikuler PAI)
Dalam peneitian ini ditemukan bahwa pengorganisasian dan pengarahan
pengembangan program pembelajaran intrakurikuler PAI di SMP Negeri 4 Malang
mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh kurikulum yang mengacu pada KTSP SMP 4
Malang .
Terkait dengan pengorganisasian materi pembelajaran PAI, diperoleh data
dokumen yang menyatakan bahwa secara garis besar materi pembelajaran PAI
dikelompokkan menjadi lima aspek yaitu Al-Qur’an/Hadis, aspek aqidah, aspek akhlak,
aspek ibadah, aspek tarikh.
Dalam menetapkan guru yang akan mengajar mata pelajaran PAI, SMP Negeri 4
Malang juga mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh koordinator kurikulum
dengan melihat SK pengangkatan dari Dinas Pendidikan atau Departemen Agama
dengan ketentuan bahwa yang merencanakan dan menentukan guru yang akan mengajar
PAI di kelas adalah koordinator kurikulum dengan melihat SK pengangkatan dari Dinas
Pendidikan atau Departemen Agama, kecuali jika dirasa kurang memenuhi kebutuhan
sekolah, maka diangkatlah Guru Tidak Tetap (GTT) oleh Kepala Sekolah dengan
mempertimbangkan usulan dari Dewan Guru. sedangkan untuk pengajar ekstrakurikuler
ditentukan oleh koordinator kesiswaan
Penelitian ini juga menemukan bahwa prosedur pengorganisasian, pelaksanaan
dan pengarahan pengembangan program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang
tersebut nampaknya telah disepakati melalui kerjasama tim antara koordinator
kurikulum dengan koordinator kesiswaan SMP Negeri 4 Malang dengan mengacu pada
tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) urusan kurikulum dan kesiswaan yang ada di SMP
Negeri 4 Malang.
Berkaitan dengan prosedur distribusi guru mata pelajaran Pendidikan Agama
Islam (PAI), diperoleh informasi bahwa penentuan guru mata pelajaran PAI diserahkan
56
kepada urusan kurikulum. Sedangkan untuk guru ekstrakurikuler diserahkan kepada
koordinator kesiswaan dengan pertimbangan koordinator ekstrakurikuler. Karena dari
merekalah secara persis tahu karakteristik guru yang mengajar dan materi yang
diajarkan.
Terkait dengan pembagian jam mengajar Pendidikan Agama Islam untuk tahun
pelajaran 2009-2010 ini, Pak Untung mengajar PAI kelas VII dan IX dengan jumlah
jam 24, sedangkan untuk pak Kirman mengajar kelas VII dan VIII dengan jumlah jam
18 ditambah ekstra dan Pembina OSIS bidang ketaqwaan. Pembagian jam seperti ini
karena tuntutan sertifikasi yang harus dipenuhi. Karena pak untung tahun ini yang
sertifikasi maka diberi jam 24 sisanya pak Kirman yang saat ini masih kuliah S2 dan
belum sertifikasi .
Terkait dengan pengaturan beban jam mengajar ini, diperoleh informasi bahwa
Untuk program pembelajaran Intrakurikuler Pendidikan Agama Islam (PAI) diatur
sesuai dengan SK mengajar bagi guru-guru PAI. Dilihat dari pembagian jamnya,
masing-masing guru Agama Islam mestinya mendapat jam mengajar sama. Kalau saat
ini ada 20 kelas, maka masing-masing mendapat 20 jam mengajar. Berhubung pak
Untung saat ini sudah sertifikasi, maka pak Untung mendapat 24 jam mengajar untuk
memenuhi persyaratan dari sertifikasi itu. Sedang sisanya yang 16 jam pelajaran
diberikan kepada Pak Kirman sendiri.
Untuk pengaturan kelas yang ada non muslimnya, ditempatkan di kelas
tersendiri. Jadi masing-masing jenjang ada di kelas B untuk saat ini. Jika waktunya jam
pelajaran agama, maka kelas yang ada non muslimnya tadi menempati ruang khusus
agama non muslim yang sejak 4 tahun terakhir ini sudah disediakan, kemudian ruang
tersebut digunakan untuk ruang kebhaktian setiap pelajaran agama Kristen/Katholik dan
pembinaan IMTAQ bagi non muslim.
Dalam melaksanakan pembelajaran PAI di kelas, guru PAI menggunakan
tahapan-tahapan sebagaimana dijelaskan dalam temuan peneliti melalui observasi
sebagai berikut:
1). Kegiatan awal (pendahuluan)
Model pembelajaran yang lazim digunakan diselenggarakan oleh Guru PAI di kelas
VIII dimulai dengan berdoa bersama, kemudian dilanjutkan Kultum (kuliah tujuh
menit) atau semacam ceramah singkat dari Guru. Kegiatan kultum ini dilaksanakan
secara rutin dengan tujuan siswa diberi bekal untuk menyerap materi yang akan
dipelajari pada saat itu. Tentu saja guru harus pandai-pandai mengaitkan materi kultum
57
dengan materi yang akan dipelajari. Kegiatan ini dilaksanakan pada tiap pertemuan jam
pelajaran agama Islam kelas VIII SMP Negeri 4 Malang.
Setelah kultum, selanjutnya pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah dipimpin oleh
siswa yang bertugas secara bergiliran yang jadwalnya sudah diatur oleh ketua kelas.
Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dari guru tentang kandungan ayat yang tersirat
di dalamnya, kemudian dihubungkan dengan materi yang akan dipelajari yang diselingi
dengan pertanyaan secara bergiliran kepada setiap siswa.
Pertanyaan guru, terkadang mengenai batas materi yang telah dipelajari pada
pertemuan sebelumnya, terkadang juga bertanya tentang materi yang terkait dengan
pelajaran sebelumnya. Hal ini tentunya merupakan strategi guru dalam mengawali
pembelajaran, yang bertujuan menarik perhatian siswa, mengetahui tingkat penguasaan
materi sebelumnya dan juga untuk mengetahui kesiapan siswa dalam mengikuti
pelajarannya.
Berbeda halnya dengan pembelajaran di kelas VII, dimana guru tidak memulai
dengan kultum tetapi mengawali pembelajaran dengan tadarrus Al-Qur’an secara
berjamaah, yang dilanjutkan dengan penjelasan makna yang terdapat dalam kandungan
ayat tersebut.
Dalam penjelasan kandungan ayat, guru juga sering menghubungkannya dengan
kejadian sosial dan fenomena alam yang menjadi trend saat itu untuk menghindari
kebosanan dalam pembelajaran agama di kelas, mengingat tingkat kemampuan berfikir
pada pengetahuan umum lebih mendominasi dalam pembelajaran di SMP Negeri 4
Malang. Sebagai contohnya, ketika guru menjelaskan kompetensi al Qur’an tentang
ayat yang berhubungan dengan kebaikan pada QS. al Insyirokh ayat 1-8, disitu guru
menghubungkannya dengan fenomena di sebagian masyarakat yang mengalami
kesempitan hidup karena bencana alam seperti meluapnya Lumpur Lapindo Brantas di
Sidoarjo atau gempa di Yogyakarta, yang nota bene membutuhkan uluran tangan dari
para orang kaya, untuk mengeluarkan sebagian hartanya demi membantu mereka yang
membutuhkan tersebut.
Kegiatan selanjutnya adalah kultum dari guru yang akan mengajar. Guru yang
membawakan kultum ini bebas memilih tema apa yang akan disampaikan di depan
kelas. Dengan model ini, siswa diharapkan mampu bisa mencontohnya yang pada
akhirnya siswa diberi tugas untuk melaksanakan kegiatan tersebut selama 7-10 menit.
Selanjutnya guru memberi appersepsi dengan tanya jawab seputar kultum yang
dibawakan tadi tentu saja materinya sudah disesuaikan dengan bab yang akan dibahas.
58
Model pembelajaran di awal kegiatan seperti ini, mirip dengan apa yang
dilaksanakan di kelas VII, hanya saja pada kelas VII, tadarus dan membaca terjamahnya
dipimpin oleh guru, sedangkan di kelas IX tadarus dan pembacaan terjamah secara
berjamaah dipimpin oleh siswa. guru hanya memberi motivasi dengan cara memberi
kultum dan mengaitkannya dengan materi yang akan dipelajari.
2). Kegiatan Inti
D alam kaitannya dengan kegiatan inti pembelajaran, terdapat berbagai teknik dan
cara yang ditemui pada penyampaian pembelajaran PAI oleh masing-masing guru di
SMP Negeri 4 Malang. Pada kelas IX misalnya, setelah guru mengadakan kegiatan awal
seperti kultum, tadarrus, dan penjelasan makna yang terkandung dalam ayat , guru
kemudian menjelaskan beberapa konsep-konsep dan pokok-pokok materi yang telah
dipersiapkan sebelumnya.
Pada pertemuan perdana, guru menjelaskan tentang konsep-konsep dan garis besar
pokok materi, yang kemudian sering diselingi dengan lontaran pertanyaan-pertanyaan
yang menantang siswa untuk mengeluarkan pendapatnya. Hampir sering terlihat dalam
aktifitas pembelajaran muncul pertanyaan yang sifatnya terbuka sehingga memotivasi
siswa untuk mengeluarkan pendapatnya.
Selanjutnya, guru membagi tugas dengan tema atau kompetensi/sub kompetensi yang
berbeda-beda sesuai dengan target kurikulum pada kelas IX, yang dibagi dalam
beberapa kelompok, untuk didiskusikan pada pertemuan berikutnya, yang tentunya
terkait dengan kompetensi yang telah dijelaskan.
Dalam pembelajaran di kelas IX, ada sesuatu yang unik dalam pembelajarannya,
yaitu dengan menggunakan metode diskusi yang sifatnya menantang kreativitas siswa.
Bentuk rangsangan dan tantangan ini tentunya bersifat akademis. Guru memotivasi
siswa untuk dapat tampil menjadi kelompok ‘the excellence’ lewat diskusi di kelas.
Kriteria penilaian sebagai kelompok terbaik ini, dengan melihat bahasan dan isi
makalah dan penampilan kelompok dalam presentasi makalah. Selanjutnya kelompok
yang tergolong ‘the excellence’ akan mewakili kelasnya untuk mempresentasikan
makalah terbaiknya dihadapan seluruh teman-temannya yang muslim (terutama kelas
IX), pada pelajaran pembiasaan Imtaq yang diselenggarakan setiap Jumat siang satu
jam pelajaran menjelang pulang jam ke 5 (jam 10. 20 sampai dengan 11. 00 Wib).
Berbeda halnya dengan model pembelajaran PAI kelas VIII pada kegiatan awalnya
tidak dimulai dengan kultum. Setelah mengadakan tadarrus berjamaah, pada kegiatan
59
awal sebagaimana dijelaskan di atas, guru kemudian menjelaskan materi yang sudah
dijadwalkan sebelumnya.
Pada pembelajarannya, terlebih pada kompetensi Al-Qur’an, guru sering mengaitkan
antara ayat yang akan dibaca pada tadarrus, dengan materi pelajaran yang akan
diajarkan pada saat itu. Setelah melakukan kegiatan awal seperti yang dijelaskan di atas,
seperti tadarus, mengoreksi pekerjaan siswa (jika ada), kemudian guru meminta siswa
untuk mengulang-ulang bacaaan ayat tersebut sampai menghafalnya, dimulai dengan
membaca secara berjamaah kemudian diteruskan dengan membaca sendiri-sendiri.
Sambil membaca ayat tersebut, guru selalu menyimak dengan seksama dan kemudian
mengoreksi bacaan siswa dengan memberi contoh bacaan yang benar/fasih sesuai
dengan ketentuan ilmu tajwid, setelah itu guru meminta siswa menirukan bacaan guru
tersebut.
Kegiatan selanjutnya, guru meminta siswa menunjukan kata-kata sulit dalam ayat
dan dilanjutkan mengartikan kata tersebut secara bersama-sama. Setelah semua kata
sulit diartikan, guru meminta siswa menjelaskan hukum tajwid yang terdapat dalam ayat
tersebut.
Disamping menjelaskan hukum tajwid, guru sesekali melontarkan pertanyaan kepada
siswa tentang apa yang baru saja dijelaskan, hal ini dalam rangka untuk mengetahui
kemampuan memahami apa yang baru saja dijelaskan. Selanjutnya guru meminta
masing-masing siswa untuk menyalin ayat dan hadis dengan tulisan mereka sendiri,
guna melatih kecakapan siswa menulis ayat. Salinan ayat ini, biasanya diminta guru
untuk disetorkan pada tatap muka minggu berikutnya.
Pada pembelajaran kelasVII, hampir mirip dengan model yang diterapkan pada kelas
IX, dimana pembelajaran pada pertemuan awal (tatap muka), guru menjelaskan materi
pertama, kemudian meminta siswa membentuk beberapa kelompok dan menugaskan
mereka membuat makalah.
Diskusi berakhir disaat pertanyaan, tanggapan atau komentar dari siswa lainnya
sudah tidak ada. Terkadang jika waktu 2 jam pelajaran yang tidak mencukupi, artinya
diskusi terus berlanjut, maka guru meluangkan waktu pada pertemuan minggu depan
untuk melanjutkan diskusi tersebut. Dan diskusi seperti ini, menurut komentar guru PAI
sempat terjadi beberapa kali, namun lebih banyak diskusi tersebut selesai pada sekali
pertemuan. Setelah diskusi berakhir, guru menjelaskan pertanyaan-pertanyaan dan
jawaban-jawaban siswa, sekaligus menuntaskan segala problema yang muncul dalam
diskusi.
60
Dalam pembelajaran PAI, pada dasarnya model pembelajaran di kelas reguler tidak
jauh berbeda dengan apa yang diterapkan di kelas bilingual. Hanya saja kelas bilingual
banyak materi pengembangan karena kelas ini secara akademik diatas rata-rata kelas
regular dan kelas seni. Pada umumnya guru PAI tidak membedakan , karena silabus
dan RPP nampaknya untuk mata pelajaran PAI tidak dituntut banyak, kecuali mata
pelajaran yang diujinasionalkan. Disamping ada jam tambahan juga ada kursus-kursus.
3). Kegiatan Akhir (penutup)
K e giatan ini adalah kegiatan untuk memberikan penegasan atau kesimpulan dan
penilaian terhadap penguasaan bahan kajian yang diberikan pada kegiatan inti. Pada
kegiatan ini dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut berupa pekerjaan rumah dan lainlain.
Pada kegiatan akhir, hampir semua guru PAI di SMP Negeri 4 Malang tidak
memiliki perbedaan dalam pembelajarannya. Pada dasarnya kedua guru pada akhir
pembelajaran memberikan penegasan dan kesimpulan serta penilaian terhadap
penguasaan bahan kajian yang diberikan pada kegiatan inti.
Adapun penilaian akhir (post test), guru melakukannya dalam bentuk tanya jawab
tentang apa yang belum dipahami oleh siswa. Hal-hal yang belum dipahami siswa, guru
meminta siswa untuk ditanyakan, namun jika tidak ada yang bertanya dianggap sudah
paham atau terkadang guru pun berbalik melontarkan pertanyaan kepada siswa secara
bergiliran.
Penilaian akhir dalam bentuk pemberian tugas rumah atau pekerjaan rumah (PR)
tidak jarang terjadi. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah
mereka masing-masing, misalnya saja tugas untuk menuliskan kembali ayat-ayat Al-
Qur’an yang baru saja dijelaskan dan menjelaskan tajwid yang ada dalam ayat tersebut.
Hal ini bermaksud untuk mengetahui sejauh mana penguasaan materi yang telah
dijelaskan dan melatih siswa mencapai kompetensi tertentu seperti mampu menuliskan
ayat Al-Qur’an, dan lain sebagainya.
Selanjutnya pada kegiatan akhir, khusus untuk kelas VII dan IX, tindak lanjut dari
penjelasan tentang pokok-pokok materi pembelajaran dilakukan dalam bentuk
pembagian tugas kelompok. Masing-masing kelompok mendapatkan judul atau tema
(kompetensi atau sub kompetensi) yang berbeda-beda, untuk dipresentasikan pada
minggu berikutnya sesuai dengan jadwal yang diatur oleh guru. Terkhusus pada kelas
VIII, kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pekerjaan rumah (PR), seperti menyalin ayat
atau hadis dan lain sebagainya.
61
b. Program Kegiatan Tugas Terstruktur (Pembelajaran Ekstrakurikuler PAI)
Kegiatan tugas terstruktur dalam bentuk ekstrakurikuler termasuk kategori
program pengembangan diri, merupakan kegiatan di luar jam yang tercantum pada
struktur kurikulum. Kegiatan ekstrakurikuler ditujukan untuk mengembangkan bakat
dan minat serta untuk memantapkan pembentukan kepribadian siswa. Kegiatan
ekstrakurikuler yang ada di SMP Negeri 4 Malang dilaksanakan dengan menyesuaikan
kebutuhan sekolah yang menunjang pembelajaran di kelas serta anggaran biaya yang
ada.
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa program kegiatan tugas terstruktur dalam
bentuk pembelajaran ekstrakurikuler yang dikembangkan di SMP Negeri 4 Malang
adalah Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) yang pelaksanaannya menggunakan model
menirukan bacaan yang diperankan oleh pembinanya dengan sesekali bertanya tentang
ilmu tajwidnya atau cara membaca makhroj yang benar. Cara semacam ini persis seperti
model yang diterapkan di pesantren tetapi siswa diberi waktu untuk bertanya jawab
dengan Pembina.
Dalam prakteknya, peserta ekstrakurikuler BTA ini sangat antusias mengikuti
kegiatan terbukti dengan absensi kehadiran peserta sejumlah 60 peserta dari kelas VII
dan VIII. Disamping itu kegiatan ini dilaksanakan di tempat Masjid sekolah sehingga
pelaksanannya dengan mudah dapat dikendalikan. Namun sejauh ini prestasi yang
diraih dari kegiatan ekstra ini belum menunjukkan prestasi yang menggembirakan.
Karena selama ini prestasi keagamaan di SMP Negeri 4 diraihnya dari siswa yang
bukan peserta ekstrakurikuler BTA.
Penelitian ini juga menemukan bahwa cara mengatur program pembelajaran
ekstrakurikuler seperti yang tercantum dalam mekanisme kegiatan pengembangan diri
dicantumkan dalam jadwal tersendiri yang diatur oleh kurikulum seperti di bawah ini:
a). Kegiatan Pengembangan Diri yang bersifat rutin/terstruktur dilaksanakan pada
waktu pembelajaran efektif dengan mengalokasikan waktu khusus dalam jadwal
pelajaran, dibina oleh guru dan konselor sekolah.
b). Kagiatan Pengembangan Diri pilihan dilaksanakan di luar jam pembelajaran
(ekstrakurikuler) dibina oleh guru, praktisi, atau alumni yang memiliki kualifikasi yang
baik berdasarkan surat keputusan kepala sekolah.
Dalam penelitian ini ditemukan juga bahwa pengembangan program dalam bentuk
kegiatan tugas terstruktur di SMP Negeri 4 Malang adalah:
62
(1) Pembiasaan IMTAQ yang dikoordinasi oleh kurikulum, dilaksanakan di kelas
dengan I jam pelajaran dibina oleh wali kelas masing-masing. Materi yang diajarkan
adalah terkait dengan bacaan surat-surat pendek dalam Al-Qur,an dan do’a-do’a. hasil
yang diharapkan dari kegiatan ini adalah siswa bisa hafal dengan fasikh dari ayat dan
do’a-do’a harian yang dibaca setiap jum’at siang.
(2) Pembiasaan sholat Jum’at di sekolah, diorganisasi oleh kesiswaan dan Pembina
keagamaan dengan anggota OSIS bidang ketaqwaan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan
berjenjang setiap jum’at. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini agar siswa terbiasa
melaksanakan sholat jum’at karena masih banyak siswa yang tidak melakukan sholat
jum’at dengan alasan jalan macet atau pulang sekolah terlalu siang habis untuk
perjalanan pulang.
(3) Bimbingan keputrian dibina oleh kelompok kajian Islam KIASS (Kreatifitas Insan
Anak Sholeh dan Sholehah) Kota Malang. Pelaksanaan kegiatan ini dikoordinasi oleh
kesiswaan dengan Pembina keagamaan puteri baik dari Ibu guru SMP Negeri 4
maupun bekerjasama dengan kelompok mahasiswi yang tergabung dalam organisasi
KiASS. Pelaksanaan kegiatan ini diatur oleh guru Agama Islam SMP Negeri 4 Malang
dengan materi yang sudah dibuat oleh Pembina keagamaan puteri yang disesuaikan
dengan tema-tema khutbah. Hal ini dilakukan supaya terjadi kesamaan pemahaman
anak-anak baik yang diberikan oleh khotib maupun yang mengikuti keputerian.
c. Program Kegiatan Mandiri Tak Terstruktur
Dari pemaparan data di atas ditemukan bahwa pengembangan program kegiatan
mandiri tak terstruktur yang ada di SMP Negeri 4 Malang adalah pembiasaan suasana
religius di kawasan sekolah. yaitu; (1). Budaya 3 SAS (Salam, Salim, Senyum, Ambil
Sampah), (2). Budaya Jum’at Bersih, (3). Halal Bihalal, (4). Peringatan hari Besar
Islam (PHBI), (5). Santunan Kematian, (6). Santunan Anak Yatim, (7). Budaya Anjang
Sana keluarga Dewan Guru dan Karyawan, (8) Budaya Tasyakuran, dan (9). Budaya
beramal jariyah setiap jum’at.
Kegiatan ini masuk dalam program spontanitas, sekalipun sudah diprogramkan
sebelumnya karena waktunya menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Program yang
sudah jelas diatur dalam jadwal hanya khusus budaya-budaya yang mendukung
kegiatan keagamaan selain upacara dan SKJ.
Dengan demikian Mekanisme pengembangan kegiatan pembelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI) baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler di SMP Negeri 4
Malang dilakukan secara simultan dengan pengembangan KTSP dan silabus mata
63
pelajaran. Sekolah atau kelompok sekolah dengan karakteristik yang hampir sama
dan/atau kelompok guru mata pelajaran merumuskan bersama pengembangan kegiatan
pembelajaran. Kegiatan dilakukan dalam koordinasi kepala sekolah yang dilaksanakan
oleh tim pengembang kurikulum di sekolah bersama dengan guru baik melalui rapat
kerja dan/atau kegiatan MGMP/MGMPS.
Oleh karena itu, dalam mengembangkan kegiatan program pembelajaran,
diperlukan informasi yang cukup berkaitan dengan karakteristik sekolah yang terdiri
dari, potensi dan kebutuhan peserta didik, sumber daya, fasilitas, lingkungan, dan lainlain.
Informasi diperoleh dari berbagai sumber seperti catatan dan pengalaman guru,
hasil riset bagian penelitian dan pengembangan (Litbang), atau informasi bagian
inventarisasi di sekolah, serta karakteristik keilmuan sesuai mata pelajaran.
Temuan mengenai kegiatan pelaksanaan pengembangan pembelajaran
pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Malang dapat dilihat dalam gambar di
bawah ini:
V.
VI.
VII.
VIII.
Pengembangan
Program
Sekolah
Mendistribusikan
Kurikulum Intra dan
Ekstra
Kur. Melibatkan
kesiswaan dalam
mengatur Jadwal
Kesiswaan
mengatur jadwal
ekstra
KBM di
Kelas/Keg. Tatap
Muka
Menyusun
Program Osis
Bid. ketaqwaan
Guru hadapi
masalah KBM di
Kelas
Siswa hadapi
masalah
Ada bantuan
supervise
kasek dan kur
Ada bantuan dari
Kesiswaan, BK
& GPAI
64
3. Pengendalian Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
(PAI)
a. Program Kegiatan Tatap Muka (Pembelajaran Intrakrikuler PAI)
Dalam melaksanakan kegiatan pengendalian pengembangan program
pembelajaran PAI yakni program pembelajaran intrakurikuler PAI SMP Negeri 4
Malang melibatkan berbagai pihak. Yaitu dilakukan Setiap satu bulan sekali. Dimana
kepala sekolah beserta staf wajib mengikuti rapat khusus sebelum diadakan rapat
umum beserta dewan guru dan karyawan yang ada di SMP Negeri 4 malang. Biasanya
membahas tentang evaluasi pelaksanaan program-program pembelajaran secara
menyeluruh, mulai dari masalah di kelas sampai pada hal-hal yang kecil dibahas
semua.
Penelitian ini juga menemukan bahwa Pengendalian pelaksanaan program
pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang dilakukan dengan cara mengadakan
evaluasi hasil belajar siswa dan monitoring kelas dalam pembelajaran intrakurikuler
dan ekstrakurikuler.
Untuk pembelajaran secara umum di Kelas kepala sekolah melakukan
pengendalian dalam bentuk supervisi kelas dengan cara melakukan pembinaanpembinaan
terhadap proses pelaksanaan KBM pada saat itu. Jika tidak masuk kelas,
kami melakukannya dengan cara penilaian perangkat pembelajaran yang dibuat oleh
guru yang bersangkutan. Cara yang kedua adalah dengan supervisei secara klinis, yaitu
melakukan pembinaan kepada guru yang bersangkutan baik dilakukan di ruang kepala
sekolah maupun dalam rapat dinas dewan guru. Cara seperti ini diharapkan yang
datang secara aktif adalah gurunya bukan kepala sekolahnya. Hal ini saya lakukan
untuk mencari permasalahan-permasalahan yang terjadi sepanjang proses dan hasil
pembelajaran di kelas.
Selanjutnya ditemukan juga bahwa ketika melaksanakan pembelajaran PAI di
kelas, kepala sekolah juga pernah mengadakan supervisi terhadap cara mengajar guru
Agama islam di kelas. Juga tidak jarang dilakukan dengan cara bekerjasama dengan
Pengawas Pendidikan Agama Islam dari Depag. Seperti yang sudah-sudah bahwa
wilayah Pendidikan Agama Islam memang harus ditangani oleh Depag dan dari depag
sendiri sudah ditentukan pengawasnya, kepala sekolah hanya melihat dari sisi
administrasinya saja. Nampaknya masalah pengendalian pembelajaran PAI ini memang
diatur sesuai dengan pengawas mata pelajaran.
65
Kegiatan pengendalian program pembelajaran PAI ini juga dilakukan oleh guru
agama Islam . dengan cara menilai pembelajaran di kelas dan mengontrol kegiatan
keagamaan. Yang tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja tetapi juga afektif
dan psikhomotorik.
Penelitian ini juga menemukan bentuk pengendalian melalui ujian tulis dan
praktek dengan menggunakan fasilitas masjid dan ruang-ruang khusus agama. Untuk
kegiatan praktek ibadah, menggunakan tempat Masjid Sekolah, tetapi jika tempat
tersebut berbenturan dengan kegiatan lain seperti waktu dzhuhur banyak yang sholat
dzuhur, maka kegiatan praktikum dialihkan ke ruang agama Islam. Di ruang tersebut
sudah disediakan alat-alat ibadah dan Al-Qur’an serta dilengkapi dengan Televisi 21
inchi dan player DVD. Jadi kalau memang dalam praktek tersebut menggunakan media
yang berkaitan dengan pemutaran praktek-praktek sholat dan baca Al-Qur’an bisa
menggunakannya dengan baik tanpa harus mencari media di ruang lain.
Kegiatan pengendalian pengembangan program pembelajaran PAI melalui
penilaian hasil belajar siswa di SMP Negeri 4 dilakukan dengan mengkuti prosedur
yang sudah diatur dalam pedoman penilaian PAI yang diterbitkan oleh BSNP yaitu
dengan Tugas-tugas, Ulangan Harian (UH), Ulangan Tengah Semester (UTS), dan
ulangan akhir semester (UAS) atau dikenal dengan UKK (Ujian Kenaikan Kelas)
khusus semester genap, juga penilaian afektif dan psichomotor yang diatur dalam
penilian akhlak.
Penelitian ini juga menemukan untuk penilaian Mata Pelajaran PAI, evaluasi
pembelajarannya menggunakan model yang sudah ditetapkan oleh BSNP yaitu ada
ujian tulis dan praktek. Yang termasuk ujian tulis diambilkan dari ulangan harian,
ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester. Sedangkan untuk ujian praktek
diambilkan dari praktek-praktek keagamaan yang sudah diprogramkan di sekolah
seperti rajin sholat wajib dzuhur dan jum’at di sekolah ditambah penilaian akhlak.
Penilaian akhlak ini menyangkut; afektif dan psikhomotorik siswa. Untuk penilaian
ujian praktek membaca Al-Qur’an yang dinilai adalah makhroj, tajwid, dan kelancaran
baca.
Berdasarkan dokumen ujian praktek yang diselenggarakan di sekolah, untuk kelas
IX biasanya mempraktekkan sholat dan membaca Al-Qur’an. Teknis pelaksanaannya
dengan membagikan kartu yang berisi soal yang akan dipraktekkan dengan cara siswa
mengambilnya dari penguji saat itu juga.
66
Semua bentuk pengendalian yang dilakukan di SMP Negeri 4 Malang mengacu
pada Kriteria kenaikan kelas. Untuk PAI harus mencapai minimal 72. jika tidak
memenuhinya, maka dilakukan program remedial. Karena itu, ujian tulis maupun
praktek dilaksanakan oleh Guru PAI dan sekolah dengan menggunakan nilai angka.
Standar kelulusan yang digunakan adalah minimal mencapai angka 72. jika belum
mencapai ketentuan tersebut, siswa harus mengikuti program remedial yang jadwalnya
ditentukan oleh kurikulum.
b. Program Kegiatan Tugas Terstruktur (Pembelajaran Ekstrakurikuler PAI)
Bentuk pengendalian Kegiatan ekstrakurikuler PAI di SMP Negeri 4 Malang
dirancang untuk dijadikan media pelatihan yang mendukung pembelajaran PAI di kelas
dan pembiasaan bagi siswa untuk mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam dalam
kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pengendaliannya hanyalah keaktifan siswa
dalam mengikuti kegiatan melalui pengamatan dan daftar hadir serta prestasi yang
dicapai.
Adapun mengenai prestasi yang diraih dari kegiatan ini diperoleh informasi
bahwa selama tiga tahun terakhir ini sebayak 5 jenis lomba keagamaan yang diraih baik
yang diselenggarakan oleh MGMP PAI tingkat kota maupun MGMP Seni Kota Malang.
Sementara prestasi tingkat provinsi dan nasonal belum pernah diraih.
Penelitian ini juga menemukan bahwa untuk ekstra Pendidikan Agama Islam di
SMP Negeri 4 Malang ini dikembangkan program TPA dengan nama BTA (Baca Tulis
Al-Qur’an) dan Bahasa Arab, sedangkan untuk pengendaliannya juga lewat supervise
kegiatan dengan melihat semacam silabus yang dibuat dan daftar hadir Pembina ekstra.
ada lagi kegiatan yang sudah terprogram dan masuk dalam struktur kurikulum yaitu
pembiasaan IMTAQ diisi oleh wali kelasnya masing-masing. kegiatan IMTAQ ini
untuk sementara tujuannya supaya anak-anak terbiasa dalam melafalkan do’a-do’a
harian dan ayat-ayat pendek dalam Al-Qur’an sedangkan untuk agama Kristen
ditempatkan dalam kelas khusus untuk dibina tersendiri. Adapaun cara pengendaliannya
tidak ada evaluasi hanya pada daftar hadir wali kelas pada jam tersebut.
Diperoleh informasi bahwa kegiatan pembelajaran PAI di SMP 4 diadakan
praktek pembiasaan budaya religius dan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan seperti
BTA dan Bahasa Arab, sholat jum’at di Masjid sekolah, kajian keputrian, pondok
romadhon dan peringatan hari besar Islam lainnya. Hal ini dimaksudkan agar para siswa
berlatih dan terbiasa mepraktekkan ilmu-ilmu keislaman yang sudah diketahuinya
dalam kehidupan sehari-hari.
67
Jadi dengan demikian diperoleh kesimpulan bahwa bentuk pengendalian dari
semua kegiatan yang berkaitan dengan ekstrakurikuler yang ada di SMP Negeri 4
Malang adalah dengan melihat daftar hadir Pembina, silabus yang dibuat, dan prestasi
yang diraih. kepala sekolah juga berharap agar dikembangkan bentuk-bentuk
keteladanan pada anak-anak seperti bersikap ramah, sopan-santun dan terbiasa
berbusana muslim.
Kegiatan-kegiatan yang mendukung terhadap keberhasilan pembelajaran
pendidikan Agama Islam dapat dilihat juga dalam kegiatan yang ditangani oleh
Pembina Osis bidang ketaqwaan, dalam hal ini yang menangani adalah Pak Untung dan
Pak Kirman. Melalui kegiatan ini disusun program peningkatan ketaqwaan lewat OSIS.
Adapun kegiatannya adalah Sholat Jum’at di sekolah, Bimbingan Keputrian,
Pembiasaan Amal Jariyah pada hari Jum’at, Pesantren Romadhon, dan lain-lain.
Adapun bentuk pengendaliannya melalui monitoring dan daftar kehadiran siswa dan
pembina.
c. Program Kegiatan Mandiri Tak Terstruktur
Untuk kegiatan-kegiatan yang masuk dalam kegiatan mandiri tak terstruktur
adalah pembiasaan suasana religious di kawasan lingkungan sekolah. Program ini
dilaksanakan oleh semua warga sekolah dengan nilai-nilai agama yang kental bisa
dilihat dalam kebiasaan anak-anak salim kepada bapak/ibu guru, berperilaku sopansantun
kepada siapa saja bila bertemu, ambil sampah setiap melihat sampah berkeliaran
dan memasukkannya ke dalam bak sampah, dan lain-lain. Bentuk pengendaliannya
lewat pantauan baik dilakukan oleh guru, wali kelas, maupun kepala sekolah. Kegiatan
ini dianggap berhasil di lingkungan sekolah dengan ditunjuknya sekolah ini menjadi
duta mewakili kota Malang dalam lomba adipura, dan adiwiyata tingkat Propinsi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengendalian pengembangan
program pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malang secara menyeluruh dilakukan
melalui rapat rutin bulanan dengan melibatkan seluruh staf dan dewan guru. Rapat rutin
bulanan tersebut dilaksanakan sebagai control terhadap pelaksanaan kegiatan
pendidikan secara keseluruhan di SMP Negeri 4 Malang. Sedangkan pengendalian
pelaksanaan program pembelajaran PAI baik program intrakurikuler, ekstrakurikuler,
maupun kegiatan pembiasaan budaya religius dilakukan dengan mengadakan evaluasi
hasil belajar siswa dan kegiatan monitoring melalui supervise kelas, daftar kehadiran
Pembina ekstra, hasil prestasi siswa di bidang keagamaan dan terkendalinya siswa
68
dengan kenaikan kelas yang nilaianya ditentukan lewat ketercapaian dengan SKM yang
ditetapkan.
Temuan mengenai pengendalian program pembelajaran Pendidikan Agama Islam
di SMP Negeri 4 Malang dapat dilihat dalam gambar di bawah ini:
IX.
X.
XI.
Program Sekolah
Program Kurikulum Program Kesiswaan
Pembelajaran
Intrakurikuler
Pembelajaran
Ekstrakurikuler
Evaluasi Program
oleh kurikulum
Evaluasi program
oleh kesiswaan
Laporan Hasil
belajar
Remidi Pengayaan
69
Daftar Rujukan
Bahtiar, Ahmad “Sekolah Sudah Mati!” PENDAIS, Vol.1 No. 3 September 2000
Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002)
Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmuilmu
sosial Lainnya (Jakarta: Kencana, 2007)
Bogdan Robert C dan Biklen Sari K, Qualitatif Researchlm for Education An Introduction
to Theory and Methods
Cholid Narkabo, et.al., metodologi penelitian (Jakarta: Bumi aksara, 2003)
Dede Oetomo, “Penelitian Kualitatif: Aliran dan Tema”, dalam Bagong Suyanto,
et.all.,(Eds), Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan
(Jakarta: Kencana, 2007)
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga, Jakarta:
Balai Pustaka, 2001
Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif., Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan
Ilmu Sosial Lainnya (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003)
Depdiknas, Panduan Penyusunan KTSP, Jakarta: BSNP, 2007
Dokumen SMP Negeri 4 Malang, Program Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah 2009/2010
E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 200)
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK, (Bandung:
Rosdakarya, 2006)
Fahrurrozi, “Pendidikan Agama, Pendekatan, dan Internalisasi Nilai,” (Jakarta:
PENDAIS, Vol.1. No.3 September 2000)
Fatur Rahman, Manajemen Mutu dalam Pengembangan Profesionalisme Guru Madarsaha
di Pondok Pesantren, Tesis, PPs UIN Malang, 2008
Firdausi, Aini “Manajemen Pembelajaran Sekolah Unggulan Studi Multi Kasus pada MIN
Malang 2 dan MI Al-Huda Malang, Tesis, Malang: PPs Universitas Negeri
Malang, 2009
Furchan, Arif, Pengantar Metode Penelitian Kualitatif; Suatu Pendekatan Fenomenologis
terhadap ilmu-ilmu Sosial (Surabaya; Usaha Nasional, 1992), h.23 lihat
juga Budi puspo Priyadi, Metode Evaluasi Kualitatif (Yogjakarta: Pustaka
pelajar, 2006)
70
Husaini Usman, Manajemen: Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,
2006)
Husaini Usman, et.al., Metodologi Penelitian Sosial (Jakarta: Bumi Aksara, 2003)
Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2006)
Harsja W. Bachtiar, “Pengamatan Sebagai Suatu Metode Penelitian”, dalam
Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat (Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama, 1994)
Imam Suprayogo, et. All., Metodologi Penelitian Sosial Agama ( Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2003)
Jandra, Struktur Usulan Penelitian, (Makalah Pelatihan Penelitian Tenaga Educatif di
Tingkatan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 11 Juli-11 Agustus 2002)
Johar, MS, Guru, Pendidikan dan Pembinaannya, (Yogyakarta: Grafika Indah, 2006)
Khaeruddin,mafud junaidi,2007.Kuriklum tingkat satuan pendidkan,(Jogjakarta,Pilar
Media)
Komarudin “Manajemen Peningkatan Mutu pendidikan agama Islam di SMP Negeri 2
Delanggu Tahun Ajaran 2002/2003” TESIS, PPs UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, 2004
Lincoln et.al., Naturalistic Inquiry (Beverly Hill: SAGE Publications, 1985)
Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi Revisi), Bandung: PT. Remaja
Rosda Karya, 2007.
M. Toha, Kepemimpinan dalam Manajemen, (Jakarta Rajawali Press, 1999)
Madjid, Abdul, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008)
Makmun Abin Syamsudin, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rosdakarya, 2002)
Mastini et.al. Pengaruh Pacaran terhadap prestasi Siswa-siswi SMP Negeri 4 Malang,
Penelitian diajukan dalam lomba PIR/KIR tingkat nasional di Jakarta,
2006.
Mastuhu, Menata Ulang Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad 21, (Yogyakarta: Safiria
Insania Press, 2004)
Martinis Yamin, 2006, Sertifikasi profesi keguruan di Indonesia,(Jakarta, Gaung Persada
press)
Mas’ud, Abd. Rahman, dkk, Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2001)
71
Miles M B dan Hubermen AM, An Expended Source Book, Qualitative data Analysis,
(London: Sage Publication, 1984), Terjemahan Tjetjep R.R. (Jakarta:
Universitas Indonesia, 1992 )
Mohammad, Sodiq et.all. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif: Tata Langkah dan Teknikteknik
Teorisasi Data (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003)
Mohammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, (Yogyakarta: Pustaka Bani
Quraisy, 2004)
Moelong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003)
Muhaimin, Manajemen Pendidikan Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana
Pengembangan Sekolah/Madrasah, (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2009)
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam
di Sekolah (Bandung: Rosdakarya, 2002)
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah,
dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007)
Muhaimin, et.al, Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
pada Sekolah & Madrasah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009)
Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam, dari paradigma Pengembangan, Manajemen
kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta: 2009
N. Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999)
Nasution, Metode penelitian Naturalistik (Bandung: Tarsito, 1998)
Nasution, M. Nur , Manajemen Mutu Terpadu, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005)
Nazarudin, Manajemen Pembelajaran, (Yogyakarta: Teras, 2007)
Noeng Muhajir, Metode penelitian kualitatif (Yogjakarta: Rake Sarasin, 2003).
Nur Ali, “Manajemen Pengembangan Kurikulum SMK di Lingkungan Pesantren”
DISERTASI, PPs UM, Malang: 2008
Nurul Zuruiyah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan :Teori dan Aplikasi
(Jakarta: Bumi Aksara,2006)
P. Hersey dan Blanchard K, Management of Organizational Behavior: Utilizing Human
Resources, (4th ed.), (Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, INC,
1982)
72
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2006 tentang
pelaksanaan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 (tentang standar isi)
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 tahun 2006 (tentang standar kompetensi
lulusan) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar proses untuk Satuan pendidikan
Dasar dan menengah, BSNP, Jakarta: 2007
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan.
Rulam Ahmadi, Memahami metodologi Penelitian Kualitatif(Malang: UIN Malang Press,
2005)Ratna Megawangi, Pendidikan Karakter: Solusi Yang Tepat
Membangun Bangsa, (Jakarta: Star Enegy, 2004)
Robert K. Yin, “Cash Study Research: Design and methods”, diterjemakan oleh M. Djauzi
Mudzakir, Studi Kasus: Desain dan Metode (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2002)
Rohani, Ahmad , Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004)
Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2004),
Sagala,Syaiful, Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta 2005
Slamet Udadi, Waka SMP Negeri 4 Kota Malang, “Wawancara”, di SMP N 4, tanggal 28
Oktober 2009.
Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, (Jakarta: Quantum Teaching,
2005)
Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa: Sebuah Pendekatan Evaluatif,
(Jakarta: CV. Rajawali, 1986)
Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2006)
Syamsudduha, Manajemen Pesantren, (Yogyakarta: Grha Guru, 2004)
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2005)
Sukidin, et. All., Metode Penelitian: Membimbing dan mengantar Kesuksesan Anda
Dalam Dunia Penelitian ( Surabaya: Insan Cendekia, 2005)
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif, dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2008).
Sukardi, Metodologi penelitian Pendidikan; Kompetensi dan Prakteknya (Jakarta: Bumi
Aksara, 2007)
73
Sjarkawi, Pembentukkan Kepribadian Anak: Peran Moral, Intelektual, Emosional dan
Sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2006)
Sudarsono, Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja (Cet. II; Jakarta: Rineka Cipta, 1991),
Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogjakarta: Andi Ofset, 1981), Jilid II.
Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian: Petunjuk Praktis untuk Peneliti Pemula
(Yogjakarta: Gadjah Mada University Press, 2006)
Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian: Suatu pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka
Cipta, 1997)
Supriyatno, Hamid, “Pengembangan Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di
SMA Negeri Kota Yogyakarta”, TESIS, PPs UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, 2005
Syafarudin dan Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran, (Jakarta: Quantum Teaching,
2005)
Syaifuddin Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1999)
Terry G.R., Principles of Management (3rd ed.). (Homewood IL: Richard D. Irwin, INC,
1997)
Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi KBK, (Jakarta, Kencana, 2006)
Winarno surachmad, Dasar dan Tehnik Research: Pengantar Metodologi Ilmiah
(Bandung: Tarsito, 1997).
Yesim Ozbarlas, Perspectives On Multicultural Education: Case Studies Of a Jerman and
an American Female Minority Teacher, a Desertation, Not Published (
Atlanta: The College of Education in Georgia State Univercity, 2008)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s