contoh PTK

Contoh PTK dapat anda lihat di sini
B A B I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu kompetensi dasar mata pelajaran agama Islam kelas VII di tingkat SMP adalah menyebutkan arti ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan 10 Asmaul Husna (nama-nama yang baik). Di antara faktor yang mendukung pemahaman ayat terkait dengan 10 Asmaul Husna tersebut, tentunya langkah awal yang dilakukan adalah siswa dapat hafal 10 lafadz Asmaul Husna sekaligus mengetahui artinya. Namun, kenyataan di lapangan tidak demikian. Banyak siswa kelas VII yang tidak kompeten dalam memahami 10 Asmaul Husna. Siswa kurang berminat memahami 10 Asmaul Husna dalam bahasa Arab karena dianggap sulit dan memerlukan waktu cukup lama. Dengan demikian, masalah penguasaan terhadap kompetensi 10 Asmaul Husna menjadi masalah pendidikan dan pembelajaran Agama Islam di SMPN 4 Malang yang bersifat penting dan mendesak untuk segera dipecahkan. Karena itulah, Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan.
10 Asmaul Husna yang dimaksud adalah (1) Al-‘Azîz, (2) Al-Wahhâb, (3) Al-Fattâch, (4) Al-Qayyûm, (5) Al-Hâdî, (6) Al-Khâliq, (7) Ash-Shabbûr, (8) Al-Ghafâr, (9) Al-Chakîm, dan (9) Asy-Syakûr. Nama-nama yang baik tersebut merupakan bagian dari 99 Asmaul Husna. Disebut Asmaul Husna karena hanya Allah yang mempunyai kesempurnaan dari setiap nama-Nya. Dalam Al-Quran Surat Al-A’raf ayat 180, manusia diperintahkan untuk berdo’a dengan menyebut Asmaul Husna. Sedangkan Hadits nabi yang diriwayatkan Bukhori Muslim, manusia diperintahkan menghafal Asmaul Husna dengan jaminan pahala berupa surga. Dengan demikian, kemampuan siswa memahami 10 Asmaul Husna merupakan kompetensi penting dalam mata pelajaran pendidikan agama Islam. Dengan pemahaman yang baik terhadap Asmaul Husna, yakni hafal lafal dan mengerti artinya, kualitas pembelajaran agama Islam, khususnya tentang Asmaul Husna, diasumsikan akan meningkat.
Selama ini, kemampuan siswa terhadap kompetensi 10 Asmaul Husna tergolong rendah. Dari 270 siswa yang berada di kelas VII, hanya 60 % (siswa) saja yang memiliki ketuntasan nilai pada ulangan harian tentang 10 Asmaul Husna. Rendahnya nilai tersebut diakibatkan oleh sulitnya menghafal lafal dan arti dari 10 Asmaul Husna. Dari wawancara yang dilakukan kepada beberapa siswa, diketahui bahwa mereka merasa kesulitan menghafal 10 Asmaul Husna dan artinya. Apalagi metode guru dalam pembelajaran selama ini masih terbatas pada metode ceramah, tanya jawab dan penugasan. Penggunaan strategi bernyanyi yang sesuai dengan usia anak belum dilakukan.
Dunia anak identik dengan dunia bermain, bercerita, dan menyanyi. Karena itulah, upaya pembelajaran yang sesuai dengan minat dan usia pebelajar perlu terus menerus diujicobakan sehingga belajar menjadi menyenangkan dan mengasyikkan. Siswa akan merasa nyaman dan senang untuk belajar (joyfull learning). Pembelajaran yang memiliki karakteristik seperti inilah yang digalakkan dalam pembelajaran berbasis kompetensi.
Lagu Asmaul Husna memang sering terdengar, namun yang terkait dengan 10 Asmaul Husna yang dipelajari di kelas VII semester ganjil ini belum pernah ada, sekaligus merupakan upaya mengenalkan Asmaul Husna kepada anak sedini mungkin. Sehingga anak-anak diharapkan mau melaksanakan dalam kehidupannya. Selama ini pelajaran Asmaul Husna terasa menjemukan karena berhubungan dengan bahasa Arab yang tidak dimengerti siswa. Kenyataan itu menuntut kreativitas guru untuk menangani pembelajaran secara profesional dalam rangka membangun sikap positif anak terhadap pelajaran 10 Asmaul Husna. Harapannya, siswa menjadi suka dengan materi 10 Asmaul Husna dan berimplikasi pada kesenangan untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pencerahan pembelajaran 10 Asmaul Husna untuk anak tergantung pada profesionalisme guru serta strategi yang digunakan. Untuk itu, guru dituntut memahami karakteristik anak didiknya dan memiliki ketrampilan khusus dalam mengajar sesuai dengan bidang keahliannya. Di antaranya adalah keterampilan dalam memilih materi dan menerapkan strategi pengajaran yang sesuai dengan karakter siswa sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dalam situasi yang menarik dan menyenangkan. Dengan demikian, tanpa disadari anak diharapkan akan memperoleh apa yang menjadi tujuan dari pembelajaran tersebut. Di antara strategi yang menarik dan menyenangkan bagi anak-anak adalah menyanyi.
Terkait dengan (a) rendahnya kemampuan siswa kelas VII pada kompetensi 10 Asmaul Husna, (b) rendahnya motivasi siswa dalam belajar 10 Asmaul Husna, (c) pentingnya penggunaan strategi bernyanyi 10 Asmaul Husna dalam pembelajaran, (d) kecocokan strategi bernyanyi 10 Asmaul Husna dengan usia anak kelas VII, (e) belum diterapkannya strategi bernyanyi 10 Asmaul Husna untuk pembelajaran agama Islam, (f) Kesesuaian strategi bernyanyi 10 Asmaul Husna dengan pembelajaran berbasis kompetensi, (g) Strategi bernyanyi 10 Asmaul Husna sebagai media yang mudah dilakukan, (h) belum diadakannya penelitian tindakan kelas terkait dengan penerapan strategi bernyanyi 10 Asmaul Husna, maka penerapan strategi bernyanyi 10 Asmaul Husna dalam proses pembelajaran ini diusulkan untuk diterapkan dalam rangka meningkatkan penguasaan kompetensi 10 Asmaul Husna dalam pembelajaran agama Islam di SMPN 4 Malang.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan latar belakang tersebut di atas, maka permasalahan umum dalam penelitian tindakan kelas ini adalah bagaimanakah strategi bernyanyi dapat meningkatkan penguasaan kompetensi 10 Asmaul Husna pada mata pelajaran Agama Islam berbasis kompetensi bagi siswa SMPN 4 Malang kelas VII?
Adapun rumusan masalah secara khusus adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah mencipta lagu 10 Asmaul Husna dapat meningkatkan kompetensi siswa kelas VIIc SMPN 4 Malang pada mata pelajaran agama Islam?
2. Bagaimanakah menyanyi lagu 10 Asmaul Husna dapat meningkatkan kompetensi siswa kelas VIIc SMPN 4 Malang pada mata pelajaran agama Islam?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Agama Islam berbasis kompetensi di SMPN 4 Malang melalui cipta lagu 10 Asmaul Husna dan menyanyikannya dalam pembelajaran Agama Islam kelas VII.
Adapun tujuan penelitian secara khusus adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Agama Islam berbasis kompetensi di kelas VIIc pada SMPN 4 Malang melalui:
1. Pembuatan lagu untuk pembelajaran 10 Asmaul Husna pada mata pelajaran agama Islam bagi siswa kelas VIIc SMPN 4 Malang.
2. Menyanyikan lagu 10 Asmaul Husna dalam pembelajaran pada mata pelajaran agama Islam bagi siswa kelas VIIc SMPN 4 Malang.
Proses penelitian ini dikatakan berhasil jika 80% siswa dapat menciptakan lagu 10 Asmaul Husna dan kemudian dapat menyanyikannya. Hasil penelitian ini dikatakan berhasil jika 80% dari siswa yang diberi perlakuan mengalami peningkatan dalam hal ketuntasan belajar (dengan nilai minimal 75).

D. Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini bermanfaat, baik bagi guru, siswa, maupun pihak-pihak lain yang terkait. Bagi guru Agama Islam di SMPN 4 Malang, penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan kompetensinya dalam mengatasi masalah pembelajaran yang berkaitan tentang pembelajaran 10 Asmaul Husna bagi siswa kelas VIIc SMPN 4 Malang. Jika kompetensi guru Agama Islam meningkat, maka diharapkan kualitas pembelajaran di kelas pun menjadi meningkat.
Bagi siswa, penelitian ini bermanfaat karena proses belajar keseharian siswa di kelas menjadi tambah menyenangkan dengan membuat dan menyanyikan lagu sesuai dengan materi pelajaran. Pembelajaran yang dilakukan dengan menyenangkan merupakan faktor penting pemerolehan ilmu secara alamiah. Anak akan belajar sambil bernyanyi dan menyanyi sambil belajar. Strategi menyanyi ini juga mendorong siswa untuk berlomba berbuat yang terbaik di dalam kelas, memotivasi mereka untuk aktif dan kreatif dalam rangka meningkatkan kompetensinya karena pembelajaran dilakukan dengan menyenangkan, sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan psikologis mereka. Siswa akan melakukan proses learning by doing dan lebih aktif dalam menemukan pengalaman dan ketrampilan, bukan hanya sekedar penerima informasi dari guru sebagaimana yang selama ini terjadi. Para siswa akan termotivasi untuk belajar karena mereka juga tertuntut untuk bertanggung jawab terhadap suksesnya pembelajaran.
Bagi pihak-pihak terkait, misalnya lembaga sekolah, penelitian ini penting dilakukan karena dapat meningkatkan kualitas pembelajaran agama Islam di SMPN 4 Malang. Penelitian ini juga mendorong bagi guru mata pelajaran lain untuk memperlakukan siswa dengan kegiatan serupa sehingga kualitas pembelajaran akan meningkat pula.
Dengan demikian, secara umum, penelitian ini dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya guru dan siswa. Dengan meningkatnya kualitas pembelajaran berarti ikut membantu mensukseskan tujuan pembangunan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Dalam kajian pustaka ini, dipaparkan kajian teoretis dan empiris yang digunakan sebagai dasar penyusunan kerangka berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Kajian pustaka ini meliputi (a) strategi bernyanyi, (b) manfaat menyanyi untuk pembelajaran Asmaul Husna, (c) penerapan strategi bernyanyi dalam pembelajaran 10 Asmaul Husna.

A. Strategi Bernyanyi
Pada umumnya, anak- anak memiliki karakter yang khas. Mereka senang belajar sesuatu dengan melakukan sesuatu (learning by doing), seperti belajar sambil bermain atau sebaliknya bermain sambil belajar. Dalam suasana yang alami tersebut, mereka dapat menyerap informasi dan mengubah perilaku secara alamiah atau di bawah sadar, sehingga rasa bosan dan rasa tertekan di dalam belajar bisa dihindari, dan motivasi untuk mengikuti kegiatan belajar berikutnya tetap tinggi (Everet, 1987).
Siswa kelas VII berada dalam usia antara 13-14 tahun. Menurut teori psikologi pendidikan, anak yang berada dalam usia ini termasuk dalam kategori concrete operational. Pada tahap ini, anak memerlukan banyak ilustrasi, model, gambar dan kegiatan-kegiatan lain, maka strategi bernyanyi merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah yang sedang berlangsung.
Strategi bernyanyi, sesuai dengan teori PAKEM (pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan) yang digalakkan penerapannya pada kurikulum berbasis kompetensi. Teori PAKEM ini seiring pula dengan pemberlakuan quantum teaching and learning, yaitu pembelajaran yang dilakukan dengan suasana yang menyenangkan. Pembelajaran quantum berpegang pada semboyan “bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Seorang guru hendaknya memasuki dunia murid (bernyanyi) terlebih dahulu untuk memudahkan guru memasukkan pengetahuan dalam benak mereka (DePorter, dkk. 1999).
Strategi bernyanyi dilakukan secara berkelompok dan dalam suasana yang menyenangkan juga sesuai dengan pembelajaran kontekstual, yaitu pembelajaran yang didasarkan pada dunia nyata. Salah satu prinsip CTL, adalah Learning community, yaitu belajar kelompok. Belajar kelompok dalam CTL seiring pula dengan pembelajaran koperatif yang juga digalakkan penerapannya dalam kurikulum berbasis kompetensi. Dalam pembelajaran CTL dan kooperatif akan terjadi proses belajar sambil bekerja (learning by doing). Proses pembelajaran ini berlangsung secara alamiah. Artinya, siswa bekerja dan mengalami sendiri dan kegiatan berfokus kepada siswa serta lebih memberdayakan siswa sebagai pebelajar dan bukan kepada guru sebagai pengajar (Suyanto 2003, Nurhadi, 2003).
Dunia anak identik dengan dunia bermain, bercerita, dan menyanyi. Oleh sebab itulah, para guru terus melakukan usaha untuk menemukan strategi pengajaran yang cocok untuk kelompok umur tertentu dan mengusahakan agar pengalaman belajar bahasa menjadi pengalaman yang mengasyikan. Pakar pendidikan anak pun akhirnya merekomendasikan penggunaan ketiga kegiatan tersebut sebagai strategi pembelajaran bagi anak, termasuk pembelajaran 10 Asmaul Husna.

B. Manfaat Menyanyi untuk Pembelajaran Asmaul Husna
Secara umum, menyanyi dapat mencegah kejenuhan yang menjadi musuh utama dalam pembelajaran berbahasa Arab seperti Asmaul Husna. Penggunaan nyanyian dalam pengajaran Asmaul Husna dapat dibedakan antara bernyanyi sambil belajar dan belajar sambil bernyanyi. Pada konsep yang pertama, nyanyian digunakan sebagai penunjang pengajaran secara umum, termasuk untuk pengayaan dan motivasi. Sedang pada konsep yang kedua, nyanyian digunakan sebagai penunjang pengajaran secara spesifik karena isi nyanyian merujuk pada materi pelajaran. Berarti, penerapan strategi bernyanyi untuk pembelajaran 10 Asmaul Husna ini tergolong kategori belajar sambil bernyanyi karena teks lagu disesuaikan dengan materi, yaitu 10 Asmaul Husna.
Pemilihan strategi ini, didasarkan atas beberapa pertimbangan berikut.
1. Menyanyi disenangi oleh semua anak, termasuk anak yang pemalu, sehingga semua anak dapat mengalami latihan pengucapan 10 Asmaul Husna.
2. Nyanyian umumnya berkonteks sehingga mudah dihafal anak, dengan demikian akan memperkaya kosa kata (mufradat) mereka.
3. Nyanyian anak-anak seringkali berisi kata, frasa, atau kalimat yang diulang-ulang sehingga mudah diingat dan diproduksi ulang oleh mereka.
4. Sebuah lagu akan sering dinyanyikan anak di luar kelas, sehingga lambat laun anak akan menjadi akrab dengan 10 Asmaul Husna, dan tidak menjadi asing baginya, serta anak akan belajar secara alamiah. Tanpa disadari, mereka telah belajar melalui nyanyian yang dilantunkannya dan tanpa disadari pula, mereka mendapatkan pahala atas bacaannya.
5. Bernyanyi dapat membuat anak lebih senang dalam belajar sehingga membantu mereka untuk lebih cepat dalam mencapai tujuan pembelajaran.

C. Penerapan Strategi Menyanyi untuk Pembelajaran 10 Asmaul Husna
Dalam menerapkan strategi menyanyi, perlu diperhatikan dua hal berikut:
1. Waktu
Anka Konstantinotik dari Primary Scool Sabac mengemukakan bahwa bernyanyi dapat dilakukan kapan saja ketika siswa mulai terlihat lelah atau jenuh dalam belajar (1973). Pendapat lain mengatakan bahwa nyanyian dapat pula diberikan sebagai hadiah manakala mereka dapat menyelesaikan suatu tugas yang diberikan guru. Guru dapat pula mengajak anak-anak bernyanyi pada saat-saat khusus, misalnya ketika salah satu siswa ada yang berulang tahun, dan sebagai nya.
Dalam nyanyian 10 Asmaul Husna ini bukan karena sebab di atas, namun bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa melalui pelafalan 10 Asmaul Husna dan artinya. Dengan bernyanyi, diharapkan siswa tidak jenuh dan akan sering mengulang-ulang lagu tersebut di mana saja, di sekolah ketika dalam pembelajaran maupun di rumah atau di tempat lain.

2. Materi Nyanyian (lagu)
Materi nyanyian dibuat atau diambilkan dari materi 10 Asmaul Husna yang telah tersedia di buku. Siswa menciptakan lagu dengan dibimbing guru. Siswa dapat mencontoh lirik lagu yang digemari. Hanya saja, di dalam memilih lagu sebagai media pengajaran, hendaknya guru dan siswa memperhatikan hal-hal berikut.
1) Pilihan lagu sesuai dengan karakteristik siswa, artinya lirik lagu yang sedang digemari.
2) Lagu hendaknya menarik dan dinamis
3) Untuk pengajaran materi 10 Asmaul Husna, lagu hendaknya berisi pengulangan kosakata tersebut.
4) Guru sebaiknya menguasai lirik lagu yang dipilih siswa untuk memberi penilaian yang proporsional, namun yang terpenting adalah kebenaran pelafalan dan arti 10 Asmaul Husna karena lagu hanya sebagai media belajar saja.
5) Siswa dan guru dapat menggunakan bantuan kaset apabila tidak menguasai melodi lagu tersebut. Jika memungkinkan, guru dan siswa dapat memainkan alat musik sebagai pengiring lagu.
6) Lagu dinyanyikan secara kelompok, dan beberapa yang terbaik dinyanyikan secara bersama- sama sebagai reward.

BAB III
METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (Clasroom action research). Dikatakan demikian karena adanya (1) intervensi yang dilakukan peneliti dalam kegiatan belajar 10 Asmaul Husna untuk mengubah situasi pembelajaran, (2) konsep yang digunakan untuk memperbaiki pembelajaran bersifat situasional dan kontekstual, (3) terlibatnya peneliti dalam pembelajaran 10 Asmaul Husna, (4) dilakukannya evaluasi sendiri (self evaluation) secara berkelanjutan.

A. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMPN 4 Malang kelas VIIc yang berjumlah 29 siswa, yaitu 13 siswa laki-laki dan 16 siswi perempuan. Penelitian ini terdiri atas dua siklus yang masing-masing terdiri atas 4 tahapan, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan evaluasi, dan refleksi. Hasil refleksi siklus I dijadikan pijakan untuk pelaksanaan siklus II. Artinya, pelaksanaan tindakan pada siklus II didasarkan pada hasil cipta lagu dan menyanyikan lagu 10 Asmaul Husna dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran agama Islam berbasis kompetensi di SMPN 4 Malang secara lebih baik.

B. Desain Penelitian
PTK merupakan proses pengkajian melalui siklus dalam berbagai kegiatan pembelajaran (cf. Ardiana, 2004; Hopkins, 1992; Mills, 2003). Dengan menggunakan kerangka pikir dikemukakan oleh Raka Joni dkk. (1998), dapat dikenali adanya 5 (lima) tahap pelaksanaan PTK, termasuk tahap awal berupa proses penghayatan mengenai adanya permasalahan yang perlu mendapat penanganan (pengembangan fokus masalah penelitian). Adapun tahap-tahap tersebut adalah (1) pengembangan fokus masalah penelitian, (2) perencanaan tindakan perbaikan, (3) pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi, (4) analisis dan refleksi, (5) perencanaan tindak lanjut.
Berikut ini adalah bagan yang menunjukkan hal itu.

Secara lebih jelas, siklus dalam PTK yang meliputi empat tahap (plan, action, observation, reflection) dapat digambarkan sebagai berikut.

Pada langkah perencanaan tindakan, dilakukan pengamatan, dan observasi terhadap minat dan tanggapan siswa tentang pembelajaran PAI melalui metode angket dan wawancara dengan simpulan bahwa siswa kurang berminat dalam mempelajari 10 Asmaul Husna dan sulit memahami 10 Asmaul Husna yang menggunakan bahasa Arab. Mereka menghendaki adanya strategi dan media pembelajaran yang menyenangkan. Berdasarkan studi awal tersebut, kemudian dibuatlah nyanyian yang liriknya mencontoh pada lirik-lirik nyanyian yang sudah ada dan disukai anak- anak. Selanjutnya, siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk menerapkan strategi tersebut dalam pembelajaran.
Untuk mengetahui sikap dan minat siswa dalam mempelajari 10 Asmaul Husna, digunakan angket dengan penskoran sebagaimana tabel berikut.

Tabel 1: Instrumen Sikap dan Minat Siswa dalam belajar 10 Asmaul Husna
No Sikap dan Minat Siswa Jumlah Skor Interpretasi Rata2 Skor
1 Sangat Senang 5 Berminat sangat tinggi
2 Senang 4 Berminat tinggi
3 Sedang 3 Berminat sedang/cukup
4 Tidak Senang 2 Kurang berminat
5 Sangat Tidak Senang 1 Tidak berminat

C. Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan Siklus I (3 September 2011)
Perencanaan
Setelah diketahui pemahaman dan minat siswa yang rendah terhadap pelajaran 10 Asmaul Husna, disusunlah RPP untuk memenuhi tujuan, yakni peningkatan pemahaman siswa terhadap 10 Asmaul Husna dengan cipta lagu dan menyanyikannya. Selain itu, disusun pula beberapa instrumen yang diperlukan untuk observasi, yakni: instrumen keaktifan, partisipasi dan kerjasama dalam kelompok untuk menciptakan lagu dan menyanyikannya secara bersama- sama.

Tindakan
Pembelajaran cipta lagu dan bernyanyi 10 Asmaul Husna dilaksanakan sesuai dengan RPP yang telah disusun. Pada saat yang sama, dilakukan pula observasi. Hasil siklus I diamati dan dikaji untuk perbaikan pada siklus berikutnya.

Observasi
Guru dan guru mitra melaksanakan observasi terhadap keaktifan, partisipasi dan kerjasama siswa dalam cipta lagu dan bernyanyi 10 Asmaul Husna, dan mendiskusikan hasilnya. Dalam lembar pengamatan, ada tiga kategori keaktifan, yakni: kurang, sedang, dan baik. Siswa dikategorikan “kurang” jika mereka tidak mau atau tampak malas, siswa dikategorikan “sedang” jika mereka melakukannya dengan biasa saja, tanpa semangat; siswa dikategorikan “baik” jika mereka mempunyai semangat dan antusias tinggi terhadap proses cipta lagu dan bernyanyi 10 Asmaul Husna.
Setelah itu dilakukan evaluasi melalui tes apakah tingkat pemahaman siswa terhadap 10 Asmaul Husna sudah meningkat.

Refleksi
Dalam siklus I dilakukan refleksi terhadap pembelajaran yang sudah berlangsung. Saat itu dijumpai ada beberapa anak yang belum terlibat secara penuh, atau bahkan anak-anak ada yang terlalu lama untuk memilih lirik lagu yang dicontoh sehingga memakan waktu yang cukup lama.

Pelaksanaan Siklus II (10 September 2011)
Perencanaan
Disusun RPP untuk memenuhi tujuan, yakni pembelajaran 10 Asmaul Husna berdasarkan hasil siklus I. Kelemahan tindakan dalam siklus I berupa waktu yang digunakan untuk menentukan pilihan lirik lagu terlalu lama dan ada beberapa anak yang belum terlibat secara penuh dalam cipta lagu 10 Asmaul Husna.

Tindakan
Pembelajaran cipta lagu 10 Asmaul Husna dan menyanyikannya dilaksanakan sesuai dengan RPP yang telah disusun. Pada saat yang sama, dilakukan pula observasi. Siswa diminta membuat lagu yang sederhana dan cukup populer. Hasil siklus II dinyanyikan bersama kelompoknya dan untuk menambah semangat boleh diiringi alat musik, difoto dan direkam.

Observasi
Guru dan guru mitra melaksanakan observasi terhadap keaktifan, partisipasi dan kerjasama siswa dalam cipta lagu dan bernyanyi 10 Asmaul Husna, dan mendiskusikan hasilnya. Setelah itu dilakukan evaluasi melalui ulangan harian apakah tingkat pemahaman siswa terhadap 10 Asmaul husna sudah meningkat dari pada siklus 1.

Refleksi
Hasil refleksi menunjukan siswa semakin aktif, berpartisipasi dan kerja sama, dan lebih memanfaatkan waktu dengan baik.
Pada akhirnya, semua hasil observasi ditabulasikan dan direkap sehingga ada tiga jenis rekap: (1) keaktifan, partisipasi dan kerjasama siswa, (2) hasil cipta lagu, (3) pemahaman siswa terhadap 10 Asmaul Husna.

BAB IV
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A. Aktivitas Siswa dalam cipta lagu dan bernyanyi 10 Asmaul Husna

Berdasarkan pengamatan guru (dua guru), tampak bahwa semua siswa aktif, berpartisipasi dan bekerja sama dengan baik dalam cipta lagu dan menyanyikan hasil karyanya. Adapun hasil pengamatan langsung yang dilakukan oleh guru mitra untuk keaktifan, kerjasama dan partisipasi siswa dalam cipta lagu dan bernyanyi 10 Asmaul Husna adalah sebagai berikut.

Tabel 1: Keaktifan, Kerjasama, dan Partisipasi Siswa
No Nama Siswa Siklus I Siklus II
1 2 3 1 2 3
1 Siswa ke 1 √ √
2 Siswa ke 2 √ √
3 Siswa ke 3 √ √
4 Siswa ke 4 √ √
5 Siswa ke 5 √ √
6 Siswa ke 6 √ √
7 Siswa ke 7 √ √
8 Siswa ke 8 √ √
9 Siswa ke 9 √ √
10 Siswa ke10 √ √
11 Siswa ke 11 √ √
12 Siswa ke 12 √ √
13 Siswa ke 13 √ √
14 Siswa ke 14 √ √
15 Siswa ke 15 √ √
16 Siswa ke 16 √ √
17 Siswa ke 17 √ √
18 Siswa ke 18 √ √
19 Siswa ke 19 √ √
20 Siswa ke 20 √ √
21 Siswa ke 21 √ √
22 Siswa ke 22 √ √
23 Siswa ke 23 √ √
24 Siswa ke 24 √ √
25 Siswa ke 25 √ √
26 Siswa ke 26 √ √
27 Siswa ke 27 √ √
28 Siswa ke 28 √ √
29 Siswa ke 29 √ √
Keterangan: 1= kurang; 2= sedang; 3= baik
Menurut pengamatan guru mitra, strategi cipta lagu dan bernyanyi 10 Asmaul Husna membuat siswa aktif belajar, bekerja sama dan berpartisipasi untuk menyukseskan pembelajaran. Secara lebih rinci, hal itu tergambar dari tabel di atas, bahwa dari 29 siswa, pada siklus I, tidak ada siswa yang kurang aktif. Hanya ada 3 siswa yang mempunyai nilai sedang. Adapun selebihnya (26 siswa/ 89,65%) dinyatakan bahwa siswa aktif belajar, bekerja sama dan berpartisipasi untuk menyukseskan pembelajaran secara baik.
Adapun pada siklus II, hanya ada 1 siswa yang memiliki nilai sedang. Selebihnya (96,5%) memiliki nilai baik. Hal ini menunjukkan bahwa siswa antusias dalam pembelajaran dengan strategi menyanyi.
Berdasarkan pengamatan, tampak bahwa siswa aktif menyanyikan lagu yang diciptakannya dan menyanyikannya secara berulang-ulang hingga betul- betul hafal dan penuh penghayatan. Fenomena ini tampak pada siklus ke II. Sedangkan pada siklus I, siswa masih belum terkondisikan dengan baik. Banyak waktu yang digunakan berdebat untuk menentukan lirik lagu yang dicontoh dan menentukan pilihan kata- kata yang tepat dalam menyusun lagu 10 Asmaul Husna.
Pada siklus II anak semakin enjoy dan menikmati. Hal ini dapat dilihat dari sebagian anak yang membawa alat musik dan keinginan mereka untuk selalu berdiskusi dengan temannya, dan bertanya kepada guru ketika ada hal- hal yang tidak bisa diselesaikan oleh kelompok.

B. Pemahaman siswa terhadap 10 Asmaul Husna.
Berdasarkan hasil tes pada siklus I dan II, diketahui bahwa pemahaman anak terhadap 10 Asmaul Husna tergolong baik. Hal ini dapat dilihat dari perolehan nilai sebagaimana tabel berikut.

Tabel 2: Pemahaman Anak terhadap 10 Asmaul Husna berdasarkan Tes
No Nama siswa Nilai siklus I Nilai siklus II
1 Siswa ke 1 80 80
2 Siswa ke 2 50 70
3 Siswa ke 3 80 90
4 Siswa ke 4 90 90
5 Siswa ke 5 70 80
6 Siswa ke 6 70 100
7 Siswa ke 7 80 100
8 Siswa ke 8 80 90
9 Siswa ke 9 80 90
10 Siswa ke10 60 80
11 Siswa ke 11 80 90
12 Siswa ke 12 90 100
13 Siswa ke 13 80 100
14 Siswa ke 14 60 80
15 Siswa ke 15 90 100
16 Siswa ke 16 80 90
17 Siswa ke 17 80 90
18 Siswa ke 18 50 60
19 Siswa ke 19 80 90
20 Siswa ke 20 60 70
21 Siswa ke 21 70 80
22 Siswa ke 22 80 90
23 Siswa ke 23 90 100
24 Siswa ke 24 90 90
25 Siswa ke 25 70 80
26 Siswa ke 26 80 90
27 Siswa ke 27 70 80
28 Siswa ke 28 70 80
29 Siswa ke 29 80 90

Berdasarkan perlakuan atau treatment terhadap siswa VIIc pada siklus I, diketahui bahwa proses belajar mengajar masih mengalami hambatan dan siswa kurang maksimal di dalam belajar. Penyebabnya adalah (1) siswa berdebat menentukan lirik lagu yang dicontoh sehingga cukup banyak membutuhkan waktu, (2) siswa kurang teratur, cenderung ramai sehingga mengganggu kelas lain, (3) siswa belum begitu menguasai lagu.
Berdasarkan hasil kegiatan belajar siklus I, diperoleh data yaitu dari 29 siswa, terdapat 21 siswa yang mencapai ketuntasan nilai 75, sedangkan pada siklus II hanya ada 3 siswa yang tidak mencapai ketuntasan nilai 75. Hal ini karena siswa ketika menciptakan lagu dan menyanyikannya secara tidak langsung mengulang- ulang lafadz dalam Asmaul Husna tersebut. Meskipun berbagai kendala telah terjadi pada siklus I, tetapi dengan kegiatan menyanyi ini sudah cukup meningkatkan prestasi siswa dibanding sebelum diterapkannya kegiatan permainan dalam pembelajaran, sebagaimana tampak pada tabel berikut.

Tabel 3: Ketuntasan Belajar 10 Asmaul husna pada Siklus I
Persentase Ketuntasan sebelum action research Persentase Ketuntasan pada siklus I Selang skor
60% tuntas 72% tuntas 12

Berdasarkan tabel di atas, disimpulkan bahwa strategi bernyanyi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, tetapi hasil pembelajaran pada siklus I belum mengalami peningkatan prestasi yang signifikan. Hal itu tidak terlepas dari kendala pembelajaran sebagaimana telah disebutkan.
Untuk mengatasi kendala pembelajaran pada siklus I, dilakukan alternasi pemecahan masalah, yaitu (1) para siswa diminta untuk menentukan lirik lagu sebelum belajar, (2) kegiatan pembelajaran dilaksanakan di luar kelas (di serambi masjid) agar tidak mengganggu kelas lain, (3) siswa mempelajari kembali konsep sambil bermain dan bermain sambil belajar.
Selanjutnya, berdasarkan perlakuan atau treatment terhadap siswa VIIc pada siklus II, diketahui bahwa proses belajar mengajar berjalan dengan lancar, siswa aktif dan kreatif, dan mereka tampak senang dan antusias dalam belajar. Suasana tersebut telah mendukung hasil belajar, yaitu 90% siswa mengalami ketuntasan belajar sebagaimana tabel berikut.

Tabel 3: Ketuntasan Belajar 10 Asmaul Husna pada Siklus II
PERSENTASE KETUNTASAN
Sebelum Action Research Siklus I Siklus II
60% tuntas 72% tuntas 90% tuntas

Berdasarkan tabel di atas, disimpulkan bahwa strategi bernyanyi yang diawali dengan cipta lagu sesuai dengan lirik lagu yang telah ada untuk pembelajaran Asmaul Husna dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yang signifikan. 90% siswa mengalami ketuntasan belajar dan hanya 10% saja yang belum tuntas belajar. Ketidaktuntasan segelintir siswa merupakan suatu kewajaran dalam proses pembelajaran.
Untuk mengatasi siswa yang belum memiliki nilai ketuntasan tersebut, dilakukan kegiatan remedial berupa penjelasan kembali nama-nama Asmaul Husna yang belum dikuasai dan kemudian diminta untuk memahaminya.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Cipta lagu dalam pembelajaran 10 Asmaul Husna dengan mencontoh lirik lagu yang sudah ada dan kemudian menyanyikan lagu tersebut dapat meningkatkan minat belajar siswa. Ini terlihat dari keaktifan, kerjasama dan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Strategi bernyanyi dapat meningkatkan prestasi belajar 10 Asmaul Husna pada siswa kelas VIIc, SMPN 4 Malang. Meningkatnya prestasi tersebut karena siswa aktif dan kreatif, merasa senang belajar, dan ikut bertanggungjawab akan suksesnya pembelajaran. Hal ini sesuai dengan teori bahwa penerapan strategi bernyanyi dalam pembelajaran memiliki dampak positip dalam meningkatkan motivasi dan minat siswa terhadap pelajaran karena kegiatan belajar berpusat kepada siswa (student oriented) dan tidak berpusat kepada guru (teacher oriented).

B. SARAN
Penelitian tindakan kelas perlu terus menerus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru sebagai pahlawan tanpa tanda saja hendaknya selalu bersemangat, aktif, dan kreatif dalam menciptakan inovasi pembelajaran. Guru hendaknya selalu berupaya untuk menerapkan strategi pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa termotivasi untuk selalu belajar dan tidak jenuh dalam pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 2004. Media Pembelajaran. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

DePPORTER, Bobbi. 2000. Quantum Teaching (Pen. Ari Nilandary). Bandung: PT. Mizan Pustaka.

Effendy, A. Fuad. 1993. Lagu dan permainan sebagai media pengajaran bahasa Arab di MI. Nadi Th 5, No. I, Juni 1993. Malang : FPBS IKIP MALANG.

Everett, Warron. 1987. A Popular Song as a Teaching Instrument. Forum vol xxv.

Konstantinotik, Anka. 1973. Let’s Sing a Song. English Teaching Forum Yugoslavia.

Muhdi, Muhaiban. 2000. Al-Syi’ru wal-Ghina’u lil Atfal. Makalah tidak diterbitkan

Nurhadi. 2003. Pendekatan Kontekstual. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.

2 comments on “contoh PTK

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s